Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menyelamatkan Moi Xiuhan


__ADS_3

Tiga generasi muda dunia persilatan Kekaisaran Wei sudah menunjukkan kekuatannya mereka masing-masing. Hanya dalam beberapa saat saja, puluhan prajurit sudah mereka ratakan.


Darah menggenang. Bau amis terbawa angin malam, menusuk hidung membuat perut serasa mual.


Semua Pendekar Bumi tewas membawa rasa penasaran ke alam baka. Mereka tidak pernah menyangka sama sekali bahwa malam ini akan terbunuh di tangan bocah kemarin sore.


Ketiga naga muda tidak berhenti sampai si situ saja. Mereka melanjutkan rencana berikutnya seperti apa yang sudah diperintahkan oleh Huang Taiji.


Seketika keadaan di tenda darurat tersebut menjadi gempar. Orang-orang yang sudah tidur lelap, mendadak bangun ketika merasa ada gangguan.


Sekilas saja, para Pendekar Dewa telah berada dalam kondisi sadar. Mereka langsung keluar melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Semua orang tercengang. Terlebih lagi pemimpin mereka yang beberapa hari lalu menyamar menjadi Walikota.


Keadaan yang dia lihat sekarang membuat amarahnya berkobar. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengalami kejadian seperti sekarang.


Huang Taiji Lu dan Ye Xia Zhu sudah berada dua tombak di hadapan lawan utama mereka. Keduanya terlebih dahulu sudah membunuh beberapa orang Pendekar Surgawi. Sekarang yang ada di sana hanyalah beberapa penjaga Pendekar Bumi dan sembilan Pendekar Dewa.


Pemimpin orang-orang tersebut setara dengan Pendekar Dewa tahap lima akhir. Delapan orang sisanya merupakan Pendekar Dewa tahap dua pertengahan.


Dua tokoh ternama dunia persilatan berdiri dengan gagah. Tidak ada rasa takut di wajah mereka. Keduanya percaya akan kemampuan diri sendiri.


Tidak lama berselang, tiga naga muda telah tiba juga di sisi mereka. Masing-masing senjatanya sudah dilumuri oleh darah.


"Ternyata ada tamu tak diundang yang sengaja datang kemari," kata seorang gadis sepantaran Moi Xiuhuan.


Tampilannya memang kecil, padahal sebenarnya dia sudah tua. Begitu juga dengan empat rekan lainnya. Hanya saja mereka muncul dari tenda di sebelah belakang.


Kelima gadis tersebut berjalan dengan santai ke depan. Mendengar ada keributan diluar, lima gadis itu tentu ingin tahu apa yang sedang terjadi.


Begitu mereka tiba di samping rekan-rekannya, lima gadis itu terperanjat setengah mati setelah mengetahui siapa yang datang.


"Ka-kalian, bukankah kalian sudah tewas?" tanya si gadis yang sempat menyamar menjadi Moi Xiuhan.


"Atas dasar alasan apa kami harus tewas?" tanya Chen Li penuh nada ejekan.


"Hemm, tak kusangka ada orang yang mampu bertahan dari Racun Neraka," gumam gadis tersebut masih sedikit tidak percaya.


Mendengar perkataan si gadis, para pendekar lainnya juga merasa sangat terkejut sekali. Mereka baru mendengar bahwa ada orang yang tak tidak mampus setelah terkena Racun Neraka.


"Hehe, aku akui kalian memang cerdas. Tapi sayangnya belum mampu untuk melebihi kecerdasanku," kata Chen Li sengaja membuat emosi lawan.

__ADS_1


"Hemm, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku menyamar?" tanyanya.


"Mudah saja. Kau hanya butuh kepastian apakah itu rekanmu atau bukan,"


"Hanya itu?"


"Hanya itu. Kau hanya butuh keyakinan dan kepastian. Kalau tidak, jangan harap bisa berhasil. Bahkan bisa saja nyawamu menjadi taruhan,"


"Jadi kau sudah curiga terhadap kami sebelumnya? Dan diam-diam kalian melindungi tubuh dengan energi tak kasat mata, begitu? " tanyanya masih penasaran.


"Kau memang cerdas," puji Chen Li.


Lima gadis tersebut tidak bicara lagi. Mereka masih bingung kenapa dua orang itu tidak mati. Jangankan mati, terlihat kesakitan pun tidak.


Justru keduanya nampak segera bugar lebih dari beberapa hari lalu.


Sementara itu selama Chen Li bicara dengan salah seorang gadis, diam-diam Ye Xia Zhu menerobos masuk ke dalam untuk membebaskan putrinya.


Dengan kekuatannya yang sekarang, tentu saja berjalan tanpa bersuara bukanlah hal yang sulit.


Begitu para tawanan terbebas, mereka segera menangis sedih. Tepat pada saat itu, lima gadis bercadar sadar bahwa Chen Li sedang mengulur waktu untuk meluluskan niat rekannya.


"Tangkap mereka. Jangan biarkan keluar dengan selamat,"


Suaranya menggelegar. Dengan wajahnya yang cukup menyeramkan, memang pantas jika dia menjadi pemimpin dari kawanan iblis lainnya.


Lima orang melesat ke sana. Huang Taiji juga bergerak lebih cepat daripada lawannya.


"Tidak semudah itu …"


"Blarr …"


Dua gelombang keras berbenturan. Debu dan batu jerikil berterbangan tak tentu arah.


Keadaan mulai kacau. Situasai amat tegang.


Melihat pamannya bergerak, Chen Li tentunya tidak mau ketinggalan.


Dua siluman kera putih bersaudara langsung dia keluarkan.


"Habisi orang-orang yang ada di sini. Sisakan satu untukku," teriaknya kepada San Ong dan Ong San.

__ADS_1


"Perintah Tuan Muda segera dilaksanakan," jawab dua siluman tersebut secara serentak.


San Ong bersama Ong San langsung memilih lawan. San Ong menerjang ke arah lima gadis. Sedangkan Ong San menyerang dua Pendekar Dewa.


Tinggal si pemimpin saja yang belum bertarung. Kelihatannya dia sangat yakin sehingga merasa tidak perlu untuk turun tangan.


Chen Li sudah berhadapan dengan seorang lawannya. Pendekar itu memakai senjata berupa garpu panjang. Walaupun berat, tetapi baginya sangat enteng. Apalagi postur tubuhnya jauh lebih tinggi daripada Chen Li.


Tetapi bocah kecil itu sama sekali tidak takut. Justru dia malah bertambah dingin dan lebih dingin lagi.


"Kau mau bajak sawah?" ejek Chen Li.


Seketika langsung merah padam wajah orang itu.


"Bangsat kecil, kau memang sudah bosan hidup. Sekarang akan aku antarkan kau ke neraka," bentaknya lalu mengayunkan senjata garpu raksasa itu.


Sekali ayun, hembusan angin terasa sangat tajam. Kalau diibaratkan, kekuatannya mungkin bisa membuat bukit bergetar.


Bukit mungkin akan bergetar, tapi seorang bocah bernama Chen Li tidak akan gentar.


Dia melompat ke belakang menghindari serangan pertama. Selanjutnya sebelum lawan melancarkan serangan berikutnya, Pendekar Tanpa Perasaan telah bergerak lebih dulu.


"Pedang Awan Menyapu Badai …"


"Bertempur Melawan Raja Naga …"


"Wushh …"


Kekuatan dahsyat merembes keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Dia menerjang dengan dua jurus berbahaya.


Seruling giok hijau segera mengincar beberapa titik jalan darah di tubuh lawan. Sedangkan Pedang Awan menyapu dengan gerakan yang sangat cepat.


Pertarungan baru berlangsung, tetapi keduanya sudah bertempur sengit.


Cahaya biru berkelebat memecah kegelapan malam. Sinar hijau menembus pekatnya angkasa.


Chen Li menggempur lawan dengan serangan aneh dan sukar diduga ke mana arahnya. Mau tidak mau lawannya kerepotan juga.


Sementara itu, setelah semua pertarungan sengit berlangsung, Ye Xia Zhu menjalankan seperti apa yang diperintahkan oleh Huang Taiji Lu.


Dia segera membawa lari anaknya bersama empat murid Sekte Teratai Putih ke tempat yang lebih aman lagi. Yuan Shao dan Li Meng Yi turut serta bersama mereka. Kedua bocah itu nantinya akan menjaga Ye Moi Xiuhan dan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2