Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mengembara Bersama


__ADS_3

"Tapi Kepala Tetua, bukankah masalah ini sangat memerlukan bantuan tenaga yang tidak sedikit?"


"Apa kau meragukan kemampuanku?" tanya balik Shin Shui.


"Ti-tidak Kepala Tetua. Akan tidak bermaksud begitu. Sungguh, hanya saja …, menurutku masalah ini adalah masalah besar. Jadi kalau lebih banyak tenaga, mungkin akan lebih baik," kata Tetua itu sedikit ketakutan.


"Hemm, terimakasih atas niat baikmu itu. Tapi ini adalah tugas dari guruku. Bukannya aku merasa sombong, tapi ini adalah tanggungjawabku," kata Shin Shui menjelaskan.


"Hemm, baiklah kalau begitu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Kepala Tetua,"


"Terimakasih,"


Suasana hening sejenak. Tak lama, Chen Li tiba-tiba bicara merengek.


"Ayah, Li'er ingin ikut bersama ayah," ucap Chen Li sambil menarik tangan Shin Shui.


"Li'er, ini berbahaya. Nanti kalau sudah saatnya, ayah akan mengajakmu," kata Shin Shui menenangkan anaknya.


"Tidak mau. Li'er tetap ingin ikut bersama ayah. Li'er ingin mencari pengalaman," kata Chen Li bersikukuh.


"Li'er …"


"Ayah …" Chen Li mulai kesal. Nada bicaranya bahkan sedikit meninggi.


Disaat seperti itu, tiba-tiba Yun Mei pun ikut bicara unruk menengahi ayah dan anak itu.


"Shushi, biarkanlah Li'er ikut bersamamu. Benar kata Li'er, biarkan dia mencari pengalaman. Jadi latihannya selama ini bukan hanya sekedar teori saja. Tapi ada prakteknya," kata Yun Mei.


"Memei, ini perjalanan yang bahaya,"


"Shushi, kami semua tahu sampai di mana kemampuanmu. Dan khusus aku sendiri yakin bahwa kau mampu menjaga Li'er. Pokoknya kau harus ajak Li'er," kata Yun Mei sedikit menekan Shin Shui.


Shin Shui tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya menghela nafas panjang.


"Baiklah. Aku akan membawa Li'er," kata Shin Shui pasrah.

__ADS_1


"Yeayy …, ayah baik," ucap Chen Li sangat gembira lalu memeluk Shin Shui.


Sedangkan ayahnya sendiri hanya tersenyum secara dipaksakan.


Saat seorang wanita lemah lembut berubah menjadi seekor 'harimau' dalam sekejap, maka pria biasanya tidak mampu berkutik lagi kecuali hanya pasrah.


Dalam hati, para Tetua Sekte Bukit Halilintar merasa geli dengan sikap Shin Shui. Tapi di sisi lain mereka pun merasa salut.


Sebab dengan kekuatannya yang di luar nalar manusia, Shin Shui masih bisa menghargai seorang wanitanya.


Laki-laki hebat adalah dia yang mampu menghargai seorang wanita!


###


Satu minggu sudah berlalu dengan cepat. Selama satu minggu itu, Shin Shui tanpa henti menggembleng Chen Li siang dan malam. Tak ada kata menyerah.


Shin Shui sengaja melatih anaknya dengan keras sebab dia sendiri belum tahu bagaimana kesulitan yang akan dia hadapi nanti saat berada di Negeri Siluman. Selama itu, Pendekar Halilintar juga terus memberikan sumber daya langka dan berbagai obat-obatan lainnya untuk kemajuan Chen Li.


Saking hebatnya Shin Shui, sekarang Chen Li sudah mencapai tingkatan Pendekar Bumi tahap akhir. Sedikit lagi dia bisa menembus Pendekar Langit tahap satu.


Cara terbaik untuk menaikan tingkat pelatihan, selain dengan sumber daya dan pil obat adalah dengan cara terjun langsung ke lapangan.


Saat ini Shin Shui dan Chen Li sedang bersiap-siap untuk berangkat. Semua orang Sekte Bukit Halilintar seperti biasa akan mengantar kepergiannya.


"Memei, jaga dirimu baik-baik," kata Shin Shui sambil mencium kening Yun Mei.


"Baik Shushi. Kau juga harus menjaga diri dan anak kita. Ingat, jangan terlalu berlama-lama," kata Yun Mei sedikit manja.


"Paling lama aku akan pergi selama dua bulan. Kau tenang saja,"


"Baiklah. Aku percaya padamu,"


Setelah berpamitan kepada istrinya, Shin Shui lalu berpamitan kepada semua tetua.


"Aku nitip istriku dan rumah kita ini kepada kalian semua," kata Shin Shui sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kepala Tetua jangan khawatir. Walaupun nyawa kami jadi taruhan, tentu kami akan melaksanakan semua perintah Kepala Tetua," kata seorang kepala tetua menjawab dengan penuh hormat.


"Terimakasih. Kalian memang keluarga terbaikku,"


"Kepala Tetua terlalu berlebihan. Ini semua memang sudah menjadi kewajiban kami,"


"Baiklah. Waktunya sudah hampir tiba. Aku pergi dulu ya. Kalian semua, jaga diri baik-baik," ucap Shin Shui memberikan senyumannya kepada semua orang.


Saat dia tersenyum, bunga sakura pun langsung berjatuhan menebarkan bau harum ke seluruh penjuru. Seolah mereka bahagia karena bisa melihat senyum Shin Shui.


Pendekar Halilintar lalu membalikan badan. Dia melemparkan lencana kepala naga yang seminggu lalu diberikan oleh Kaisar Naga Merah.


Begitu lencana tersebut dilemparkan, tak lama sinar merah tiba-tiba muncul memenuhi alam raya lalu membentuk sebuah portal berukuran cukup besar.


Shin Shui dan Chen Li berdiri di depan portal tersebut. Chen Li memakai pakaian dan jubah kesukaannya yang berwarna putih bersulam sutera emas. Sedangkan Shin Shui seperti biasanya, dia memakai pakaian serta jubah biru mencolok.


Angin menerpa keduanya mengibarkan jubah megah nan agung itu. Tak lama, keduanya segera hilang ditelan portal tersebut. Begitu ayah dan anak itu lenyap, portal pun langsung bilang tanpa jejak.


"Semoga kau cepat kembali Shushi," kata Yun Mei sedikit bersedih.


"Kepala Tetua Yun jangan sedih. Kepala Tetua pasti akan segera kembali. Dia akan baik-baik saja. Percayalah," kata Yiu Jiefang, salah satu tetua wanita yang ada si Sekte Bukit Halilintar.


"Semoga saja begitu," kata Yun Mei lalu segera kembali masuk ke dalam diikuti semua tetua dan semua murid.


Perjalanan Shin Shui dan Chen Li menuju ke Negeri Siluman hanya beberapa saat saja. Selama perjalanan itu, keduanya tidak melihat apa-apa kecuali warna merah yang berasal dari warna portal tersebut.


Tak cukup waktu yang lama, Shin Shui dam Chen Li sudah sampai di tempat tujuannya. Ayah dan anak itu tiba di sebuah hutan belantara yang pohonnya rimbun serta tinggi.


Shin Shui tidak tahu pasti dia berada di mana. Yang jelas menurut tebakannya, dia dan Chen Li berada di sekitar tempat persembunyian Kaisar Naga Merah.


Sebenarnya keadaan di Negeri Siluman tidak berbeda jauh dengan keadaan di alam manusia. Hanya saja jika di sana, semua penghuninya adalah bangsa siluman.


Di sini pun para siluman berkembang biak sesuai jenisnya. Di hutan tersebut Shin Shui mendengar berbagai macam suara dari binatang-binatang aneh. Sesekali dirinya dan Chen Li bertemu dengan sekelompok kera yang ukurannya beberapa kali lipat lebih besar daripada kera normal pada umumnya. Bahkan bulu mereka pun cukup aneh, yaitu ada yang berwarna merah darah.


"Li'er, tetap di dekat ayah. Jangan sampai jauh dari ayah. Pergunakan semua inderamu untuk melihat keadaan," kata Shin Shui kepada Chen Li.

__ADS_1


"Baik ayah. Li'er mengerti," jawabnya dengan gembira karena bisa mengembara bersama sang ayah.


__ADS_2