
Semua tetua sedang menunggu apa jawaban Shin Shui. Apakah dia setuju, atau tidak? Entah.
Karena Shin Shui tidak mau menjawabnya sekarang. Justru dia malah berbicara lagi mengenai masalah lain. Bahkan dia tidak seperti biasanya terhadap Yun Mei. Shin Shui menjadi acuh tak acuh.
Pembicaraan mereka berlanjut sampai siang hari. Setelah istirahat, Shin Shui kembali ke rumahnya untuk memulihkan tenaga dalam yang banyak terbuang. Selain itu, dia juga ingin melakukan sesuatu.
Setelah tiba di kediamannya, Shin Shui melihat Chen Li sedang duduk di bawah pohon sakura, tempat yang disukai oleh ibunya kalau sudah merenung.
"Li'er, kenapa kau di sini?" tanya Shin Shui sambil menghampiri anaknya tersebut.
"Tidak ayah. Aku hanya sedang melamun mengingat semua pertarunganku kemarin," jawabnya.
"Kau jangan berbohong pada ayah. Kau curiga akan ibumu?" tanya Shin Shui.
Chen Li mematung. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan ayahnya. Di jawab iya, takut ayahnya tersinggung, kalau di jawab tidak, maka dia sudah berbohong kepada ayahnya.
Terkadang kalau kau berada di posisi seperti itu, diam adalah cara yang paling terbaik.
"Kau jawab saja Li'er, jangan takut," ucap ayahnya lalu duduk di samping bocah itu.
"Entah kenapa ayah, rasanya ibu menjadi berbeda,"
"Ayah juga merasakan hal yang sama," jawab Shin Shui.
"Lalu, apa arti semua ini? Kenapa ibu berubah?"
"Nanti kau akan tahu jawabannya. Sekarang, kau pergi istirahat. Bermeditasi lah, jangan keluar sebelum ayah suruh keluar,"
"Baik. Li'er mengerti," jawab Chen Li kemudian segera pergi dari sana.
Saat ini di bawah pohon itu hanya ada Shin Shui seorang. Dia sedang melamun, dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa masalah yang sedang dia hadapi sangatlah rumit. Bahkan mungkin lebih rumit dari apa yang dibayangkan.
Di saat sedang melamun, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah seseorang. Dia menoleh ke belakang dan ternyata, Yun Mei sedang berjalan ke arahnya.
"Kau sedang apa Shin Shui?" tanyanya lembut penuh senyuman.
"Tidak, aku sedang cari angin. Rasanya tubuhku sangat lelah,"
Yun Mei semakin mendekat lalu duduk dan bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Tentu saja kau lelah. Masalah yang sedang di hadapi sangat rumit. Bagaimana kau tidak lelah? Lebih baik kau pikirkan matang-matang usulanku dan beberapa tetua tadi. Ini semua demi kita," katanya sambil melirik.
"Tentu saja. Justru aku sedang memikirkan hal tersebut," jawabnya.
Keduanya kemudian berbincang ringan hingga sore hari. Hanya berdua, tidak ada yang lain.
Malam harinya ketika yang lain sudah tertidur, sebuah bayangan melesat cepat dari rumah kediaman Shin Shui.
Bayangan itu sangat cepat sekali. Bahkan tidak akan bisa terlihat oleh mata biasa.
Shin Shui.
Bayangan tadi adalah bayangan Pendekar Halilintar. Dia bergerak menuju ke sektenya yang terletak di bawah. Dia menuju ke ruangan tetua.
Kebetulan, di sana seperti biasanya, ada tiga tetua yang selalu diam dan kadang tertidur di sana.
Tiga tetua yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah tiga murid Yashou.
Saat Shin Shui masuk secara tiba-tiba, ketiganya merasa terkejut. Mereka ingin memberi hormat, tapi segera di tahan oleh Shin Shui.
"Ikut aku," tegasnya singkat, padat dan jelas.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sebuah goa di dalam hutan. Hutan itu adalah Bukit Awan. Sedangkan goa yang dimaksud, tentu tempat bersemayamnya Yashou.
Shin Shui masuk ke dalam lalu di ikuti yang lainnya. Dia memberi hormat kepada kuburan Pendekar Belalang Sembah.
Setelah semuanya selesai, mereka duduk di sebuah batu hitam yang ada di sana.
"Apakah kalian tahu kenapa aku membawa kalian kemari?" tanya Shin Shui.
"Tidak Kepala Tetua. Tetapi apapun itu, kami percaya kepadamu," jawab Lin Zong He.
"Terimakasih. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting," kata Shin Shui.
"Tentang apa Kepala Tetua?"
"Tentang sekte kita. Aku ingin sekarang juga tetua Lin pergi ke sekte terdekat. Yaitu Sekte Pedang Emas. Berikan surat ini kepada Kepala Tetua Yuan Shi, si Raja Seribu Pedang,"
"Apakah ada masalah yang serius di sekte kita?" tanya Lu Xiang Chuan kepada Shin Shui.
__ADS_1
"Aku rasa kalian sudah tahu jawabannya," jawab Shin Shui.
"Apakah terkait istri Kepala Tetua dan beberapa tetua lainnya?" tanya Yu Jiefang.
"Tepat. Karena itu aku mengumpulkan kalian di sini. Karena aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku tahu, hanya kalian dan beberapa tetua lain yang masih terjamin,"
"Maksud Kepala Tetua?" kembali Yu Jiefang bertanya karena masih penasaran.
"Kalian akan segera tahu, sekarang aku mohon tetua Lin untuk pergi ke sana. Mohon pengertiannya,"
"Dengan senang hati. Kalau begitu, aku pergi sekarang juga," ucapnya lalu melesat dari sana.
Shin Shui dan dua tetua kembali berdiskusi mengenai rencananya. Dua tetua tersebut sebenarnya masih diliputi rasa penasaran, hanya saja untuk bertanya lebih jauh, mereka merasa segan dan tidak berani.
Pagi harinya, Lin Zong He, salah satu tetua Sekte Bukit Halilintar, sudah tiba di pintu gerbang salah satu sekte terbesar.
Sekte Pedang Emas.
Para penjaga segera tahu siapa yang datang. Karena itu, tanpa berlama-lama Lin Zong He sudah diterima dan bahkan kini sudah berhadapan dengan Kepala Tetua Sekte Pedang Emas.
Yuan Shi, si Raja Seribu Pedang.
Walaupun usianya sudah hampir tujuh puluh atau delapan puluh tahunan, tetapi wibawanya justru masih terlihat. Bahkan semakin tua, semakin kuat pula pancaran yang keluar dari tubuhnya.
Tanpa basa-basi, Lin Zong He segera memberikan surat dari Shin Shui untuk orang tua itu.
Kepala Tetua Yuan Shi segera membuka surat untuknya karena merasa sangat penasaran. Sebab tidak biasanya Sekte Bukit Halilintar meminta bantuan.
"Senior Kepala Tetua Sekte Pedang Emas, Yuan Shi yang terhormat. Aku meminta kemurahan hatimu. Aku minta uluran tangan, ada masalah darurat yang sedang terjadi di Sekte Bukit Halilintar. Aku harap senior sudi untuk mengulurkan tangan. Tengah malam nanti aku tunggu di hutan Bukit Awan. Di harapkan senior membawa beberapa tetua pilihan untuk ke sana, tapi aku minta jangan langsung keluar sebelum ada tanda-tanda."
"Shin Shui"
Setelah membaca sampai selesai surat tersebut, raut wajah Yuan Shi langsung berubah. Ada perasaan aneh dan firasat buruk dalam benaknya. Tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi.
Orang tua itu sudah malang melintang di dunia persilatan selama puluhan tahun. Pengalamannya jangan diragukan lagi, apalagi ilmu yang dia miliki.
Mendapatkan surat seperti yang diberikan oleh Shin Shui, sedikit hanyak dia langsung mempunyai gambaran apa yang sedang terjadi.
"Tetua Lin, aku sarankan supaya Anda cepat kembali. Sesuatu akan segera terjadi, beritahu juga kepada Kepala Tetua Shin Shui bahwa aku bersedia," katanya dengan singkat.
__ADS_1
Hanya itu saja yang dia katakan. Tidak ada yang lain, setelah berkata seperti itu, Lin Zong He segera mengundurkan diri dan kembali ke Sekte Bukit Halilintar.