Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Banjir Darah


__ADS_3

"Kau yakin kami tidak mampu mengalahkan mereka?" tanya Chen Li masih dalam ekspresi yang sama.


"Sangat yakin. Sebab kami percaya kepada mereka,"


"Bagus. Aku harap kau tidak menyesali kata-katamu ini,"


"Seumur hidup, aku tidak pernah menyesal,"


"Baik. Aku ingin melihat bagaimana kesungguhanmu,"


Ketiga orang tersebut segera membalikkan badannya. Dia menatap lima puluhan orang yang ada di sana. Kekuatan mereka setara dengan para penjaga tadi. Yaitu Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan.


Bagi Chen Li dan Huang Taiji, mereka bukanlah masalah. Dua orang itu sudah sangat sering melewati pertarungan hidup dan mati. Keadaan seperti ini sudah biasa mereka hadapi.


Hanya saja bagi Moi Xiuhan beda lagi. Seumur hidupnya, gadis kecil itu baru mengalami hal semacam ini. Dia baru turun ke dunia persilatan. Pengalaman bertarungnya masih sangat dangkal.


Untung gadis kecil itu cerdas dan cekatan. Kalau tidak, entah sudah berapa kali dia harus mati.


Tanpa terasa keringat dingin telah membasahi punggungnya. Badannya terasa sangat lemas. Kalau tidak kuat, mungkin sekarang dia sudah pingsan.


Namun bagaimanapun juga, dia harus tetap bertahan. Moi Xiuhan tentu tidak ingin mengecewakan Ye Rou selaku neneknya sendiri.


Dia mengepalkan tangan supaya mendapatkan keberanian tambahan.


"Serang!!!


Komando telah diberikan. Lima puluh orang segera maju dengan serentak. Sinar pedang dan senjata lainnya tampak menyilaukan mata saat terkena pantulan lampu.


Malam semakin dingin. Langit semakin gelap. Udara sengat mencekam.


Sebab sesuatu mengerikan sebentar lagi akan segera terjadi.


"Xiuhan'er, kau jangan khawatir. Aku akan menjagamu dalam jarak dekat. Lakukan apa yang ingin kau lakukan," terdengar Huang Taiji berkata tepat di sisi telinga kirinya.


Mendengar suara itu, semangat Moi Xiuhan bangkit kembali. Dia menjadi lebih percaya diri. Dia sudah tidak ragu lagi.


Tiga orang tersebut segera bergerak.


Chen Li sudah mengeluarkan seruling giok hijau juga. Dua senjata andalannya siap untuk kembali memakan korban nyawa. Entah berapa banyak jatah yang akan dia dapatkan malam ini.


Namun berapapun jumlahnya, dia tidak peduli. Selama dia mampu, selama ada kesempatan untuk membunuh, maka Chen Li akan membunuh.


Tanpa mengenal ampun. Tanpa mengenal perasaan.

__ADS_1


Cahaya biru dan hijau segera bercampur menjadi satu dengan cahaya lampu. Sinar biru memanjang keluar. Sinar hijau menyabet.


Walaupun musuh yang maju menghadangnya hampir sepuluh orang, tetapi Chen Li tidak takut.


Karena dia memang tidak kenal rasa takut.


"Cahaya Biru Membelah Mega …"


"Bertempur Melawan Raja Naga …"


Dua jurus dahsyat dari senjata berbeda segera dia lancarkan dalam satu kali serangan. Kekuatannya bertambah hebat. Gaya bertarungnya bertambah lihai.


Semakin banyak pengalaman seseorang, semakin banyak juga kemajuan yang akan didapatkan.


Dengan kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi, Chen Li menerjang semua lawannya. Lima kepala menggelinding hanya dalam beberapa kali gebrakan. Tiga kepala lainnya hancur sehingga otak berceceran di tanah.


Semua itu hanya disebabkan oleh seorang bocah kecil. Tetapi dia bukan bocah kecil biasa.


Dia adalah monster. Monster yang menakutkan.


Tidak berhenti sampai di situ saja, cahaya biru memanjang kembali membelah langit kelabu. Beberapa kali tebasan pedang dia lancarkan, beberapa jerit juga terdengar memilukan.


Cahaya hijau selalu mengiringi gerakannya. Kaki Chen Li turut andil. Kedua kakinya sesekali melancarkan tendangan berbahaya.


Dia mengamuk seperti naga. Ke mana tubuhnya bergerak, di sana pasti ada nyawa melayang.


Walaupun kekuatannya tidak sehebat Chen Li, tapi semangatnya tidak kalah. Meskipun pengalaman bertempurnya masih cetek, namun kecerdasannya tidak diragukan lagi.


Beberapa nyawa telah melayang di tangan gadis kecil mungil itu. Siapapun tidak akan menyangka bahwa tangan yang putih nan lembut, ternyata mampu membunuh secara kejam.


Setiap orang yang tewas di tangannya, pasti di jantung mereka tertancap satu senjata rahasia teratai putih.


Huang Taiji Lu si Pendekar Tombak Tanpa Tanding tentunya tidak mau kalah dengan kedua bocah yang bersamanya. Beberapa kali dua tangannya di kibaskan, lima hingga enam nyawa pasti akan melayang.


Dia tidak mau mengeluarkan Pedang Tombak Surga Neraka. Kalau memang tidak diperlukan, pantang bagi dia untuk menggunakannya.


Sebab senjata pusaka itu bukanlah senjata sembarangan. Sekali dicabut keluar, dia tidak akan mau masuk kembali sebelum merenggut nyawa incaran utamanya.


Huang Taiji Lu menambah daya kekuatannya dalam melancarkan serangan. Begitu juga dengan Chen Li.


Keduanya seperti dua ekor naga yang sedang mengamuk menghajar apapun yang ada di depan mereka.


Hanya dalam waktu sekitar tiga puluh menit, tak kurang dari empat puluh nyawa telah melayang di tangan ketiga orang itu. Tentu saja yang paling banyak membunuh adalah Chen Li dan Huang Taiji.

__ADS_1


"Li'er, siapa yang akan mendapatkan jatah terakhir?" teriak Huang Taiji Lu.


"Biar aku saja," jawabnya dingin.


Kalau dalam keadaan seperti ini, dia memang selalu dingin. Sekalipun yang mengajak bicara ayahnya sendiri, dia akan tegap dingin. Karena saat membunuh, Chen Li telah berubah menjadi satu sosok yang menyeramkan.


Mungkin suatu saat nanti dia akan lebih menyeramkan daripada Malaikat Maut sekalipun.


Pedang Awan dan seruling giok hijau sudah dia simpan kembali.


Sekarang kedua tangannya tidak memegang apapun. Namun ini belum berakhir, justru sekarang lah awal dari segalanya.


Chen Li tersenyum dingin. Matanya menatap tajam. Mata yang aneh, mata yang mengerikan.


Kedua tangannya di angkat secara bersamaan. Mendadak batu-batu dan tanah berterbangan seperti dilanda angin. Namum bukannya hancur, tanah dan batu itu justru bertumpuk menjadi satu.


Kedua tangan itu mengepal secara tiba-tiba.


Bumi bergetar. Jantung setiap orang juga berdebar kencang karena kejadian yang tidak pernah diduga ini.


"Blarr …"


Ledakan terdengar sangat keras. Tanah dan batu menjadi lebih keras dari aslinya. Semuanya menghunjam tubuh sepuluh orang yang masih tersisa. Luncuran tanah seperti besi runcing.


Datangnya bagaikan hujan deras.


Jeritan mengerikan terdengar susul menyusul. Sepuluh orang telah roboh. Bahkan para pendekar lain yang ada di dekatnya hampir saja ada yang menjadi korban salah sasaran.


Moi Xiuhan terbengong. Dia tidak pernah menyangka bahwa kekuatan Chen Li sehebat ini. Sepuluh orang musuhnya juga sama, mereka tidak pernah menduga bahwa suara gemuruh tadi diakibatkan karena kekuatan bocah dingin itu.


Mereka ingin bertindak, namun sayangnya semua sudah terlambat.


Lima puluh nyawa manusia melayang. Lima puluh mayat berserakan bersama darah yang terus mengalir.


Malam ini, di sana pasti akan banjir. Tetapi bukan banjir air. Melainkan banjir darah.


Chen Li berputar ke atas. Sebuah tenaga dahsyat menggulung dirinya. Pusaran berwarna putih menghalangi pemandangan semua orang yang ada si sana.


"Brugg …"


Tanah kembali bergetar. Tetapi bukan karena Chen Li.


Hal itu disebabkan karena kehadiran sosok lain.

__ADS_1


Dua ekor siluman kera sudah berada di hadapan semua orang. Chen Li duduk di pundak salah satu siluman kera.


San Ong dan Ong San.


__ADS_2