Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perintah Dari Kaisar


__ADS_3

Kaisar Wei An tidak bicara apa-apa lagi. Hanya ucapan rasa terimakasih yang keluar dari mulutnya. Padahal Shin Shui bicara sangat panjang lebar, tapi dia hanya membalasnya dengan satu patah kata saja.


Meskipun begitu, tapi Pendekar Halilintar tidak merasa marah ataupun kesal. Dia justru malah tersenyum. Senyuman yang hangat, berbeda dengan senyuman sebelumnya.


Meskipun hanya satu patah kata, tapi Shin Shui tahu bahwa maknanya lebih dalam dari pada lautan. Jawaban terimakasih itu sudah lebih dari cukup karena sudah mewakili segalanya.


Kepada seorang sahabat, kau tidak perlu bicara panjang lebar. Cukup bicara singkat, asalkan penuh kejujuran dan ketulusan, maka sahabatmu akan dapat mengerti. Sebab setiap sahabat sudah pasti dapat mengerti dan memahami perasaan sahabatnya sendiri.


Seperti juga Shin Shui. Kata terimakasih yang diucapkan oleh Kaisar Wei An adalah kata tertulus dari yang paling tulus.


Pendekar Halilintar maju selangkah. Kaisar Wei An juga melakukan hal yang sama. Jika dua orang sahabat sudah saling berhadapan, maka mereka pasti akan berpelukan.


Kedua orang itu benar-benar saling peluk satu sama lain.


Shin Shui merasa gembira karena Kaisar Wei An sudah kembali lagi seperti semula. Dia telah bangkit dari keterpurukan, semangatnya telah kembali, begitu juga dengan rasa tanggungjawabnya.


Sedangkan Kaisar sendiri, dia merasa sangat beruntung dan bahagia karena mempunyai sahabat seperti Shin Shui yang mampu menarik sahabatnya sendiri dari jurang tanpa dasar.


Jika sahabat Kaisar Wei An disuruh memilih seorang sahabat, maka dia pasti akan memilih Shin Shui. Baginya, Pendekar Halilintar jauh lebih baik jika dibandingkan dengan seribu orang sahabat.


Seribu orang tidak bisa menjadi satu. Tapi yang satu sangat bisa untuk menjadi seribu orang.


"Akhirnya kau kembali lagi ke duniamu. Sekarang, rencana apa yang akan kau jalankan selanjutnya?" tanya Shin Shui setelah keduanya duduk kembali.


"Tenanglah. Aku ingin memikirkan dulu sambil minum arak," jawab Kaisar Wei An tertawa.

__ADS_1


Tanpa sungkan, lagi dia langsung menuangkan arak ke dalam cawan. Keduanya segera bersulang atas hal yang bagi mereka patut di rayakan ini.


Di Kekaisaran Wei yang sekarang, mungkin hanya Shin Shui yang bisa bebas melakukan apa saja kepada Kaisar. Jika itu orang lain, jangan harap mereka bisa sedekat ini dengannya.


Mereka bisa seperti itu karena keduanya adalah sahabat. Sahabat yang saling mengerti satu sama lain.


"Besok aku akan mengirimkan para pendekar pilihan yang dimiliki Istana Kekaisaran. Aku juga akan menyebarkan surat perintah kepada seluruh sekte yang bersedia bergabung dengan kita. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membentuk sebuah kekuatan besar. Perang sudah di depan mata, kita tidak boleh bersantai karena semuanya menyangkut keselamatan Kekaisaran Wei," kata Kaisar Wei An seolah sedang mengingatkan kepada Shin Shui.


Pendekar Halilintar hanya diam mendengarkan. Dia tidak memotong bicara Kaisar Wei An. Walaupun dalam hatinya merasa geli, tapi Shin Shui lebih memilih untuk tetap diam. Dia tidak mau mematahkan kembali semangat Kaisar itu.


"Baik. Kita lakukan semuanya dengan segera. Aku menunggu perintah dari Kaisar," jawab Shin Shui dengan tegas. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi kesedihan.


"Untuk kau sendiri, kau harus turun tangan melihat semua daerah rawan yang ada di tanah air kita. Kita harus bergerak lebih cepat dari pada musuh. Untuk saat ini, telat satu langkah saja, berarti kita sudah kehilangan kesempatan cukup besar,"


"Aku mendengarkan. Perintah akan segera dilaksanakan,"


"Aku mengerti,"


"Kau perintahkan orang-orang dunia persilatan agar menyelamatkan rakyat, ungsikan mereka ke tempat yang lebih aman. Walaupun kemungkinan besar kita akan gugur nantinya, hal itu tidaklah masalah. Yang terpenting nyawa rakyat harus selamat. Aku sendiri akan memerintahkan tentara Istana Kekaisaran untuk mengamankan sebagian rakyat lainnya yang berdekatan dengan Kotaraja,"


"Baik. Semua perintah dari Kaisar akan segera aku jalankan,"


"Bagus. Kita hanya bisa berharap bahwa semua rencana yang telah aku susun bersama para penasihat dan para jendral akan berjalan dengan lancar,"


"Semoga saja semuanya sesuai harapan,"

__ADS_1


"Ya, semoga. Karena jika semua rencana kita gagal, itu artinya Kekaisaran Wei juga akan berada dalam bahaya,"


"Menang atau kalah bukan menjadi persoalan utama. Yang paling penting untuk saat ini adalah kita harus berjuang hingga titik darah penghabisan," tegas Shin Shui.


Sebelumnya kedua orang itu memperlihatkan hubungan persahabatan mereka yang sangat kental dan akrab. Tetapi sekarang, hanya dalam waktu sekejap mata, kedua orang itu telah berubah. Mereka seperti orang-orang yang memandang tinggi tatakrama. Keduanya tidak ada yang tersenyum. Mereka benar-benar berlaku lebih serius dari pada sebelumnya.


Shin Shui diam tidak bicara. Dia sedang menanti ucapan Kaisar yang selanjutnya. Dalam keadaan seperti sekarang, dia sendiri paham betul bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Apalagi hanya memikirkan masalah pribadi. Saat ini adalah saat-saat yang paling tepat untuk menentukan kehidupan di Kekaisaran Wei selanjutnya.


Semuanya bergantung kepada mereka berdua. Karena semua orang berada di bawah perintahnya. Tinggal menunggu perintah yang keluar dari mulut mereka, maka semua orang siap untuk mengorbankan segalanya.


Jika keduanya berhasil menjalankan semua rencana dengan matang, maka urusa lainnya akan jauh lebih mudah. Tetapi jika gagal, hal yang terjadi selanjutnya akan sulit untuk dibayangkan.


"Kita keluar sekarang, mereka sudah datang," kata Kaisar Wei An setelah sekian lama terdiam.


Shin Shin kebingungan. Mereka siapa yang dimaksud oleh Kaisar Wei An?


"Siapa yang Kaisar maksud?" tanya Shin Shui menggunakan tatakrama seperti yang telah ditentukan.


"Nanti kau akan tahu," jawab Kaisar Wei An.


Dia langsung berjalan keluar. Shin Shui kemudian mengikutinya dari belakang. Dia masih penasaran siapakah mereka yang dimaksudkan oleh Sang Kaisar. Tetapi meskipun begitu, Pendekar Halilintar tidak lagi banyak bicara. Dia hanya diam sambil terus mengikutinya.


Kaisar berjalan ke sebuah halaman Istana Kekaisaran yang sangat luas. Shin Shui sangat mengenal halaman luas tersebut, karena di halaman itulah biasanya para tentara Kekaisaran berkumpul.


Bahkan di halaman itu pula dirinya pernah bertaring melawan Kaisar Wei An beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Kedua orang itu berdiri di pinggir halaman luas tersebut. Ribuan tentara mengelilingi mereka berdua. Tidak lupa juga dengan beberapa penasihat, termasuk Penasihat Mu, dan adik Kaisar sendiri, Wei Li.


Shin Shui ingin mengajukan tanya, tetapi sebelum dia mengutarakan niatnya, Pendekar Halilintar melihat ada ratusan titik hitam di kejauhan sana yang sedang menuju ke arah mereka.


__ADS_2