
Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan.
Sosok yang dimaksud memang bocah istimewa itu. Setelah sekitar dua mingguan di gembleng habis-habisan oleh Huang Taiji si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding, lalu dilatih lagi selama dua bulan lebih, kini akhirnya Chen Li telah kembali.
Dia kembali dengan kekuatan baru. Semangat baru. Dan dengan hal-hal yang baru juga.
Chen Li sebentar lagi memasuki usia empat belas tahun. Dia telah menjadi remaja pada masa tersebut. Kegagahan Pendekar Halilintar turun kepadanya. Ketampanan Shin Shui dan kecantikan Yun Mei menyatu dalam wajah bocah remaja itu.
Dia bertambah tampan. Di Kekaisaran Wei sekarang, remaja tertampan pada urutan pertama mungkin adalah dirinya. Meskipun sepasang matanya masih selalu ditutup oleh kain sutera putih, tapi hal tersebut tidak mengurangi ketampanan wajahnya.
Justru malah membuatnya semakin tampan. Semakin menarik perhatian lawan jenis. Menarik simpati semua orang. Dan yang paling penting, dengan sifatnya yang terkadang sangat dingin, membuat Chen Li menjadi satu sosok yang benar-benar berkharisma.
Kharisma yang dia miliki tidak akan dimiliki siapapun di dunia ini. Sebab kharisma itu bukan kharisma para manusia. Melainkan kharisma para Dewa.
Pendekar Tanpa Perasaan telah tumbuh menjadi sosok yang sangat luar biasa. Di usianya yang mulai remaja, dia telah memperlihatkan bakat untuk menjadi pendekar tangguh. Bakatnya untuk menjadi seorang pemimpin telah terlihat dengan jelas. Seiring berjalannya waktu, bakat itu bertambah besar, bahkan lebih besar dari pada bakat Shin Shui saat seusia dengannya.
Suasana di sana menjadi sunyi. Ratusan orang itu seakan hanya merupakan ratusan patung yang tidak dapat bicara apapun. Mereka semua berdiri di tempatnya masing-masing. Seorang pun tidak ada yang bergerak. Bahkan mereka tidak berani menarik nafas dalam-dalam.
Semuanya terpukau. Mereka seakan terbius oleh satu sosok berpakaian serta berjubah putih yang sangat tampan itu. Apalagi usianya masih remaja.
Sosok itu terlihat seperti seorang pangeran muda yang turun dari langit.
Jila tidak ada kain sutera putih yang mengikat kedua matanya, niscaya tidak akan ada yang percaya bahwa bocah itu adalah Chen Li. Si Pendekar Tanpa Perasaan putera Pendekar Halilintar.
Chen Li tersenyum dingin. Senyumannya masih sama seperti setahun lalu. Masih dingin. Masih kaku. Masih membawa keseraman. Dan masih membawa kabar kematian.
Siapapun sudah mengetahui, jika Pendekar Tanpa Perasaan sudah memperlihatkan senyuman khasnya itu, maka Malaikat Maut telah bersiap-siap untuk mencabut nyawa.
Lantas, nyawa siapa yang akan dicabut?
Setelah beberapa saat lamanya terdiam, dua pasukan itu baru sadar. Mereka baru menyadari bahwa sekarang dirinya sedang berada di medan peperangan. Mereka baru ingat bahwa sekarang bukan saatnya untuk berdiam diri. Sekarang adalah saatnya untuk berjuang menjalankan tugasnya masing-masing.
__ADS_1
Pasukan musuh telah siap siaga. Setelah menyadari kembali bahwa puluhan rekannya telah mampus hanya dalam sekejap mata, hawa pembunuhan langsung terasa sangat pekat.
Asap hitam menggulung di atas langit lalu kemudian menyatu dengan gumpalan awan kelabu.
Asap apa itu? Apakah asap dendam? Atau asap kebencian?
Terlepas asap apapun itu, Chen Li sama sekali tidak takut. Dalam dirinya, ketakutan telah melebur menjadi satu bersama keberanian.
Chen Li bergerak lebih dahulu dari semua musuhnya. Pendekar Tanpa Perasaan tidak mau memberikan pengampunan bagi pasukan musuh.
Apapun yang terjadi, dia harus bisa membunuh mereka semua.
Wushh!!!
Sinar hitam pekat memanjang terlihat. Chen Li menebaskan Pedang Hitam miliknya ke arah ratusan pasukan musuh. Suara raungan iblis terdengar saat pedang pusaka itu diayunkan.
Beberapa pasukan musuh yang tidak sempat menangkis langsung tewas. Kepala mereka terbabat kutung akibat ketajaman Pedang Hitam milik Pendekar Tanpa Perasaan.
"Serang!!!"
Ratusan pasukan langsung maju menyerang. Kilatan tombak dan golok bersatu menjadi satu bagian. Kilatan perak seakan berubah menjadi tangan raksasa yang menyelimuti bumi. Suara dentingan senjata tajam terdengar hingga ke jarak yang cukup jauh.
Peperangan di tempat itu terjadi kembali. Semua orang mengerahkan kemampuan masing-masing demi meraih kemenangan.
Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan adalah sosok yang paling mencolok dalam peperangan kali ini. Usianya remaja. Tapi kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan anak seusianya.
Dia menerjang ke setiap musuh yang berani menghalangi dirinya. Pedang Hitam terus bergerak tanpa kenal kata berhenti. Pedang itu memperlihatkan keganasannya. Sekilas, Pedang Hitam memang mirip seperti senjata tua yang mulai tumpul. Siapa sangka, ternyata di balik semua itu terdapat sebuah keistimewaan yang tidak ada pada senjata pusaka lain.
Wushh!!! Crashh!!!
Belasan kepala manusia kembali jatuh ke tanah. Belasan tubuh ambruk bersamaan. Darah muncrat ke semua penjuru. Pendekar Tanpa Perasaan melompat tinggi ke atas. Pedang Hitam di tangannya masih terus bergerak melancarkan tebasan dan tusukan yang membawa maut.
__ADS_1
"Hujan Tanah …"
"Ombak Mengamuk …"
Wushh!!! Wushh!!!
Chen Li mengeluarkan jurus barunya. Seperti yang diceritakan sebelumnya, bocah itu di gembleng habis-habisan oleh Huang Taiji agar bisa menguasai dua kekuatan yang berbeda dari dua unsur Mata Dewa.
Perjuangan keras Chen Li tidak sia-sia. Dia benar-benar berhasil menguasai ajaran Huang Taiji dengan sangat baik. Sekarang Chen Li telah menguasai dua unsur Mata Dewa yang sudah terbuka. Unsur bumi dan unsur air. Bahkan hebatnya lagi, bocah itu berhasil pula menggabungkan dua unsur berbeda tersebut.
Tanah mendadak hancur. Bumi bergetar hebat. Detik selanjutnya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba air mendadak muncul lalu menerjang ratusan pasukan musuh dengan ganas.
Air itu menggulung seperti tsunami yang mengerikan. Tanah yang tadi hancur mencelat tinggi ke atas lalu turun ke bawah dengan kecepatan tinggi. Hujan tanah yang membawa kematian terjadi.
Raungan kematian mulai terdengar memilukan. Jeritan kesakitan mewarnai kejadian yang mengerikan ini.
Hanya dalam waktu sesaat saja, lebih dari sebagian pasukan musuh telah tewas membawa perasaan ngeri ke alam baka.
Chen Li seperti Malaikat Maut.
Dia membunuh musuhnya tanpa kenal lelah. Tanpa banyak bicara, dia habisi semua nyawa manusia laknat itu.
Pedang Hitamnya bergerak semakin ganas sesaat setelah dua jurusnya lenyap begitu saja. Seruling giok hijau sudah dicabut keluar.
Alunan nada yang menggetarkan jiwa dan raga terdengar. Gelombang suara yang keluar dari seruling pusaka itu mengandung satu kekuatan ghaib yang sulit untuk diceritakan.
Puluhan pasukan musuh menjerit sambil memegangi kepala mereka. Telinga orang-orang itu seperti sedang mendengar raungan dari neraka.
Secara perlahan, korban jiwa mulai berjatuhan kembali. Chen Li tidak berhenti memainkan serulingnya. Semakin lama, suara yang keluar dari seruling giok hijau makin dahsyat.
Gelombang angin yang tercipta menerbangkan segala yang ada di sekitarnya. Hembusan angin terasa sangat kencang menerpa tubuh.
__ADS_1