
Huang Taiji semakin merasa kagum kepada Fang Han selaku Kepala Tetua Sekte Tangan Dewa Kegelapan. Ternyata orang itu benar-benar teliti. Bahkan terkait hal-hal kecil saja diperhatikan. Semuanya diperhitungkan dengan cermat.
"Dia benar-benar sosok yang luar biasa," kata Chen Li sambil tetap berjalan.
"Benar, dia memang luar biasa," jawab Huang Taiji setuju dengan ucapan Chen Li.
Keduanya kemudian mempercepat langkah dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Hal ini dilakukan tentunya supaya mempercepat perjalanan dan mempersingkat waktu.
Terlebih lagi, Huang Taiji tidak mau jika masih tetap berada di tempat yang masih menjadi wilayah kekuasaan Sekte Tangan Dewa Kegelapan.
Sebisa mungkin, dia harus cepat keluar dari sana.
Bukan tanpa alasan, justru dia melakukannya karena sebuah alasan kuat.
"Paman, apakah kau tahu bagaimana ciri-ciri Dewi Tombak Asmara?" tanya Chen Li.
"Tidak …" jawabnya samb tersenyum.
"Aii, kalau begitu bagaimana kita akan mencarinya?"
"Kau jangan khawatir Li'er. Walaupun sekarang belum tahu, tapi nanti akan segera tahu. Kita bisa mencari informasi di tengah perjalanan nanti," ucap orang tua itu.
"Baiklah. Li'er percayakan semua kepada Paman,"
Chen Li sangat percaya, jika pamannya sudah berkata, maka dia tidak akan berdusta.
Lagi pula, kalau dia tidak percaya kepadanya, mau percaya kepada siapa lagi?
Keduanya semakin mempercepat langkah. Entah sudah ada di kota mana. Yang jelas, sekarang telah memasuki siang hari.
Tak terasa siang hari sudah berlalu.
Saat ini hari sudah hampir sore hari. Mereka sudah jauh dari kota sebelumnya. Entah sekarang keduanya berada di kota mana. Yang jelas keadaan di sini berbeda dengan keadaan di tempat lainnnya.
Kota itu agak sepi. Hanya terlihat segelintir warga yang berkeliaran di luar. Padahal hari masih sore, tapi kenapa keadaan demikian sepi? Apakah ada sesuatu yang sudah terjadi di sini?
Langit saat itu mendung. Matahari juga telah tertutup oleh awan kelabu. Angin berhembus lirih membawa suatu perasaan yang sulit untuk dibicarakan.
"Kita percepat langkah Li'er. Sesuatu telah menimpa kota ini," kata Huang Taiji memasang ekspresi wajah serius.
"Baik,"
Keduanya segera melesat ke depan seperti luncuran anak panah. Belum lagi mencapai jarak yang jauh, seseorang berpakaian hijau tua terlihat berlari ke arah keduanya.
Usia orang itu sudah cukup tua. Sekitar empat lima puluhan tahun. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Wajahnya juga terlihat pucat pasi. Nafasnya tersengal-sengal.
Kedua alisnya hitam. Kerutan di wajahnya sudah menggambarkan pahit manisnya kehidupan. Jubahnya berkibar tertiup angin senja.
Dia berhenti tepat di depan Chen Li dan Huang Taiji.
Melihat ada gelagat yang tidak beres, Huang Taiji segera mengajukan pertanyaan kepada orang tua itu.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?"
"Ada, adaa …"
"Ada apa?"
"Ada siluman yang menyerang ke sekte kami. Tapi tidak ada yang mampu mengalahkannya, kami merasa kewalahan," jawab kakek tua tersebut.
Dia sangat ketakutan. Terlihat jelas saat berusaha mengucapkannya, tubuh orang tua itu tampak bergetar.
"Bawa kami ke sana sekarang juga," tegas Huang Taiji tanpa banyak bicara lagi.
"Ba-baik Tuan," jawab pria si tua.
Dia segera melesat menuju ke tempat yang dimaksud. Dalam keadaan yang panik, gerakannya sedemikian cepat sehingga terpaksa Huang Taiji harus memegangi lengan Chen Li agar tidak ketinggalan.
Setelah beberapa saat menempuh jarak, kini ketiganya sudah tiba di lokasi kejadian. Terlihat ada tiga ekor siluman kera berbulu biru yang selalu mengalirkan arus listrik sedang mengamuk menghancurkan sebuah bangunan besar.
"Kera Biru …" desis Chen Li sedikit terkejut.
Ketiga kera itu membantai orang-orang yang berusaha melawannya. Puluhan orang telah terkapar dengan berbagai macam luka yang berbeda.
Biasanya jika di sebuah sekte kecil seperti ini, kekuatannya tidak seberapa. Bahkan petingginya hanya ada beberapa orang saja. Itu pun dengan kekuatan yang terbatas pula.
Sehingga wajar jika orang tua tadi terlihat sangat panik sekali. Apalagi melihat kenyataan murid-muridnya terkapar oleh amukan tiga siluman itu.
Seekor siluman kera menjerit kencang. Suaranya menggelegar seperti raungan iblis di neraka.
Huang Taiji sedang mengawasi situasi lebih dulu. Dia melihat ada seorang kakek tua sedang bertarung mati-matian melawan seekor siluman kera biru.
"Li'er, keluarkan San Ong dan Ong San. Biarkan mereka berolahraga," kata Huang Taiji.
"Sudah tentu Paman. Mari,"
Keduanya melompat dari atap ke bawah. San Ong dan Ong San langsung dikeluarkan saat itu juga.
Jlegg!!!
Bumi bergetar seperti dilanda gempa ketika dua siluman kera putih mendarat di tanah.
"Tuan, biar kami saja yang menghadapi siluman busuk ini," ucap Huang Taiji kepada si kakek tua itu.
Kakek tua tersebut tidak berpikir panjang. Dia langsung mengangguk lalu menyingkir.
Grrr!!!
San Ong menggeram sangat marah. Semua gerakan siluman terhenti untuk sesaat.
"Li'er, kau hadapi puluhan singa gosong itu," kata Huang Taiji sambil menuding dan mengejek siluman tersebut.
"Dengan senang hati,"
__ADS_1
"Bagus. Sisanya serahkan kepada kami,"
"Baik,"
Wushh!!!
Wushh!!!
Empat bayangan putih berkelebat secepat kilat. Mereka langsung menempatkan posisinya masing-masing.
Chen Li tidak banyak bicara lagi, begitu jaraknya sudah dekat dengan lima belasan singa hitam, bocah itu segera mengeluarkan Pedang Hitam dan seruling giok hijau secara bersamaan.
"Mau ke mana siluman jelek?" ejeknya saat berhenti di hadapan dua siluman singa hitam.
Singa itu nampak marah. Dia meruang keras mendatangkan hembusan angin yang mengibarkan tubuh si bocah seperti diterpa badai.
"Aaaaaowawawa …" Chen Li malah mengejek dengan membuka mulutnya.
Mulut itu tampak semakin melebar. Pakaiannya terus berkibar.
Grrr!!!
Meresa dilecehkan oleh seorang bocah ingusan, dua siluman singa hitam segera melompat lalu melancarkan cakaran yang tajam. Disusul kemudian dengan siluman yang di sisinya.
Dua serangan dilancarkan secara bersamaan. Kuku yang tajam sedikit mengeluarkan kilatan putih.
Chen Li melompat mundur, setelah itu dia balas menyerang dengan cara menggerakan seruling pusaka warisan kakek gurunya.
Wuttt!!!
Cahaya hijau membelah udara. Tangan kananya segera memutar seruling untuk membekrkam hantaman dan sodokan.
Pedang Hitam tidak tinggal diam. Pedang itu menusuk ke depan secepat tarikan nafas.
Melihat rekannya terancam, serentak tiga belas siluman singa hitam lainnya segera membantu. Mereka berlompatan secara bersamaan sambil melancarkan cakaran dan gigitan yang kuat.
Seekor singa menyerang dengan jarak jauh. Cahaya kuning menerjang Chen Li.
Dia diserang dari segala arah. Tidak ada kesempatan untuk menghindar.
"Bagus," teriaknya kegirangan.
Dia segera menjejak kakinya ke tanah lalu tubuhnya membubung tinggi sambil berputar. Begitu turun, Chen Li langsung mengubah posisi.
Kaki di atas, kepala di bawah.
Wushhh!!!
Wuttt!!!
Seruling giok hijau berputar. Pedang Hitam ditebaskan dalam kecepatan tinggi.
__ADS_1