Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rencana Besar Tuan Tang


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukan malam hari. Li Feng dan Li Cun sudah berada di perguruan sebelumnya yang ingin mereka selidiki. Kedua orang itu sedang mengawasi keadaan sekitar dari atas dahan pohon yang ada di sana.


Sudah hampir tiga jam mereka berdiam di sana. Tapi belum ada tanda-tanda yang mencurigakan terjadi. Semuanya masih sama seperti mereka mengintai sebelumnya.


"Sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Li Cun.


"Tunggu sampai tengah malam. Aku yakin tengah malam nanti bakal terjadi sesuatu yang mencurigakan. Untuk saat ini, kita harus bersabar menunggu di sini," jawab Li Feng.


"Haishh, membosankan,"


"Kalau tidak membosankan namanya bukan mengintai," tegas Li Feng.


Seketika bocah itu terbungkam. Dia tidak mau bicara lagi.


Semilir angin berhembus pelan membelai bumi. Malam ini cuaca cukup cerah. Rembulan bersinar lumayan terang walaupun hanya separuhnya saja.


Suara kelelawar dan binatang malam lainnya mulai terdengar memecahkan keheningan malam.


Tengah malam sudah tiba. Rembulan sudah tergantung di atas kepala. Li Cun dan Li Feng semakin meningkatkan kewaspadaan mereka.


Saat mata Li Cun memandang ke arah pintu masuk perguruan, terlihat ada lima orang mencurigakan masuk ke sana. Para penjaga gerbang sangat menghormati orang-orang itu. Sepertinya kelima orang tersebut mempunyai pengaruh tertentu sehingga para penjaga pun menaruh rasa hormat.


"Kakak, kau lihat di sana. Ada lima orang mencurigakan," kata Li Cun kepada Li Feng.


Li Feng segera memperhatikan ke arah yang Li Cun tunjukkan. Ternyata dia pun melihat orang yang dimaksud. Hatinya semakin yakin bahwa di balik semua ini, ada sesuatu besar yang menyelimuti.


"Kita bergerak sekarang,"


"Bagaimana caranya?"


"Kita menyusup ke sana,"


Mereka pun segera turun dari pohon lalu perlahan-lahan mulai memasuki perguruan. Li Feng dan Li Cun memilih untuk menyusul dari belakang keduanya naik ke dinding perguruan lalu mengendap-endap dari atap.


Li Feng yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Kemampuannya semakin bertambah pesat. Baik dalam hal bela diri, maupun dalam penyelidikan. Selain itu, firasatnya jauh lebih tajam lagi.


Saat ini kedua orang tersebut sudah berada di atas atap. Li Feng membuka sedikit genteng untuk melihat ke dalam.


Di dalam ruangan tersebut ternyata ada sepuluh orang yang sama dang duduk di bangku. Di depan mereka terdapat sebuah mejar besar berisi makanan dan tentunya berguci-guci arak.


Sepuluh orang tersebut sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Li Feng mempertajam indera pendengarannya supaya bisa tahu apa yang sedang orang-orang tersebut bicarakan.


"Bagaimana? Apakah berhasil?"


"Tentu saja. Semuanya berjalan lancar. Perintah Tuan Tang sudah dilaksanakan. Beberapa sekte sudah menyetujuinya. Tapi kita kekurangan sumber daya dan harta. Semakin banyak yang kita miliki, maka semakin lancar pula rencana kita,"

__ADS_1


"Bagus. Masalah harta dan sumber daya, kalian tidak usah pikirkan. Yang terpenting rencana kita sudah berjalan mulus," kata Tuan Tang itu.


"Itu sangat baik. Aku yakin rencana kita akan berhasil,"


"Apakah anggotamu sudah menyebar?"


"Anggota kami sudah menyebar ke berbagai penjuru. Kami sudah mendirikan dua puluh perguruan lebih. Selain itu, anggota kami juga sudah masuk ke berbagai sekte yang ada di Kekaisaran ini,"


"Bagaimana dengan tugas yang paling utama?" tanya Tuan Tang.


"Sudah berjalan. Sudah ada puluhan pendekar yang menjadi korban atas namanya,"


"Hahaha, bagus, bagus. Dalam waktu dekat, namanya pasti akan hancur," kata Tuan Tang sambil tertawa keras.


"Tapi tuan, dua orang musuh utama kita juga sudah bergerak. Hanya saja untuk saat ini, kita masih unggul daripada mereka,"


"Hemm, segera urus mereka. Rencana besar ini harus berhasil. Bagaimanapun caranya," tegas Tuan Tang.


"Baik tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin,"


Saat mereka bicara, tiba-tiba saja Tuan Tang itu berbisik kepada orang-orang yang ada di sana. Tak lama, dia bersama lima orang lainnya sudah pergi keluar ruangan.


Gerakan mereka jauh lebih cepat daripada saar datang. Hanya sekejap mata, kelimanya sudah menghilang entah kemana.


"Kita sudah ketahuan," kata Li Feng kepada Li Cun.


Belum sempat Li Cun menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja tiga buah benda hitam meluncur deras menembus genteng yang mereka diami. Kecepatannya sangat cepat sekali.


Andai kata Li Feng tidak menarik Li Cun, niscaya bocah itu sudah berubah menjadi mayat saat ini.


"Kau pergilah. Cari tempat aman atau kalau tidak cari bantuan di sekte terdekat. Bawa lencana ini," ucap Li Feng kepada Li Cun sambil memberikan lencana Sekte Bukit Halilintar.


"Apa yang harus aku katakan?"


"Ceritakan saja semuanya,"


"Baik. Aku pergi sekarang juga," kata Li Cun lalu segera meninggalkan tempat tersebut.


Saat ini, di sana hanyalah ada Li Feng. Dia sedang berpikir keras, andai kata tidak menunjukan jati diri sebenarnya, maka dia pasti tidak akan bisa mengalahkan orang-orang perguruan ini dengan kekuatannya yang tidak maksimal.


Tapi kalau menunjukkan siapa dia, otomatis rahasianya akan terbongkar.


Setelah berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya dia memilih untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Masalah menyelidiki berbagai persoalan lainnya, masih bisa di atur.


Lebih baik menyusun ulang rencana daripada mati konyol. Tanpa basa-basi lagi, dia segera melepaskan semua penyamarannya. Setelah itu, tubuhnya menembus genteng secara mendadak.

__ADS_1


Orang-orang yang ada di sana nampak terkejut sekali ketika mereka mengetahui siapa yang datang.


Kini Li Feng sudah kembali menjadi Shin Shui. Pendekar paling ditakuti di Kekaisaran Wei. Walaupun usianya baru sekitar tiga puluh lima tahun, tapi masalah kekuatannya jangan diragukan lagi.


"Hemm, manusia seperti kalian ini yang harus aku bereskan segera," kata Shin Shui.


"Hehe, ternyata yang menguping tadi seorang tamu agung. Selamat datang Pendekar Halilintar," kata seseorang kepada Shin Shui.


Shin Shui menatap mereka sebentar. Dalam hati, dia cukup terkejut juga saat menyadari bahwa dari sepuluh orang itu memiliki kekuatan paling rendah setara dengan Pendekar Dewa tahap dua. Paling tinggi ada dua Pendekar Dewa tahap enam awal.


Walaupun dia bisa mengalahkan mereka, tapi membutuhkan waktu cukup lama untuk membereskan.


"Tidak perlu basa-basi lagi. Katakan rencana busuk apa yang akan kalian lakukan?"


"Kau ingin tahu? Boleh saja. Asalkan serahkan nyawamu dulu,"


"Keparat,"


Shun Shui segera mengibaskan tangannya dengan kuat. Kibasannya menghancurkan barang-barang yang ada di ruangan tersebut. Sepuluh orang itu terbang keluar.


Mereka sudah menanti di luar ruangan bersama dua puluh murid perguruan.


Tiba-tiba salah seorang memperagakan gerakan aneh. Sinar merah segera meluncur cepat ke dalam bangunan tersebut.


Shun Shui menyadari hal ini, dan dia tahu apa yang akan segera terjadi. Tanpa membuang waktu, Pendekar Halilintar segera melesat keluar. Dan tak lama saat dia tiba di luar, perguruan tadi langsung meledak semuanya.


"Duarr …"


Api mengepul ke udara. Asap hitam membumbung tinggi. Hanya sekejap mata, perguruan tersebut sudah dilalap api yang semakin membesar.


Dalam hati, Shin Shui memuji orang-orang tersebut. Sebab mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan matang. Andai kata dia lengah, sudah pasti dirinya kini telah berubah menjadi arang.


"Kau pikir bisa membunuhku semudah itu? Hemm, kau kira aku anak kemarin sore?" Shin Shui berkata dengan dingin.


Di hadapan puluhan orang, wibawa seorang pemimpin terpancar keluar dari dalam dirinya. Hawa seorang pemimpin besar segera terasa oleh dua puluh orang tersebut.


###


Note: Dalam kisah sekarang akan muncul berbagai persoalan. Baik itu mendadak ataupun sebuah rencana. Sebab di kisah ini, badai besar akan melanda.


Kalau hanya baca sekilas mungkin akan bingung, makannya jangan setengah-setengah ya😆biar tahu seluruhnya dan biar ngga bilang ceritanya ga nyambung.


Oke gengs, selamat menikmati


Jangan lupa likenya☕

__ADS_1


Salam pecinta kopi☕


__ADS_2