Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sepuluh Pendekar Dari Kekaisaran Lain


__ADS_3

"Hehe, nama Pendekar Halilintar yang sudah menyebar ke seluruh penjuru memang bukan omong kosong. Kami merasa salut dan merasa bangga bisa berhadapan langsung dengan tuan pendekar," kata seorang pemimpin dari mereka.


"Terimakasih atas pujian kalian. Perkataan orang kadang suka berlebihan. Aku datang ke sini untuk membongkar rencana besar di balik ini. Dan aku ingin tahu siapa dalang di balik kekacauan ini," ucap Shin Shui penuh wibawa.


"Kalau masalah itu mohon maaf. Kami tidak bisa memberitahukan kepada tuan pendekar,"


"Baik kalau begitu. Apakah benar bahwa kalian bukan berasa dari Kekaisaran Wei?" tanya Shin Shui.


Untuk sesaat pemimpin tersebut merasa terkejut. Dia tidak menyangka bahwa penyamarannya akan terbongkar semudah itu. Padahal dia sudah mengubah seluruh penampilan seperti halnya para pendekar yang ada di Kekaisaran Wei.


Tapi sayang, semua itu ternyata tidak bisa mengelabui Shin Shui si Pendekar Halilintar.


"Mata tuan pendekar memang jeli. Benar, kami bukan berasal dari Kekaisaran Wei,"


"Lalu kalian berasal dari mana?"


"Untuk hal ini kami tidak bisa menyebutkan,"


"Baik kalau begitu. Setidaknya aku sudah tahu sedikit tentang kebusukan ini,"


"Tuan memang pintar. Sekali lagi kami memuji,"


"Terimakasih. Lalu apa yang ingin kalian lakukan sekarang?"


"Kami ingin mendapatkan petunjuk dari tuan,"


"Baik, aku terima tantangan kalian. Silahkan mulai," ujar Shin Shui.


Sepuluh pendekar tersebut langsung mengurung Shin Shui dari segala penjuru. Para murid hanya menyaksikan dari pinggir menanti perintah.


Berbagai senjata sudah dicabut keluar. Kilatannya memecah kegelapan malam. Dalam sekejap mata, keadaan di sana sudah berubah seluruhnya. Hawa pembunuhan terasa sangat kental membuat bulu kuduk berdiri.


Kekuatan dari sepuluh pendekar tersebut terasa sangat menekan ke segala penjuru.


Shin Shui sudah siap sepenuhnya. Dia sadar bahwa pertarungan kali ini tidak bisa dipandang remeh. Apalagi musuh yang dihadapi mempunyai kekuatan besar karena mereka bukan berasal dari Kekaisaran Wei.


Seperti diceritakan sebelumnya, level tingkatan pendekar Kekaisaran Wei berbeda satu tingkat dengan Kekaisaran lainnya.


Tanpa sungkan lagi, Pendekar Halilintar segera mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia miliki. Malam yang cerah menjadi mendung. Gemuruh halilintar mulai menggelegar menyambar bumi. Kilatannya tampak sangat menyeramkan.


Tubuh Shin Shui sudah diselimuti kilatan halilintar. Jubahnya berkibar agung. Cahaya biru langsung menerangi keadaan di sana.

__ADS_1


Api yang tadi membakar habis perguruan, kini secara perlahan mulai mengecil. Yang tersisa hanyalah asap hitam dan bau berbagai benda terbakar.


"Silahkan," kata Shin Shui.


Begitu dia berbicara demikian, delapan orang langsung menyerang serempak. Tanpa tanggung, mereka segera melancarkan serangan dahsyat walaupun pertarungan baru akan dimulai.


Sebenarnya dalam hati sepuluh orang tersebut cukup gentar juga. Walaupun mereka tahu bahwa kekuatannya tinggi, tapi dihadapan Shin Shui, rasa percaya diri mereka hilang entah ke mana.


Nama Shin Shui benar-benar membuat siapaun jeri. Jangankan pendekar biasa, Kaisar Wei An sendiri menaruh rasa hormat dan merasa amat segan kepadanya. Tak heran jika orang lain merasa gemetar jika berhadapan dengan Pendekar Halilintar.


Delapan serangan dari berbagai penjuru sudah tiba. Shin Shui mulai bergerak menyambut sedangan tersebut.


Kedua tangannya dia bentangkan lalu di kibaskan. Dua buah sinar biru terang membentuk pedang memanjang terlihat melesat menangkis semua serangan.


"Trangg …"


Benturan keras terdengar. Delapan pendekar tersentak ke belakang. Jurus pertama mereka berhasil dipatahkan hanya dengan dua buah pedang energi. Hal ini tentu membuat semuanya bertambah gusar.


Kedelapan pendekar kembali menerjang dengan jurusnya masing-masing. Jurus kedua lebih berbahaya lagi. Sebab jurus ini mengandung sebuah kekuatan dahsyat.


Sabetan senjata tajam berkilat memenuhi langit. Kali ini Shin Shui tidak berdiam diri. Sebelum serangan lawan datang, dia lebih dulu menggelar jurus mautnya.


"Badai Halilintar …"


"Wushh …"


Karena jurus dahsyat tersebut, delapan pendekar itu menahan serangannya. Mereka sama sekali tidak bisa mengeluarkan jurus karena halilintar semakin menggelegar menakutkan.


Di saat seperti ini, Shin Shui tidak mau membuang waktu. Tubuhnya melesat secepat kedipan mata. Jurus selajutnya keluar lagi.


Delapan buah bola berwarna biru terang menerjang delapan musuh. Saat tiba di depan lawan, bola itu hancur dan menjadi serpisan kecil sebesar jarum yang melesat cepat ke arah mereka.


Kalau lawannya mempunyai kekuatan biasa saja, sudah pasti mereka tidak akan dapat menghindari serangan maut tersebut. Tapi delapan orang itu bukanlah pendekar biasa. Mereka pun mempunyai kekuatan dahsyat yang berbeda dari para pendekar Kekaisaran Wei.


Hanya dengan sebuah gerakan, pertahanan hebat segera tercipta. Jurus Shin Shui tak mampu menembus pertahanan tersebut.


Delapan pendekar selamat dari kematian. Wajahnya menunjukkan betapa tegang dirinya menghadapi pendekar seperti Shun Shui ini.


Belum juga habis rasa tegangnya, jurus susulan telah datang lagi. Kali ini tiga buah pusaran halilintar melesat menyambar mereka.


Shin Shui benar-benar mengeluarkan kekuatan sesungguhnya.

__ADS_1


Dua pemimpin yang melihat pertarungan ini pun tak mampu mengedipkan mata mereka. Pertarungan ini menjadi sebuah pertunjukan seru sekaligus menegangkan.


Delapan pendekar berhasil menghindari tiga pusaran halilintar. Tanpa menunggu lama, kini giliran mereka yang menyerang.


Serangan balasan berikutnya lebih dahsyat. Berbagai macam sinar melesat secepat angin ke arah Shin Shui. Kalau orang lain, sudah pasti tak akan mampu selamat dari ancaman delapan jurus ini.


Tapi hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Shin Shui.


Dia mampu menghindari dengan cara memutarkan tubuh. Gelombang kejut tercipta saat dirinya berputar. Gelombang itu bahkan menyapu seluruh penjuru. Kembali beberapa murid menjadi sasaran jurus Shin Shui.


Keadaan semakin menegangkan. Siapapun yang melihat ini, mereka pasti akan merasakan ketakutan yang teramat sangat.


Delapan benda pusaka sudah menyelimuti Shin Shui. Berbagai jurus senjata telah menyelimuti dirinya. Dia terkurung dalam semua serangan itu.


Shin Shui berusaha melawan mereka dengan tangan kosong. Walaupun tanpa senjata, tetapi tangannya tidak terluka sama sekali saat berbenturan dengan pusaka lawan.


"Tapak Amarah Dewa Halilintar …"


"Wushh …"


Dua tapak raksasa menerjang delapan lawannya. Mereka terpental lima belas langkah ke belakang. Kedelapan pendekar tersebut merasa tubuhnya sangat sakit. Bagaikan tertimpa sebuah gunung besar.


Pada kesempatan ini, Shun Shui mengibaskan tangannya. Dari udara hampa, mendadak muncul sebuah pedang yang mengeluarkan cahaya biru terang.


Pedang Halilintar.


Pedang legendaris yang menjadi incaran semua pendekar. Pedang itu sudah tergenggam erat. Bahkan sudah tercabut dari sarungnya.


Shun Shui kembali bergerak. Dengan pedang pusaka tersebut, rasa percaya dirinya semakin menjadi.


Dalam satu tarikan nafas, dia sudah tiba di hadapan satu orang lawan.


Lawannya tersebut terlihat sangat terkejut sekali. Sebab dia tidak tahu kapan Shin Shui bergerak.


"Trangg …"


Dua pusaka bertemu di tengah jalan. Shin Shui menyalurkan seluruh tenaganya ke Pedang Halilintar.


Hanya dengan satu kali benturan, senjata lawan patah jadi dua bagian.


Mimpi pun tidak pernah bahwa senjatanya bisa patah seperti itu. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi pendekar itu.

__ADS_1


Detik berikutnya, Pedang Halilintar sudah menembus jantung lawan. Kejadian ini sesungguhnya berlangsung beberapa detik saja.


Siapapun tidak akan dapat membayangkan bagaimana mengerikannya pendekar bernama Shin Shui itu.


__ADS_2