Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Jalan Kematian


__ADS_3

"Tentu saja. Aku sendiri bangga bisa menjadi penduduk asli Kekaisaran ini. Yah, meskipun memang pemerintahannya berada di jalan yang salah, setidaknya masih ada sisi positif dan sesuatu yang bisa dibanggakan oleh rakyatnya," ujar Ah Kui sambil menghela nafas.


"Kau benar, hanya saja kalau sekali salah, ke sananya tetap akan salah," timpal Chen Li.


"Begitulah. Bagaimana dengan Kekaisaran Wei? Apakah di tanah airmu juga sama seperti di Kekaisaran Sung ini?" tanya Ah Kui sambil terus memperhatikan keadaan di sekitarnya.


"Tidak, perbedaannya sangat jauh sekali. Ibarat langit dan bumi. Dulu saat aku masih di sana, setiap golongan pasti berselisih hanya karena masalah sepele. Tidak ada yang namanya hidup berdampingan dalam setiap golongan. Yang bisa merasakan damai hanyalah warga biasa yang awam saja. Sedangkan orang-orang yang bergelut dengan dunia persilatan, setiap saat pasti mengalami pertarungan. Yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati," jawab Chen Li menjelaskan keadaan singkat di Kekaisaran Wei beberapa tahun yang lalu.


Ah Kui tampak mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia sendiri seorang yang sudah lama bergelut dalam dunia persilatan, sedikit banyaknya, orang tua itu tentu tahu akan hal tersebut.


"Hidup menjadi seorang pendekar memang seperti itu," katanya lalu menghela nafas.


Mereka masih berjalan santai. Orang-orang yang berpapasan dengan keduanya semakin banyak. Semakin malam, keadaan di Kotaraja ternyata semakin penuh dan sesak.


Lampu-lampu lampion yang indah berjejer seperti mata gadis yang menyala terang penuh semangat. Mereka menyusuri semua keramaian hingga akhirnya memasuki sebuah jalan yang sunyi sepi.


Chen Li terkejut. Keadaan yang sekarang sedang dia lewati ternyata sangat bertolak belakang dengan semua keadaan sebelumnya. Di jalan itu seolah tidak ada yang namanya kehidupan.


Kalau tadi banyak lampu lampion berderet, sekarang justru tidak ada. Jika sebelumnya banyak orang yang berjalan sambil berbincang-bincang dengan rekannya, sekarang malah tiada seorangpun yang Chen Li saksikan.


Ke mana orang-orang tadi? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?


"Kenapa di sepanjang jalan ini sangat sepi?" tanya Chen Li kepada Ah Kui. Pemuda itu tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Karena di sini adalah jalan terlarang. Tidak setiap penduduk atau pengunjung bisa masuk ke jalan ini. Siapapun yang melanggar pasti akan mati," kata Ah Kui dengan ekspresi wajah serius.


"Mati?" tanya Chen Li mengulangi perkataan orang tua di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Benar, oleh sebab itulah jalan ini dinamakan Jalan Kematian,"


"Jalan Kematian, hemm. Sesuai dengan kenyataannya,"


Ah Kui diam. Dia tidak menjawab sedikitpun. Begitu melihat ada dua orang yang menghadang jalan mereka, Ah Kui segera memberikan gerakan tangan yang diduga merupakan sebuah kode rahasia.


Begitu melihat gerakan tangan tersebut, dua orang itu lantas segera menyingkir kembali dan lenyap ditelan kesunyian.


Chen Li tidak banyak bertanya. Walaupun hatinya diliputi rasa penasaran, tapi pemuda iti memutuskan untuk menahan rasa penasarannya.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba Ah Kui berhenti berjalan. Sepasang matanya memandang jauh ke depan. Di sana, ada satu bangunan yang sangat megah. Bangunan itu berdiri di tengah-tengah Kota. Tapi bukan kota hidup. Melainkan kota mati. Sama seperti jalannya.


"Kau lihat bangunan di sana?" tanya Ah Kui kepada Chen Li. Jari telunjuk kanannya menunuk ke bangunan yang dimaksudkan.


"Aku melihatnya," jawab Chen Li mengangguk.


"Nah, itulah markas pusat Organisasi Elang Hitam,"


"Bangunan megah yang menyeramkan, sangat cocok untuk sarang iblis," desis Chen Li.


Semangat ingin menghancur leburkan organisasi sesat itu membara kembali. Sepasang matanya tiba-tiba terbuka dibalik topeng. Hal tersebut membuat suasana di sekitarnya menjadi lebih mencekam. Satu kekuatan aneh yang dahsyat mendadak menekan area itu.


Bulu kuduk Ah Kui berdiri tegak. Seluruh tubuhnya juga bergetar karena tekanan yang amat dahsyat tersebut. Hampir saja dia jatuh tersungkur, untung sebelum hal itu terjadi, Chen Li telah menarik kembali seluruh kekuatan yang tidak sengaja dia keluarkan.


"Tenangkan dirimu. Masih banyak waktu untuk bergerak, aku sangat yakin kau sanggup melakukan niatmu. Sekarang lebih baik kau pahami saja dulu situasi dan kondisinya," ucap Ah Kui mengingatkan Chen Li yang hampir saja lepas kendali.


"Baik, aki mengerti," jawab Chen Li setelah beberapa saat berdiam.

__ADS_1


"Tapi kali ini kau saja yang bergerak. Aku sangat menyesal tidak bisa ikut denganmu kali ini, aku harap kau mengerti,"


"Tidak masalah. Aku mengerti perasaanmu," ujar Chen Li sambil menepuk pundak Ah Kui.


Meskipun orang tua itu tidak mengatakan secara rinci, tapi sedikit banyak Chen Li sudah mengetahui maksudnya. Organisasi Elang Hitam sudah membesarkan namanya. Dari sana dia hidup, dari sana dia bisa mendapatkan segalanya. Para anggotanya sudah bukan dianggal teman, melainkan dianggap keluarga oleh Ah Kui.


Sekarang secara tidak langsung, dia sudah mengkhianati mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya perasaan orang tua itu saat ini?


Tapi meskipun begitu, Ah Kui tetap berada pada keputusannya. Dia sudah ingin berubah, dia ingin hidup menjadi seorang manusia yang lebih baik lagi.


Terkadang jika kau ingin melakukan sesuatu yang besar, maka pengorbanan yang harus kau keluarkan juga mestinya jauh lebih besar lagi. Bukankah begitu?


"Terimakasih. Kalau begitu aku akan pergi dulu, aku akan menunggumu di restoran terbesar yang ada di Kotaraja,"


"Baik. Setelah selesai nanti, aku akan segera menemuimu," kata Chen Li.


Ah Kui membalikkan badannya. Tanpa berkata apapun lagi, orang tua itu lantas segera pergi dari sana mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah terbilang tinggi.


Bayangan biru berkibar di tengah udara. Sesaat kemudian, bayangan tersebut telah sirna ditelan kesunyian malam yang semakin kelam.


Pendekar Tanpa Perasaan masih berdiri dengan gagah perkasa. Kedua tangannya mengepal dengan keras, jubah putihnya yang suci berkibar megah. Kibaran itu bukan diakibatkan karena adanya hembusan angin, melainkan dikarenakan oleh adanya kekuatan yang merembes keluar dari setiap pori-pori tubuhnya.


Wushh!!!


Satu sosok bayangan putih meluncur deras di tengah kegelapan malam. Sinar putih membara terpancar menerangi malam untuk beberapa saat.


Hanya sekilas, Pendekar Tanpa Perasaan telah berada jauh dari tempatnya semula. Pemuda serba putih itu mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya hingga ke titik tertinggi. Hal tersebut membuat dirinya tampak seperti anak panah yang dilepaskan dengan segera tenaga. Sangat cepat. Sangat memukau.

__ADS_1


Chen Li hampir tiba di depan markas pusat Organisasi Elang Hitam. Di sana tampak ada delapan orang penjaga gerbang.


Melihat adanya bayangan putih asing yang meluncur deras ke arahnya, mereka langsung mengambil sikap waspada. Masing-masing senjata pusaka telah digenggam. Mereka siap melancarkan serangan jika sudah tiba waktunya.


__ADS_2