
"Hehehe, kau galak sekali adik kecil," kata si orang muka buruk sambil tersenyum mengejek kepada Chen Li.
"Sekali lagi aku peringatkan. Pergi sebelum aku berlaku kasar," bentak Chen Li lalu mengeluarkan aura yang menekan kelima orang tersebut.
Tetapi bukannya takut, kelima orang yang diduga perampok tersebut justru semakin tertawa lebar.
"Hehe, sepertinya kau punya bekal juga, pantas berani membentak," kata salah seorang lalu tiba-tiba mengirimkan sebuah cengkraman mengarah ke pundak Chen Li.
Bocah kecil itu tentu tidak mau membiarkan orang-orang tersebut berlaku seenaknya. Dengan gerakan kilat seruling giok hijau miliknya ia angkat untuk memukul tangan orang tadi.
"Plakk …"
Orang itu meringis menahan sakit. Melihat kejadian tersebut, keempat rekannya jadi marah. Walaupun masih terbilang bocah, ternyata dia sama sekali tidak bisa dipandang remeh.
Karena alasan tersebut, empat orang lainnya kemudian menyerang Chen Li secara bersamaan dengan golok yang terselip di pinggang mereka.
Keempat serangan datang secara bersamaan, sinar golok menerjang dari empat penjuru. Tetapi belum sempat sinar itu menemui sasaran, tiba-tiba saja serangkum angin dingin sudah menerjang mereka lalu tercebur ke danau.
Hal ini menjadi bahan perhatian bagi para pengunjung yang terdapat di danau tersebut. Mereka ada yang tertawa melihat keempat perampok tercebur dan satu meringis menahan sakit, ada juga yang diam-diam kagum karena kehebatan bocah tak dikenal itu.
Setelah menceburkan empat perampok tadi, Chen Li berniat untuk pergi dari sana. Namun sebelum langkahnya berjalan jauh, sebuah suara terdengar mengarah kepadanya.
"Bocah, berhenti kau!" bentak suara itu yang disusul dengan empat orang pria tua sudah ada di hadapannya. Di samping keempat orang tua, ada juga seorang pemuda bertampang sombong.
Chen Li ingat siapa pemuda itu. Bahkan beberapa hari lalu, dia pernah bentrok dengan anak buahnya. Tidak disangka hari ini mereka berani datang lagi.
"Hemm, aku kira siapa. Ternyata anak ayah yang datang," katanya mengejek.
"Brengsek kau bocah kecil," jawab si pemuda dengan marah.
"Apakah benar kau salah satu orang yang sudah berselisih dengan tuan muda kami?" tanya seorang tua kepadanya.
Chen Li sudah tahu siapa mereka ini. Mungkin keempat orang tua tersebut merupakan pengawal atau orang-orang gubernur daerah tersebut. Sepertinya mereka ingin menuntut balas karena si tuan muda masih merasa tidak terima.
"Benar. Beberapa waktu lalu aku bertarung dengan beberapa anak buahnya. Kenapa? Kalian datang untuk menuntut balas bukan?" tanya Chen Li sambil mengangkat sudut bibirnya.
Walaupun di luarnya tidak merasa takut, tetapi dalam hatinya jeri juga. Sebab keempat orang tua itu memiliki kepandaian level Pendekar Dewa tahap dua dan tiga.
__ADS_1
Dia sendiri kaget, ternyata pengawal seorang gubernur sekuat ini. Berarti gubernur itu tentu bukan orang biasa saja.
Otaknya yang cerdas mulai menerka yang sebenarnya. Dia yakin bahwa si gubernur tersebut mempunyai latar belakang istimewa. Sebab orang-orang yang sudah mencapai kepandaian seperti itu tidak gampang untuk disewa. Apalagi kalau mereka memang benar-benar pengawalnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa gubernur tersebut?
Chen Li belum bisa memastikannya. Untuk bertanya ke warga sekitar pun tidak sempat. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang di mana dia sudah dihadang.
"Lebih baik kau ikut kami untuk menghadap ke tuan gubernur. Minta maaf kepadanya," bentak salah seorang.
Chen Li yang mempunyai sifat gila seperti ayahnya, tentu saja tidak sudi menuruti perkataan orang tersebut. Maka dengan marah dia kembali membentaknya.
"Kau pikir dia itu siapa? Dia hanya seorang anak gubernur. Bukan anak kaisar. Lagi pula kalaupun dia anak kaisar, aku tetap tidak sudi untuk meminta maaf kepadanya. Toh dia yang salah dan sombong. Bukan aku," jawab Chen Li tak kalah garang.
"He setan kecil. Berani sekali kau berkata seperti itu. Hemm, aku patahkan lehermu baru tahu rasa," bentak orang tadi tak mau kalah.
Tiba-tiba dia memberikan tamparan kilat kepada Chen Li sehingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dia tidak mampu menghindar karena gerakan itu dilakukan secara mendadak.
"Patahkan saja kalau memang kalian mampu. Dasar tidak tahu malu," ucap Chen Li semakin liar sambil menahan sakit.
"Hemm, biar tanganku sendiri yang mematahkan lehermu itu. Kemarilah, tuan mudamu ingin memberikan pelajaran kepadamu," kata si tuan muda anak gubernur.
Sebenanya hal ini bukan hanya memalukan. Bahkan teramat memalukan, bagaimana bisa para Pendekar Dewa menyerang seorang bocah selevel Pendekar Langit?
Yang berani melakukannya tentu hanya orang-orang yang tidak tahu malu. Dan mungkin kelima orang tersebut memang tidak memiliki rasa malu.
Si tuan muda sudah mulai menggempur Chen Li. Serangan keras sudah dia keluarkan sejak menyerang pertama. Karena perbedaan levelnya terlalu jauh, tentu saja bocah itu tidak mampu melawannya.
Saat mencapai dua jurus, Chen Li tersungkur menabrak pohon karena sebuah hantaman mendarat tepat di dada kanannya.
Dari sudut bibir keluar cairan merah kental.
Darah!
Chen Li mengeluarkan darah. Walaupun lumayan sakit, tetapi dia tidak memperlihatkan hal itu.
Si tuan muda benar-benar berniat untuk mematahkan leher Chen Li. Tangan kanannya sudah mengeras dan siap mencengkram.
__ADS_1
Namun sebelum tangan itu mencapai ke batang leher Li kecil, tiba-tiba saja sebuah angin berdesir mengeluarkan bunyi desisan.
"Trakkk …"
Sebuah batu kerikil menyambar tangan si tuan muda. Seketika dia langsung melompat ke belakang sambil memegangi tangannya yang membiru.
"Siapa yang berani mengganggu adikku? Dan siapa pula yang telah melukainya?" tanya si pelempar kerikil tadi yang kini sudah ada di hadapan mereka.
Terlihat di depannya sudah berdiri seorang pria 'muda' dengan pakaian merah yang mewah.
Li Feng!
Dia telah datang tepat sebelum kejadian mengerikan terjadi.
"Adik Li Cun, kau tidak papa?" tanya Li Feng.
"Aku tidak papa Kakak Li,"
"Siapa yang telah menamparmu?" tanyanya geram.
"Dia, si orang tua tidak tahu sopan santun," jawab Li Cun sambil menunjuk ke arah pelakunya.
Kelima orang itu tertegun untuk sesaat. Mereka menyadari bahwa pemuda dengan pakaian merah itu tentu bukan pemuda sembarangan. Apalagi keempatnya juga melihat bagaimana tangan tuan muda mereka dibuat memar hanya dengan batu kerikil.
"Kau pelakunya? Hemm," katanya mendengus dingin.
Detik berikutnya, dia menghilang dari pandangan dan tahu-tahu si orang tua merasa ada angin dingin menyambarnya. Karena serangan itu juga mendadak, maka sama seperti sebelumnya, dia tidak sempat menghindar.
"Plakk …"
Satu buah tamparan cukup keras mendarat di pipinya. Sama halnya seperti Chen Li, dari sudut bibir orang tersebut pun segera mengeluarkan darah.
"Keparat. Hiyaa …"
Tiga orang rekannya tiba-tiba menyerang dari tiga sisi. Gerakan mereka lumayan cepat, apalagi tahapan mereka sudah mendapat Pendekar Dewa tahap dua dan tiga.
Tapi serangan tersebut tentu bukan masalah bagi Li Feng. Hanya dengan gerakan kilat, dia berhasil menghindari tiga serangan. Sebaliknya, dia malah memberikan serangan kepada si tuan muda sebagaimana yang telah dia lakukan kepada Chen Li.
__ADS_1
Begitu serangan selesai, dia segera kembali ke posisi semula.
"Sudah impas. Yang menampar sudah ditampar. Yang menghantam sudah dihantam. Kalau kalian tidak ingin menyesal, lebih baik pergi sekarang," kata Li Feng nada dengan dingin.