Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Shin Shui Bergerak


__ADS_3

"Li'er …" teriak Shin Shui sekali lagi mencoba untuk memastikan.


Teriakannya yang barusan, disertai dengan pengerahan tenaga dalam besar. Pohon-pohon di sekeliling hutan bergetar karena suara tersebut. Sebagian dari batang pohon bahkan ada yang sampai daunnya rontok.


Suara Shin Shui juga sampai terdengar sampai jauh ke tenda Kaisar Naga Merah, membuat para siluman yang ada di sana keheranan.


"Ah sial. Siapa yang berani mempermainkan aku. Aku yakin Li'er pasti diculik. Hemm, siapa yang berani menculiknya?" Shin Shui bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Dia mondar-mandir tidak karuan. Otaknya sedang kacau sehingga dia tidak mampi berpikir jernih. Padahal seharusnya dia ingat bahwa musuhnya di Negeri Siluman adalah Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk.


Kalau bukan dia ataupun orang-orangnya, siapa lagi?


Sudah menjadi persoalan umum bahwa saat seseorang sedang emosi, pasti pikirannya tidak berjalan dengan lancar. Semuanya menemui jalan buntu. Emosi diciptakan bukan untuk mengatur diri kita, tapi emosi diciptakan supaya kitalah yang mengatur mereka agar mau tunduk terhadap apa yang kita mau.


Setelah beberapa saat mondar-mandir, akhirnya emosi Shin Shui mulai mereda. Dia menghela nafas dalam-dalam supaya lebih tenang. Setelah melakukannya langsung terbukti, saat ini Pendekar Halilintar merasa lebih rileks dan pikirannya mulai jernih seperti air di danau.


Dia duduk di sebuah batu di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. Hembusan angin menggoyangkan pohon tersebut, tubuh Shin Shui di terpa angin itu hingga dia merasa semakin tenang.


Tiba-tiba, dari jauh telinganya mendengar ada suara angun yang berdesing. Tak berapa lama, satu sosok telah tiba di sisinya.


Kaisar Naga Merah!


Dia datang bersama dua orang siluman pengawal setianya. Yaitu Naga Biru dan Naga Hijau. Dua siluman kakak beradik yang kekuatannya tidak jauh di bawah Kaisar Naga Merah.


Walaupun Shin Shui sudah lebih tenang, tapi ketiga siluman itu tetap bisa melihat wajah paniknya.


Tentu saja, naluri seorang ayah kepada anaknya sangatlah besar. Setenang apapun Shin Shui, dalam hatinya tetap merasa khawatir juga. Dalam hatinya dia sudah mendapatkan tersangka, tapi ini masih perlu di bahas lebih jauh lagi.


"Pendekar, apa yang terjadi?" tanya Kaisar Naga Merah tidak tahan menahan rasa penasarannya.


"Li'er menghilang," jawab Shun Shui.


"Apa? Saudara kecil menghilang?" kata Kaisar Naga Merah merasa kaget mendengar perkataan Shin Shui.


Pendekar Halilintar tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Bagaimana dia bisa hilang?"


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, yang jelas tadi aku meninggalkannya sendirian di sini selagi aku bicara denganmu. Li'er aku suruh untuk terus berlatih. Tapi begitu aku kemari, dia sudah tidak ada,"


"Apa yang sudah kau temui, mungkin bisa dijadikan sebagai petunjuk,"

__ADS_1


"Tidak ada, tapi aku punya satu tersangka,"


"Siapa?"


"Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk," jawab Shin Shui sedikit menekan suaranya.


"Hemm, bisa jadi. Sebab dia sudah mencoba beberapa kali untuk membunuhmu. Sayangnya semua usaha dia sia-sia, jadi dia mengincar anakmu untuk dijadikan umpan," kata Kaisar Naga Merah.


"Bisa jadi. Tapi setidaknya aku harus mempunyai bukti yang pasti terlebih dahulu. Aku tidak mau menuduh sembarangan, siapa tahu ada bangsa siluman lain yang tidak suka kepadaku," ucap Shin Shui.


"Kau benar, kita memang memerlukan bukti," kata Kaisar Naga Merah sambil mendesah berat.


Di saat keduanya sedang berbicara, Naga Biru dan Naga Hijau berjalan mondar-mandir. Sepertinya mereka sedang mencari-cari sesuatu. Setelah beberapa saat seperti itu, tiba-tiba Naga Hijau berteriak.


"Aku menemukan sesuatu," teriaknya.


Mendengar teriakan itu, yang lainnya buru-buru mendekat.


"Sesuatu apa?" tanya Shin Shui antusias.


"Ini, bukankah ini seruling milik putera tuan pendekar?" kata Naga hijau sambil memberikan seruling giok yang biasa digunakan oleh Chen Li.


"Ah, benar. Ini memang seruling giok milik anakku," ucap Shin Shui dengan mata berbinar.


"Aku juga menemukan sebuah petunjuk," teriak Naga biru.


"Apa yang kau temukan?" lagi-lagi Shun Shui terlihat antusias.


"Jejak kaki ini sepertinya aku kenal. Dan di sini juga sepertinya telah terjadi sebuah pertarungan," ucap Kaisar Naga Merah.


"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Shin Shui.


"Anak buah Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk. Ya, benar. Aku yakin ini jejak kaki mereka,"


"Tidak salah dugaanku. Benar-benar dia sudah bosan hidup," kata Shin Shui dengan geram.


"Pendekar, apa rencanamu selanjutnya?"


"Sudah tentu aku ingin menyelamatkan anakku,"


"Bagaimana caranya? Ini adalah hal yang sangat sulit. Apalagi Istana Kekaisaran selalu di jaga ketat. Bukannya aku meragukan kemampuanmu, tapi aku tidak yakin kau bisa menjalankan hal ini dengan mudah,"

__ADS_1


"Aku tahu akan hal itu. Tapi bagaimanapun susahnya, bahkan walau aku harus berjalan di atas mata pisau, aku akan tetap pergi menyelamatkan anakku," kata Shin Shui dengan mantap.


"Tapi … tidakkah kau menunggu waktu yang tepat untuk menyelamatkannya? Misalkan di saat perang nanti,"


"Tidak bisa. Jika saat perang nanti, mereka justru akan menjadikan Li'er sebagai jaminan. Aku harus bergerak saat tengah malam nanti," ucap Shin Shui.


Dalam nada bicaranya jelas memperdengarkan suara yang penuh amarah.


"Kau yakin?"


"Sangat yakin. Kau tenang saja, tentang perang nanti, pasti akan berjalan sesuai rencana. Hanya saja aku minta kau tetap siap-siap jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi diluar dugaan," ucap Shin Shui tetap kukuh kepada pendiriannya.


"Hahh …" Kaisar Naga Merah menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya. "Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak bisa menahanmu, hanya saja aku minta agar kau tetap hati-hati,"


"Baik. Terimakasih atas peringatannya,"


Kaisar Naga Merah dan dua pengawalnya mengangguk. Kemudian Shin Shui dan yang lainnya memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke tenda darurat sambil menunggu tengah malam tiba.


Ketika sampai di tenda, Kaisar Naga Merah langsung mengumpulkan semua pasukannya. Dia menuruti perkataan Shin Shui yang tadi menyuruhnya untuk selalu siap siaga.


Kaisar Naga Merah menyuruh kepada seluruh pasukannya untuk selalu menyiapkan diri selama Shin Shui berusaha mengambil Chen Li.


"Baik …" jawab semua pasukan serempak.


Dalam hati, Shin Shui merasa terharu melihat kekompakan para siluman ini.


Bangsa siluman saja bisa kompak, tapi kenapa manusia terkadang tidak kompak dalam beberapa hal?


Jawabannya hanya satu.


Egoisme.


Egois memang selalu tumbuh dalam diri manusia.


Tengah malam telah tiba. Seperti yang dikatakan di atas bahwa saat tengah malam nanti, Shin Shui akan bergerak menyusup ke Istana Kekaisaran.


Dan sekaranglah waktunya. Shin Shui saat ini sedang bersiap-siap. Kaisar Naga Merah dan yang lainnya mengantar kepergian Shin Shui sampai di pintu masuk tenda darurat.


"Pendekar, kau berhati-hatilah. Kalau ada apa-apa, nyalakan saja tanda bahaya. Pasti kami akan langsung menuju lokasi," kata Kaisar Naga Merah.


"Baik Kaisar. Terimakasih. Aku pergi dulu," ucap Shin Shui yang dijawab anggukan oleh Kaisar Naga Merah.

__ADS_1


"Li'er, tunggu ayah," gumam Shin Shui lalu melesat menembus kegelapan malam.


__ADS_2