Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Hu Toan


__ADS_3

Pertarungan antara Huang Taiji berlangsung lebih seru dari pada pertarungan lainnya.


Orang tua itu terlihat sedikit mempermainkan lawannya. Beberapa jurus belakangan ini, dia hanya menghindar tanpa memberikan serangan balasan berarti.


Kera biru merasa diremehkan. Dia menggeram marah, lima belas pukulan jarak jauh dia layangkan.


Wushh!!! Wushh!!!


Sinar itu datang dengan cepat. Tetapi Huang Taiji masih tetap dapat menghindarinya.


Melihat bahwa lawannya hanya menghindar secara terus-terusan, siluman itu semakin tidak sabar lagi. Dia menyangka bahwa manusia yang dihadapinya kali ini tidak mempunyai kekuatan sekuat dirinya.


Dua kepalan tangannya memukul ke tanah. Bumi bergetar. Sebuah kekuatan dahsyat muncul dari dalam tanah terus merambat hingga ke tempat berdiri Huang Taiji.


Blarr!!!


Mendadak sebuah listrik menyambar dari dalam tanah. Untung bahwa orang tua itu mempunyai kekuatan tinggi. Kecepatannya dalam bergerak tidak diragukan lagi. Sehingga begitu listrik menyambar, dia sudah melompat lebih cepat satu langkah.


"Lumayan juga, ingin aku lihat sampai di mana kemampuanmu kera busuk," teriaknya.


Dia menerjang ke depan. Kedua tangannya memberikan serangan yang aneh. Serangan jarak jauhnya terkesan lamban. Tapi begitu jaraknya sudah dekat, serangan itu malah bertambah cepat dua kali lipat.


Blarrr!!!


Si kera biru terpental ke belakang hingga bergulingan. Dia menggeram keras. Dadanya terasa sangat sakit, untuk bernafas pun sangat sulit.


"Paman, kalau bisa cepat selesaikan pertarunganmu. Ada sesuatu penting yang harus kita bicarakan," teriak Chen Li dari pinggir pertarungan.


"Baiklah Li'er, kalau begitu Paman akan menyelesaikannya sekarang juga," ujar Huang Taiji.


Wushh!!!


Begitu selesai berkata, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di hadapan siluman kera biru.


Saat itu lawan sudah berada dalam posisi siap. Maka tanpa membuang banyak waktu, Huang Taiji segera memberikan serangannya.


Dua pukulan dia lancarkan dalam kecepatan tinggi. Si kera biru merasakan kekuatan dahsyat terkandung dalam dua pukulan itu.


Dia tidak berani main-main lagi. Kepalan tangannya yang dipenuhi bulu dan selalu dialiri listrik, segera menangkis setiap pukulan lawan.


Bukk!!! Bukk!!!

__ADS_1


Mereka beradu pukulan. Keras melawan keras.


Huang Taiji sendiri tidak menyangka bahwa siluman iti ternyata berlaku nekad.


Keduanya bertarung sengit. Kecepatan pergerakannya sulit untuk di lihat mata. Sehingga kalau orang yang mempunyai kekuatan rendah, mereka pasti akan merasakan matanya berkunang-kunang.


Huang Taiji melompat sambil berjumpalitan di udara. Kaki kanannya dilayangkan menghantam kepala kera biru.


Bukk!!!


Kedua tangan siluman itu menahan serangan Huang Taiji. Namun tak urung juga kedua tangannya merasa sakit.


Bukk!!!


Orang tua itu menendang dengan kaki kirinya.


"Pukulan Neraka Ketiga …"


Wushh!!!


Kekuatan dahsyat langsung keluar di balik tangan sebelah kanannya. Hawa panas yang terasa membuat siapapun tidak akan tahan.


Blarr!!!


Dia tewas. Dari mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak. Seluruh tubuhnya gosong akibat jurus Pukulan Neraka Ketiga milik Huang Taiji.


Orang tua itu memang mempunyai jurus pukulan yang mampu mengguncangkan langit menggetarkan bumi. Dan baru-baru ini saja dia mengeluarkannya. Sebab tidak mungkin dia memakai senjata pusakanya terus menerus setiap kali bertarung.


Jurus pukulan tersebut dinamakan Sembilan Pukulan Neraka. Semakin banyak hitungannya, semakin dahsyat juga jurus dan hasilnya. Jika Pukulan Neraka Kedua saja sudah mampu menewaskan si Rajawali Botak Cakar Merah beberapa waktu lalu, apalagi jika Pukulan Neraka Ketiga? Sudah tentu siluman itu tidak mampu bertahan.


Semua pertarungan sudah selesai hampir secara bersamaan. Orang-orang sekte yang melihat jalannya pertarungan ini menahan nafas mereka. Rasanya tidak berani bernafas dan berkedip saking serunya.


Huang Taiji segera menghampiri Chen Li yang sudah menunggunya bersama San Ong dan Ong San.


"Tadi bilang ada sesuatu penting yang harus di bicarakan? Memangnya sesuatu apa Li'er?" tanyanya.


"Paman, apakah Paman tidak merasa ganjil?"


"Ganjil?"


Huang Taiji terlihat kebingungan dengan perkataan Chen Li. Karena menurutnya, tidak ada yang ganjil dari kejadian ini.

__ADS_1


"Benar, apakah Paman tidak merasa ganjil atas semua kejadian ini? Rasanya tidak mungkin kan jika para siluman menyerang tanpa sebab. Pasti ada hal yang menyebabkan mereka menyerang pemukiman, bukan begitu?"


Orang tua itu sedikit tersentak. Dia seperti baru tersadar dari mimpinya.


"Aihh, ternyata benar juga apa yang Li'er katakan. Kalau dipikir lagi, memang sangat ganjil. Karena tidak mungkin para siluman mengganggu pemukiman warga tanpa ada alasan. Hemm, siapa yang sebenarnya melakukan ini semua," Huang Taiji tampak sedang berpikir mencari jawaban dari persoalan ini.


"Mungkinkah mereka?" tanya Chen Li.


"Bisa saja. Lebih baik kita tanyakan dulu kepada orang-orang di sini,"


Mereka segera berjalan mendekati orang-orang sekte tersebut. Yang tersisa tak kurang dari dua puluh orang saja. Itupun kebanyakan masih dalam keadaan terluka akibat serangan siluman.


Tiga petinggi tampak tersebut menyambut Huang Taiji dan Chen Li. Senyuman yang dipaksakan. Senyuman yang mengandung kesedihan.


"Terimkasih atas bantuan Tuan-tuan sekalian. Kami merasa sangat berterimakasih sekali. Kalau tidak ada Tuan, mungkin sekte kami sudah rata dengan tanah," ujar seorang kakek tua.


Alisnya tebal, rambutnya digulung ke atas dan diikat sutera hijau tua, sama seperti pakaiannya. Dari wajahnya saja bisa terlihat bahwa dia menanggung beban yang amat berat.


"Kepala tetua tidak perlu sungkan seperti itu. Sebagai manusia, sudah menjadi kewajiban jika kita membantu sesama," jawab Huang Taiji sambil melemparkan senyum.


"Bagaimana Tuan bisa tahu bahwa aku kepala tetua di sini?" tanya orang tua itu kebingungan.


"Kewibawaan Tuan yang mengatakannya sendiri," jawabnya.


Orang tua itu hanya tersenyum lembut.


"Mari Tuan, silahkan masuk dulu. Kita bicara saja di dalam," orang tua itu langsung membawa mereka masuk.


Walaupun keadaan di sekitarnya hancur, untungnya keadaan sekte masih berdiri kokoh. Meskipun memang di beberapa tempat terdapat sebuah kerusakan yang terbilang berat.


Huang Taiji dan Chen Li di bawa ke sebuah ruangan khusus penerima tamu. Mereka duduk di sana. Seorang murid kemudian mengambil arak dan beberapa cemilan yang masih tersedia di sekte mereka.


"Perkenalkan, margaku Hu, namaku Toan. Sebelumnya, apakah aku yang tua ini boleh tahu siapa nama-nama Tuan sekalian?" tanyanya.


"Saya Huang Taiji, ini keponakan saya, namanya Chen Li, sedangkan dua siluman kera itu bernama San Ong dan Ong San,"


Sengaja orang tua itu tidak menyebutkan marga Chen Li. Hal ini bertujuan supaya nantinya, bocah itu terbiasa dan bisa naik daun tanpa pengaruh ayahnya.


Tetapi ternyata diluar dugaan, Hu Toan justru tersentak saat mendengar dua nama tersebut.


"Aii, sungguh aku tidak sopan. Maafkan atas kelancangan orang tua ini yang telah meminta bantuan Tuan yang terhormat," katanya berniat untuk menyembah. Tetapi dengan cepat Huang Taiji menahannya.

__ADS_1


__ADS_2