Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Uji Coba


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu …


Waktu menunjukkan masih pagi hari sekali. Pertemuan para tokoh sudah berlalu sejak kemarin. Tetapi mereka masih berada di Sekte Bukit Halilintar.


Sekedar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali.


Saat ini, orang-orang yang kemarin bertemu di ruangan pertemuan, sedang berada di halaman Sekte Bukit Halilintar. Ribuan murid berada di pinggir untuk menyaksikan pertarungan antara Chen Li dan Eng Kiam melawan Shin Shui.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Shin Shui telah memberikan Kitab Pedang Bayangan kepada Eng Kiam dan dia disuruh untuk mempelajarinya sampai matang. Setelah itu, Shin Shui sendiri yang akan mengujinya.


Begitu juga dengan Chen Li. Sebelum Pendekar Halilintar turun gunung, dia telah bicara kepada anaknya harus berlatih dengan tekun dan keras. Saat pulang nanti, Shin Shui juga yang akan mengujinya secara langsung.


Dan sekarang lah waktunya untuk menguji dua bocah itu. Di hadapan ribuan orang banyaknya, kedua bocah itu akan di uji oleh Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar untuk di lihat sudah sampai di mana kekuatannya.


Shin Shui sudah berada di tengah halaman sekte. Eng Kiam dan Chen Li juga sudah berada di hadapannya dalam jarak dua puluh langkah.


Sebagai seorang ayah sekaligus Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar, tentu Shin Shui tidak akan mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya. Dia hanya akan menggunakan kekuatan yang setara dengan Pendekar Dewa tahap dua.


Hal ini sudah dia ukur sendiri. Melihat bahwa tingkat pelatihan Eng Kiam baru mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap enam akhir dan Chen Li mencapai Pendekar Surgawi tahap dua awal, maka perkiraannya hanya mengeluarkan kekuatan setara dengan Pendekar Dewa tahap dua saja, sudah lebih dari cukup.


"Kiam'er, perlihatkan hasil latihanmu selama ini kepada Kakekmu. Buktikan bahwa kau bisa menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh. Buktikan kepadanya bahwa kau memang pantas menjadi penerus Kakek Tua Jubah Hitam," kata Shin Shui kepada Eng Kiam.


"Baik Tuan, Kiam'er akan mencoba untuk mengeluarkan seluruh kemampuan," jawabnya penuh percaya diri.


Shin Shui hanya mengangguk dan melemparkan senyum.


"LI'er, perlihatkan seluruh kemampuanmu kepada Ayah. Kalau tidak ada peningkatan sama sekali, kau akan tahu akibatnya. Buktikan bahwa kau juga pantas menjadi penerus Pendekar Halilintar," tegas Shin Shui kepada anaknya.


"Dengan senang hati Li'er akan melakukannya Ayah," jawab Chen Li sambil tersenyum.


"Bagus. Kalian berdua tidak perlu mengalahkanku. Cukup bertahan sampai seratus jurus saja, itu sudah bagus. Lebih banyak bertahan lagi, itu sudah jauh lebih baik," kata Shin Shui.

__ADS_1


Dua bocah yang akan di uji hanya mengangguk dengan bersemangat. Mereka sudah menantikan saat-saat seperti ini.


Terlebih lagi Chen Li. Dia akan memperlihatkan kekuatan barunya kepada sang ayah. Karena dia yakin bahwa ayahnya sama sekali belum mengetahui tentang hal itu.


Huang Taiji melirik Chen Li sambil melemparkan senyumnya dan mengangguk. Chen Li membalas senyuman dan anggukan tersebut. Begitu juga dengan para Tetua Sekte Bukit Halilintar dan ibunya, Yun Mei.


Eng Kiam sudah memegang Pedang Bunga Teratai. Sebuah pedang pusaka kelas satu yang merupakan pemberian dari Shin Shui beberapa hari lalu. Pedang Bunga Teratai adalah pasangan dari Kitab Pedang Bayangan. Sehingga sangat cocok sekali jika keduanya disatukan.


Sedangkan Chen Li seperti biasanya. Seruling giok hijau di tangan kanan. Pedang Awan di tangan kiri. Wajahnya mulai berubah. Dia tampak dingin dan misterius.


"Mulai …"


Belum habis ucapannya, serangan pertama sudah datang menghunjam Shin Shui. Sebuah pedang putih yang sangat tajam namun indah.


Eng Kiam.


Gadis kecil itu telah melontarkan serangan pertama berupa sabetan pedang yang mengarah ke arah pinggangnya. Gerakannya lumayan cepat. Untung lawannya Shin Shui.


Dia hanya perlu berputar, batang pedang lewat dua jari di depannya. Tangan kanannya segera menyentil pedang tersebut.


Jurus Menebarkan Cahaya Kehidupan keluar. Sinar biru terang berkelebat menyambar ke arah Shin Shui. Sinar biru itu mengandung kekuatan dan kecepatan. Belum habis serangan pertama, tiba-tiba Chen Li mengubah gaya serangnya.


Pedang Awan dia putarkan. Seruling giok hijau dia gerakkan dari sisi kanan ke kiri. Di susul kemudian oleh Eng Kiam. Gadis kecil itu menyerang dari arah belakang.


Shin Shui tersenyum. Dia bangga kedua bocah ini sudah bisa melancarkan serangan selihai ini. Tubuhnya kembali berputar. Dia menyentil tiga senjata pusaka tersebut.


Bunyi nyaring segera terdengar. Tiga serangan berbahaya berhasil dia patahkan hanya dengan sentilan.


Tetapi serangan tadi hanya merupakan awal.


Awal dari serangan yang mematikan.

__ADS_1


"Bayangan Pedang Menghilang …"


Bayangan Pedang Bunga Teratai milik Eng Kiam menghilang dari pandangan. Yang terdengar hanyalah suara desingan angin tajam bergulung-gulung datang seperti terjangan ombak.


"Pedang Bayangan Memburu Lawan …"


Jurus kedua dari Kitab Pedang Bayangan keluar. Pedang Bunga Teratai masih nampak lenyap dari pandangan mata. Desingan angin yang tadi bergulung, kini menjadi pecah ke seluruh penjuru.


Shin Shui mulai kerepotan, tak disangka gadis kecil itu sudah menguasai Kitab Pedang Bayangan hampir ke tahap sempurna.


Karena melihat keadaan seperti itu, Pendekar Halilintar tidak diam saja. Dia mulai bergerak lalu menangkis semua serangan yang diberikan oleh Eng Kiam. Kalau tadi hanya menangkis dengan sentilan, maka sekarang dia telah menangkis serangan tersebut dengan ranting pohon.


Ya, ranting pohon.


Entah kapan dia mengambilnya. Tidak ada yang tahu secara pasti.


Tetapi walaupun hanya ranting, kalau sudah dipegang oleh Pendekar Halilintar, maka ranting itu bisa berubah menjadi sebatang pedang yang tajam.


Dentingan benda keras beradu mulai terdengar. Chen Li turut serta, tetapi dia belum mengeluarkan kekuatan aslinya.


"Sejuta Luka Tak Tampak Mata …"


Jurus terakhir dari Kitab Pedang Bayangan akhirnya keluar juga. Serangan dan permainan pedang yang dilancarkan oleh Eng Kiam bertambah dahsyat. Jujur saja, Shin Shui sendiri kaget dalam hatinya.


Kalau saja Eng Kiam sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap satu, maka Pendekar Dewa tahap dua bisa dia kalahkan. Meskipun tidak ada jaminan, tetapi kesempatan untuk menang terbuka lebar.


Gadis kecil itu semakin bersemangat. Pedangnya menari dengan indah memberikan sinar putih mirip bunga teratai yang terus menghujani Shin Shui.


Pertarungan baru berjalan empat puluh jurus, tetapi Shin Shui sudah dibuat terkejut. Melihat ada kesempatan baik, secepat kilat dia bergerak. Pedang Bunga Teratai tahu-tahu bergetar karena dibenturkan dengan ranting yang dipegang Pendekar Halilintar.


Eng Kiam tergetar. Tubuhnya terdorong empat langkah ke belakang.

__ADS_1


Di saat seperti itulah Chen Li bergerak cepat. Dari arah kanan dia menerjang ayahnya dengan sebetan pedang. Disusul kemudian dengan hantaman seruling giok hijau yang mengarah ke kepala.


Dia mulai memperlihatkan kemampuan aslinya.


__ADS_2