
Di hutan tempat Shin Shui dan Kakek Tua Jubah Hitam, pertarungan sudah berlangsung beberapa saat yang lalu. Shin Shui melawan tujuh pendekar yang terkuat di antara mereka. Empat Pendekar Dewa tahap enam, termasuk Hek Jiu Lin. Satu Pendekar Dewa tahap lima akhir. Dan dua lagi Pendekar Dewa tahap tiga awal.
Ketujuh pendekar itu bergabung demi mengalahkan Pendekar Halilintar yang terkenal dengan kekuatannya. Di mana kekuatan yang dia miliki konon katanya mampu untuk mengguncangkan langit dan bumi. Bahkan mungkin bisa saja menghancurkan sebuah gunung sekalipun.
Tujuh pendekar menyerang dari segala penjuru. Berbagai macam senjata mereka sudah dikeluarkan sedari tadi. Desiran angin tajam yang mampu merobek kulit sudah keluar. Kilatan senjata tajam mengancam tubuh Shin Shui tanpa ampun.
Untuk beberapa saat Pendekar Halilintar berada dalam posisi bertahan. Semua gerakannya di tutup oleh lawan. Tak ada celah kosong untuk membalas serangan.
Ketujuh pendekar tersebut bekerja sama dengan baik. Tiga menyerang, empat bertahan. Kadang kala mereka menyerang dan bertahan secara bersamaan. Sungguh kerja sama yang sangat baik.
Shin Shui masih tetap bertahan dengan jurus-jurus hebat yang dia miliki. Tubuhnya telah terselimuti cahaya biru terang yang mengeluarkan aura dahsyat.
Empat senjata tajam melesat cepat ke arahnya. Shin Shui hanya melompat tinggi untuk menghindari serangan tersebut. Tubuhnya berputar di udara dan mengeluarkan sebuah cahaya biru berbentuk pedang.
Pedang energi.
Sebuah pedang yang dipadatkan dari energi seseorang. Kekuatan pedang itu bahkan lebih hebat daripada pedang biasa. Semakin padat tenaga yang berhasil dibentuk, semakin dahsyat juga pedang energi ciptaannya.
Shin Shui tentu sudah mampu menciptakan puluhan pedang energi dahsyat hanya dalam sekali bentuk. Hanya saja hal itu cukup menguras tenaganya.
Puluhan sinar biru membentuk pedang sudah melesat memburu tujuh pendekar. Kecepatannya lebih cepat daripada satu helaan nafas sekalipun.
Tapi tujuh pendekar itu bukanlah orang tolol. Begitu melihat jurus dahsyat tersebut, mereka pun segera mengeluarkan jurus bertahan yang tak kalah dahsyatnya.
"Duarr …"
Ledakan keras terdengar. Gelombang kejut menyebar ke segala arena sehingga beberapa pohon tumbang dibuatnya. Dua pendekar terlemah terpental ke belakang karena tidak kuat menahan gelombang kejut dari hasil benturan berbagai jurus tersebut.
Shin Shui semakin bersemangat karena dia melihat kesempatan baik untuk menyerang. Walaupun itu kecil, tetapi yang kecil justru mampu mengubah keadaan.
Tangan kanannya dikibaskan. Pedang berwarna biru yang indah dan mempunyai aura besar sudah digenggam.
__ADS_1
Pedang Halilintar. Salah satu pedang pusaka terkuat yang pernah ada sudah dia keluarkan.
Sekali menjejak udara, tubuh Shin Shui sudah meluncur deras ke arah dua pendekar terlemah itu. Keempat pendekar lainnya termasuk Hek Jiu Lin tidak menyangka bahwa Pendekar Halilintar mampu bergerak secepat itu.
Untuk menahannya mereka sudah terlambat karena tubuh Shin Shui sudah tiba di hadapan dua orang tersebut.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"Wushh …"
Halilintar menyambar bumi dan menggagalkan usaha lima pendekar untuk menolong rekan mereka. Sedangkan Shin Shui sudah bergerak dengan jurus pedang yang dahsyat.
Setiap sabetan pedangnya terlihat mengeluarkan sinar biru membentuk seekor naga yang sedang marah. Kibasan demi kibasan keluar. Tusukan tajam memburu.
Walaupun dua pendekar tersebut termasuk memiliki kekuatan dahsyat. Tapi itu saja belum cukup untuk mengalahkan Shin Shui yang sudah marah besar seperti ini.
Lima pendekar lainnya tidak mampu memperkecil jarak antara mereka. Sebab di belakang Shin Shui ada tiga buah pusaran badai yang tiada hentinya memberikan ancaman kematian.
Dua pendekar tersebut mulai merasa kewalahan. Semua jurus yang ingin mereka keluarkan akan langsung sirna karena Shin Shui menyerangnya tanpa membiarkan bernafas tenang.
Mencapai lima belas jurus, Shin Shui membentak nyaring.
Permainan pedangnya semakin indah namun menakutkan. Memasuki jurus dua puluh, satu orang di antara mereka sudah tewas terpenggal kepalanya.
Kalau dua orang saja tidak cukup, apa jadinya jika hanya seorang saja? Tanpa ampun lagi sang Pendekar Halilintar langsung mengirimkan sebuah jurus maut.
Sebuah sabetan pedang memanjang yang memberikan tekanan hebat. Hanya dengan sekali tebas, pendekar itu telah tewas tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Shin Shui tidak berhenti, dia kembali membalikan tubuhnya lalu melesat ke lima pendekar yang tersisa.
Kalau amarah sudah keluar. Kalau Pedang Halilintar sudah digenggam, maka kepercayaannya akan menjadi berlipat ganda. Shin Shui sangat percaya kepada pedang pusaka itu. Karena pedang tersebut tidak pernah mengecewakan tuannya.
__ADS_1
Sekali pedang keluar, rasanya mustahil kalau tidak ada nyawa yang melayang.
Melihat pendekar itu melesat ke arah mereka, lima pendekar sudah menyiapkan jurusnya masing-masing.
Enam jurus dahsyat kembali mengalami benturan hebat. Pohon-pohon yang diam kembali menjadi korban gelombang kejut.
Di sisi lain, Kakek Tua Jubah Hitam juga sedang bertarung dengan seluruh kemampuan yang dia miliki. Delapan pendekar yang menjadi lawannya merupakan Pendekar Dewa tahap dua dan tiga. Termasuk dengan Hua Kim di dalamnya.
Walaupun Kakek Tua Jubah Hitam merupakan Pendekar Dewa tahap lima pertengahan, tetapi jurus yang dia miliki sangat berbahaya sekali. Apalagi setiap jurusnya pasti mengandung racun ganas.
Hal inilah yang membuat delapan pendekar berlaku sangat hati-hati. Sebab kalau mereka terlalu gegabah, maka bisa dipastikan nyawanya akan melayang karena jurus beracun milik Kakek Tua Jubah Hitam.
Kakek tua itu bertarung menggunakan senjata berupa sebatang tongkat hitam. Kepala tongkat tersebut berbentuk kepala ular kobra.
Walaupun hanya terbuat dari kayu hitam, tetapi belum tentu sebuah pedang pun mampu memotongnya. Apalagi tongkat sakti itu mampu mengeluarkan semburan asap beracun dari kepalanya.
Delapan orang pendekar itu kini sedang memburu Kakek Tua Jubah Hitam. Senjata mereka melayang bebas di udara memberikan ancaman kematian.
Kakek tua merasa sedikit kerepotan. Tapi dia segera bisa mengatasi hal tersebut karena tongkatnya sudah digenggam. Tongkat itu berputar sehingga mengeluarkan pusaran angin. Sabetan dan tusukan senjata lawan tidak mampu menembus tubuhnya.
Sebaliknya, dia sendiri perlahan mulai memberikan serangan balasan. Tongkat ular kobra sudah menyemburkan asap beracun. Satu orang pendekar tidak sengaja menghirup asap racun tersebut.
Ini merupakan pertanda baik bagi Kakek Tua Jubah Hitam. Sebab selama orang itu menghirup asap tersebut, maka untuk beberapa saat tubuhnya akan mati rasa dan sama sekali tidak bisa digerakkan. Kalau terlalu banyak menghirup, maka orang itu akan tewas membusuk dalam waktu sepeminum teh.
Dan hal itu yang sedang terjadi sekarang. Pendekar yang tak sengaja menghirup asap tersebut tiba-tiba mematung. Tubuhnya langsung membiru saat itu juga.
Kakek Tua Jubah Hitam tidak mau membuang kesempatan emas ini. Tubuhnya menjejak ke tanah lalu meluncur deras memberikan serangan.
Tongkat tersebut dia ayunkan dari atas ke bawah sekuat tenaga. Tujuh pendekar tak mampu mencegah karena kalah cepat. Begitu jaraknya dekat, Kakek Tua Jubah Hitam segera memberikan serangan yang sudah dipersiapkan tersebut.
"Prakkk …"
__ADS_1
Kepala pendekar itu langsung pecah. Jeroan kepalanya muncrat ke segala arah. Tujuh pendekar terdiam untuk beberapa saat. Mereka tidak menyangka bahwa Kakek Tua Jubah Hitam ternyata benar-benar kejam kalau sudah marah.