Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Orang Yang Sama


__ADS_3

Para tokoh Organisasi Elang Hitam saling pandang. Mereka sudah masuk dalam organisasi itu beberapa tahun yang lalu. Bahkan sebelum hancurnya markas Organisasi Elang Hitam yang ada di Kota Qinghai ini, mereka telah bergabung.


Para tokoh yang sekarang ditugaskan di Kota Qinghai, sebelumnya adalah tokoh-tokoh yang ditugaskan di berbagai cabang lainnya. Oleh sebab itulah, sedikit banyaknya mereka mengetahui kejadian yang berhubungan dengan Pendekar Merah.


Apalagi para petinggi organisasi tersebut sempat melakukan rapat besar-besaran.


"Aku mempunyai satu pertanyaan untukmu," kata salah seorang tokoh kepada Chen Li.


"Silahkan,"


"Kau kenal dengan pemuda bergelar Pendekar Merah?" tanyanya dengan tatapan mata penuh selidik.


"Sangat kenal,"


"Kau siapanya Pendekar Merah?" tanyanya lebih lanjut.


"Pendekar Merah dan Pendekar Tanpa Perasaan adalah orang yang sama," jawab Chen Li sambil tersenyum sinis.


"Maksudmu?"


"Aku Pendekar Merah, akupun Pendekar Tanpa Perasaan,"


Degg!!!


Jantung dua belas tokoh itu berdetak semakin kencang. Mereka masih belum percaya dengan ucapan pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetap harus percaya.


Kenyataan berkata lain.


Kalau diingat kembali, Pendekar Merah memang banyak mempunyai kemiripan dengan Pendekar Tanpa Perasaan.


Kalau begitu, apakah itu artinya pemuda tersebut tidak berbohong? Benarkah Pendekar Merah adalah dirinya pula?


"Kau jangan berbohong," bentak tokoh lainnya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Coba kau ingat kembali peristiwa tiga tahun lalu. Bukankah kejadiannya hampir mirip seperti sekarang?"


Mereka langsung terdiam. Untuk kesekian kalinya, para tokoh tersebut mengingat kembali tragedi itu. Mereka berharap ingatannya telah berbeda dengan sebelumnya. Sayang, beberapa kali mengingat, ternyata ingatannya masih sama.


Sekarang mereka percaya dan yakin bahwa pemuda itu memang orang yang sudah menghancurkan markasnya dulu. Pendekar Merah dan Pendekar Tanpa Perasaan ternyata orang yang sama.


Menyadari akan hal ini, dua belas orang tersebut semakin merasa takut. Kalau dulu Pendekar Merah tidak membiarkan ada orang yang selamat, maka sekarang kemungkinan juga sama.


Itu artinya, mereka akan mampus seperti puluhan anggota itu.


"Bangsat. Dulu kau bisa menghancurkan tempat ini, tapi sekarang jangan berharap kau dapat melakukannya untuk yang kedua kali," teriak seorang tokoh dengan kalap.


"Hujan Senjata Perenggut Sukma …"


Wushh!!!

__ADS_1


Satu jurus dahsyat tiba-tiba dilayangkan oleh tokoh tersebut. Ratusan senjata energi mendadak muncul di langit. Sedetik kemudian, ratusan atau bahkan mungkin ribuan senjata energi itu langsung turun ke bumi menghujani Pendekar Tanpa Perasaan.


"Cahaya Tombak Menusuk Rembulan …"


Wushh!!!


Jurus dahsyat lainnya dilancarkan kembali oleh tokoh yang berbeda. Satu sinar terang melesat cepat ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Sebatang tombak yang hitam legam memberikan satu tusukan cepat.


"Tebasan Golok Pembelah Lautan …"


Wushh!!!


Satu tebasan dari arah kanan ikut turun tangan. Pemiliknya merupakan tokoh bertubuh gemuk. Dia langsung melancarkan jurus kelas atas demi membunuh pemuda sombong itu.


Tiga jurus mengerikan sudah siap untuk ******* Pendekar Tanpa Nama sampai menjadi debu. Udara di sekitar tempat itu bertambah sesak. Langit yang sudah hitam, sekarang menjadi lebih legam lagi.


Hawa panas menyeruak ke seluruh area. Hawa dingin terasa menusuk tulang belulang.


Pendekar Tanpa Perasaan melompat ke atas. Tubuhnya berputar beberapa kali lalu kemudian dia pun turut melayangkan jurusnya.


Jurus yang lebih dahsyat. Jurus yang lebih mengerikan lagi.


"Hujan Api Halilintar …"


Wushh!!!


Ledakan halilintar mendadak menggelegar dengan sangat keras. Ledakan itu bahkan sampai mengguncangkan gedung mewah markas Organisasi Elang Hitam.


Dari langit tiba-tiba muncul cahaya merah membara.


Api.


Hujan api tidak bisa dihindarkan lagi.


Empat jurus dahsyat telah berlomba-lomba untuk membunuh mangsa majikannya masing-masing.


Berbagai macam suara mengerikan terdengar amat riuh. Markas tersebut telah menjadi arena pertarungan hidup dan mati.


Jurus lawan semuanya menerjang telak Pendekar Tanpa Perasaan. Begitu juga sebaliknya, jurus Chen Li menghunjam ketiga lawannya yang menyerang secara serentak.


Gelegarr!!!


Dentuman keras terjadi. Semuanya langsung sirna begitu dentuman tersebut berkumandang.


Tempat megah yang sudah kuno itu seakan telah dilanda satu bencana besar. Satu malapetaka yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun.


Lubang besar tercipta di berbagai penjuru.

__ADS_1


Tiga tokoh yang tadi menyerang Pendekar Tanpa Perasaan telah meregang nyawa. Semuanya tewas mengenaskan.


Yang satu tubuhnya telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kecil. Satu lagi tewas tanpa kepala. Kepala itu hancur tertimpa reruntuhan gedung tersebut. Tubuhnya pun gosong karena terkena hujan api milik Pendekar Tanpa Perasaan. Sedangkan yang terakhir tewas dengan kondisi tangan dan kaki tidak ada.


Terlepas ke mana perginya dua pasang anggota tubuh tersebut, siapapun tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.


Sembilan tokoh yang tersisa terbengong melihat hasil dari pertarungan hebat itu. Tanpa terasa perutnya mual, mereka ingin muntah. Walau berada di jalan sesat, tapi mereka masih manusia. Selaku manusia, rasa mual sepertinya sudah lazim. Siapapun dapat merasakannya, bukankah begitu?


"Siapa lagi yang ingin bernasib sama seperti mereka?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan sambil memandang kepada sembilan tokoh yang tersisa.


Dari sembilan tokoh tersebut, tiada seorang pun yang menjawab.


Tentu saja mereka membungkam mulutnya, memangnya manusia mana yang ingin bernasib tragis seperti mereka?


"Baik, kalau tidak ada yang menjawab, biarlah semuanya akan aku sama ratakan," ujar Chen Li telah bersiap kembali.


Pemuda itu tidak mau berlama-lama lagi. Tugasnya masih banyak, urusan yang belum selesai pun masih numpuk, oleh sebab itulah, setiap waktunya sangat berharga.


"Pemuda yang sangat sombong," desis seorang tokoh di antara mereka.


Wushh!!! Wushh!!!


Sambilan tokoh Organisasi Elang Hitam langsung bergerak secara bersamaan. Meskipun mereka merasa takut, namun orang-orang itu masih mempunyai harga diri.


Harga diri tidak bisa dibeli dengan apapun. Apalagi harga diri seorang lelaki. Bagi sebagian pria, harga diri bahkan lebih berharga dari pada nyawa sekalipun.


Pantang bagi seorang pria jika harga dirinya diinjak-injak.


Sembilan macam jurus dahsyat telah dilayangkan oleh mereka. Semuanya merupakan jurus kelas atas. Keadaan di sana kembali berubah hebat.


Hanya sesaat, semuanya telah nampak jauh berbeda.


Sembilan bayangan manusia melesat secepat angin berhembus ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Sembilan batang senjata senjata pusaka sudah dihunus dan siap untuk mencabut nyawa pemuda itu.


Wushh!!!


Chen Li pun ikut bergerak. Melihat sembilan musuhnya mengeluarkan seluruh kemampuan, Pendekar Tanpa Perasaan tentunya tidak mau kalah.


Delapan puluh persen kekuatannya langsung dikeluarkan. Lantai yang dia pijak hancur berhamburan ke atas.


Wushh!!!


Bayangan putih melesat ke depan. Cahaya merah sepekat warna darah terlihat sangat membara.


Trang!!! Wushh!!!


Srett!!!


Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pedang Merah Darah telah mendapatkan mangsanya kembali. Satu dari sembilan tokoh itu seketika ambruk ke tanah karena dadanya robek besar dan dalam.

__ADS_1


Darah menyembur deras. Mulutnya pun dipenuhi oleh darah. Orang itu langsung tewas saat itu juga.


__ADS_2