Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah Huang Taiji Lu


__ADS_3

Bahkan si Pendekar Dewa itu sendiri tidak pernah menyangka bahwa dia bakal bertemu dengan seorang bocah lain daripada yang lain.


Dia sudah banyak melihat pendekar belia, baik itu di negerinya sendiri maupun di Kekaisaran Wei.


Namun seingat dia, rasanya belum pernah bertemu dengan pendekar belia seperti Chen Li ini.


Di matanya, dia bukan seperti seorang anak kecil. Justru terlihat seperti seorang tokoh tua yang menyamar menjadi anak kecil.


Sampai matipun dia tidak akan percaya hal ini.


Alasannya tentu karena Chen Li. Dia menyerang dan bertahan seperti tokoh berpengalaman. Setiap berkelit sangat lincah. Seolah sudah banyak sekali melewati pertarungan hidup dan mati.


Belum lagi jurusnya yang dahsyat serta mengerikan.


Siapa yang akan percaya ada bocah seperti itu? Mungkin orang lain pun akan beranggapan sama dengannya.


Sayangnya Chen Li tetaplah Chen Li. Dia bukan orang lain. Dia akan tetap seperti itu dan bahkan mungkin suatu saat akan lebih daripada itu.


Saat ini sang Pendekar Tanpa Perasaan masih menyerang lawannya. Pedang Awan dan seruling hiok hijau melancarkan serangan silih berganti.


Tangan kanan menyodok atau menghantam dengan seruling. Sedangkan tangan kiri memberikan serangan berupa tusukan ataupun sabetan pedang.


Semua serangan yang dia berikan untuk musuh dilancarkan dengan kecepatan penuh. Sehingga bentuk senjata pusakanya tidak tampak jelas. Yang terlihat hanyalah kilatan cahaya biru dan cahaya hijau melesat tak pernah berhenti.


Walaupun dalam keadaan kaget, tetapi si Pendekar Dewa itu masih bisa menghalau semua serangan Chen Li. Sebab seperti yang disebutkan sebelumnya, kemenangan bagi bocah itu amat tipis. Alasannya karena Mata Dewa belum bisa dikendalikan semuanya.


Mereka sudah bertarung melewati tiga puluh jurus lebih. Selama itu, posisi keduanya saling bergantian. Kadang kala Chen Li berada dalam posisi bertahan. Kadang dia juga berada dalam posisi menyerang. Begitupun sebaliknya.


Pertarungan keduanya berlangsung semakin sengit. Chen Li sudah mengeluarkan seluruh kekuatan. Begitu juga dengan si Pendekar Dewa.


Pertarungan Huang Taiji Lu melawan tiga lawannya lebih sengit lagi. Tetapi jangan lupa, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya dalam wujud penyamaran.


Walaupun tidak sekuat kekuatan aslinya ketika menjadi pengawal Dewa Lima Unsur, namun rasanya itu saja sudah lebih daripada cukup.


Pedang Tombak Surga Neraka sudah keluar beberapa saat yang lalu sebab tiga lawannya sudah mengeluarkan senjata pusaka mereka pula.


Jurus Sayap Malaikat Putih memang luar biasa. Karena jurus tersebut, dia menjadi mempunyai pertahan sekokoh benteng perang. Berbagai macam jurus lawan sudah dilancarkan ke arahnya.

__ADS_1


Sayangnya semua sia-sia. Sebab ketika jurus mereka menerjang secara tiba-tiba, maka secara otomatis juga sepasang sayap tersebut bakal melindungi seluruh tubuh Huang Taiji Lu.


Dari atas sampai bawah, semuanya berada dalam lindungan sepasang sayap tersebut.


Pedang Tombak Surga Neraka melancarkan sinar yang menyilaukan. Warnanya merah. Merah darah ditambah campuran warna merah api.


Hawa panas dan hawa dingin bercampur menjadi satu. Hawa menyejukan dan hawa mengerikan menyatu.


Dia mengayunkan pusaka andalannya, segulung angin dahsyat bersama gemuruh yang menggelegar terdengar memekakkan telinga.


Huang Taiji Lu ternyata sudah marah besar. Sekali ayunan tadi, beratnya hampir sama seberat gunung.


Bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya kekuatan orang tua tersebut.


Tiga lawannya bertahan sebisa mungkin. Jurus pertahanan terkuat yang mereka miliki sudah dikeluarkan. Tetapi saat jurus Huang Taiji Lu hampir tiba, semua pertahanan itu berhasil dijebol.


"Blarrr …"


Ledakan yang paling keras terdengar. Langit bergemuruh hebat seperti mau runtuh. Bumi bergetar hebat seperti dilanda gempa bumi yang teramat besar.


Dunia seperti kiamat.


Orang tua itu tidak tinggal diam menanti hasil yang belum pasti.


Dia turut meluncur ke arah tiga lawannya. Bukan untuk melihat apakah mereka tewas atau tidak. Tetapi justru untuk memberikan serangan yang lebih dasyat untuk memastikan bahwa mereka benar-benar tewas.


"Pedang Tombak Meruntuhkan Alam Nirwana …"


"Gelegarr …"


Dia berteriak keras. Suaranya bagaikan suara Raja iblis yang mengamuk. Gemuruh guntur menggelegar. Semua yang ada di dekatnya terbang ke segala arah.


Dia melancarkan serangan yang amat dahsyat. Tusukan dan sabetan dia lancarkan secepat tarikan nafas.


Tak kurang dari dua puluhan kali dia menyabet. Dua Pendekar Dewa tahap lima telah mengalami luka parah di sekujur tubuhnya.


Keduanya merintih menahan sakit. Mereka sudah berhenti meluncur, tetapi serangan Huang Taiji Lu tidak berhenti. Justru semakin hebat dan bertambah sangat cepat.

__ADS_1


Sepuluh jurus kemudian, satu orang Pendekar Dewa mati mengenaskan. Hitungan yang sama berikutnya, satu lagi Pendekar Dewa tewas dalam kondisi yang lebih menyedihkan.


Mereka tewas membawa rasa takut. Mungkin dalam hatinya merasa bersyukur. Keduanya lebih baik memilih mati daripada harus menyaksikan bagaimana dahsyatnya jurus orang tua itu.


Jurus Pedang Tombak Menghancurkan Nirwana adalah jurus terkuat yang dia miliki. Jadi rasanya tidak perlu heran kalau semua luluh lantak dibuatnya. Hanya dalam sekejap mata, semuanya telah berubah.


Arena pertarungan dirinya sudah menjadi porak poranda. Sekarang tinggal satu orang yang tersisa. Yaitu si orang tua berpakaian kuning terang.


Dia yang paling kuat di antara lainnya. Tapi kondisinya saat ini juga tidak berbeda.


Orang tua itu merasa ketakutan setengah mati.


Pedang yang digenggam di tangannya bergetar, bahkan hampir terjatuh. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seumur hidup, dia baru mengalami ketakutan yang seperti ini.


Padahal menurut orang-orang, wajahnya itu cukup menyeramkan. Tak disangka, di hadapan lawannya yang sekarang, justru wajahnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan.


"Kau masih belum mau menyerah?" tanya Huang Taiji Lu sambil tetap memegang tombaknya.


"Selama masih ada nyawa, aku tidak akan menyerah," jawab si orang tua berpakaian kuning.


"Bagus. Aku puji keberanianmu menantang Malaikat Maut. Kalau begitu, sekarang akan kubuat kau menyerah,"


Belum habis dia berkata, tubuhnya mendadak telah tiba di hadapan lawan. Sontak lawannya terkejut kembali.


Dia ingin segera melancarkan serangan, tetapi sayangnya tidak bisa. Sebab nyawanya telah melayang lebih dahulu.


Pusaka Huang Taiji telah menusuk tepat di jantungnya.


Gerakan yang dilakukan sangat cepat. Sangat tepat, dan tentunya sangat mematikan.


Darah mulai keluar dari mulut lawan. Pedangnya terjatuh ke bawah. Menyusul kemudian lalu tubuh itu yang ambruk ke tanah.


Sementara itu di sisinya, San Ong sudah mengeluarkan kekuatan aslinya. Sebatang tongkat yang merah membara telah dia genggam erat.


Setiap kali siluman kera itu berteriak, maka bumi akan bergetar.


Tiga lawannya tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Baru kali ini mereka melihat ada siluman berkekuatan mengerikan tetapi bisa tunduk kepada manusia.

__ADS_1


Mereka ingin bicara lagi, tapi tidak sempat. Sebab serangan dari siluman kera itu telah tiba di hadapannya.


__ADS_2