Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bantuan Kedua Telah Datang


__ADS_3

Selama Shin Shui dan Hwe Koan berbincang, diam-diam Ong Tiong dan Wong Qing menyiapkan kekuatan mereka yang lebih dahsyat lagi. Selain itu, keduanya juga memikirkan beberapa rencana untuk melakukan pertarungan selanjutnya.


Apalagi keduanya juga sudah mengetahui bahwa kemungkin bantuan lainnya akan segera datang. Hal ini tentu saja menjadi masalah bagi mereka sendiri. Terlebih lagi mereka belum mengetahui sekuat apa bantuan yang akan datang nanti.


Kalau bantuan itu terdiri dari para pendekar biasa, bukanlah sebuah masalah besar. Tetapi bagaimana kalau bantuan itu terdiri dari para pendekar yang mempunyai kekuatan luar biasa?


Tujuh pendekar sudah bangkit berdiri. Mereka kini sudah merasakan bahwa tubuhnya jauh lebih segar daripada sebelumnya. Bahkan ketujuh pendekar tersebut merasakan adanya hawa hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya.


Karena ketujuhnya sudah pulih dari luka yang diderita, mereka segera melompat dan terjun ke dalam pertarungan.


Sembilan pendekar sudah berhadapan dengan Shin Shui dan Hwe Koan. Keduanya tidak yakin bisa mengalahkan mereka dalam sekali bertarung.


Tetapi walaupun begitu, kedua pendekar tersebut masih dapat berdiri dengan santai.


"Kepala Tetua Hwe, berhati-hatilah. Sebab sembilan pendekar itu berasal dari Kekaisaran lain. Seperti yang kau ketahui bahwa kekuatan mereka, setingkat lebih tinggi daripada kita para pendekar Kekaisaran Wei," kata Shin Shui mengingatkan.


"Terimakasih karena pahlawan sudah mengingatkan," kata Hwe Koan yang menyebut sebutan khusus Shin Shui.


Untuk diketahui, setelah perang sepuluh tahun lalu, Kaisar Wei An memberikan banyak penghargaan kepada Shin Shui. Salah satunya adalah dia diberi gelar khusus. 'Pahlawan'.


Gelar khusus dari Kaisar untuk Shin Shui. Semua orang sudah tahu akan gelar tersebut. Sehingga mereka kerap kali memanggil Shin Shui dengan sebutan pahlawan.


"Bagaimana, apakah kau sudah siap?" tanya Shin Shui.


"Sangat siap. Hari ini, menjadi hari kebanggaanku karena bisa tampil bersama Pahlawan Kekaisaran Wei. Semoga saja aku bisa membuat pahlawan terkesan," kata Hwe Koan.


"Terimakasih Kepala Tetua Hwe," jawab Shun Shui.


"Apakah sudah bisa dilanjutkan tuan Ong dan tuan Wong?" tanya Shin Shui.


"Baik pendekar. Silahkan. Aku harap pendekar berdua tidak keberatan kalau kami maju bersamaan," jawab Ong Tiong.

__ADS_1


Shin Shui melirik Hwe Koan sebentar. Pria bermuka seram dengan jubah hitam itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Tanda bahwa dia setuju.


"Baik. Silahkan kita mulai," kata Shin Shui.


Hwe Koan langsung mencabut golok pusakanya. Golok itu bergagang tengkorak. Ukurannya juga cukup besar dan panjang. Golok tersebut bukanlah senjata biasa. Bahkan baja pun bisa belah dibuatnya.


Sembilan orang pendekar itu langsung bergerak ketika menyaksikan bahwa kedua lawannya sudah siap. Shin Shui dan Hwe Koan sudah membagi tugasnya masing-masing sambil menunggu bantuan lainnya.


Pendekar Halilintar akan melawan Ong Tiong dan Wong Qing. Sedangkan Hwe Koan si Golok Hitam Batu Baja, akan melawan tujuh pendekar.


Saat semua lawan menyerang, dua pendekar itu sudah menempatkan diri kepada posisinya masing-masing.


Hwe Koan sudah mulai bertarung melawan tujuh pendekar. Goloknya berkilat mebabat semua senjata yang datang menerjang.


Golok itu dia ayunkan sehingga mengeluarkan kekuatan dahsyat yang menerbangkan apa saja. Sinar hitam bergulung terlihat keluar setiap kali dia melancarkan serangannya.


Shin Shui sendiri sudah mulai bertarung pula melawan Ong Tiong dan Wong Qing. Dua pendekar asing itu sedikit banyak sudah mengetahui sampai di mana kekuatan Shin Shui.


Karena alasan tersebut, tanpa sungkan lagi mereka langsung melancarkan serangan ganas dan jurus maut. Dua pedang dan satu batang tongkat baja berkilat memecah gelap malam.


Pedang Halilintar sudah dia gerakan sejak awal pertarungan. Kilatan biru terang meredupkan sinar emas dan sinar merah dari kedua lawannya.


Benturan senjata mulai terdengar ramai di antara dua pertarungan tersebut. Jurus dahsyat dan jurus ganas sudah mereka lancarkan untuk melumpuhkan lawannya masing-masing.


Pertarungan baru berjalan beberapa saat, tapi Shin Shui dan Hwe Koan sudah bertarung dengan sengit.


Kali ini baik Shin Shui maupun Hwe Koan tidak berani lagi untuk bercanda. Wajah mereka terlihat lebih sangar jika sedang serius.


Hwe Koan mengamuk seperti harimau terluka. Sabetan dan bacokan goloknya mengincar ke tujuh penjuru yang di isi oleh lawan.


Tubuhnya bergerak dengan lincah seperti seekor harimau menghindari hujan panah. Dia sudah tidak terlihat seperti seorang manusia, kini Hwe Koan sudah berubah menjadi sebuah bayangan hitam yang terus bergerak tanpa henti.

__ADS_1


Si Golok Hitam Batu Baja bisa melakukan hal tersebut tentu saja karena ilmunya sudah sangat tinggi. Setahun belakangan ini, dia baru naik level menjadi Pendekar Dewa tahap tujuh awal.


Maka tidak heran jika semua gerakan serangannya sangat berbahaya dan mematikan.


Bunyi golok bertemu dengan berbagai macam senjata mulai menghiasi pertarungan mereka. Memasuki jurus kedua puluh satu, Hwe Koan semakin memperlihatkan kekuatan aslinya.


Di sisi lain pertarungan Shin Shui berjalan semakin menegangkan. Pertarungan ketiga pendekar itu lebih menarik lagi. Sebab semua jurus yang mereka keluarkan adalah jurus-jurus dahsyat yang mampu menghancurkan gunung.


Jika dalam keadaan seperti ini, maka Shin Shui akan terlihat jauh lebih berwibawa. Bahkan dia seperti seorang dewa. Dengan kemampuannya yang sekarang, dia masih mampu bertahan melawan dua pendekar yang hampir setara dengannya.


Ong Tiong dan Wong Qing mulai marah. Kekuatan yang mereka keluarkan jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya.


Di saat pertarungan masih berjalan sengit itulah, beberapa teriakan nyaring terdengar. Tak berapa lama, beberapa bayangan orang sudah turun ke medan pertarungan.


Bantuan kedua telah datang. Jumlah mereka mencapai tujuh orang. Semuanya mempunyai kekuatan setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga akhir.


Semangat Shin Shui dan Hwe Koan semakin menggelora. Seperti bunga layu tersiram air, keduanya berubah menjadi sosok yang lebih mengerikan lagi.


Karena bantuan kedua sudah datang, Hwe Koan langsung melesat ke arah Shin Shui lalu dia menerkam Wong Qing dengan jurus goloknya yang ganas.


Semua orang sudah mendapatkan satu lawannya masing-masing. Sepertinya pertarungan akan berlangsung lebih hebat daripada yang dibayangkan.


Para murid Ong Tiong dan Wong Qing pun mulai bertarung. Alasannya karena ada bayangan orang menebas leher rekan mereka.


Chen Li!


Bocah istimewa itu sudah ikut campur dalam pertarungan ini. Dia tentu saja tidak mau kalah dengan ayahnya. Tanpa sungkan lagi, Chen Li sudah mengeluarkan Pedang Awan sejak dia tiba di sana.


Keunikan karena dia kidal menjadi tontonan tersendiri bagi semua orang yang ada di sana. Shin Shui sendiri merasa terkejut melihat anaknya itu.


Dia baru menyadari bahwa Chen Li, akan jauh mengerikan apabila dia bertarung menggunakan sebuah pedang.

__ADS_1


Sepak terjangnya jauh melebihi Shin Shui ketika baru terjun ke dunia persilatan dulu. Jika waktu muda Shin Shui sangat ceroboh dan agak bodoh, justru Chen Li sebaliknya.


Setiap pertarungan yang dilewatkan oleh Chen Li, sudah pasti dia akan bertindak sangat teliti dan pintar membaca situasi.


__ADS_2