Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Semua Orang Terkejut


__ADS_3

Kecepatan serangan yang diberikan oleh Chen Li mulai bertambah cepat daripada sebelumnya. Tetapi hal ini belum bisa menyadarkan Shin Shui bahwa anaknya sudah mengalami sesuatu yang luar bisa.


Saking luar biasanya, dia sendiri mungkin tidak akan pernah percaya. Sebab sewaktu dulu, Shin Shui tidak pernah mengalami sesuatu luar biasa seperti apa yang terjadi pada Chen Li. Bahkan di kemudian hari sekalipun, mungkin tidak akan ada yang mengalaminya lagi.


Pendekar Halilintar menyentil kembali Pedang Awan dan seruling giok hijau milik anaknya tersebut. Tetapi Chen Li tidak terdorong ke belakang cukup jauh seperti Eng Kiam sebelumnya. Bocah kecil itu hanya terdorong dua langkah saja.


Itupun langsung melancarkan serangan kembali. Eng Kiam sudah mengambil posisi siap. Dia melesat cepat mengikuti Chen Li. Pedang Bunga Teratai bergerak kembali. Tanpa bayangan. Tanpa suara bising.


Yang ada hanyalah angin dingin. Yang ada hanyalah ancaman dan kapan saja bisa merobek kulitnya.


Shin Shui semakin serius ketika melihat dua bocah yang sedang dia uji mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Pertarungan sudah mencapai seratus jurus. Eng Kiam merasa tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Tenaga dalamnya menipis. Nafasnya tersengal-sengal seperti paru-parunya mau pecah.


Keringat membanjiri tubuh. Serangan pedang yang dia lancarkan semakin mengendur. Lima jurus berikutnya, Shin Shui berhasil memberikan sabetan memakai rantingnya ke pergelangan tangan Eng Kiam.


Bunyi nyaring terdengar. Pedang Bunga Teratai jatuh ke tanah yang keras. Sedangkan pemiliknya jatuh bersimpuh di pinggir pedangnya.


Shin Shui melakukan hal sama kepada anaknya, Chen Li. Dia menyabetkan ranting pohon itu ke bagian pinggang sebelah kanan.


Bukannya sama seperti Eng Kiam, justru mendadak Pedang Awan bergerak sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada Eng Kiam. Sehingga ranting tersebut dibuat patah menjadi dua bagian.


Dia kaget. Bagaimana anaknya bisa melakukan hal tersebut?


Pertarungan berhenti sejenak. Seruling giok hijau dan Pedang Awan dia simpan kembali. Pertarungan sudah mencapai seratus sepuluh jurus. Namun Chen Li masih tetap bertahan. Bahkan nafasnya sangat teratur. Seolah dia tidak melakukan apa-apa.


Orang-orang yang belum tahu apa yang sudah sebenarnya terjadi, merasa sangat terkejut. Begitu juga dengan Shin Shui sendiri. Sedangkan meraka yang tahu, hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayah, mari kita bertarung lebih serius lagi," kata bocah tersebut.


"Kau masih punya jurus simpanan lagi? Hemm, menarik. Silahkan tunjukkan kepada Ayah," kata Shin Shui sedikit keheranan.

__ADS_1


Chen Li tidak menjawab perkataan ayahnya. Dia hanya tersenyum.


Senyuman yang dingin. Sedingin gunung es. Senyumnya juga terkesan menyeramkan. Seperti layaknya iblis yang hendak membunuh mangsanya.


Beberapa saat kemudian, dia bergerak. Gerakan yang jauh lebih cepat daripada semua serangan sebelumnya. Dua gulung tenaga dahsyat menerjang Shin Shui. Belum lagi tanah yang tiba-tiba meledak menghujani dirinya.


Shin Shui kaget setengah mati. Dia berputar untuk memusnahkan serangan dahsyat tersebut. Tetapi ketika semuanya kembali seperti semula, Shin Shui lebih kaget lagi.


Sebab mata anaknya sudah terbuka. Dan mata itu, menunjukkan satu unsur.


Unsur bumi. Memang itulah Mata Dewa Unsur Bumi.


Chen Li melesat ke arah ayahnya. Dua buah pukulan jarak jauh melayang. Disusul kemudian dengan gempuran pukulan dan tendangan. Baru beberapa saat saja, Shin Shui sudah menjadi samsak bagi anaknya.


Tubuhnya dihujani oleh pukulan dan tendangan Chen Li. Batu-batu berterbangan turut menghujani tubuhnya. Sekuat-kuatnya Shin Shui, karena tidak mengeluarkan kekuatan penuh, tak urung tubuhnya merasakan sakit juga.


Dia membentak nyaring. Kedua tangannya mulai bergerak menangkis semua serangan Chen Li. Ayah dan anak itu sempat saling pukul dan saling tendang untuk beberapa waktu.


"Bukk …"


"Bukk …"


Ayah dan anak itu sama-sama terdorong mundur ke belakang. Keduanya merasakan sakit yang sama.


Chen Li berniat untuk melanjutkan pertarungannya lagi, tetapi Shin Shui lebih dahulu menahannya.


"Cukup Li'er," katanya sambil memberikan isyarat dengan tangan kanan.


Sontak Chen Li berhenti di tengah jalan. Kekuatan dahsyat dan mengerikan dari Mata Dewa Unsur Bumi segera melemah. Chen Li kembali seperti semula. Kedua matanya menutup kembali.


Suara tepuk tangan dan sorak-sorai menggema di seluruh wilayah Sekte Bukit Halilintar. Mereka merasa sangat kagum dan sangat terhibur dengan pertarungan ayah dan anak tersebut.

__ADS_1


Chen Li berjalan mendekati Shin Shui. Sekulum senyuman yang lucu dan menggemaskan dia lemparkan.


"Hehehe, maafkan Li'er Ayah," katanya sambil tersenyum lalu menggaruk kepala bagian belakang yang tidak terasa gatal.


"Dasar anak nakal. Dari mana kau bisa mendapatkan kekuatan itu?"


"Tentunya dari Mata Dewa,"


"Siapa yang mengajarkanmu mengendalikan kekuatan mengerikan itu?"


"Paman Huang …" jawab Chen Li sambil tersenyum.


"Hemm, pantas. Kapan kau berhasil menguasainya?"


"Semingguan yang lalu Ayah,"


"Baguslah. Jadi Ayah semakin yakin untuk memberikan tugas kepadamu supaya kau terbiasa memakai kekuatan Mata Dewa," ucap Shin Shui sambil mengelus kepala anaknya.


Para tokoh yang hadir masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan. Ini adalah pencapaian luar biasa. Walaupun tidak semua tahu tentang Mata Dewa, tetapi semua mengerti bagaimana dahsyatnya kekuatan tersebut.


Apalagi Shin Shui sendiri sampai dibuat terdesak. Meskipun dia dibuat begitu karena tidak mengeluarkan kekuatan sepenuhnya, tetapi tetap saja hal itu merupakan pencapaian luar biasa. Apalagi orang yang melakukannya hanyalah bocah kecil berumur dua belas tahun.


Pertarungan uji coba tersebut pada akhirnya selesai. Semua orang masih mengingat jelas di benak mereka atas sua pertunjukan tadi. Terlebih lagi pertunjukan yang terakhir mampu membuat siapapun terkesima.


Di ruangan para tetua, Shin Shui sedang menceritakan tentang Mata Dewa kepada para tokoh tersebut supaya tidak mendapatkan pertanyaan lagi di kemudian hari.


"Li'er memang sudah terlahir seperti ini. Matanya tertutup. Tetapi bukan karena dia di takdir kan buta. Hal itu terjadi karena dia mempunyai keistimewaan. Dia memiliki Mata Dewa yang konon katanya merupakan kekuatan gabungan dari Para Dewa," jelas Shin Shui lalu menceritakan mimpinya saat bertemu dengan Lao Yi beberapa waktu lalu.


Semua tokoh itu baru paham sekarang. Mereka baru tahu bahwa ternyata telah lahir kembali seorang anak manusia yang akan menentang takdir langit. Berita ini adalah berita yang sangat luar biasa.


"Kalau begitu, kita harus bersama-sama untuk menjaga Li'er demi kelangsungan hidup manusia. Aku yakin dia yang terpilih untuk memikul suatu takdir. Kita harus melindunginya dengan segenap kemampuan, bahkan sekalipun harus mempertaruhkan nyawa. Sebab kelak, pasti akan banyak orang yang mengincar dan menginginkan Mata Dewa. Kalau sampai mata itu jatuh ke tangan para iblis, maka dunia ini akan berubah menjadi neraka," ucap Kakek Tua Jubah Hitam sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2