
Sinar biru terang mendadak muncul membentuk sebuah benteng pertahanan. Tubuh Shin Shui kembali mengeluarkan cahaya bersama selingan kilatan halilintar.
Serangan yang dilancarkan oleh Raja Siluman Tanpa Ampun, semuanya musnah. Lenyap seperti tersedot oleh kekuatan yang melindungi Shin Shui.
Kakek tua itu terkejut. Dia tidak pernah membayangkan ada seorang pendekar yang ternyata mampu menyedot jurus dahsyatnya. Bahkan tanpa bergerak sekalipun.
Seumur hidupnya, dia tidak akan pernah melakukan kejadian hari ini. Namun yang jadi pertanyaan, apakah dia akan hidup lebih lama lagi setelah membuat murka Shin Shui?
Begitu semua serangan lawan lenyap tersedot oleh kekuatannya, Shin Shui segera berteriak sambil mengayunkan tangan kanannya.
Bersamaan dengan gerakan tersebut, satu buah bola api yang sangat besar serta ribuan jarum meluncur deras ke arah Raja Siluman Tanpa Ampun.
Baik itu segi kecepatan ataupun kekuatan, semuanya jauh lebih hebat. Mungkin dua kali lipat lebih kuat daripada sebelumnya.
Raja Tanpa Ampunan seketika itu juga langsung pasrah. Untuk lari, rasanya mustahil. Untuk menangkis, apalagi. Karena itu, dia tidak mencoba untuk melawan sekuat tenaga. Hanya secukupnya saja. Toh melawan atau tidak melawan, akhirnya dia akan tewas juga.
Bola api dan hujan ribuan jarum yang dilancarkan oleh Shin Shui, dengan telak sekali berhasil menghantam tubuh Raja Siluman Tanpa Ampun.
Hanya dalam satu detik, sosok kakek tua yang mengaku sebagai penguasa Hutan Misteri tersebut, kini telah tewas bersamaan dengan ledakan dari bola api. Raja Siluman Tanpa Ampun lenyap tanpa meninggalkan jejak apapun.
Sementara itu di sisi lainnya, Maling Sakti Hidung Serigala masih sedang bertarung melawan Ratu Siluman Liar dengan sengit. Keduanya sama-sama tidak mau kalah. Sepak terjang mereka berdua mampu menghancurkan alam sekitar.
Maling Sakti merasa sedikit kerepotan karena kekuatan lawan jelas berada setingkat di atasnya. Tetapi meskipun begitu, pria tersebut masih mampu untuk meladeni di nenek tua hingga hampir seratus jurus.
Maling Sakti sudah mengeluarkan seluruh kekuatanya sampai ke titik tertinggi. Tubuhnya diselimuti sinar hitam pekat. Di belakangnya ada satu sosok bayangan yang tercipta dari sinar itu.
Sebuah sosok bayangan menyeramkan bermata merah bertaring dua. Bahkan seluruh tubuh Maling Sakti sendiri berubah menjadi hitam pula.
Inilah jurus hebat yang selalu dia sembunyikan dari siapapun. Kalau dia sudah mengeluarkan jurus ini, maka lawannya sudah jelas sangat tangguh. Ketika jurus ini keluar, Maling Sakti tidak memerlukan lagi yang namanya senjata.
__ADS_1
Sebab semua yang ada dalam dirinya, telah berubah menjadi senjata. Baik itu tangan, kaki, mata, atau bahkan jari kelingking sekalipun, semuanya merupakan senjata. Senjata yang mengerikan. Tajamnya lebih tajam daripada pedang pusaka. Pukulannya lebih berat dari pada palu godam ratusan kilo.
Andai lawannya setara, mungkin dia sudah dapat menyelesaikan pertarungan ini sejak dari tadi mula. Sayangnya, itu hanya khayalan semata.
Maling Sakti Hidung Serigala melesat cepat. Kedua tangan dan kaki mengirimkan serangan yang sangat dahsyat sekaligus berat.
Dia masih menggunakan jurus yang sama. Jurus itu dia namakan Tubuh Malaikat Iblis Pemburu Nyawa.
Dengan jurus itu, maka dia sangat yakin bahwa lawan tidak akan mampu terlepas dari jeratannya.
Dua tangan dan kaki itu melancarkan berbagai macam serangan secara bergantian. Setiap gempuran pukulan atau tendangan yang dia lancarkan, mampu untuk merobek udara.
Si Ratu Siluman Liar paham bahwa ini merupakan jurus tertinggi lawan. Karena alasan itu, nenek tua tersebut segera mengeluarkan juga jurus terhebatnya.
Kipas dan pedang berduri mulai dimainkan kembali. Gerakan kedua senjata tersebut sebenarnya berlawanan, tetapi anehnya justru malah mampu memberikan serangan balasan yang tidak kalau mengerikannya.
Teriakan mereka amat nyaring dan mengandung perbawa rasa takut. Keduanya sudah bertarung secara jarak dekat sambil terus melancarkan berbagai macam jurus maut.
Chen Li yang gagal bertarung dengan siluman, kini dia hanya dapat menyaksikan pertarungan pamannya dari pinggir arena. Bocah kecil tersebut tampak sekali mengawasi setiap jurus yang dilancarkan dua orang itu.
Terdengar beberapa kali Chen Li berdecak kagum. Bahkan sampai geleng-geleng kepala.
Saat ini Maling Sakti kembali berada dalam posisi terdesak. Berbagai macam luka sudah dia terima karena serangan gempuran Ratu Siluman Liar yang tidak bisa dia tahan sepenuhnya.
Namun di sisi lain, nenek tua itu juga merasakan hal yang sama. Lukanya memang tidak banyak, paling hanya berjumlah tiga di beberapa titik saja.
Tapi jangan salah, justru tiga luka tersebut sebenarnya luka berat. Kalau bukan dia, mungkin sudah tewas dari tadi.
Darah kehitaman terus mengucur deras. Wajah Ratu Siluman Liar mulai memucat. Sepertinya dia terkena racun yang cukup ganas.
__ADS_1
Melihat kesempatan emas seperti sekarang ini, Maling Sakti Hidung Serigala tidak mau menunda-nunda lagi.
Dua buah pukulan keras dia lancarkan secepat dan sekuat mungkin.
"Blarrr …"
Terdengar suara ledakan dan teriakan nyaring dari seorang nenek tua. Teriakan yang menyayat hati. Karena begitu efek jurus hilang, nenek tua itu sudah terkapar dengan luka yang sangat parah.
Tubuhnya menghitam dan darah mulai mengental. Dia tewas membawa rasa tidak percaya ke alam baka.
Dua buah pertarungan hebat telah selesai. Alam menjadi hancur bersamaan dengan selesainya pertarungan itu. Suara binatang liar penunggu Hutan Misteri, kini menghilang bagaikan di telan bumi.
Maling Sakti Hidung Serigala segera bergabung bersama Shin Shui dan yang lainnya.
"Salam hormat untuk Kaisar Naga Merah," kata Maling Sakti setelah tahu siapa dia sebenarnya.
"Tuan terlalu sungkan. Jagan seperti itu," kata Kaisar Naga Merah sambil memegang pundaknya.
Mereka lalu memilih untuk masuk ke bangunan tua yang ada si sana. Hanya sekedar untuk beristirahat dan bicara ringan sebentar. Terutama sekali antara Shin Shui dan Kaisar Naga Merah yang sudah lama menanggung kerinduan kepada sahabat sejatinya.
"Sahabat, apa kabarmu? Dan bagaimana keadaan di sana? Aku melihat kekuatanmu jauh lebih hebat dari terakhir kali aku ada di sana," kata Shin Shui penuh keakraban.
"Hahaha … kabarku baik. Negeri Siluman juga kini sudah aman tenteram dan damai kembali. Kehidupan di sana berjalan normal seperti sebelumnya. Lalu bagaimana dengan kabarmu?" kata Kaisar Naga Merah.
"Aku juga baik-baik saja. Tetapi keadaan Kekaisaran Wei sedang tidak baik. Terlebih lagi dunia persilatan, semakin hari keadaannya semakin memburuk. Badai yang melanda semakin hebat," kata Shin Shui.
Suaranya pelan dan kalem. Tapi di balik suara tersebut, ada sebuah beban yang sulit untuk di ungkapkan.
"Hemm, kau tenang saja sahabat. Aku yakin kau mampu menghadapi semua persoalan yang kini sedang melanda. Aku percaya kepadamu, kau pasti bisa," ucap Kaisar Naga Merah menenangkan Shin Shui sambil menepuk pundaknya.
__ADS_1