Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dihadang


__ADS_3

"Selaku manusia harus saling membantu. Aku akan pergi sekarang Paman. Masih banyak urusan yang harus segera aku selesaikan. O iya, belikan saja makanan untuk semua warga di sini. Kalau masalahku sudah selesai, aku akan segera kembali lagi ke sini," kata Chen Li sambil bangkit berdiri.


Si kepala desa juga bangkit berdiri. Dia amat menghormati Chen Li, ternyata dari sekian banyak manusia yang kejam, masih terselip juga manusia yang berhati bersih.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menjalankan semua yang Tuan muda perintahkan. Selepas Tuan muda pergi, aku pasti akan langsung memulainya," katanya langsung mengganti sebutan kepada Chen Li.


"Baik, terimakasih. Aku percaya kepadamu," jawab Chen Li sambil tersenyum.


Orang tua itu ingin bicara kembali, tapi secara terpaksa dia harus membatalkan niatnya itu, sebab sekarang di sana tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya sendiri.


Ke mana pemuda itu pergi? Kapan dan bagaimana dia pergi?


Si orang tua hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sekarang dia tahu, ternyata pemuda asing yang membantunya bukanlah pemuda sembarangan.


"Ternyata dia seorang pendekar muda yang luar biasa. Aii, semoga Dewa selalu melindunginya," gumam si kepala desa seorang diri.


Pendekar Tanpa Perasaan sudah berada di jalanan Kota Qinghai kembali. Niatnya ingin mencari Siau Bu Si yang bergelar Pelukis Sakti Penarik Jiwa, ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan langsung kepadanya.


Sayang, niat itu harus diurungkan karena Chen Li telah menghadapi satu masalah lain. Dia harus bertemu kembali dengan anggota Organisasi Elang Hitam, bagaimanapun caranya, pemuda itu harus dapat menemukan markas mereka.


Masalah yang terjadi seperti di desa miskin tadi, sepertinya bukan hanya di tempat itu saja. Pendekar Tanpa Perasaan yakin bahwa di desa lainnya pasti mengalami hal yang sama.


Yang maju semakin maju, yang terbelakang semakin terbelakang.


Bukankah ini salah satu contoh ketidakadilan?


Sebagai pendekar yang bertugas menegakkan keadilan, sudah tentu dirinya tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi berkepanjangan. Sebisa mungkin dia harus segera menyelesaikannya.


Tapi ke mana dia harus mencari mereka? Apakah ke markas yang dulu pernah dia hancurkan? Benarkah mereka kembali mendirikan markas di tempat yang sama?


Hati Chen Li diliputi rasa penasaran. Oleh karena itu, tanpa banyak berpikir, dia lantas menjejakkan kakinya untuk menuju ke sana.


Tapi sebelum tubuhnya pergi jauh, tiba-tiba saja beberapa tombak di depannya telah berdiri beberapa orang asing. Mereka menghadang jalan Chen Li. Jumlahnya ada lima orang.


Siapa mereka?


"Berhenti!!!" bentak salah seorang kepadanya.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Perasaan segera menghentikan langkahnya. Dia langsung menatap tajam kepada lima orang tersebut.


Ingatan bocah itu tiada seorangpun yang meragukannya, daya ingat Chen Li lebih kuat dari manusia kebanyakan. Setelah ditelisik, ternyata kelima orang tersebut adalah orang-orang yang dia temukan di restoran tadi. Tepatnya di lantai lima.


Di lihat dari penampilan, siapapun dapat menebak bahwa kelimanya merupakan orang-orang dunia persilatan.


Wajah mereka semua terlihat sangar. Sepasang matanya tajam seperti mata pisau. Masing-masing dari mereka memegang senjata pusaka.


"Siapa kalian?"


"Siapapun kami tidaklah penting," jawabnya.


"Benar, memang tidak penting. Orang mati bagiku sangat tidak penting," jawab Chen Li langsung berubah dingin.


"Kami masih bernafas, masih hidup, bagaimana mungkin bisa dikatakan sebagai orang mati?" tanya seorang lainnya sedikit membentak karena merasa tidak terima.


"Sekarang mungkin belum, tapi sebentar lagi pasti. Kalau kalian tidak menyingkir sekarang juga, aku pastikan tidak akan ada yang selamat,"


Jika Pendekar Tanpa Perasaan sudah berbicara, maka pasti dia sanggup melakukannya. Apalagi dia yang sekarang sudah jauh berbeda dengan yang dulu.


"Apapun bisa aku sombongkan. Cepat minggir atau aku akan bertindak kasar," ujar pemuda itu dengan suara yang lebih dingin lagi.


Chen Li tahu pasti bahwa kelima orang tersebut mempunyai niat buruk kepadanya. Dia yakin mereka menginginkan harta yang dibawanya saat ini. Oleh sebab itulah, Pendekar Tanpa Perasaan tidak mau basa-basi lagi.


"Serahkan dulu semua harta yang kau bawa," pinta seorang yang berada di tengah-tengah.


Dugaannya tidak salah. Ternyata mereka memang berniat untuk merebut hartanya.


"Asal kalian bisa bertahan dari empat seranganku, maka aku akan memberikan semua harta yang ada kepada kalian,"


Kelima orang itu menjadi sangat marah. Ucapan si pemuda asing tersebut baginya sangat sombong. Bahkan kelewat sombong.


Dia pikir dia siapa? Kenapa berani bicara sesumbar seperti itu?


"Bocah yang patut diberi pelajaran. Baik, aku akan mencoba apakah ucapanmu benar atau hanya bualan belaka," teriak seorang di antara mereka.


Wushh!!!

__ADS_1


Bayangan kuning berkelebat cepat. Satu jurus jarak jauh dan serangan jarak dekat langsung dilancarkan secara bersamaan.


Sinar kuning membentuk pusaran menerjang Pendekar Tanpa Perasaan. Satu kelebatan cahaya putih keperakan mengancam titik penting di tubuhnya.


Dua serangan mematikan dilancarkan dalam waktu bersamaan.


Harus diakui bahwa serangan orang tersebut cukup terbilang lumayan. Namun sayangnya hal tersebut hanya berlaku bagi orang lain, sedangkan bagi pemuda bernama asli Shin Chen Li, dua serangan itu bukanlah apa-apa.


Crashh!!!


Cahaya putih tadi bertemu dengan selarik cahaya merah pekat. Keduanya berjumpa di tengah jalan. Hanya sekejap, hanya sesaat, semuanya sudah berhenti kembali. Sinar kuning yang tadi membentuk satu pusaran telah menghilang tak berbekas.


Tak ada ledakan, tak ada benturan hebat. Yang ada hanyalah suara erangan tertahan. Erangan kesakitan. Erangan kematian.


Satu orang yang tadi menyerang Pendekar Tanpa Perasaan dengan rasa penuh percaya diri, kini telah menemui ajal. Kepalanya terlempar entah ke mana. Darah masih mengucur deras dari leher orang tersebut.


Semua kejadian itu berlangsung sekilas. Bahkan keempat rekannya pun tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


Mereka tidak melihat kapan pemuda itu bergerak. Tapi kenapa rekannya tahu-tahu sudah mampus?


Apakah pemuda tersebut memang tidak bergerak? Apakah dia bergerak tapi tidak terlihat karena saking cepatnya?


Siapapun tidak ada yang percaya.


Kelimanya bukan sembarangan orang dunia persilatan. Kemampuan mereka setara dengan Pendekar Dewa tahap satu akhir.


Kalau Pendekar Dewa sepertinya saja bisa dibunuh hanya dalam sekali gebrak, lantas bagaimana nasibnya dengan pendekar yang berada di bawah Pendekar Dewa?


"Kalian ingin mencobanya?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan sambil menatap ke arah empat orang asing tersebut.


Orang-orang yang ditatap olehnya langsung merasa takut. Mereka merasakan darahnya berhenti mengalir, nyalinya ciut seketika. Namun karena masih tidak terima dengan kematian seorang rekannya, orang-orang itu masih mencoba untuk memberanikan diri.


"Kita serang dia secara bersamaan. Aku yakin, kalau diserang serentak dari beberapa penjuru, dia pasti tidak akan dapat melawan," kata seseorang mengajak tiga rekannya.


"Aku setuju dengan usulmu itu," sahut rekan yang ada di sisinya.


Keempatnya telah bersiap dengan jurus dan senjata masing-masing. Mereka ingin membalaskan dendam kematian rekannya yang tewas secara mengenaskan.

__ADS_1


__ADS_2