
Shin Shui terdorong dua langkah ke belakang. Untung dua tidak terjatuh sebab kedua tangannya segera membentang sehingga menjadi seimbang.
Sedangkan lawannya terdorong hingga empat langkah. Dia sedikit terhuyung dan hampir jatuh.
Dari benturan pertama ini, Shin Shui sudah dapat mengira bahwa lawan yang akan dia hadapi cukup lumayan juga. Setidaknya Iblis Seribu Wajah dari Timur itu suda mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh pertengahan.
Namun walaupun lawannya terbilang berat, bukan berarti Pendekar Halilintar tidak sanggup untuk mengalahkannya. Meskipun pasti sedikit sulit, tapi dia yakin masih sanggup.
Sedangkan si Iblis Seribu Wajah dari Timur merasa sangat kaget sekali. Minimnya informasi tentang Pendekar Halilintar membuatnya tidak tahu sampai di mana kemampuan orang tersebut.
Tak nyana, ternyata dia sangat hebat. Entah sampai mana kekuatan yang sesungguhnya, dia sendiri tidak tahu.
'Kalau aku tidak mengeluarkan kekuatan penuh, mungkin nyawaku akan melayang sebentar lagi. Di lihat dari ketenangannya, aku yakin dia mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain,' gumam Iblis Seribu Wajar dari Timur sambil memandangi Shin Shui dari atas sampai bawah.
'Benar, aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan sekarang juga. Aku ingin melihat sampai di mana kekuatanmu bocah keparat,'
Selesai batinnya berkata demikian, Iblis Seribu Wajah dari Timur langsung berteriak sekencang mungkin. Kedua tangannya terbentang. Kepalanya mendongak ke atas sambil terus berteriak tanpa henti.
Mendadak angin menyambar demikian dahsyatnya. Atap bangunan dan beberapa pohon menjadi korban keganasan hembusan angin tersebut. Langit menjadi gelap. Awan kelabu menggulung seperti ombak di pantai.
Udara terasa pengap dan sangat panas. San Ong dan Ong San membentengi diri mereka dengan tenaga dalam tinggi. Sedangkan Shin Shui masih berdiri dengan tenang.
Dia terlihat santai. Wajahnya dingin seperti gunung es. Bahkan saking tenangnya, dia sama sekali tidak berkedip saat menyaksikan semua perubahan yang ada. Justru sekulum senyum terlihat jelas di bibirnya.
Perubahan mencolok terlihat jelas dari Iblis Seribu Wajah dari Timur, tubuhnya diselimuti oleh aura hitam yang mengerikan. Satu sosok bayangan iblis hitam pekat bermata merah darah menatap tajam ke arah Shin Shui.
Ada perasaan yang sangat menekan saat tatapan matanya bertemu dengan iblis tersebut. Pundaknya terasa seperti memikul sebuah gunung. Terasa sangat berat sekali.
__ADS_1
Julukan dan bentuknya memang sesuai. Orang tersebut benar-benar mirip iblis.
"Walaupun kau mengeluarkan kekuatan setinggi apapun, jika takdir berkata kau harus mati di tanganku, maka kau akan mati," teriak Shin Shui lalu melesat ke depan berbarengan dengan Iblis Seribu Wajah dari Timur.
Dalam kecepatan luncurannya, tubuh Shin Shui langsung diselimuti oleh sinar biru terang. Gemuruh halilintar segera terdengar menggelegar. Langit murka. Bumi berguncang keras.
Dua kekuatan dahsyat menekan seluruh tempat sekitar. Tanah berhamburan terbang. Sebagian bangunan hancur hanya karena tekanan dua tokoh sakti tersebut.
San Ong dan Ong San terdorong lima langkah ke belakang. Keduanya segera membuat dinding pelindung agar tidak menjadi korban salah sasaran.
Kalau di belakang Iblis Seribu Wajah dari Timur ada satu lagi sosok iblis yang menyeramkan, maka kali ini di belakang Shin Shui ada sosok seekor naga halilintar yang mengerikan.
Matanya selalu berkilat. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan suara bergemuruh. Suaranya saja seperti seorang Dewa yang mengamuk. Seluruh tubuh naga tersebut, dari kepala sampai ekor, semuanya mengeluarkan kilatan halilintar.
Jurus dahsyat ciptaan Shin Shui yang sangat jarang dia keluarkan karena bisa memporak-porandakan apa saja, pada akhirnya keluar juga.
Baru kali ini dia mengeluarkan jurus Amukan Dewa Naga Halilintar seumur hidupnya. Kalau waktu tidak mendesaknya, mungkin dia tidak akan mengeluarkan jurus mengerikan ini. Namun karena pertemuan dengan seluruh tokoh yang dijanjikan tiga bulan sebelumnya akan segera tiba, maka sebisa mungkin Shin Shui harus dapat kembali ke sekte secepatnya.
Seolah terdengar seorang Dewa yang sedang marah besar. Langit berguncang keras. Gemuruh halilintar semakin terdengar tiada henti.
Alam raya seperti akan hancur karena kedahsyatan jurus Amukan Dewa Naga Halilintar ini.
Kedua pendekar juga tidak kalah. Mereka bertarung dengan jurus dahsyat yang dimiliki. Berbagai macam jurus bertemu di tengah jalan menghasilkan satu getaran yang efeknya hingga ratusan meter.
Kedua tangan Shin Shui berubah menjadi bentuk kepala naga. Setiap kali tangannya terayun, selalu tampak kepala naga yang sedang dibuka. Seolah siap menelan apa saja yang ada di hadapannya.
Keadaan Iblis Seribu Wajah dari Timur semakin telak. Baik dirinya maupun iblisnya, semuanya berada di bawah tekanan Pendekar Halilintar.
__ADS_1
Tak ada celah untuk membalas. Tak ada kesempatan untuk kabur. Dan yang terpenting, tak ada ampunan bagi mereka.
Pertarungan ini bukan seberapa banyak jurus yang dilancarkan. Tetapi lebih menjurus kepada berapa dahsyat kekuatan yang dikeluarkan.
Shin Shui semakin kalap dalam kedahsyatan jurusnya. Naga halilintar tersebut semakin menjadi. Ekornya mengibas meruntuhkan bangunan mewah. Mulutnya menganga lebar siap menelan iblis milik lawan.
Pada satu kesempatan, Shin Shui melihat ada satu celah kosong. Secepat kilat menyambar bumi, secepat itu pula tangan kanannya di ayunkan ke depan.
"Roarr …"
"Gelegarr …"
Berbarengan dengan ayunan tangannya yang memukul, naga halilintar juga melesat menerjang ke depan ke arah iblis. Dua suara mengerikan terdengar dalam waktu bersamaan menimbulkan sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Tubuh Iblis Seribu Wajah dari Timur meluncur sangat cepat ke bawah. Bahkan saking dahsyatnya, tubuh orang itu hingga melesak masuk ke dalam bumi.
Iblis yang menyeramkan telah lenyap. Oraangnya juga telah mampus oleh satu pukulan dahsyat milik Shin Shui.
Keadaan mulai kembali seperti sedia kala. Langit menjadi tenang kembali. Rembulan mulai muncul bersama bintang yang bertaburan. Hembusan angin yang tadi dahsyat kini menjadi tenang kembali hanya dalam waktu singkat.
Shin Shui turun dengan indah ke tanah. Dia tampak seperti Dewa Halilintar saat tubuhnya masih diselimuti oleh aura agung tersebut.
Dia berjalan dengan tenang. Secara perlahan, aura biru tersebut mendadak lenyap tanpa bekas. Shin Shui melihat ke bawah tempat di mana Iblis Seribu Wajah dari Timur melesal ke dasar bumi.
"Bukankah apa yang aku katakan adalah kebenaran? Takdirmu harus mampus di tanganku. Dan aku datang kemari menjadi wakil dari Malaikat Maut," kata Shin Shui sambil tersenyum mengerikan.
Hanya dalam waktu singkat, seorang tokoh pendekar yang menyamar menjadi dirinya dan membuat kekacauan di mana-mana, kini tubuhnya telah hancur tanpa bentuk.
__ADS_1
Sekarang, tujuan utamanya turun gunung telah terlaksana. Dia merasa puas. Puas akan segala pencapaian yang sudah dia capai selama ini.
"Akhirnya aku bisa sampai ke titik ini," gumam Shin Shui lalu menghela nafas perlahan.