
Setelah tiba di dalam sekte, Shin Shui menyuruh seorang pelayan wanita untuk mengantarkan Eng Kiam menuju sebuah kamar yang biasa di gunakan untuk para tamu istimewa.
"Layani semua keperluan gadis kecil itu dengan baik. Dia dalam tanggungjawabku," kata Shin Shui kepada si pelayan.
"Baik Kepala Tetua. Hamba mengerti," katanya penuh hormat.
Si pelayan tersebut lalu mengajak Eng Kiam untuk segera mengikutinya.
"Terimakasih tuan pahlawan," kata Eng Kiam.
"Tidak perlu sungkan Kiam'er. Kalau kau butuh apa-apa, tinggal bilang saja," katanya.
Gadis kecil itu mengangguk. Dia lalu berjalan dan mengikuti si pelayan tadi.
Sedangkan Chen Li sudah lebih dulu ke kediaman utamanya bersama sang ibu. Kalau Shin Shui, tentu dia tidak perlu membutuhkan istirahat. Baginya, keadaan seperti ini sudah menjadi hal biasa.
Karena itu, setelah menenangkan diri, Shin Shui segera masuk ke ruangan para tetua. Di mana di tempat itulah semua tetua Sekte Bukit Halilintar berkumpul mengerjakan tugas mereka.
"Apa kabar kalian semua?" tanya Shin Shui membuka pembicaraan sambil minum arak istimewa yang ada di mejanya.
"Kami semua baik Kepala Tetua. Bagaimana dengan Anda sendiri?" tanya Yiu Jie Jiefang, satu-satunya murid wanita Yashou si Pendekar Belalang Sembah, sekaligus merupakan satu-satunya juga tetua wanita di Sekte Bukit Halilintar.
Seluruh tetua Sekte Bukit Halilintar berjumlah lima belas orang (Yun Mei dan Shin Shui tidak termasuk), kekuatan mereka semuanya sudah mencapai tahapan Pendekar Dewa tahap Enam. Paling bawah Pendekar Dewa tahap lima akhir.
__ADS_1
Walaupun begitu, jarang ada yang turun tangan dari mereka jika tidak mendapatkan tugas langsung dari Shin Shui. Selain itu, murid angkatan pertama Sekte Bukit Halilintar juga sudah banyak yang mencapai Pendekar Dewa, jadi untuk apa para tetua turun gunung?
Kecuali kalau ada hal-hal mendesak dan memang mereka diharuskan untuk bertindak. Barulah para tetua ini turun tangan. Kalau tidak, tentu saja mereka lebih memilih untuk berlatih, mengerjakan tugas, ataupun melatih para murid.
"Aku baik-baik saja. Hanya, badai di dunia persilatan semakin hari semakin dahsyat. Banyak kejadian aneh dan penuh misteri yang aku temui di sepanjang perjalananku," ucap Shin Shui mengawali pembicaraan serius.
Mendengar nada bicara Kepala Tetua begitu serius, maka kelima belas tetua tidak ada yang main-main. Mereka langsung memasang wajah penuh ketegangan.
"Maksud kepala tetua?" tanya seorang kepala tetua penuh keheranan besar.
Shin Shui berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Dia meneguk arak yang sudah dituangkan ke dalam gelas kecil. Matanya menatap semua tetua dengan seksama.
Setelah menarik nafas dalam, Shin Shui bercerita pengalaman yang dia dapatkan dua bulan terakhir.
Walaupun perguruan mereka memakai nama berbeda, tetapi isinya adalah orang-orang yang masih satu kelompok. Bahkan yang lebih parah lagi adalah kenyataan bahwa orang-orang tersebut sudah berhasil menyusup ke berbagai sekte. Mulai dari sekte kecil, sampai sekte besar sekalipun.
Shin Shui menceritakan saat dia pernah bentrok dengan orang-orang itu dan menjelaskan bagaimana kekuatan serta jurus yang mereka miliki. Terlebih, dia juga bercerita bahwa ada seseorang yang menyamar dirinya dan membuat kekacauan di dunia persilatan untuk membuat namanya jatuh.
Bahkan dia menceritakan juga bahwa Sekte Langit Merah sudah bergabung dengan orang-orang di balik ini semua. Hanya saja sudah dibereskan oleh Shin Shui. Pertarungan di kediaman Kakek Tua Jubah hitam jua dia ceritakan, termasuk kelompok yang terlihat di dalamnya.
Berbagai pengalaman ngeri dia ceritakan secara gamblang kepada semua tetua Sekte Bukit Halilintar. Hanya saja, ada beberapa bagian cerita yang memang sengaja dia tutupi.
Sepanjang Shin Shui menceritakan itu semua, para tetua terdiam. Tidak ada yang berani berbicara. Dalam situasi normal pun, mereka tidak berani memotong pembicaraan Shin Shui. Apalagi dalam situasi darurat seperti sekarang ini?
__ADS_1
Raur wajah semua tetua berubah-ubah selama Shin Shui bercerita. Bahkan ketegangan dan kekhawatiran tampak terlihat jelas di wajah mereka.
Setelah dia selesai bercerita yang cukup memakan waktu, pada akhirnya ada satu orang tetua angkat bicara dan bertanya kepadanya.
"Jadi kalau begitu, mereka ini selain ingin menguasai Kekaisaran Wei, juga ingin menghancurkan Sekte Bukit Halilintar, termasuk Kepala Tetua dan keluarga, begitu?" tanya Lu Xiang Chuan, seorang dari murid Yashou.
"Benar tetua Lu. Dan aku juga sangat yakin bahwa pergerakan ini semua sudah di rencanakan jauh-jauh hari. Sehingga yang mereka lakukan, sungguh sempurna dan nyaris tanpa kesalahan. Mungkin pergerakan mereka sudah delapan puluh persen akan berhasil. Mereka akan mengacaukan dunia persilatan terlebih dahulu dengan cara menyerang pilar utama. Setelah berhasil, maka tentu saja pergerakan mereka akan jauh lebih mudah lagi. Setelah itu semua, sudah pasti tinggal menggempur Kekaisaran Wei dari segala sisi. Baik itu segi politik maupun lainnya," kata Shin Shui menjelaskan.
"Hemm, ternyata begitu. Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan kekacauan ini?" tanya tetua yang lain.
"Ada, hanya saja sudah sangat sulit. Sebab mereka bergerak lebih dulu dan kita terlambat beberapa langkah. Di tambah lagi, di bagian Timur juga mengalami hal yang sama. Bahkan tidak kalah hebat dari daerah di bagian Selatan yang baru aku ceritakan. Kabarnya mereka juga melakukan hal yang sama persis. Entah ini sebuah kebetulan semata, atau memang kedua kelompok ini melakukan kerja sama sebelumnya dengan sebuah perjanjian. Masalah ini, aku belum bisa menyimpulkan sekarang,"
"Kita harus segera bertindak. Kalau tidak, orang-orang dunia persilatan bakal menganggap Sekte Bukit Halilintar tidak ada tanggungjawab selaku sekte terbesar dan bahkan pemimpin dunia persilatan," ucap tetua lainnya.
"Memang benar, itu yang harus kita lakukan. Hanya saja, terdapat persoalan lainnya yang lebih rumit. Aku merasa tidak yakin bisa mengetahui semua cara yang mereka lakukan. Aku memuji pergerakan mereka yang tersusun dengan sangat rapi dan matang itu," ucap Shin Shui memuji.
Saat berdiskusi masalah Kekaisaran Wei, tiba-tiba saja Yun Mei bergabung dengan mereka. Pembicaraan tidak berhenti, justru semakin berlanjut dan lebih serius lagi. Dan bahkan Yun Mei pun kini ikut angkat bicara setelah beberapa saat mendengarkan.
"Apakah kita harus menyerah kepada mereka supaya bisa menyelamatkan dunia persilatan?" tanyanya kepada para tetua.
"Sepertinya memang begitu. Menurutku, itulah cara yang paling aman dan mudah untuk menghentikan semua kejadian luar biasa ini. Karena aku dengar, mereka bahkan sudah menyiapkan kekuatan besar dan berbagai pendekar kelas satu untuk memuluskan rencananya ini," timpal seorang tetua lainnya.
Shin Shui tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia tersenyum di dalam hati kecilnya. Walaupun di luar memang dia tampak kurang dan penuh kebingungan.
__ADS_1
Tetapi terkadang, hati dan pikiran memang sudah sinkron. Luar dan dalam tidak selalu sama.