Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Berita Hangat


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah Chen Li pura-pura pingsan, Yuan Shao lalu terbangun lebih dulu.


Sebagai seorang terkuat di antara yang lainnya, tentu saja dia yang paling cepat sadar. Bocah itu melihat ke sekeliling. Ternyata keadaan sekarang lebih mengerikan daripada sebelumnya.


Saat ini tidak jauh dari hadapannya telah bertambah kembali dua mayat yang masih baru. Melihat sahabat-sahabatnya belum sadar juga, Yuan Shao segera membangunkan mereka satu persatu.


Yang bangun kedua adalah Moi Xiuhan, ketiga Li Meng Li, dan terakhir tentunya Chen Li.


Dua gadis cilik itu sama-sama terkejut. Sambil memegangi kepala dan mengucek-ngucek matanya, mereka mencoba untuk meyakinkan apakah ini mimpi atau bukan?


Tapi bukan mimpi. Terbukti saat dia mencubit tangannya terasa sakit.


"Siapa yang sudah membunuh dua orang itu?" tanya Li Meng Li kepada Yuan Shao.


Menurutnya, dia pasti mengetahui. Karena hanya Yuan Shao yang sadar lebih awal.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu pasti. Begitu aku tersadar, dua orang ini telah tewas seperti yang kau lihat sekarang," jawabnya sambil mengangkat pundak.


Li Meng Li saling pandang dengan Moi Xiuhan. Kemudian ketiganya melihat memandangi Chen Li.


"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Aku sendiri sadar paling terakhir, bagaimana bisa tahu?" kata bocah itu memperlihatkan ekspresi kebingungan.


Ketiganya segera berdiri. Chen Li juga ikut berdiri. Mereka seperti orang linglung, mencari ke sana kemari barangkali menemukan sebuah petunjuk.


Namun sayangnya setelah beberapa saat mencari, tetap saja mereka tidak menemukan apapun.


"Menurut kalian, siapa yang membunuh mereka?" tanya Moi Xiuhan kepada tiga sahabatnya.


"Entah, tetapi sepertinya dua orang itu tidak menyangka bahwa dirinya akan tewas. Lihat saja, matanya masih melotot menggambarkan rasa tidak percaya," ujar Chen Li lalu berjalan mendekatinya.


Yang lain turut mendekati dua mayat tersebut. Tidak mungkin kalau mereka bunuh diri. Pastinya dua orang itu sudah melangsungkan pertarungan yang cukup hebat, apalagi keadaan di sekitarnya semakin kacau.


"Sepertinya mereka bertarung dengan seorang pendekar pedang," kata Yuan Shao sambil memandangi luka di kedua orang tersebut.


"Bagaimana kau yakin bahwa mereka tewas di ujung pedang?" tanya Moi Xiuhan penasaran.

__ADS_1


Gadis itu seketika memperhatikan luka di masing-masing orang tersebut. Tetapi tidak ada keanehan, kedua lukanya nampak sama-sama berdarah.


"Kau menggunakan kipas, jadi tidak mengerti tentang pedang," ejek Li Meng Li.


Moi Xiuhan hanya mencibir. Dia menggembungkan pipinya sehingga memerah.


"Lihat, yang satu tenggorokannya berlubang hingga ke belakang, jelas, ini bekas tusukan pedang. Apalagi lukanya tampak pipih. Orang yang membunuhnya pasti hanya melakukan satu kali tusukan. Sebab lukanya juga sangat rapi," kata Meng Li menjelaskan.


Setelah gadis itu menjelaskan, Yuan Shao segera menyanmbungnya, "Dan lihat, leher ini hampir putus. Lukanya juga sangat rapi sekali. Bahkan sepertinya korban masih tidak percaya bahwa dia akan tewas secara mengenaskan. Benar-benar pedang yang sangat tajam," katanya memperlihatkan kekaguman.


"Dan pendekarnya benar-benar hebat, ternyata Dewa belum membiarkan kita mati," desis Moi Xiuhan.


Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah apa yang mereka rasakan. Yang jelas semuanya sedang kebingungan.


"Emm, mungkinkah Tuan Huang yang membunuh dua orang ini?" tanya Yuan Shao antusias.


"Tidak, tidak mungkin. Paman Huang sedang menjalankan tugasnya yang sangat penting. Tidak mungkin dia yang membunuh mereka," ujar Chen Li langsung menyangkalnya.


"Benar juga, ah sudahlah. Siapapun pendekar yang membunuh mereka, kita harua berterimakasih kepadanya. Semoga saja ke depannya tidak mendapat suatu masalah besar lagi," kata Yuan Shao.


Sedangkan Chen Li, dia hanya bisa menahan tawanya dalam hati. Tetapi jujur, bocah tersebut merasa sangat salut kepada Yuan Shao dan Li Meng Li. Ternyata mereka berdua benar-benar teliti. Bahkan terhadap hal-hal kecil.


Ternyata keduanya benar-benar berniat untuk menjadi seorang pendekar pedang. Sehingga di usianya yang masih belia, keduanya telah memahami tentang pedang.


Jika ingin menjadi pendekar pedang, memang kita harus mempelajari tentang senjata itu hingga tamat.


Begitu juga dalam hidup, jika kau ingin menjadi seorang ahli dalam suatu bidang, maka kau harus mempelajari bidang itu sampai tuntas.


Keempat bocah itu bangkit berdiri. Mereka memandang sekali lagi keadaan di sekelilingnya. Dalam hati masing-masing, mereka merasa menyesal.


Menyesal karena tidak dapat menyaksikan pertarungan hebat.


Namun Chen Li tidak menyesal. Sebab dia adalah orang yang ada di balik semua ini.


Dia kemudian berjalan mendekati dua mayat tersebut. Bocah itu lalu mengambil Cincin Ruang yang terdapat di jari manis salah seorang di antaranya.

__ADS_1


"Isinya lumayan, meskipun tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk bekal di perjalanan dan membantu yang membutuhkan," katanya lalu menyerahkan Cincin Ruang tersebut kepada Yuan Shao.


"Aku tidak pantas menerimanya. Berikan saja kepada Xiuhan. Wanita lebih pantas untuk mengatur uang," ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak.


Moi Xiuhan segera menerimanya. Setelah itu, keempat bocah tersebut segera meninggalkan hutan untuk melanjutkan perjalanan ke Sekte Seribu Iblis.


Hari terus berganti. Waktu terus berlalu tanpa terasa.


Sekarang keempat naga muda itu sudah hampir tiba di tempat tujuannya. Hanya tinggal beberapa hari lagi, mereka akan segera tiba di Sekte Seribu Iblis.


Sepanjang perjalanan setelah kejadian di hutan lalu, keempat bocah itu tidak mengalami masalah yang menyulitkan. Hanya beberapa masalah saja yang sempat menghadangnya, itupun berupa masalah kecil. Masalah yang mudah untuk di hadapi.


Bagi mereka mungkin masalah kecil dan biasa saja. Tetapi bagi orang lain, khususnya warga biasa, apa yang mereka perbuat justru menjadi berita hangat.


Belakangan ini, berita tentang empat bocah yang memberikan bantuan ke setiap warga, menjadi berita teramai di seluruh penjuru. Belum lagi berita tentang sepak terjang keempatnya dalam menghancurkan sarang perampok.


Hanya dalam beberapa hari saja, nama keempatnya telah mencuat ke publik.


Chen Li senang dengan pencapaian yang tanpa disengaja itu. Akhirnya rekan-rekannya mulai dikenal oleh warga. Bukan maksud apa-apa, setidaknya bocah-bocah tersebut ingin membuktikan bahwa mereka mampu.


Juga mereka berharap akan lahirnya pendekar muda lainnya untuk membela kebenaran. Terlebih lagi sekarang Kekaisaran membutuhkan bantuan seorang pendekar.


"Chen Li, kita akan menginap di mana?" tanya Yuan Shao di tengah perjalanan mereka.


"Di depan sepertinya ramai. Kita menginap di sana saja, hari sudah malam. Kasian dua gadis manja ini," ucap Chen Li sambil bercanda.


"Kapan aku bermanja-manja pada kalian?" ejek Moi Xiuhan.


"Cihh, mana mau mengaku. Ingatkah kemarin saat kau merasa pusing dan memintaku untuk menyuapimu?" ejek Yuan Shao sambil tersenyum sinis.


"Aihh, kalau kau tidak tulus, untuk apa kau mau?" Moi Xiuhan tidak mau kalah.


"Sudahlah. Sampai kapan pun, kau tidak bisa menang jika berdebat dengan seorang wanita. Apalagi wanita semacam harimau seperti dirinya," kata Chen Li lalu menambah kecepatan berlari bersama Yuan Shao.


"Kaliann!!" teriak gadis kecil itu lalu diejek oleh tiga sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2