
"Tuan Hu tidak perlu seperti ini. Kita masih sama, jangan terlalu berlebihan," ujar Huang Taiji sambil tersenyum.
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, orang tua itu sangat tidak suka terhadap tatakrama dan etika yang berlebihan. Dia paling benci akan hal-hal seperti itu.
Baginya semua manusia sama. Lantas kenapa harus sedemikian hormatnya hingga berlaku berlebihan?
Karena jabatan? Kekuasaan? Atau apa?
Baginya, semua itu hanyalah hal yang tidak berarti. Jika sudah mati, semuanya akan hilang tak berbekas. Yang akan tertinggal hanyalah perbuatan yang sudah dilakukan semenjak masih hidup.
Bukankah pepatah juga mengatakan "harimau mati meninggalkan belang dan gajah mati meninggalkan gading?"
Walaupun Huang Taiji berkata sambil tersenyum, tapi sebagai tokoh tua yang sudah mengalami banyak persoalan dalam kehidupan, dia sudah dapat menduga bahwa orang tersebut pastinya memang tidak suka terhadap segala adat yang ada.
"Baiklah. Maafkan aku kalau begitu. Maklum, sudah tua," jawab Hu Tuan seenaknya sambil tersenyum.
"Tidak masalah,"
"Bagaimana kalau kita rayakan pertemuan bahagia ini dengan tiga cawan arak?" tanya kakek tua itu.
"Usul yang bagus," Huang Taiji tertawa dibuatnya.
Keduanya segera menuangkan arak ke cawan yang sudah tersedia. Chen Li berdehem beberapa kali.
"Ehemm …" suara deheman itu lebih keras.
Kedua orang tua itu menengoknya. Huang Taiji tertawa terbahak-bahak melihat kelakukan bocah kecil itu.
"Kau masih kecil. Jangan terlalu banyak minum arak, nanti bisa-bisa tubuhmu tidak akan bertambah tinggi," katanya mengejek Chen Li.
Bocah itu mendengus sambil memalingkan wajahnya.
"Dulu sebelum berangkat, Ayah pernah berkata. Siapa saja yang berani membuat aku marah, kalau aku tidak berani, suatu saat pasti Ayah akan menampar muka orang itu hingga bengkak," jawabnya kesal.
__ADS_1
Dua orang tua saling pandang. Keduanya kembali tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, baiklah. Mari kita minum bersama. Jangan terlalu cepat marah Li'er, kau bukan gadis yang manja,"
"Masalah arak aku harus seperti ini,"
"Sudah, sudah, kita bersulang," ujarnya sambil memberikan cawan arak kepada Chen Li.
Ketiga orang itu bersulang. Kebahagiaan terpancar di masing-masing wajahnya. Seolah mereka sudah melupakan bahwa baru saja telah menghadapi sebuah masalah besar. Bahkan di depan, masalah sudah menunggunya pula.
Terkadang hal kecil yang membuat kita bahagia, memang bisa melupakan kesedihan dan persoalan dalam hidup.
Sayangnya, masih banyak orang-orang yang tidak menyadari hal ini.
Arak sudah habis tiga cawan. Cemilan berupa beberapa potong daging rusa panggang juga sudah masuk ke mulut mereka. Kalau sudah seperti ini, maka sekarang telah tiba saatnya untuk membicarakan hal yang serius dan lebih penting lagi.
"Tuan Ho, apakah kau bisa menceritakan masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi di kota ini? Aku melihat keadaan kota sangat berbeda dengan kota lainnya. Kota ini seperti kota mati. Sepanjang perjalanan, kami hanya melihat beberapa orang saja yang berkeliaran. Padahal tadi, hari masih senja. Rasanya tidak mungkin jika tidak ada masalah sama sekali," kata Huang Taiji mengawali pembicaraan serius.
Hu Toan terlihat beberapa kali menghela nafas. Seolah dia sedang mengukur nafasnya apakah sampai untuk menceritakan seluruhnya atau tidak. Setiap helaan nafasnya terdengar berat sekali. Siapapi dapat melihat bahwa masalah ini pastinya tidak sesederhana yang dikira.
"Kurang lebih lima puluhan orang menjadi korban keganasan para siluman itu. Belum lagi malam harinya, anak gadis selalu ada yang hilang. Dalam semalaman, minimal satu atau dua orang anak gadis, pasti diculik oleh orang tak dikenal,"
"Semenjak kejadian itulah kota ini sangat sepi dan sunyi. Benar-benar mirip seperti kota tak berpenghuni,"
Huang Taiji menganggukkan kepalanya berulang kali. Sedikit banyak dia sudah mendapatkan informasi.
"Apakah begitu ada serangan, Tuan Ho langsung mengerahkan anak murid?" tanya Huang Taiji.
"Kami turun tangan setelah keesokan harinya. Selain membalas dendam, kami juga mencari informasi kenapa dan dari mana asal siluman-siluman tersebut,"
"Kau menemukannya?"
Hu Toan hanya mengangguk simpul.
__ADS_1
"Jadi, siapakah orang tersebut?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, tampang mereka memperlihatkan bukan wajah orang pribumi asli,"
Dugaan Chen Li dan Huang Taiji ternyata memang benar. Ternyata pelaku dari semua kekacauan ini adalah mereka.
"Suda aku duga. Pasti mereka biang keladi dari semua ini. Hemm, ternyata orang-orang itu sungguh tidak kapok,"
"Apakah Tuan sudah mengenal siapa mereka?"
"Tentu saja. Sebab terkadang aku suka membantai habis orang-orang itu. Karena selama ini, mereka pula yang membuat kekacauan dan masalah di Kekaisaran Wei sehingga lebih sulit lagi,"
"Hemm, ternyata benar perkiraanku. Mereka pasti orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan tanah air ini," kata Hu Toan dengan amarah yang sudah berkobar dalam dadanya.
"Di mana aku bisa menemukan kediaman mereka?"
"Di sebuah tempat yang dapat membuat siapapun merasa gentar,"
"Memangnya apa nama tempat tersebut?" tanya Chen Li yang sejak tadi hanya mendengarkan.
"Lembah Siluman. Seperti juga namanya, di lembah tersebut memang banyak sekali siluman. Jadi rasanya tidak asing jika mereka bisa menyuruh siluman dari berbagai jenis,"
Huang Taiji mengangguk tanda mengerti. Begitu juga dengan Chen Li. Khususnya dia sendiri tahu apa yang disebut Lembah Siluman.
Di lembah siluman ini, segala macam siluman ada. Mulai dari yang umum, hingga yang aneh. Sebenarnya setiap hutan pasti mempunyai lembah seperti ini. Di lembah itulah bisanya para siluman bersarang.
Hanya saja, apakah benar ada seseorang yang bisa mengendalikan setiap siluman? Mungkin memang ada. Namun kalau dalam jumlah banyak, rasanya tidak banyak yang mampu melakukannya.
Karena setiap siluman mempunyai kesadaran tersendiri. Bahkan kepintaran beberapa jenis siluman hampir bisa menyamai manusia. Dan dia juga ada yang bisa bicara, meskipun memang tidak semuanya.
"Baiklah kalau begitu. Nanti malam kami berdua akan pergi ke sana dan memeriksa sebenarnya apa yang sedang terjadi. Sebab menurutku, tidak mungkin kalau mereka sanggup memerintah siluman. Pasti ada hal lain," kata Huang Taiji.
"Tapi Tuan, hal itu jelas sangat berbahaya sekali. Bukan aku meragukan atau merendahkan dirimu, tetapi aku sendiri paham betul bahwa mereka mempunyai ilmu yang tidak rendah," kata Hu Toan mengkhawatirkan Huang Taiji dan Chen Li.
__ADS_1
"Tuan Hu tenang saja. Percayakan semuanya kepadaku. Aku tidak akan mati," jawab Huang Taiji sambil tertawa.
Orang tua itu tidak mau memperpanjang masalah lagi, dia tahu bagaimana sifat Huang Taiji. Sebagai pendekar yang kenyang akan pengalaman, orang itu bisa mengetahui sifat manusia walaupun sekali pandang saja. Hu Toan hanya bisa mengangguk sambil tersenyum getir.