
Pedang Emas Pembelah Samudera mulai dia mainkan. Kali ini dengan gerakan cepat dan sangat berbahaya. Setiap pedangnya bergerak, selalu memberikan tekanan yang dahsyat.
Dua tetua itu langsung merasa sangat kewalahan. Bahkan keduanya tidak mampu untuk memberikan serangan balasan. Hanya dengan kekuatan seadanya saja mereka mencoba untuk terus bertahan dari gempuran yang dilancarkan oleh Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.
Orang tua itu mulai menyerang sambil melangkahkan kaki. Setiap langkahnya sangat ringan seringan kapas. Pedangnya berkelebat mengincar beberapa titik berbahaya.
Pertarungan mereka terus berlangsung. Tapi saat memasuki jurus kedua puluh, dua tetua sudah mati kutu. Jangankan untuk bertahan lebih lama, menggerakan senjata untuk menangkis pun tidak bisa.
Alasannya tak lain karena kedua tangan mereka sudah berlumuruan darah. Rupanya dalam gerakan yang teramat sangat cepat itu, Yuan Shi berhasil menggoreskan pedangnya kepada dua tangan lawan.
Hanya berselang tiga jurus kemudian, dua tetua tersebut sudah tewas tanpa kepala. Yuan Shi segera duduk bersila. Dia berusaha untuk memulihkan tenaga dalamnya yang sudah terkuras.
Sementara itu, lima belas tetua saat ini sedang bekerja sama bahu-membahu mencoba untuk melumpuhkan Chen Li. Mereka menyerang dari segala sisi. Berbagai macam jurus dan serangan terlihat tiada hentinya.
Keadaan hutan yang sudah porak poranda, kini bertambah parah lagi akibat dari jurus-jurus mereka.
Dewi Iblis masih berada dalam kendali Chen Li. Wanita itu berusaha keras mencoba bertahan sebisa mungkin. Walaupun dia mampu menangkis gempuran serangan yang dilancarkan oleh Chen Li, tak urung juga satu atau dua serangan berhasil bersarang telak di tubuhnya.
Perjuangan keras para tetua akhirnya berhasil. Mereka berhasil memisahkan Chen Li dari pemimpinya, si Dewi Iblis.
Bocah itu terlempar jauh ke belakang hingga menabrak dua pohon sampai tumbang. Semua tetua termasuk si Dewi Iblis merasa sangat gembira. Mereka menyangka bahwa Chen Li sudah tewas atau setidaknya terluka parah.
Kekhawatiran juga terlihat di seluruh pihak Shin Shui. Semua orang mengkhawatirkan kondisi Chen Li. Bagaimana tidak? Bocah itu terlempar karena gabungan jurus lima belas tetua. Jangankan Chen Li, Yuan Shi sendiri pun tidak ada kepastian untuk sanggup bertahan setelah terkena jurus gabungan seperti itu.
Namun, semua orang pasti tidak menyangka tentang hal yang sebentar lagi akan segera terjadi.
Chen Li tiba-tiba bangkit berdiri. Bahkan dia masih mampu untuk berjalan. Jalannya normal pula. Seperti orang yang berjalan santai menikmati keindahan. Dia tidak terluka sama sekali. Bahkan pakaian serta jubahnya masih terlihat utuh. Masih putih bersih seperti salju.
Tetapi siapapun harus mengakui bahwa di balik semua hal tersebut, justru sebuah kekuatan dahsyat yang belum pernah dibayangkan oleh siapapun sebelumnya, terasa merembes keluar dari tubuh bocah kecil itu.
__ADS_1
Ketika Chen Li mengangkat wajah, sebuah sinar merah meluncur deras ke depan menyambar lawan. Satu orang tetua terlempar karena tidak menyangka akan ha tersebut.
Detik selanjutnya, semua orang dapat melihat perubahan apa yang telah terjadi kepada Chen Li.
Kini bola matanya sudah berubah. Warna yang keluar semakin banyak. Kekuatan yang besar dapat dirasakan oleh semua orang.
Inilah Mata Dewa.
Mata lima unsur yang merupakan anugerah dari para dewa yang khusus diberikan kepada Chen Li.
Bola mata itu melambangkan lima unsur alam. Bumi, api, air, angin, dan halilintar. Semuanya sudah tergambar di bola mata bocah tersebut. Lima unsur yang mengerikan dengan kekuatan agung.
"Grrrr …"
Chen Li berteriak keras. Sangat keras sekali bahkan beberapa tetua ada yang sampai telinganya mengucurkan darah karena tidak kuat menahan gelombang suara yang keluar dari mulut bocah itu.
Bersamaan dengan berhentinya dia berteriak, lima gelombang dahsyat dari masing-masing unsur alam keluar menerjang dengan sangat sangat ganas sekali.
Hanya dengan satu kedipan mata berikutnya, lima belas tetua bersama Dewi Iblis sudah tertelan oleh jurus yang sangat mengerikan itu. Bahkan bukit pun berbunyi seperti mau runtuh akibat Chen Li barusan.
Sulit untuk menggambarkan gabungan kekuatan mengerikan dari lima unsur alam barusan itu. Yang jelas, siapapun di muka bumi ini, tidak akan sanggup untuk menahan jurus yang baru saja dikeluarkan oleh Chen Li.
Tanah belah cukup luas. Ratusan pohon tumbang dan bebatuan yang besar hancur karena tidak kuat menahan gabungan lima unsur alam itu.
Semua lawan tewas tanpa ada yang tersisa. Tidak ada yang tahu bagaiamana nasibnya Dewi Iblis bersama semua tetua yang dia pimpin. Karena begitu jurus Chen Li menghilang, semua musuh pun lenyap dari pandangan tanpa bekas sedikitpun.
Yang tersisa hanyalah kengerian. Karena menurut semua pendekar yang hadir, apa yang Chen Li lakukan barusan sangatlah mustahil untuk mampu dilakukan oleh manusia manapun. Bahkan pendekar terkuat sekelas Shin Shui sekalipun tidak akan sanggup mengeluarkan lima unsur alam dalam sekaligus.
Chen Li tidak segera sadar. Bahkan dia masih dalam keadaan seperti tadi. Kini pandangannya mengarah ke Shin Shui dan yang lainnya. Bocah itu melangkah lebar dengan gerakan cepat. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Chen Li sudah tiba di hadapan semua tetua.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Perasaan memandang mereka dengan tatapan kebencian penuh dengan nafsu ingin membunuh.
Shin Shui bingung. Dia tahu apa yang akan terjadi kalau Chen Li tidak segera dia sadarkan. Mungkin kejadian seperti barusa akan kembali terjadi. Bahkan lebih mengerikan lagi.
Tapi bagaimana caranya supaya membuat Chen Li sadar? Jangankan untuk mengeluarkan jurus, untuk berdiri pun sangat susah sekali. Apalagi ratusan jarum beracun menancap di seluruh tubuhnya.
Salah bergerak sedikit, nyawanya pasti akan terancam karena racun langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Keadaan kembali tegang.
Di saat ketegangan terjadi itulah satu bayangan hitam membelah gelapnya malam. Kedatangan bayangan itu sangat tepat sekali, karena pada saat yang bersamaan, Chen Li juga siap untuk melancarkan jurusnya.
Harapan semua orang di sana tumbuh. Tapi hanya sekejap telah layu kembali saat mereka mengetahui siapa yang datang.
Eng Kiam. Cucu dari Kakek Tua Jubah Hitam yang datang. Entah dari mana dia bisa tahu tempat ini.
Eng Kiam berdiri tepat lima langkah di depan Chen Li.
"Tuan muda, sadarlah. Aku mohon sadar, mereka itu ayahmu. Mereka orang-orangmu, jangan menyerang mereka," kata Eng Kiam penuh permohonan.
Tapi mana bisa Chen Li mendengarnya? Bukankah dia dalam keadaan tidak sadar?
Tangannya semakin bergerak. Kekuatan maha dahsyat kembali terasa.
"Tuan muda. Apakah kau sudah tidak mengingatku lagi? Apakah kau telah melupakan janjimu yang akan selalu melindungiku? Apa kau lupa? Kalau mau menyerang orang-orang yang ada di sini, serang juga aku. Ayo lakukan," kata Eng Kiam penuh derai air mata.
Kedua tangannya menggenggam tangan Chen Li. Perbuatan tersebut sangat berbahaya sekali. Karena setiap saat, nyawa Eng Kiam bisa saja melayang.
###
__ADS_1
Tolong bantu naikin bintang ya, kok bisa turun gitu ya🤔