
Ruangan di lantai lima tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar. Ruangan tersebut berukuran sekitar empat kali empat meter.
Semua yang ada di dalam ruangan itu merupakan barang-barang mewah yang antik dan langka. Berbagai macam ornamen yang ada di sana ditempatkan di tempat yang pas dan seharusnya. Hal tersebut menjadikan ruangan lantai lima semakin indah dan megah.
Meskipun tampak sederhana, namun apapun yang ada di sana bernilai tinggi dan penuh dengan seni.
Chen Li sendiri menyukai seni, oleh sebab itulah tiada hentinya dia berdecak kagum melihat ornamen-ornamen atau lukisan yang terdapat di sana.
Sebuah lukisan terpampang jelas di hadapan matanya. Lukisan itu berukuran sekitar satu setengah meter. Pemuda itu merasa kagum sekaligus merasa sakit.
Pada saat memandang lukisan tersebut, dia langsung melamun. Pemuda itu tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Lukisan tersebut seperti mampu menarik sukmanya. Isi lukisannya apalagi.
Sebenarnya, lukisan apa yang sekarang sedang di lihat oleh Pendekar Tanpa Perasaan?
Ternyata lukisan tersebut bukan lain adalah lukisan yang menggambarkan tentang kejadian perang besar beberapa tahun lalu.
Dalam lukisan itu digambarkan dengan jelas bagaimana hebat dan dahsyatnya kejadian perang besar dari yang terbesar.
Di sampingnya ada beberapa gulung kertas yang menceritakan bagaimana kejadian singkat perang besar tersebut.
Semua karya itu dibuat sangat bagus dan rapi. Seumur hidup, belum pernah Chen Li menemukan lukisan seindah itu.
Pendekar Tanpa Perasaan kagum karena lukisan itu seperti hidup. Lukisan tersebut tampak sangat nyata.
Tapi pemuda itu lebih kagum karena si pelukis bisa menuliskan kejadian perang besar dengan sangat detail.
Siapakah yang sudah melukisnya? Apakah yang menulisnya juga masih merupakan orang yang sama?
Namun di balik kekaguman itu, ada perasaan sakit yang sedang dia rasakan saat ini. Perasaan sakit yang teramat sakit. Kalau dia belum mendapat kunci kehidupan, mungkin sekarang dirinya sudah jatuh pingsan.
Utnungnya Chen Li sudah mendapatkan kunci itu sehingga dia sanggup menahan perasaan sakit tersebut.
Dia sakit karena yang terlukis di sana adalah kejadian pada saat ayahnya sedang dalam keadaan kritis. Beberapa tokoh besar sedang mengepungnya. Ayahnya malah terkapar di atas tanah dengan darah yang sangat banyak.
Anak mana yang tidak akan merasakan sakit jika berada di posisi Chen Li saat ini?
__ADS_1
"Bukankah lukisan itu sangat bagus?" sebuah suara serak parau tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Chen Li langsung menengok ke belakang. Ternyata di sana sudah ada seorang pria tua yang sedang tersenyum sambil mengelus-elus jenggot putihnya.
"Benar, lukisan ini sangat indah. Bahkan hebatnya lagi, si pelukis ternyata bisa memberikan keterangan yang sangat lengkap,"
"Ya, sangat hebat. Apakah saudara tahu siapakah pelukis tersebut?"
Chen Li menggeleng kepala. Tentu saja dia tidak tahu, apalagi dirinya baru melihat lukisan tersebut.
"Pelukisnya bernama Siau Bu Si, dia biasa dijuluki Pelukis Sakti Penarik Jiwa,"
"Kedengarannya dia orang yang sangat hebat," puji Chen Li.
Di Kekaisaran Sung ini, nama Siau Bu Si memang sudah tidak asing lagi. Semua orang pasti kenal dan pernah mendengar namanya. Dia merupakan seorang pelukis yang sangat ahli di bidangnya.
Setiap apa yang dia lukis selalu indah. Selalu hidup. Setiap yang melihat hasil karyanya pasti akan merasa jiwanya melayang masuk ke dalam lukisan tersebut.
"Dia memang orang hebat," kata si orang tua membenarkan.
Profesi pelukis pada zaman itu memang sangat menguntungkan. Kalau lukisan yang asal jadi saja bernilai cukup mahal, apa jadinya kalau lukisan seindah karya yang dibuat Siau Bu Si itu?
"Saudara muda salah besar, justru untuk membuat lukisan ini tidak mengeluarkan biaya sama sekali," kata si orang tua itu.
"Benarkah?" tanya Chen Li tidak percaya.
Untuk membuat maha karya yang demikian indah dan penuh dengan seni seperti itu, ternyata tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Apakah apa yang dikatakan oleh orang tua itu benar adanya?
"Tentu saja benar. Untuk apa aku berbohong?"
"Setiap apa yang dilakukan oleh manusia, pasti mempunyai suatu alasan tersendiri. Lantas, apakah alasan orang tersebut membuat lukisan ini tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun?"
"Benar, dan diapun mempunyai suatu alasan tersendiri. Apa yang kau lihat dalam lukisan ini?" tanya si orang tua dengan mimik wajah yang mulai serius.
"Di dalam lukisan ini aku melihat Pendekar Halilintar yang merupakan pendekar terkuat di Kekaisaran Wei sedang terkapar di tanah dengan luka yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Di sekelilingnya ada beberapa tokoh besar dari Kekaisaran Sung, bahkan Kaisar Sung Poan Siu ternyata juga ada di dalamnya,"
"Menurut dugaanmu, apa yang telah mereka lakukan kepada Pendekar Halilintar?"
__ADS_1
"Mereka telah melukainya,"
"Cerdas. Memang itulah kejadian yang sebenarnya. Dan dibuatnya lukisan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat warga Kekaisaran Sung. Mereka diharuskan mencontoh para tokoh besar yang ada dalam lukisan itu. Jika menghadapi seorang tokoh yang sangat kuat seorang diri, mungkin kita tidak akan sanggup melawannya. Tapi kalau bersatu, niscaya keadaannya bisa saja terbalik. Kau paham dari apa yang aku katakan?"
"Aku paham. Bersatu kita teguh, bergerak kita runtuh,"
"Benar. Tapi selain itu, ada alasan lain selain alasan tersebut,"
"Alasan apakah itu?" tanya Chen Li mulai tertarik.
"Alasan yang lainnya adalah untuk membuat orang yang bersangkutan dengan gambar lukisan itu menderita,"
Chen Li membungkam mulutnya saat itu juga. Amarahnya ingin melonjak keluar, untungnya dia sudah mampu menguasai dirinya sendiri. Sehingga meskipun hatinya sangat kesal, pemuda itu masih bisa menahannya dan bahkan malah tersenyum.
Dia tahu dan paham maksud dari perkataan orang tua tersebut. Hanya saja dia enggan untuk mengutarakannya.
"Benar, kalau ada sanak keluarga yang melihat gambar lukisan ini, maka orang itu pasti akan menderita. Memangnya keluarga mana yang tidak sakit hatinya jika melihat lukisan keluarganya sendiri hampir mati?"
"Kau benar-benar pemuda yang cerdas," puji si orang rua tersebut.
Chen Li hanya mengangguk tersenyum. Dia tidak mau banyak bicara lagi. Kebetulan pada saat itu seorang pelayan restoran telah datang menghampirinya untuk menanyakan pesanan.
"Berikan aku menu makanan termahal dan terenak, sediakan juga tiga guci arak harum dan termahal," kata Chen Li.
"Senior ingin makan bersamaku?"
"Tidak, terimakasih. Kebetulan aku juga sudah pesanan makanan lebih dulu," jawabnya tersenyum.
Dia pun kemudian melangkah ke mejanya sendiri.
Chen Li sudah duduk di mejanya juga. Dia tidak lagi menoleh ke sana kemari, saat ini pemuda itu sedang menatap meja di hadapannya.
Ada apa di meja tersebut?
Sebenarnya yang ditatap bukan meja. Meskipun pandangannya tertuju kepada barang tersebut, tapi sukmanya justru melayang jauh ke alam khayalan.
Satu tekad mendadak muncul di benaknya. Dia ingin menemukan Siau Bu Si si Pelukis Sakti Penarik Jiwa.
__ADS_1