Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah Huang Taiji Lu


__ADS_3

"Hemm, masih kecil tapi mulutnya sudah sangat tajam. Baik, kita lihat apakah kami mampu atau tidak," jawan Pendekar Dewa tahap dua tersebut.


Sepuluh orang Pendekar Langit tahap tiga disuruh untuk mengepung Chen Li, sedangkan yang lainnya untuk sesaat hanya menjadi penonton, termasuk Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Para pengunjung restoran mundur ke belakang. Meraka tidak ingin menjadi korban salah sasaran.


Terlebih lagi orang-orang tersebut merasa sangat penasaran siapakah bocah kecil pemberani itu. Karena semua orang masih merasa sangat asing kepadanya.


Dan memang begitulah yang terjadi sebenarnya. Belum semua orang tahu tentang anak Shin Shui si Pendekar Halilintar. Orang-orang di dunia persilatan hanya tahu bahwa pendekar terkuat di Kekaisaran Wei itu sudah mempunyai seorang putera.


Hanya saja kebanyakan dari mereka belum ada yang bertemu dengannya. Sehingga tidak semua orang memberikan kesan hormat kepada Chen Li.


Namun walaupun begitu, bocah kecil tersebut tidak mempermasalahkannya. Justru bocah itu ingin dikenal banyak orang kalau bisa tidak membawa ketenaran nama sekte dan tidak membawa pula kebesaran nama ayahnya.


Dia ingin menjadi terkenal karena usahanya sendiri. Dan dia ingin mendapatkan nama di dunia persilatan karena perjuangannya sendiri.


Tanpa melibatkan nama ayah, nama sekte, ataupun lain sebagainya.


Toh kalau dia sudah terkenal, suatu saat semua orang pasti tahu siapa dia sebenarnya.


Saat ini Chen Li berada di tengah-tengah sepuluh orang Pendekar Langit tahap tiga. Sepuluh orang itu sudah mencabut senjata mereka masing-masing. Berbagai macam senjata memancarkan kilatan saat terkena sinar matahari.


Orang-orang yang melihat bocah itu merasa tegang. Mereka berpikir bagaimana bisa bocah seusianya menghadapi serbuan sepuluh Pendekar Langit tahap tiga dalam sekaligus?


"Wushh …"


Dua orang Pendekar Langit melesat dari sisi kanan dan sisi kiri. Dua batang golok mengincar pinggang dan punggungnya. Gerakan mereka terbilang cukup cepat dan mematikan.


Akibat desiran angin yang mereka ciptakan secara tidak langsung, debu mengepul menghalangi pandangan mata.


"Trangg …"


"Trangg …"


Bunyi nyaring terdengar dua kali bergema di tengah kepulan debu. Suara jeritan tertahan terdengar serentak.


"Wushh …"


"Wushh …"

__ADS_1


Dua lesatan sinar putih meluncur deras ke arah Pendekar Langit yang mengepung. Jeritan tertahan kembali berkumandang.


Semua orang belum ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sesaat kemudian ketika suasana kembali normal, para pengunjung yang menyaksikan pertarungan Chen Li, dibuat sangat terkejut.


Terlebih lagi orang-orang yang menjadi musuhnya saat ini.


Seumur hidup, mimpi pun tidak pernah bahwa mereka akan menyaksikan seorang bocah ingusan yang mampu menggetarkan nyalinya.


Hanya dalam waktu singkat, empat Pendekar Langit tahap tiga telah tewas ambruk di tanah. Dua orang tertusuk serpihan golok di bagian jantungnya. Dua orang lainnya mengalami luka di bagian leher.


Chen Li sudah marah besar. Di tengah rasa terkejut semua orang, mendadak dia menjejak tanah lalu meluncur deras ke enam lawan yang tersisa.


Kedua telapak tangannya melancarkan dua buah jurus dahsyat. Sinar putih berkelebat menyayat sukma. Empat orang roboh tanpa mampu memberikan perlawanan sedikitpun.


Belum selesai jerit mengerikan yang terdengar, Chen Li sudah melancarkan serangannya lagi. Dua buah pukulan beruntun dia layangkan ke satu orang Pendekar Langit.


Mereka sempat beradu pukulan untuk beberapa jurus. Namun sayangnya lawan tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.


"Bukk …"


Tendangan keras mendarat di bagian pinggang. Pendekar Langit itu mengalami patah tulang. Semua tulang rusuknya dibuat patah oleh Chen Li hanya dalam satu kali tendangan. Seorang lagi langsung menyerang saat melihat rekannya tewas semua.


Saat golok lawan bergerak menusuk ke arahnya, Chen Li hanya berdiri dan diam seperti patung.


Begitu jarak tusukan hanya tinggal satu jengkal lagi, mendadak tangan kanan Chen Li bergerak secara cepat.


"Crapp …"


Golok lawan berhasil dia jepit hanya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan …


"Krakk …"


Golok tersebut patah menjadi dua bagian. Chen Li langsung melemparkan serpihan golok ke arah lawan. Serpihan itu menancap tepat di tengah tenggorokannya.


Hanya satu kali membalas serangan dengan sungguh-sungguh, nyawa lawan melayang seketika.


Semua orang yang ada di sana dibuat terkejut kembali. Sehingga tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Keadaan hening itu berlangsung sesaat karena berikutnya Chen Li mengangkat suara.

__ADS_1


"Apakah ada lawan yang lebih kuat lagi? Hemm, aku kira kalian mempunyai anggota hebat. Ternyata hanya segini saja kemampuannya," kata Chen Li penuh ejekan.


Delapan Pendekar Dewa tahap dua benar-benar dibuat marah. Kekuatan dahsyat segera merembes keluar dari tubuh masing-masing pendekar tersebut.


"Wushh …"


Secara tiba-tiba sinar merah darah meluncur deras ke arahnya. Kekuatan yang terkandung di dalamnya terasa sangat luar biasa. Chen Li telat menghindari serangan. Tubuhnya terpental sepuluh langkah lalu jatuh bergulingan.


Untungnya bocah itu tidak mengalami luka parah. Hanya organ dalamnya saja yang sedikit terguncang keras akibat serangan barusan.


Dia bangkit berdiri untuk melancarkan serangan balasan, tetapi sebelum bergerak lebih jauh, sebuah bayangan putih melesat ke arah si penyerang tadi.


Gerakannya secepat kilat. Aura pembunuh yang keluar terasa sangat luar biasa.


"Pukulan Penghancur Jurus…"


"Blarr …"


Ledakan keras terdengar. Suara jeritan menyayat hati terdengar sangat memilukan. Si penyerang tadi terpental dua puluh langkah jauhnya. Tubuhnya ambruk seketika setelah menabrak pohon besar hingga tumbang.


Dia tidak tewas, tetapi kondisinya tidak jauh berbeda seperti layaknya orang yang lumpuh. Jangankan untuk berdiri, untuk bangun saja rasanya sangat sulit sekali.


"Hemm, siapa lagi yang ingin bertindak secara tidak adil? Kalau ada, silahkan maju. Jika semua ingin bertindak tidak adil, silahkan maju semua. Namun aku akan memastikan, dalam waktu kurang dari seratus jurus, aku bisa mencabut nyawa kalian semua," tegas Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Dia sudah benar-benar marah. Aura yang sangat mengerikan keluar deras dari tubuhnya. Tubuh Huang Taiji Lu terbungkus oleh sinar putih pekat. Matanya berkilat memancarkan kekuatan dahsyat.


Tujuh Pendekar Dewa tahap dua, merasakan bahwa punggung mereka seperti ditindih sebuah gunung. Sampai-sampai lutut mereka bergetar karenanya.


Chen Li sudah berada di sisi Huang Taiji Lu, bocah itu tidak memperlihatkan rasa sakit sama sekali.


"Kau beritahukan kepada Ketua, ada dua orang pendekar asing yang mencari gara-gara, masalah di sini biar kami yang mengurusnya," bisik salah seorang Pendekar Dewa kepada rekannya.


"Baik, aku mengerti," seorang menjawab. Dia langsung melesat sangat cepat meninggalkan tempat tersebut.


Chen Li ingin mengejar, tetapi pamannya segera menahan.


"Wushh …"

__ADS_1


Dua sinar hijau melesat ke arah Pendekar Pedang Tombak. Tapi dia hanya mengibaskan tangan kirinya sehingga sinar tadi meledak di tengah jalan.


Kalau dia sudah mengeluarkan kekuatannya, maka jangan harap akan ada lawan yang selamat.


__ADS_2