Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Jurus Pedang Cahaya


__ADS_3

Shin Shui terbungkam. Dia tidak mampu menjawab perkataan itu. Apa yang dikatakan oleh Ying Mengtian memang benar dan sangat mendasar.


Dirinya adalah pendekar terkuat. Pemimpin dunia persilatan. Panutan para pendekar Kekaisaran Wei, kalau dia bersikap tidak tegas dalam menegakkan kebenaran, bagaimana nantinya kalau orang-orang mencibir?


Sudah tentu hal ini akan menjadi berita memalukan kalau sampai semua orang tahu. Shin Shui menggertakkan giginya. Dia mengepal kedua tangan. Sebisa mungkin Pendekar Halilintar itu menguatkan tekadnya.


Posisinya benar-benar sulit. Terkadang, akan ada saatnya seorang pria berada dalam posisi yang benar-benar memusingkan. Apapun yang dia ambil terasa serba salah. Tetapi ini adalah bagian dari siklus kehidupan.


Selama masih hidup, selama itu pula masalah akan datang menghampiri. Bahkan mungkin setelah mati sekalipun, masalah masih tetap akan menghampiri.


Siapapun orangnya.


Kalau kau berada di posisi seperti Shin Shui, atau setidaknya pernah berada di posisinya, sudah pasti kau merasakan bagaimana pusingnya.


Kalau diibaratkan, mungkin bukan bintang yang berputar di kepala. Tetapi langsung planetnya. Karena saking sulitnya posisi itu.


Namun tekad Shin Shui telah bulat. Kebenaran harus ditegakkan. Apapun yang terjadi, dia harus bisa melakukannya.


"Baik, aku akan mencobanya," jawab Shin Shui dengan mantap setelah beberapa saat bergelut dengan dirinya sendiri.


Ying Mengtian tertawa. Tawa yang sangat bahagia bercampur rasa haru.


"Hahaha, bagus. Itu baru namanya Shin Shui. Pendekar Halilintar yang aku kenal selama ini, memang tidak pernah mengecewakan. Aku bangga padamu. Mari, kita mukai pertarungan kita," kata Ying Mengtian penuh semangat membara.


Shin Shui mengangguk. Dia tidak memberikan jawaban dengan perkataan. Tetapi dia memilih untuk memberikan jawaban dengan kekuatan.


Kekuatan yang sangat dahsyat.


Langit bergemuruh. Malam menjadi lebih gelap. Kilat mulai menyambar. Suara halilintar menggelegar.


Siapapun orangnya, kalau sampai fenomena alam ini muncul, mereka akan segera tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pendekar Halilintar benar-benar mengeluarkan kekuatannya sampai ke titik puncak. Kekuatan yang sangat dahsyat sehingga mampu mengguncangkan langit menggetarkan bumi.


Tubuhnya bertambah terang karena aura halilintar yang menyelimuti seluruh tubuh. Dia bukan lagi seperti manusia.

__ADS_1


Melainkan seperti seorang dewa.


Dewa Halilintar yang agung dan perkasa.


Di sisi lain, Ying Mengtian si Kaisar Buas juga turut mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tubuhnya mengeluarkan cahaya putih. Di belakang tubuh tua itu, terlihat ada sebuah aura membentuk kepala serigala yang gagah.


Dua pendekar bukan lagi terlihat sebagai pendekar. Tetapi lebih terlihat sebagai dewa.


Pertarungan ini sudah pasti akan menimbulkan efek yang sangat dahsyat. Keduanya menciptakan dinding pelindung supaya tidak berefek ke segala area. Pertarungan di tempat lain termasuk pertarungannya Maling Sakti, sudah berhenti beberapa saat yang lalu.


Sekarang di hutan itu tidak ada yang bertarung. Semua orang menonton dengan jarak aman. Pertarungan dahsyat ini sangat jarang terlihat.


Untuk diketahui, Ying Mengtian masuk dalam daftar sepuluh pendekar terkuat di Kekaisaran Wei. Dan dia menduduki posisi keempat. Di bawahnya ada Yuan Shi yang berada dalam urutan kelima.


Jadi dapat dibayangkan bagaimana kekuatan Kepala Tetua Sekte Serigala Putih itu.


Kedua pendekar telah bersiap dengan kekuatannya masing-masing. Shin Shui masih berusaha menguatkan tekadnya. Sedangkan Ying Mengtian sedang menunggu Shin Shui menyerang.


Suasana hening untuk beberapa saat. Tidak terdengar suara apapun di sana. Bahkan suara helaan nafas pun, rasanya tidak terdengar karena saling tegangnya.


Tapi yang pasti, satu detik kemudian, sinar putih terang melesat juga. Kedua sinar yang membawa kekuatan hebat meluncur ke arah berlawanan. Kedua sinar itu tidak lama bertemu di tengah-tengah.


Yang pertama kali terdengar adalah suara ledakan. Ledakannya bahkan mampu menggetarkan bumi.


Detik berikutnya, suara menggelegar mulai ramai terdengar memekakan telinga. Para murid yang tidak sempat melindungi telinga mereka, terkapar dengan darah yang terus keluar dari lubang telinga itu.


Sinar biru terang dan sinar putih berkelebat di udara ke segala arah. Setiap detik selalu menciptkan benturan yang hebat. Gelombang kejutnya menyapu pepohonan di sekitar.


Dua sinar tersebut tentunya adalah Shin Shui dan Ying Mengtian. Hanya saja, saking cepatnya pergerakan mereka, sehingga para pendekar kelas bawah, tidak mampu menangkap dengan jelas.


Di dalam pertarungan itu, Shin Shui saat ini berada dalam posisi menyerang. Pedang Halilintar telah dia cabut sehari tadi saat mengawali serangan pertamanya.


Hanya saja kali ini berbeda. Pedang Halilintar tampak tidak bergerak sama sekali. Bahkan setiap saat pedang itu tergenggam di tangan Shin Shui.


Tetapi kenyataannya, Ying Mengtian seperti kerepotan menangkis gempuran serangan lawan. Suara benturan logam keras sangat jelas terdengar. Tetapi Pedang Halilintar masih terlihat diam di tempat.

__ADS_1


Yang terlihat jelas hanyalah senjata Ying Mengtian berkelebat ke sana kemari menangkis tempat yang terlihat kosong.


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sungguh tidak masuk akal.


Tetapi, perlu diketahui bahwa inilah jurus tertinggi Shin Shui dalam menggunakan pedangnya. Pedang itu bergerak sangat cepat sekali, saking cepatnya, orang akan mengira bahwa Pedang Halilintar tidak pernah memberikan serangan.


Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Setiap habis menyerang, Shin Shui akan menaruh kembali pedangnya ke posisi semula. Semua gerakan itu dialakukan dalam waktu kurang dari satu detik.


Jurus ini dia namakan Jurus Pedang Cahaya. Sebuah jurus tertinggi yang dia ciptakan. Dia sempat menggabungkan banyak macam jurus pedang. Meleburnya menjadi satu sehingga menciptakan jurus yang sangat dahsyat ini.


Jurus Pedang Cahaya.


Shin Shui sengaja tidak pernah mengeluarkan jurus ini sebelumnya. Alasannya karena kekuatan yang diperlukan sangat besar sekali. Sehingga akan menguras banyak tenaga.


Kalau lawannya bukan yang termasuk dalam jajaran pendekar terkuat, mungkin dia tidak akan sanggup untuk menahan satu jurus sekalipun.


Ying Mengtian sendiri mulai kewalahan ketika Jurus Pedang Cahaya sudah delapan kali bergerak. Dua kali tubuhnya menjadi sasaran telak.


Akibatnya, lengan kiri orang tua berjuluk Kaisar Buas itu buntung. Darah tidak mengucur karena saking cepatnya serangan Shin Shui.


Tetapi, dia sama sekali tidak memperlihatkan raut wajah kesakitan. Yang tampak justru raut wajah bahagia. Seolah dia menikmati semua ini.


Saat Jurus Pedang Cahaya milik Shin Shui bergerak pada jurus kesepuluh, pada saat itulah Ying Mengtian sudah tidak sanggup lagi melakukan perlawanan.


Gerakannya tiba-tiba berhenti karena sekujur tubuhnya terasa sangat kaku. Orang tua tersebut baru menyadari bahwa ternyata, Jurus Pedang Cahaya mematikan jaringan urat syaraf dalam waktu yang sangat singkat.


Sungguh, dia tidak pernah memikirkan kejadian luar bisa seperti ini.


"Slebb …"


Tiba-tiba sebuah benda dingin terasa menusuk jantungnya hingga tembus ke belakang.


Pedang Halilintar.


Pedang itu menusuk telak di titik terpenting. Senjata Ying Mengtian jatuh. Tubuhnya langsung lemas setlah sebelumnya terasa kaku. Perlahan, mendadak dia jadi berlutut lalu kemudian jatuh telentang.

__ADS_1


__ADS_2