Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XVI


__ADS_3

Dua puluh sembilan tokoh kelas atas yang tersisa menggertak gigi. Sekarang mereka mengetahui kenapa alasan kakek tua itu turun ke medan perang. Sekarang mereka juga mengerti kenapa dia masih bisa bersantai saat menghadapi tiga puluh lawan.


Semakin tinggi keilmuan seseorang, biasanya orang itu justru akan semakin santai saat menghadapi sebuah bahaya.


Sekarang mereka percaya dengan kata-kata tersebut. Ternyata ungkapan itu memang benar adanya.


Posisi menjadi berbalik. Kepercayaan dua puluh sembilan tokoh tersebut mulai luntur. Meskipun memang jumlahnya puluhan kali lipat lebih banyak, namun karena semuanya tokoh kelas atas, mereka sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan si kakek tua.


Keadaan di medan pertarungan Kakek Sakti Manusia Dewa dicekam oleh keheningan. Sampai sekarang, belum ada yang berani menjawab pertanyaannya.


Semua tokoh merasa segan. Nyali mereka ciut. Tanpa perlu diberitahu pun, mereka sudah paham bahwa ucapan si kakek tua tidak sembarangan. Mereka tahu, jika orang tua itu sudah berkata, berarti dia memang sanggup melakukannya.


Siapa yang ingin cepat mampus? Siapa yang ingin kehilangan nyawa begitu saja?


Siapapun tidak ada yang ingin. Setiap manusia ingin hidup jauh lebih lama. Setiap orang tidak ingin kehilangan nyawa. Begotupin dengan puluhan tokoh tersebut.


Tapi, apakah benar mereka mampu untuk hidup lebih lama jika Kakek Sakti Manusia Dewa sudah demikian?


"Baiklah jika tidak ada yang menjawab. Kalau begitu, biarkan aku berlaku sesuka hati," ucap kakek tua itu dengan tenang.


Kakek Sakri Manusia Dewa melangkah satu langkah ke depan. Kedua tangannya dibentangkan selebar mungkin. Sepasang sayap berwarna putih mendadak muncul di belakang punggungnya.


Aura putih yang sangat kental segera menyelimuti tubuh tua renta itu. Jika dia sudah seperti ini, itu artinya Kakek Sakti Manusia Dewa tidak main-main lagi.


Seluruh kekuatannya langsung dia keluarkan sehingga membuat tanah berhamburan tidak karuan. Angin berhembus sangat kencang menerbangkan puluhan ribu mayat manusia. Langit gelap. Udara panas dan sesak.


Kakek Sakti Manusia Dewa benar-benar nekad. Dia berniat untuk mengeluarkan jurus dahsyat yang dia miliki.


Dua puluh sembilan tokoh yang mengelilingi dirinya merasakan kekuatan dahsyat menekan tubuhnya. Semua orang-orang itu merasa ditindih oleh satu gunung. Jangankan untuk bergerak, untuk dapat berdiri dengan benar pun rasanya sulit.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga sinar putih melesat dengan sangat cepat ke depan. Semua lawan Kakek Sakti Manusia Dewa tersentak kaget. Mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan perlawanan.

__ADS_1


Untungnya mereka merupakan tokoh kelas atas. Mereka adalah orang-orang terkenal di negerinya masing-masing. Setelah berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri, akhirnya mereka dapat lepas melepaskan tekanan yang dihasilkan dari kekuatan Kakek Sakti Manusia Dewa.


Grrr!!! Roarr!!! Gelegar!!!


Dua puluh sembilan orang tokoh dunia persilatan itu bergerak secara bersamaan. Masing-masing dari mereka bahu-membahu menangkis jurus serangan yang diberikan oleh Kakek Sakti Manusia Dewa.


Mereka turut mengeluarkan jurus dahsyatnya. Puluhan sinar dan puluhan jurus langka terlihat memenuhi jagat raya. Semuanya bertumpuk menjadi satu. Semuanya menyatu dalam satu gumpalan kekuatan yang maha dahsyat.


Gelegar!!!


Bumi bergetar hebat. Langit berguncang keras.


Dua kekuatan dahsyat bertemu sehingga membuat suasana bertambah mencekam. Gelombang kejut menyeruak hingga beberapa kilometer jauhnya. Puluhan ribu pasukan musuh yang berada di sekitar tempat kejadian terlempar ratusan langkah ke belakang.


Mereka meregang nyawa. Mereka tewas saat itu juga. Darah menggenang. Banjir darah terjadi lagi. Bau amis tercium lagi.


Perang terjadi semakin mengerikan. Perang besar ink sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.


Sepuluh tokoh kelas atas yang menjadi lawan Kakek Sakti Manusia Dewa terlempar dua puluhan langkah ke belakang. Mereka menjadi korban kedahsyatan benturan jurus tersebut. Sepuluh tokoh itu mengalami luka yang sangat-sangat parah. Baik itu luka luar maupun luka dalam.


Sementara itu, pada saat terjadi benturan barusan, Kakek Sakti Manusia Dewa juga terdorong ke belakang sebanyak sepuluh langkah.


Meskipun Kakek Sakti Manusia Dewa mempunyai kekuatan yang sulit untuk dibayangkan, namun dka masih merupakan manusia. Dia adalah manusia biasa yang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dia mempunyai batasan-batasan tertentu sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


Dari sudut bibirnya keluar darah kental. Wajahnya sedikit memucat. Meskipun tidak terlalu jelas, tapi jika dipandang lebih mendalam, maka akan terlihat.


Kakek Sakti Manusia Dewa segera mengusut darah tersebut. Dia meliriknya sekejap. Meskipun sudah terluka luar dan dalam, tapi untungnya luka tersebut tidak terlalu parah.


Wajah tuanya bahkan masih tersenyum hangat seperti sebelumnya. Tidak ada Perubahan dari wajah yang selalu memberikan keteduhan itu kecuali hanya pucat saja.


Wushh!!! Wushh!!!


Melihat kakek tua tersebut mengalami luka, sembilan belas musuhnya tidak tinggal diam. Mereka tentunya tidak mai menyia-nyiakan hal tersebut. Sembilan tokoh langsung menyerang dari semua penjuru.

__ADS_1


Berbagai macam senjata pusaka telah mereka keluarkan. Masing-masing pemiliknya telah melancarkan serangan dahsyat dan mengerikan.


Sembilan sinar menerjang Kakek Sakti Manusia Dewa. Kekuatan hebat terkandung dalam serangan jarak jauh tersebut.


Belum habis serangan jarak jauh, serangan jarak dekat lainnya segera menyusul tiba.


Delapan tebasan pedang dan senjata lainnya datang dengan gencar. Sembilan serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan dan ketepatan yang sulit untuk diikuti oleh mata telanjang.


Hanya dalam waktu sekejap kata, Kakek Sakti Manusia Dewa telah berada dalam kepungan semua serangan lawannya. Berbagai macam jurus serangan dari berbagai aliran terlihat bersatu padu seperti sekelompok naga yang menyambar mangsa.


Mereka bertarung dengan ganas. Jurus permainan senjatanya dikeluarkan hingga ke titik maksimal.


Selama itu, Kakek Sakti Manusia Dewa hanya berusaha untuk terus menghindari semua serangan lawan. Dia ingin melihat sampai di mana kemampuan musuh-musuhnya.


Begitu dirinya sudah hapal dengan gerakan setiap lawan, Kakek Sakti Manusia Dewa bergerak dengan cepat dan sangat tiba-tiba.


Cahaya putih berkelebat. Sinar tajam terasa menusuk jantung setiap lawan yang menyerang Kakek Sakti Manusia Dewa.


Wushh!!! Crashh!!! Crashh!!!


Hanya sesaat, tiga tubuh telah terpotong menjadi beberapa bagian. Tiga nyawa melayang. Kakek Sakti Manusia Dewa tidak berhenti menyerang, dia justru menambah kecepatan dalam serangannya.


Crashh!!!


Enam kali suara yang sama terdengar menyayat hati. Enam nyawa pula yang telah lepas dari raga.


Sembilan tokoh dunia persilatan terkapar tanpa nyawa. Mereka semua tewas dalam kondisi tubuh terpotong-potong. Semua pembunuhan sadis itu terjadi sangat singkat.


Sepuluh tokoh yang mengira rekannya bisa membunuh kakek tua itu, kini merasa menyesal. Mereka menyesal karena tidak membantu sejak tadi. Mereka menyesal karena tidak sempat turun tangan memberikan bantuan.


Amarah dalam dadanya bergolak hebat seperti lahar di sebuah gunung berapi.


Wushh!!!

__ADS_1


Sepuluh tokoh melesat ke depan menerjang Kakek Sakti Manusia Dewa.


__ADS_2