
Serempak mereka langsung berusaha untuk menghindari serangan Li Cun. Meraka menghindar dengan caranya sendiri. Alhasil, sabetan yang mengeluarkan sinar kuning itu luput dari sasaran. Akibatnya beberapa pohon tumbang saat itu juga sekaligus terdengar suara cukup keras.
'Bocan ini bukan pendekar biasa. Pasti dia memiliki latar belakang istimewa,' batin salah seorang.
Pertarungan terus berlanjut. Dua puluh orang tersebut mulai melancarkan serangan yang mereka miliki. Berbagai sinar dan beberapa macam jurus mulai terlihat memenuhi arena pertarungan.
Kilatan yang mengeluarkan suara guntur dan hawa pembunuh mulai terasa sangat kental.
Melihat banyaknya jurus yang menyerang, Li Cun tidak gentar sama sekali. Dia percaya kepada dirinya sendiri. Dia yakin kepada 'kakaknya'.
Oleh sebab itu, di saat dua puluh macam serangan tiba di depannya, Li Cun berteriak nyaring. Tubuhnya melesat ke atas lalu kembali turun menukik secepat elang memburu mangsa.
Pedang Awan dia bentangkan selebar mungkin. Mulai dari pangkal hingga ujung batang padang, terlihat sinar biru yang mencolok membawa serta sebuah kekuatan dahsyat.
Semua orang itu melancarkan kembali serangan berikutnya. Tapi sayang, entah bagaimana caranya, yang jelas dari semua serangan tersebut tak ada yang dapat mengenai tubuh Li Cun.
Bocah itu berputar atau kadang kala menghindar dengan gerakan tertentu. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa saat saja. Karena selanjutnya, dia telah tiba di bawah dan sudah menyambar pula satu orang di antara mereka.
Sekali tebas, satu kepala telah menggelinding. Tubuh orang yang menjadi korban langsung segera roboh dengan darah terus mengucur deras.
Sembilan belas orang lainnya dibuat sangat terkejut. Seumur hidup, baru kali ini mereka menyaksikan ada seorang bocah yang dengan kejam membunuh seseorang.
Yang lebih parah lagi, si bocah itu bahkan tertawa setelah membunuh. Seolah dia senang dengan apa telah dia lakukan. Seperti tidak merasa menyesal. Bahkan saat membunuh pun, bocah itu seperti tidak memiliki perasaan.
Wajahnya tertawa mengejek. Tak lama berubah menjadi dingin seperti es. Tatapannya semakin tajam bagaikan mata pisau.
"Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian takut dan ingin lari? Hemm, sayangnya aku tidak akan mengizinkan seorang pun dari kalian bisa lolos hidup-hidup. Sebab membiarkan manusia seperti kalian hidup, hanya akan menambah kejahatan di muka bumi," kata Li Cun dengan tegas.
"Bocah iblis. Mulutmu memang sangat sombong sekali," bentak salah seorang.
"Hahaha, tentu saja aku sombong. Karena nanti aku tidak bisa sombong lagi di hadapan kalian. Sebab sebentar lagi, kalian akan menyusul rekanmu yang bernasib malang itu," kata Li Cun dingin.
__ADS_1
Setelah itu, kembali sebuah tenaga dahsyat keluar dari tubuhnya. Kekuatan yang tadi dipinjamkan oleh Li Feng memang benar-benar dahsyat dan terasa murni sekali. Bahkan sampai-sampai Li Cun merasa tubuhnya sangat ringan seperti kapas.
Detik berikutnya, dia kembali melancarkan sebuah serangan mematikan.
"Hujan Pedang Titik Embun …"
"Wushh …"
Dia melesat ke depan. Sinar biru keluar memburu berupa titik-titik kecil seperti itu. Tetapi dalam titik kecil itu, terdapat sebuah ancaman. Terdapat pula sebuah kabar dari malaikat maut.
Serangan Li Cun telah tiba, tusukan pedangnya begitu banyak seperti hujan deras yang turun dari langit. Tubuhnya berkelebat menyambar semua lawan. Benturan pedang bersama senjata keras lainnya terdengar nyaring menggetarkan gendang telinga.
Semua lawannya tersentak mundur beberapa langkah. Bocah itu tidak memberikan kesempatan lagi. Dua jurus kemudian, jerit mengerikan kembali terdengar. Dua orang musuh meraung keras sebelum kepala mereka lepas dari tempatnya.
Keadaan di arena pertarungan tersebut semakin menegangkan.
Bagaimana tidak? Ada seorang bocah kecil yang mampu membunuh begitu gampang dan teganya. Rasanya di dunia ini dapat di hitung dengan jari bocah-bocah seperti Li Cun itu.
Tapi yang mundur bukan dia, yang kalah bukan senjatanya. Justru tubuh lawanlah yang tersentak dan senjatanya yang patah menjadi dua atau tiga bagian.
Tubuh Li Cun berputar kencang. Sebuah pusaran angin terbentuk. Selanjutnya, dua buah pusaran angin meluncur deras ke arah lawannya. Debu dan bebatuan melambung tinggi dibuatnya.
Belasan lawannya sudah kembali melancarkan jurus hebat. Tapi siapa sangka, belum hilang pusaran tersebut, serangan baru dengan jurus dahsyat kembali menerjang.
"Pedang Tanpa Perasaan …"
"Wushh …"
Kilatan Pedang Awan menyelimuti jagat raya. Tubuh Li Cun terbungkus oleh sinar pedangnya sendiri. Semua jurus yang dilancarkan oleh lawan, musnah di tengah jalan.
Lima jurus selanjutnya, enam kepala sudah menggelinding kembali. Detik demi detik terus berlalu tanpa terasa.
__ADS_1
Lawan yang tersisa tinggal tiga orang saja. Mereka merasa ketakutan setengah mati. Andai disuruh memilih, maka mereka lebih baik menyembah bocah itu daripada tewas di tangannya.
Tetapi siapa sangka, di saat terkahir itu, tiba-tiba saja tubuh Li Cun terasa berat kembali. Tidak ringan seperti tadi. Serangan pedangnya menjadi melambat. Agaknya kekuatan yang tadi dipinjamkan sudah mencapai batas waktu.
Kejadian seperti ini tidak lepas dari perhatian tiga lawannya.
Ketakutan mereka seketika berubah menjadi rasa gembira. Sebab mereka sudah yakin bahwa bocah itu sudah pasti merasa kelelahan dan tidak ada tenaga lagi.
Tak terasa suara tawa keluar dari mulut ketiganya. Sebab mereka yakin, sebentar lagi bocah itu akan ambruk dengan sendirinya.
Sayang, pemikiran mereka sangat jauh dari kenyataan. Sebab di saat mereka sedang asyik tertawa, tiba-tiba saja ada sebuah angin dingin menerpanya.
Satu orang dari mereka kembali meregang nyawa. Kepalanya hampir putus. Darah muncrat ke pakaian dua rekannya. Seketika itu juga tawa mereka berhenti.
Mereka berniat untuk memberikan perlawanan. Tapi sayangnya itu hanya sebuah impian kosong, sebab detik berikutnya, giliran mereka yang mendapat bagian.
"Crashh …"
Satu kepala menggelinding lagi. Sedangkan yang satu lagi dadanya tertusuk Pedang Awan sampai menembus punggungnya.
Semuanya telah selesai. Dua puluh orang yang sombong itu kini telah terkapar tanpa nyawa oleh seorang bocah ingusan.
"Akhirnya …" kata Li Cun sambil menghela nafas panjang.
Sementara itu, selama pertarungan bocah istimewa itu berlangsung, di sisi lain pertarungan yang lebih seru berlangsung pula.
Lima orang pendekar saat ini sedang bertarung dengan sangat sengit. Jurus yang mereka gunakan tentu lebih hebat dan lebih dahsyat daripada pertarungan Li Cun sendiri.
Tepat, itu merupakan pertarungan Li Feng melawan empat pendekar. Mereka sudah bertarung selama tiga puluh jurus lebih. Jurus yang dikeluarkan pun lebih hebat lagi. Terutama pemimpin dari mereka.
Tapi sayangnya walaupun sudah bertarung puluhan jurus, tetap saja keempat pendekar tersebut belum mampu mengalahkan Li Feng. Bahkan mungkin lebih tepatnya tidak mampu.
__ADS_1
Karena bagaimanapun mereka menyerang, dari sisi manapun serangannya datang, semua itu hanya sia-sia saja. Karena Li Feng bisa menahan semua serangan yang mereka lancarkan dengan kekuatannya sendiri.