
"Kalian pikir bisa melarikan diri dariku? Hemm, kalau iya, maka kalian telah melakukan sebuah kesalahan besar," ujar Pendekar Tanpa Perasaan sangat dingin.
Suaranya menggelegar seperti kilat yang menyambar bumi. Tatapan matanya sangat tajam. Lebih tajam dari pada apapun di dunia ini.
Seumur hidupnya, Chen Li tidak akan melepaskan orang-orang yang memang pantas untuk mati.
Para tokoh Organisasi Elang Hitam itu membungkam mulutnya masing-masing. Tidak ada yang menjawab di antara mereka. Semua orang merasakan hal yang sama.
Rasa takut, rasa jeri dan rasa tidak menyangka telah bertumpuk menjadi satu. Keringat dingin sebesar biji kacang kedelai telah menetes satu persatu dari pelupuk matanya. Seumur hidup, baru sekarang mereka merasakan ketakutan seperti ini.
Blarr!!!
Ledakan besar tiba-tiba terdengar. Dinding tak kasat mata yang dibentuk oleh Pendekar Tanpa Perasaan mendadak hancur berkeping-keping.
Suasana semakin riuh. Debu masih mengepul tinggi.
Beberapa orang tokoh lainnya telah hadir kembali. Sekarang, jumlah tokoh-tokoh itu tidak kurang dari dua belas orang banyaknya.
"Berani sekali kau membuat kekacauan di gedung ini," kata seorang yang baru saja datang.
Orang itu sudah tua. Postur tubuhnya tinggi, dia sangat kurus dengan kedua mata cekung. Wajahnya tidak mirip manusia, wajah itu lebih mirip seperti setan gentayangan.
Di lihat sekilas, dia lebih mirip seperti tengkorak hidup karena seluruh tulang-tulang di tubuhnya terlihat dengan jelas.
"Kenapa pula aku harus tidak berani?" jawab Pendekar Tanpa Perasaan masih dalam nada yang sama.
"Kau pikir dirimu bisa mengalahkan semua orang yang ada dalam gedung ini?"
"Kalau aku tidak punya keyakinan untuk itu, maka aku tidak akan berani melakukannya. Sekarang jika aku berani melakukan, maka aku berani membuktikan,"
"Baik, kalau memang benar, buktikan sekarang juga," timpal seorang tokoh lainnya yang baru saja tiba.
Orang itu bertampang dingin. Di tangannya sudah ada sebatang pedang berwarna biru tua. Pedang antik, pedang yang pastinya sangat tajam.
Chen Li tersenyum sedingin mungkin. Di lihatnya puluhan anggota Organisasi Elang Hitam yang tadi sedang menikmati surga dunia, sekarang telah mengerubungi dirinya.
Mereka sudah mengacungkan senjatanya masing-masing. Semua anggota itu siap melakukan perintah. Masalah membunuh, orang-orang tersebut sudah terhitung sebagai ahlinya.
__ADS_1
Organisasi Elang Hitam adalah sebuah organisasi rahasia yang bergerak dalam bidang pembunuh bayaran. Di mata mereka, membunuh manusia bukan menjadi suatu hal yang asing. Setiap saat mereka siap melakukan pembunuhan.
"Serang pemuda keparat ini," ujar tokoh bertampang dingin tersebut.
Wushh!!! Wushh!!!
Tanpa menjawab, tanpa dikomando dua kali, puluhan anggota tersebut langsung bergerak secepat kilat.
Halaman gedung yang luas itu telah ramai dipenuhi orang-orang tersebut, hanya sesaat, di tempat itu sudah terjadi sebuah keramaian.
Hujan darah sepertinya tidak bisa dihindarkan lagi.
Puluhan jurus jarak jauh telah menerjang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Meskipun jurus masing-masing dari mereka tidak terlalu kuat, tapi kalau sudah bersatu seperti sekarang ini, maka jurus-jurus tersebut pastinya akan berubah menjadi gabungan jurus yang cukup hebat.
Selain jurus jarak jauh, jurus jarak dekat juga sudah dilancarkan pula. Tidak kurang dari tiga puluh tusukan, sabetan dan serangan lainnya telah melesat ke arah pemuda itu.
Wushh!!!
Aura putih yang menyelimuti tubuh Pendekar Tanpa Perasaan tampak semakin kental. Tangan kanannya bergerak menciptakan sebuah jurus yang tidak kalah dahsyatnya.
Pendekar Tanpa Perasaan sudah mengeluarkan jurus dahsyatnya.
Sementara dia sendiri, saat ini sudah meluncur deras menyambut semua serangan yang diberikan oleh tiga puluhan anggota organisasi tersebut.
Pedang Merah Darah telah terhunus ke depan. Sekali bergerak, sebuah tebasan pedang memanjang yang membawa hawa pembunuhan langsung keluar dengan dahsyat.
Wushh!!!
Angin badai, tornado api dan tebasan pedang bergerak secara bersamaan. Jurus dan serangan dahsyat itu bergerak secara serempak.
Trangg!!! Trangg!!!
Dentingan nyaring mulai terdengar menggema di udara. Malam yang seharusnya sepi sunyi, sekarang telah ramai. Bukan ramai karena hiburan, tapi ramai karena sebuah pertarungan.
Puluhan sinar menyelimuti muka bumi membuat malam semakin terang untuk beberapa saat lamanya. Tubuh Pendekar Tanpa Perasaan melesat ke sana kemari dengan lincah. Tubuh itu tampak seperti bayangan yang bergerak dengan bebas.
Tebasan dan tusukan dilancarkan dengan hebat dan cepat. Setiap apa yang dia lakukan telah melalui perhitungan matang. Sehingga apapun itu, hasilnya pasti membuat semua musuhnya kaget.
__ADS_1
Pertarungan sudah berjalan tanpa berhenti. Belasan jurus telah terlewati. Semua tokoh Organisasi Elang Hitam tertegun. Sekali lagi, mereka telah menyaksikan bagaimana sepak terjang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu.
Belasan anggota Organisasi Elang Hitam mulai berjatuhan. Mereka yang menjadi korban keganasan Chen Li tidak ada yang selamat. Semuanya tewas. Mereka meregang nyawa tanpa sempat memberikan perlawanan berarti. Sedikitpun mereka tidak bisa membalas perlakuan pemuda dingin tersebut.
Pedang Merah Darah semakin memerah. Merah pekat. Sepekat darah, sepekat dendam yang tumbuh di sanubari pemuda bernama Chen Li.
Darah lawan masih menetes di ujung pedangnya. Hawa kematian di sekitar gedung itu semakin kental. Pendekar Tanpa Perasaan tidak menghentikan gerak serangannya.
Setiap kali pedangnya bergerak, saat itu pula akan ada korban yang kembali jatuh. Setiap tebasan dikeluarkan, dipastikan akan ada nyawa yang melayang.
Dua puluh nyawa, dua puluh lima nyawa, hingga pada akhirnya tiga puluh nyawa manusia mampus di bawah ketajaman dan kedahsyatan Pedang Merah Darah.
Semuanya langsung berhenti. Ledakan dari berbagai jurus hebat telah tiada. Puluhan sinar yang tadi sempat meramaikan pertarungan, kini telah lenyap tak berbekas.
Tiga puluh anggota Organisasi Elang Hitam terkapar di tanah. Semuanya sudah tewas. Semuanya tinggal jasad yang tiada artinya lagi.
Saat jasad masih utuh, tapi nyawa telah tiada, bukankah manusia sudah tidak berarti apa-apa lagi?
Bau amis darah puluhan anggota itu menusuk hidung setiap orang yang ada di sana.
Malam semakin larut. Pendekar Tanpa Perasaan telah kembali ke posisinya semula. Caranya berdiri dan caranya memandang setiap lawan masih sama seperti sebelum melangsungkan sebuah pertarungan.
Masih dingin. Masih angkuh. Dan masih penuh rasa yakin.
Dengan segala yang ada saat ini, memangnya hal apa yang tidak mampu membuat Chen Li yakin?
Kesunyian yang lebih sunyi kembali hadir. Rasa ngeri yang lebih ngeri kembali mencekam setiap tokoh kelas atas di organisasi tersebut.
Mereka baru mengalami kejadian semacam ini. Seumur hidupnya, mereka belum pernah melihat ada seorang pendekar muda yang sanggup melakukan hal seperti sekarang.
Kecuali hanya satu orang.
Tiga tahun lalu, ada seorang pendekar muda yang juga telah berani mencari masalah di tempat ini. Caranya mencari masalah masih sama dengan pemuda tersebut. Sifatnya, wataknya, semuanya masih sama.
Pemuda itu menamakan dirinya sebagai Pendekar Merah.
Apakah keduanya mempunyai suatu hubungan tertentu?
__ADS_1