Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Derita San Ong


__ADS_3

Malam telah datang. Rembulan bersinar di tengah gumpalan awan yang sedikit mendung. Awan yang kelam. Sekelam perasaan di balik tawa San Ong dan Ong San.


Ketiganya masih berpesta arak dan daging. Shin Shui benar-benar tenggelam bersama dua sahabatnya. Sehingga dia belum menyadari adanya keganjilan.


Suara binatang malam bergema di hutan Gunung San-ong. Semilir angin lirih meniup tubuh mereka.


Shin Shui telah mabuk. Bicaranya kadang-kadang sedikit ngelantur. Namun di balik itu, justru tatapan matanya menjadi setajam mata elang si burung perkasa.


"Kenapa kalian berdua tidak mau berkunjung ke Sekte Bukit Halilintar?" tanya Shin Shui kepada San Ong dan Ong San setelah puas minum arak.


"Bukankah Tuan Muda sendiri yang menyuruh kami untuk menjaga daerah perbatasan ini?" Ong San kembali mengajukan pertanyaan kepada Tuan Muda-nya.


Shin Shui berpikir sejenak. Apa yang Ong San katakan memang benar. Bukankah dahulu dia yang memerintahkan mereka untuk menjaga perbatasan Timur ini?


"Ah, kau benar Ong San. Tapi, bukankah kalian bisa menempuh jarak singkat kalau ingin ke tempatku? Hemm, lagi pula kalian bisa bergantian berkunjung," ujar Shin Shui masih belum puas dengan jawaban Ong San.


"Lalu, kenapa Tuan Muda tidak mengunjungi kami lebih dulu? Bukankah Tuan Muda bisa berkunjung dan menempuh waktu lebih cepat daripada kami?" San Ong bicara sambil sedikit tersenyum.


Senyuman yang mengandung duka. Senyuman pahit. Sepahit kehidupan ini.


"Hemm, tak kusangka ternyata sekarang kalian pintar membalikan perkataan," kata Shin Shui lalu menenggak araknya.


Dia masih terus minum arak. Tenggelam bersama guci arak memang nikmat sekali.


Tapi di saat seperti itu, Shin Shui merasa ada yang aneh. Sekarang yang minum arak hanya dia dan Ong San saja. Sedangkan San Ong lebih banyak diam dan bahkan mendekap lututnya dengan kedua tangan.


Sesekali dia hanya tertawa getir. Kadang-kadang tubuhnya juga menggigil. Tak jarang, wajahnya juga terlihat seperti menahan sakit yang tiada terkira. Hanya saja semua hal itu hanya diketahui oleh Ong San, saudaranya.


Sedangkan Shin Shui sama sekali belum menyadari hal tersebut.


Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Keadaan juga semakin sepi. Tiga orang sahabat masih seperti sebelumnya. Namun sekarang mereka sudah tidak lagi minum arak. Hanya sekedar bercerita melepas kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


Tiba-tiba San Ong terlihat mulai menggigil hebat. Siluman kera itu mendekap lututnya sampai bergulingan dan bahkan hingga jatuh dari batu besar tempat mereka duduk.


Tubuhnya semakin menggigil. Gemerutuk giginya semakin jelas terdengar.


Ong San sangat terkejut. Dia langsung memeluk saudaranya tersebut dengan erat.


Baru kali ini Shin Shui menyadari semuanya. Dia juga ikut terkejut seperti halnya Ong San.


"Ong San, kenapa dengan saudaramu? Apa yang telah terjadi padanya?" tanya Shin Shui khawatir.


Dia langsung mendekati San Ong yang kini merasa kedinginan sekaligus merasakan sakit yang tiada terkira.


"Aaaa … sakit … Ong San, aku tidak tahan lagi. Derita ini sungguh berat bagiku. Bunuh saja aku, bunuh saja aku," kata San Ong menjerit memilukan di tengah rasa sakit yang sedang dia alami saat ini.


"Tenang saudaraku, tenang. Aku pasti akan berusaha membawakan obat penawarnya untukmu. Walaupun aku harus berjalan di atas bara api atau bahkan bertaruh nyawa, asalkan kau bisa sembuh, aku akan berusaha semampuku," kata Ong San menahan kesedihan melihat derita yang diterima oleh saudaranya tersebut.


San Ong terus mengulangi perkataan yang sama hingga beberapa kali sampai akhirnya dia tertidur dalam rasa sakitnya.


"Ong San, ceritakan yang sebenarnya. Apa yang telah terjadi dengan saudaramu sehingga dia bisa seperti sekarang ini?" tanya Shin Shui tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Ong San tidak langsung menjawab. Dia masih meras kasihan terhadap saudaranya yang harus menahan sakit setiap waktu.


"Tuan Muda, sebenarnya San Ong mengalami luka dalam yang sudah sangat parah. Dia terkena jurus Telapak Tangan Seribu Racun Bisa Ular. Setiap malam dia akan merasa kesakitan yang teramat sangat. Katanya dia selalu merasa seperti di gigit oleh ribuan ular. Kalau racunnya sedang naik, biasanya dia sampai tidak sadarkan diri," jelas Ong San kepada Shin Shui.


Pendekar Halilintar itu terkejut. Dia tidak menyangka sebelumnya bahwa salah satu sahabatnya ternyata mengalami derita seberat itu. Padahal, tadi Shin Shui melihatnya seperti biasa saja.


"Apa? Dia terkena jurus Telapak Tangan Seribu Racun Ular? Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Shin Shui semakin penasaran.


"Ceritanya panjang. Singkatnya, enam bulan lalu, Kiang Mo Kong si Datuk Ular Beracun datang kemari. Dia meminta kami untuk membantunya agar mau menghancurkan Kekaisaran Wei. Tentu saja kami tidak sudi. Karena penolakan itu, kami bertarung melawan si tua bangka keparat itu. Sayangnya, Ong San tidak terkena jurus sialan miliknya karena berusaha menyelamatkan nyawaku," kata San Ong menceritakan kejadian singkatnya.


Wajah Shin Shui langsung merah padam seluruhnya. Amarah seketika meluap sampai ke permukaan. Seperti sebuah lahar di gunung berapi yang setiap saat bisa meletus.

__ADS_1


"Keparat. Apa obat penawar racunnya?"


"Serbuk Penghilang Racun Seribu Ular," jawan San Ong.


"Di mana aku bisa menemukan obat penawar tersebut?" tanya Shin Shui.


Walaupun dia sudah terkenal mempunyai segala macam sumber daya dan obat penawar racun, sayangnya tidak semua racun dapat dia tawarkan. Apalagi jurus beracun yang berasal dari luar wilayah Kekaisaran Wei.


"Obat penawarnya ada pada tua bangka itu sendiri. Konon katanya, di negeri asal dia, tua bangka tersebut merupakan datuk rimba hijau aliran hitam,"


"Di mana dia tinggal?" tanya Shin Shui semakin garang.


"Di perbatasan Timur Kekaisaran Sung. Dia tinggal di bawah Bukit Hitam, di sana ada perguruan tua. Di tempat itulah dia berdiam,"


"Baik. Aku akan ke sana,"


"Jangan Tuan Muda. Tempat itu terlalu berbahaya. Bukit Hitam adalah sarang kepala perampok yang menggabungkan diri dengan Kiang Mo Kong si Datuk Ular Beracun. Di sana ada puluhan tokoh tua, aku tidak mau membahayakan Tuan Muda. Biarlah aku saja yang ke sana, sedangkan Tuan Muda tetap di sini menjaga saudaraku. Aku mohon," ucap San Ong berniat untuk berlutut, sayangnya Shin Shui segera menahan.


"Tidak. Kau harus diam di sini menjaga saudaramu. Biar aku yang akan ke sana sekarang juga. Aku akan menghancurkan tempat itu sekaligus membawa obat penawar," tegas Shin Shui.


"Berapa hari untuk bisa sampai ke sana?"


"Tiga hari. Tiga hari sudah cukup untuk dapat ke tempat itu,"


"Baik. Satu minggu kemudian, aku akan segera kembali dan membwa kepala tua bangka itu untuk kalian. Demi sahabat, apapun akan aku lakukan," tegas Sang Pendekar Halilintar kemudian memancarkan kekuatannya.


###


Maaf ya bagi yang kurang puas, tolong jangan turunin Bintang. Hargailah para penulis karena dia telah berusaha menyuguhkan yang terbaik.


"Kalau ingin di hargai, maka kita harus bisa menghargai,"

__ADS_1


__ADS_2