Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kekuatan Naga Air


__ADS_3

"Apakah bocah ini sudah sanggup menahan kekuatan naga air?" tanya naga api keheranan.


Huang Taiji tersenyum. Senyumannya berubah hangat, sehangat senyuman seorang sahabat lama.


"Jika dia belum sanggup, untuk apa aku bicara seperti itu kepadamu? Bukankah hal itu sama saja dengan aku secara sengaja mencelakainya?"


Si naga api tidak dapat menyangkal perkataan Huang Taiji. Bagaimana mungkin orang tua itu akan membahayakan seorang anak yang diberkati para Dewa? Kalau dia melakukan hal tersebut, bukankah itu artinya dia sudah berkhianat?


"Kau benar. Kalau memang itu yang kau mau, baiklah. Kami akan pergi sekarang, tetapi ada syarat agar kami bisa keluar dari tubuhnya,"


Huang Taiji mengerutkan keningnya. Hatinya menjadi curiga setelah mendengar ucapan si naga api.


"Syarat? Syarat apa yang kau maksudkan?"


Chen Li yang saat itu dikuasai oleh sosok di dalam Mata Dewa, tersenyum sinis. Senyumannya sangat menyeramkan. Lebih seram dari pada hantu gentayangan.


"Aku ingin bertarung denganmu,"


"Kau serius?"


"Aku tidak pernah bercanda,"


"Aku tidak mau,"


"Tapi aku mau,"


"Sekali aku berkata tidak, maka seribu kali pun tetap tidak,"


"Begitu juga dengan aku. Apa yang aku inginkan, harus selalu diwujudkan,"


"Kau berani kepadaku? Apakah kau sudah kebal terhadap Segel Para Dewa?"


Mendengar Segel Para Dewa kembali disebut, si naga api mendadak ketakutan lagi. Sekuat apapun dirinya, dia tetap tidak akan sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkan dari dahsyatnya kekuatan Segel Para Dewa.


Siluman naga itu merupakan hewan peliharaan Dewa. Bagaimana mungkin dia sanggup melawannya?

__ADS_1


Grrrr!!!


Dia menggeram keras. Amarah dan dendam bertumpuk menjadi satu.


"Baik, baik. Sekarang aku mengaku kalah. Tetapi lihat suatu saat nanti, aku akan melampiaskan kemarahan ini kepada umat manusia,"


"Silahkan. Luapkan amarahmu nanti kepada manusia yang pantas untuk mati," ujar Huang Taiji.


Suasana di sana menjadi hening. Mereka berdua mendadak lenyap dari pandangan. Keduanya telah kembali lagi ke alam nyata.


Huang Taiji membuka matanya. Dia tersenyum saat memandangi Chen Li. Tubuhnya masih diam tidak bergeming.


Di sisinya, Shin Shui, Yun Mei, Yuan Shi serta puluhan tokoh lainnya merasa kebingungan. Mereka belum sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di antara dua orang itu.


"Bagaimana dengan anakku Kakak Huang?" tanya Yun Mei panik.


"Adik Yun, kau tenang saja. Li'er akan baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkan kondisinya," ucap Huang Taiji penuh kelembutan.


Yun Mei menghela nafas dalam-dalam setelah mendengar jawaban Huang Taiji. Meskipun dia sendiri tidak tahu pasti, tetapi wanita itu percaya kepada kakak angkatnya tersebut.


Namun walaupun begitu, sebagai seorang ibu, Yun Mei tetap saja merasa cemas. Ibu mana yang tidak akan cemas jika anaknya berada di posisi seperti Chen Li saat ini?


Semua ibu pasti akan merasakan hal yang sama.


Angin berhembus lirih. Bau amis darah mulai tercium bersama tiupan angin. Puluhan tokoh sedang berdiri mematung. Mereka sedang menanti, menanti sadarnya seorang bocah yang istimewa karena diberkati para Dewa.


Banjir mulai mereda. Langit perlahan kembali normal seperti sebelumnya. Api menghilang. Amukan angin lenyap hilang tanpa bekas. Semuanya perlahan kembali seperti sedia kala.


Yang masih tersisa adalah hancurnya keadaan di sekitar. Yang ada hanyalah ribuan mayat manusia yang bergelimpangan saling tumpuk satu sama lain.


Pemandangan mengerikan ini, di mana lagi dapat disaksikan jika bukan di medan peperangan?


Perang selalu menimbulkan banyak korban jiwa. Perang selalu mengorbankan nyawa manusia. Perang selalu menghancurkan segalanya. Tapi kenapa perang selalu saja terjadi dari waktu ke waktu?


Apakah manusia tidak pernah berpikir akibat dari apa yang mereka lakukan? Ataukah mereka telah dibutakan oleh kekuasaan?

__ADS_1


Baik itu sekarang atau nanti di masa depan, perang tidak akan berhenti. Justru akan semakin sering terjadi dan terus terjadi hingga dunia ini mati.


Chen Li mendadak membuka matanya. Berbarengan dengan itu, segulung angin bertenaga dahsyat menerjang ke segala penjuru. Gelombang kejutnya menyapu keadaan di sekitar.


Chen Li melesat ke arah puluhan tokoh yang berdiri mematung itu. Di tangannya telah tercipta dua bilah pedang energi yang memancarkan hawa dingin menusuk tulang.


Kedua bola matanya bertambah aneh. Satu unsur mendadak muncul. Unsur itu berwarna biru muda. Unsur air. Senyuman sinis mendadak dia lemparkan. Sesaat kemudian, bocah itu telah tiba di hadapan semua orang.


Dua kali tebasan pedang dilancarkan dengan kecepatan sangat tinggi dan tiba-tiba. Para tokoh tersentak. Untungnya sebelum serangan itu menerpa, satu sosok berpakaian serba putih telah menghalau dua serangan tersebut.


Blarr!!!


Ledakan terdengar dan mengepulkan debu hingga ketinggian beberapa tombak.


"Mundur," teriakan itu terdengar keras.


Tanpa diperintah dua kali, semua tokoh yabg hadir langsung memundurkan dirinya ke belakang sejauh mungkin. Termasuk juga Yun Mei. Shin Shui sendiri turut mundur, bukan karena dia tidak berani atau tidak tanggungjawab, Pendekar Halilintar itu hanya tidak mau melukai anaknya.


Dia tahu dan sadar betul bahwa saat ini, Chen Li masih dikuasai oleh kekuatan dahsyat Mata Dewa. Dan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu tidak punya cara lain untuk menghentikannya kecuali dengan kekerasan.


Jika sampai hal itu terjadi, bukankah itu artinya Chen Li juga akan terluka?


Tanpa harus diberitahu pun, Shin Shui sudah tahu bahwa kakak angkatnya, Huang Taiji, mempunyai cara lain untuk menghentikan amukan anaknya tersebut. Karena itulah dia memilih untuk mundur dan memberikan kesempatan kepadanya.


Huang Taiji berdiri di tengah udara. Sepasang kakinya sama sekali tidak menapak ke atas tanah.


"Li'er, tenangkan pikiranmu. Kuasai amarahmu, kendalikan kekuatan dahsyat yang merasuki tubuhmu. Biarkan dia masuk dan mengalir sesukanya. Kau jangan melawan sedikitpun, biarkan saja. Biarkan semuanya seperti air yang mengalir si sungai jernih. Kau cukup ikuti saja apa yang dia mau. Lakukan seperti apa yang telah kau lakukan sebelumnya," kata Huang Taiji bicara lewat pikiran.


Chen Li mengangguk perlahan. Meskipun kekuatan dahsyat yang mengalir dalam tubuhnya berusaha untuk terus menguasai, tetapi bocah itu tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Huang Taiji.


Pendekar Tanpa Perasaan mulai berkonsentrasi penuh. Chen Li sedang berusaha mengendalikan kekuatan dari naga air yang merupakan salah satu makhluk jelmaan Mata Dewa.


Kekuatan dahsyat itu masih terus mengalir ke seluruh jalan darah yang ada di dalam tubuhnya. Bedanya sekarang adalah kekuatan tersebut mulai beraturan. Tidak seperti tadi yang bergerak sesuka hati sehingga menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat dalam tubuhnya.


Lima belas menit sudah berlalu. Keadaan Chen Li mulai menunjukkan perubahan. Dia mulai tenang. Bola mata aneh yang tadi nampak, secara perlahan mulai lenyap dari pandangan semua orang. Setelah sesaat kemudian, tiba-tiba bocah itu ambruk ke tanah dan tidak sadarkan diri karena tubuhnya terasa sangat sakit sekaligus terasa lemas.

__ADS_1


__ADS_2