
Dua orang pertama masuk. Mereka merupakan Pendekar Langit tahap tiga. Matanya menyapu seluruh ruangan. Semua pengunjung dia tatap lekat-lekat, tetapi belum berani untuk bertindak.
Terlebih lagi karena keduanya merasakan ada tekanan besar di dalam restoran tersebut.
Tidak berapa lama kemudian, delapan orang Pendekar Langit datang pula ke restoran tersebut. Sama seperti dua rekan sebelumnya, mereka tidak berani bergerak terlalu jauh. Lebih tepatnya belum.
Sepuluh orang Pendekar Langit tersebut berdiri sejajar di pintu masuk restoran. Wajahnya garang. Kesombongan jelas terlihat dari ekspresi setiap orang-orang tersebut.
Sekitar lima belas menit kemudian, delapan orang Pendekar Dewa tahap dua datang menyusul. Mereka datang dengan langkah penuh keangkuhan. Seolah mereka menganggap tidak akan ada orang yang berani kepadanya.
Keduanya memakai pakaian biru tua. Dua pedang tersoren di pinggang kanan dan kirinya.
"Kenapa kalian belum bergerak juga?" tanya seorang Pendekar Dewa kepada anggotanya.
Sepuluh Pendekar Langit itu tidak ada yang berani langsung menjawab. Mereka saling tatap lalu kemudian tertunduk.
"Kenapa kalian diam saja?" bentak seorang Pendekar Dewa yang lainnya.
"Maaf Tuan, kami merasa di dalam restoran ini ada pendekar kelas satu. Kami tidak berani berniat gegabah sehingga memilih untuk menjaga di sini," jawab seorang Pendekar Langit sedikit ketakutan.
Delapan Pendekar Dewa tahap dua saling pandang. Mereka pun merasakan hal yang sama. Tetapi setelah memikirkan bahwa di pihaknya mempunyai kekuatan yang cukup meyakinkan, akhirnya orang-orang tersebut berani bertingkah.
Selain itu, di belakang mereka juga terdapat Pendekar Dewa lainnya, belum lagi jaringan para petinggi terbilang luas.
Dua orang Pendekar Dewa melangkahkan kaki untuk masuk ke restoran. Tidak ada yang berani menghalangi keduanya, bahkan para pelayan pun terdiam ketakutan.
"Semua orang yang ada di sini harap untuk keluar sekarang juga," bentaknya sambil menatap semua orang.
Serentak mereka keluar restoran. Meskipun sebagian merupakan juga pendekar, tetapi orang-orang tersebut tahu diri. Mereka hanyalah pendekar kelas bawah. Kalau berani berulah, sudah pasti nyawanya menjadi jaminan.
Hanya dalam sekejap mata, suasana di dalam restoran langsung sepi. Tinggal dua orang saja yang masih berada di dalamnya.
Dan mereka lah pelaku yang telah melakukan pembunuhan.
Chen Li bersama Huang Taiji Lu.
"Kalian berdua, kenapa tidak mau keluar?" tanyanya sambil membentak.
"Maaf Tuan, kami sudah memesan meja ini. Pula, kami belum selesai menghabiskan makanan, jadi maaf kalau kami tidak menuruti perintah Tuan," kata Huang Taiji Lu masih bersabar.
"Brakk …" meja restoran di gebrak hingga patah seketika.
"Berani sekali kalian, apakah kalian sudah memakan nyali harimau? Atau mempunyai nyawa seribu sehingga berani melawan kami heh,"
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan kami Tuan," kata Huang Taiji Lu tenang.
Kedua orang tersebut semakin marah. Seumur hidupnya, baru kali ini ada orang yang berani kurang ajar kepadanya.
"Keluar atau mati?
"Brakk …"
Dua meja di pojok kanan dan kiri hancur berkeping-keping tanpa sebab. Tak ada angin, tak ada hujan. Bahkan tak ada pula yang menyentuhnya, tapi mengapa meja itu bisa hancur?
Chen Li.
Bocah itu ternyata tidak bisa bersabar dan mengendalikan emosinya lebih jauh lagi. Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi segera merembes mengaliri setiap jalan darah tubuhnya.
"Sekali lagi kalian membentak Paman Huang, aku pastikan kalian akan merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya," bentak Chen Li seketika langsung mengeluarkan aura pembunuh.
Huang Taiji Lu sendiri tahu bahwa watak Chen Li ini agak sedikit berangasan. Bocah itu masih belum bisa mengendalikan emosinya, sehingga dia sendiri mewajarkan hal tersebut.
Mau tak mau, dia juga berdiri mendampingi Chen Li.
Kedua Pendekar Dewa tersebut terkejut atas kejadian yang baru saja terjadi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa bocah asing itu ternyata mempunyai kekuatan di luar dugaan.
"Siapa kalian?" tanyanya kepada Chen Li dan Huang Taiji.
Tetapi belum sempat mereka tiba di pintu keluar, dia Pendekar Dewa itu telah menahannya.
"Kalian harus ikut kami, cepat!" bentaknya.
Chen Li ingin membalas bentakan tersebut, namun Huang Taiji lebih dulu memberikan isyarat supaya dia diam.
"Baik Tuan," jawabnya santun lalu ikut dan terima saja meski mereka di dorong secara kasar.
Di halaman yang luas, terlihat puluhan pengunjung tadi sedang berjajar. Mereka semua tertunduk ketakutan. Bahkan beberapa orang ada yang sedang di siksa oleh kelompok tersebut.
Setelah Huang Taiji dan Chen Li memasuki barisan, orang-orang tersebut langsung mengajukan pertanyaan. Siapa yang tidak menjawab, akan mendapatkan siksaan.
Entah itu pukulan, tendangan, ataupun sesuatu yang lebih menyakitkan lagi.
Kematian.
Sudah ada beberapa orang yang tewas di tempat tersebut. Baik Chen Li maupun Huang Taiji, keduanya sudah mulai kehilangan kesabaran mereka.
Apalagi mereka menyaksikan bagaimana kejamnya orang-orang tersebut saat memberikan siksaan tanpa ampun.
__ADS_1
Seorang pendekar kelas bawah mendapatkan beberapa pertanyaan. Dia menjawab sejujurnya, namun di mata orang-orang tersebut, pendekar itu disangka telah melakukan kebohongan.
Sinar putih berkilat terkena sinar matahari. Sebatang golok telah di acungkan lalu diayunkan secepat kilat.
Tetapi sebelum golok tersebut mengenai pendekar tadi, mendadak ada senjata lain yang menahannya.
"Trangg …"
Pedang bersarung biru. Pedangnya belum dikeluarkan, tetapi ketajaman dan kekerasannya sudah bisa digambarkan oleh sarungnya.
Chen Li audah tidak bisa menahan diri lagi. Amarahnya berkobar seperti api neraka.
Begitu benturan terdengar, secepat kilat dia melakukan satu gerakan aneh.
Sangat aneh dan sangat cepat.
Orang yang tadi memegang golok, kini telah terkapar tanpa nyawa. Lehernya hampir putus ditebas oleh pedang pusaka itu.
Semua orang kaget. Sebab tidak ada yang dapat melihat dengan jelas bagaimana dia bisa melakukannya. Hanya Huang Taiji yang mampu melihat bagaimana bocah itu melakukannya.
'Kekuatan Mata Dewa memang benar-benar luar biasa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kekuatan Li'er jika semua Mata Dewa sudah dapat dikendalikan,' batin Huang Taiji sedikit terkejut.
"Siapa kau sebenarnya bocah?" tanya seorang Pendekar Dewa.
"Namaku Chen Li, sebagian orang menyebutku Pendekar Tanpa Perasaan …" jawabnya dingin seperti biasa.
Kalau sedang menghadapi situasi seperti ini, bocah itu pasti akan bersikap dingin.
"Jika di lihat dari luka anggotaku yang tewas, sepertinya kau pelaku yang telah membunuh dua puluh penjaga tanda bukan?"
"Tepat, memang akulah pelakunya. Tetapi bukan aku saja, ada satu lagi,"
"Siapa?"
"Aku …" jawab Huang Taiji Lu lalu maju menghampiri Chen Li.
"Pelaku pembunuhan terhadap anggota kalian sudah ditemukan, bahkan sudah ada di depan mata, sekarang apa mau kalian?" tanya Pendekar Pedang Tombak.
"Aku meminta pertanggungjawaban kalian,"
"Bagaimana kami harus bertanggungjawab?"
"Serahkan nyawa kalian, " bentaknya.
__ADS_1
"Boleh, asalkan kalian mampu," jawab Chen Li sambil mengejek.