Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Han Ciu Ling si Kipas Seribu Bunga


__ADS_3

Bangunan itu menjulang tinggi. Walaupun tidak seluas seperti bangunan lainnya, tetapi keangkerannya cukup untuk membuat orang bergidik. Di atas atap bangunan ada patung kipas baja.


Huang Taiji sudah berdiri di depan gerbang tersebut. Dua orang wanita muda yang cantik membungkukkan badannya lalu menyuruh orang tua itu untuk masuk ke dalam.


"Terimakasih,"


Huang Taiji berjalan santai. Sebuah halaman cukup luas terbentang. Belasan wanita berpakaian kuning sedang berlatih bersama di sana.


Pohon bunga bwee dan bunga sakura memberikan keharuman yang menenangkan.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Huang Taiji tiba di depan pintu. Seorang wanita muda mengajaknya masuk lalu dia di bawa ke sebuah ruangan.


Pintu diketuk pelan. Pintu itu terbuat dari kayu pilihan yang kerasnya bukan main. Namun hanya dengan ketukan pelan, suara yang ditimbulkan ternyata cukup keras juga. Sepertinya wanita cantik yang mengantar Huang Taiji menggunakan tenaga dalam saat mengetuk pintu tersebut.


"Masuk …" sebuah suara terdengar dari dalam.


Suaranya sangat halus. Sangat lembut dan sangat merdu. Bahkan suara itu terdengar seperti suara seorang gadis muda.


Huang Taiji kemudian masuk ke dalam.


Di ruangan tersebut, ada seorang wanita yang memakai jubah warna kuning terang. Rambutnya yang panjang dan hitam dibiarkan terurai sampai ke bawah. Wajahnya sangat cantik. Seperti gadis berusia dua puluh tahun.


Tubuhnya sempurna. Senyumannya merekah indah seperti bunga sakura yang mekar.


"Duduklah," katanya sambil melemparkan senyuman yang sangat menawan hati.


Huang Taiji duduk. Dia belum bicara sepatah kata pun. Setelah diam beberapa saat, orang tua itu mulai berbicara.


"Apakah aku sedang berhadapan dengan guru besar Perguruan Kipas Baja?"


Wanita cantik itu mengangguk pelan. "Tidak salah,"


"Apakah aku boleh tahu siapa nama Nyonya?"


"Namaku Han Ciu Ling si Kipas Seribu Bunga,"


Huang Taiji mengangguk sambil tersenyum. Walaupun baru pertama berjumpa dengannya, tapi dia tahu sampai di mana kelihaian wanita itu.


"Aihh, jadi kau ini rupanya wanita cantik yang katanya selalu membuat jantung pria mana pun berdebar," canda Huang Taiji sambil tertawa.


"Hihihi, Tuan Huang selalu pintar memuji orang,"

__ADS_1


"Aku hanya bicara apa adanya saja. Aku rasa, kau mengundangku bukan untuk bicara seperti ini saja bukan?"


Huang Taiji sudah malas untuk basa-basi lagi. Dia tipe orang yang tidak terlalu suka basa-basi. Apalagi jika sedang menghadapi masalah seperti sekarang.


Dia tidak ingin berlama-lama. Sebab masih banyak urusannya yang belum terselesaikan. Belum lagi dirinya sedikit mengkhawatirkan Chen Li. Bagaimanapun juga, bocah itu masih belia.


"Tepat, memang bukan," jawab Han Ciu Ling.


"Lantas, apa tujuan utama kau mengundangku?"


"Aku rasa kau sendiri sudah tahu,"


"Justru karena belum tahu, maka aku bertanya kepadamu,"


"Emm, baiklah. Aku hanya ingin menanyakan masalah terkait gadis kecil tadi,"


Huang Taiji tidak memperlihatkan ekspresi keterkejutan. Dia sudah menduga bahwa tujuan wanita itu mengundang dirinya adalah untuk membahas hal ini.


Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apa yang akan dia bicarakan selanjutnya?


Han Ciu Ling melanjutkan pembicaraannya kembali, "Gadis kecil itu adalah cucuku. Dia diculik oleh seorang tua bangka. Tiga muridku diutus untuk mengejarnya. Siapa sangka, mereka bertiga malah tewas di tengah jalan. Seseorang mengantarkan sepucuk surat kepada murid penjaga gerbang. Dan dalam surat itu, dikatakan bahwa kau sudah membawa kabur cucuku,"


Saat bicara, mata Han Ciu Ling tidak berkedip menatap tajam ke arah Huang Taiji. Wajah yang tadinya tampak sangat cantik, sekarang justru malah terlihat begitu menyeramkan.


Di posisi Huang Taiji sendiri, dia tertegun mendengar semua pembicaraan Han Ciu Ling. Otaknya berputar cepat. Dia berusaha untuk membaca semua kejadian yang baru saja di alaminya.


"Tunggu, kau bilang tiga muridmu tewas di tengah jalan?"


Han Ciu Ling mengangguk pelan. Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu dalam dirinya.


"Apakah kau sedang bercanda?" tanya Huang Taiji.


"Aku tidak suka bercanda dalam menghadapi semua masalah,"


"Hemm, aneh. Sungguh aneh," gumamnya.


"Apanya yang aneh?"


"Begini, singkatnya, aku memang menemukan seorang kakek tua yang menggendong gadis kecil. Tiga orang wanita yang diduga muridmu sempat bertarung melawan sembilan belas anak buah si kakek tua. Karena ketiganya kewalahan, aku memutuskan untuk turun tangan dan menghajar mereka. Sembilan belas orang itu tewas di tanganku,"


"Kemudian aku juga bertarung dengan kakek tua itu. Setelah beberapa waktu bertarung, aku juga berhasil membunuhnya. Setelah itu aku membuka totokan si gadis kecil. Dia langsung berlari ke arah tiga wanita yang tadi aku sebutkan,"

__ADS_1


"Karena sebelumnya wanita-wanita itu menyebut murid dari Perguruan Kipas Baja, maka aku tidak melarangnya. Bahkan aku langsung pergi dari sana. Tiga wanita itu juga pergi sambil membawanya. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi,"


Huang Taiji menjelaskan singkat kejadian yang baru saja terjadi kepada Han Ciu Ling.


Guru besar Perguruan Kipas Baja itu mengerutkan keningnya. Seakan dia sedang kebingungan terhadap semua cerita Huang Taiji.


"Kau tidak berbohong?"


"Aku rasa kau sudah tahu bahwa aku bukan orang yang suka berbohong,"


"Gawat," ucap Han Ciu Ling tiba-tiba bangkit dari duduknya.


"Apanya yang gawat?"


"Kalau begitu, cucuku diculik oleh tiga wanita itu,"


"Tiga wanita siapa? Bukankah mereka adalah murid yang kau utus?"


"Tentu saja bukan. Kan aku sudah bilang sebelumnya bahwa mereka tewas di tengah jalan,"


"Kau mempunyai sebuah bukti?"


"Tentu. Bahkan jasadnya masih ada sampai sekarang,"


Huang Taiji semakin bingung tujuh keliling. Otaknya diperas untuk mencari sebuah jawaban, sayangnya dia tidak dapat menemukan jawaban apa-apa.


"Aku ingin melihat jasad tiga muridmu," kata Huang Taiji serius.


"Baik,"


Han Ciu Ling membawa Huang Taiji ke belakang perguruan. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak bicara sepatah kata pun. Keduanya sama-sama sedang mencari jawaban dari semua kejadian ini.


Halaman belakang itu cukup luas. Di sana terdapat tiga peti mati yang sebentar lagi siap untuk dikuburkan.


"Ini jasad mereka," kata Han Ciu Ling sambil menunjuk ke tiga peti mati tersebut.


Huang Taiji kemudian berjalan mendekati peti tersebut. Dia membukanya. Begitu dibuka, wajahnya langsung mengkerut.


Dia membuka dua peti lainnya. Hasilnya juga sama. Dia dibuat kaget setengah mati.


Isi dari tiga peti tersebut sangat mirip dengan tiga wanita yang tadi dia temui sebelumnya saat di hutan. Tanpa banyak bicara, orang tua itu mengusap wajah ketiga mayat tersebut.

__ADS_1


Tidak ada bedak. Tidak ada apapun. Jelas, tiga mayat itu adalah tiga murid Perguruan Kipas Baja yang asli.


'Ketiganya benar-benar murid Perguruan Kipas Baja. Dan wajah mereka juga wajah asli. Hemm, kalau begitu, siapa tiga wanita tadi sebenarnya?' batin Huang Taiji bertanya-tanya sambil menerawang jauh.


__ADS_2