Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Taruhan


__ADS_3

Melihat rekannya terluka cukup parah, kesembilan yang lainnya segera menghampiri lalu memberikan satu butir pil kemudian di masukan ke mulutnya.


Si anak gubernur juga terlihat sedikit kaget saat melihat pengawalnya terluka hanya dalam satu kali serangan. Yang membuat dia tidak habis pikir adalah hanya dengan satu kibasan tangan, jurus terkuat pengawalnya bisa langsung berbalik.


Kesembilan pengawal lainnya langsung bergerak maju. Mereka mengurung Li Feng dan Li Cun. Tetapi yang maju hanya lima orang saja. Kelimanya baru mencapai level pelatihan Pendekar Bumi tahap enam awal.


Dengan sombongnya seorang di antara mereka berkata membentak. "Berani sekali kau orang asing. Cepat meminta maaf sebelum kami menurunkan tangan kejam kepada kalian," katanya sok berani.


Padahal dalam hati, mereka sendiri merasa gentar. Sebab mereka tahu bahwa pengawal yang terluka itu merupakan pengawal kedua terkuat. Sedangkan yang bicara barusan, justru anak buah pengawal yang terluka.


"Heh manusia rendahan, jaga mulutmu. Jangan seenaknya saja menghina kakakku. Kau pikir kami takut kepada kalian?" kali ini Li Cun sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Setelah berkata, dia langsung melompat dan berjumpalitan di udara lalu turun tepat dua tombak di depan kelima pengawal itu.


"Bocah tengik, jangan sombong di depan kami. Kau bukan lawan kami," kata seorang pengawal meremehkan Li Cun.


"Hehe, baik, baik. Bagaimana kalau kita taruhan?" usul Li Cun.


"Lanjutkan,"


"Kita bertarung sampai ada yang mengaku kalah di antara kita. Siapa yang kalah, harus segera angkat kaki dari sini. Tapi sebelum itu, kalian harus mencium dulu kaki kami berdua," tantang Li Cun.


Kelimanya tidak langsung menjawab. Mereka sempat ragu beberapa saat, namun seorang di antara mereka tiba-tiba saja menyetujui taruhan tersebut.


"Baik, kami terima taruhanmu. Tapi kalau kami menang, kau harus serahkan juga harta yang kau bawa," katanya.


"Baik, aku setuju," jawab Li Cun.


Mereka segera membentuk sebuah formasi. Kelima pengawal itu mengelilingi Li Cun. Mereka mengurungnya dapat tanpa memberikan celah kosong.


Sementara itu, orang-orang mulai berdatangan ke sana. Baik yang merupakan pendekar, ataupun hanya warga biasa.


Li Feng yang melihat gelagat Li Cun, mau tidak mau tersenyum pula. Dia tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu beberapa bulan saja, ternyata bocah itu sudah memiliki keberanian yang menakutkan.

__ADS_1


"Mulai," teriak seorang pengawal.


Selesai berucap, lima serangan segera datang secara bersamaan. Lima batang pedang menyambar menebarkan hawa kematian. Lima pengawal tersebut memiliki kerjasama yang cukup baik, terlihat dari kekompakan pertama kali mereka menyerang.


Tetapi di samping itu mereka juga harus ingat, bahwa bocah yang kini di hadapi bukanlah bocah sembarangan. Terlihat dari wajahnya yang menggambarkan ketenangan seperti air di danau.


Serangan pun tiba. Lima batang pedang ada yang bergerak menusuk, ada pula yang berniat membelah kepalanya. Dua lainnya menyabaet dari arah kanan dan kiri. Sedangkan yang satu bergerak cepat menusuk jantung dari arah punggung belakang.


Mendapat serangan rapat seperti ini, Li Cun tidak panik. Dia justru memutar tubuhnya lalu melompat tinggi ke udara. Begitu serangan luput, tubuhnya langsung mengirimkan pukulan jarak jauh yang lumayan dahsyat.


Gelombang energi putih transparan terlihat berkilau keluar dari telapak tangan Li Cun.


Serangan bocah itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi mereka sudah paham bahwa lawan mempunyai kekuatan lain daripada yang lain.


Mendapatkan serangan jarak jauh seperti itu, kelima pengawal itu mencoba untuk menangkis serangan menggunakan pedang mereka.


"Trangg …"


Pedang mereka berbenturan dengan pedang rekannya sendiri ketika mencoba untuk menahan pukulan jarak jauh Li Cun. Sedangkan tubuh mereka sendiri tersentak tiga langkah ke belakang.


Li Cun tidak tinggal diam saja saat mendapati serangan seperti itu, dia langsung segera mencabut seruling giok hijau.


Dalam sekejap mata, keenam orang itu sudah bertarung dengan sengit. Kilatan pedang memenuhi langit. Sinar dari jurus mereka menambah pertarungan terlihat lebih indah dipandang mata.


Orang-orang yang melihat kejadian ini mulai riuh. Mereka juga bertaruh bersama rekan-rekannya sendiri. Ada yang bertaruh puluhan bahkan ratusan emas.


Di antara yang taruhan itu, ternyata lebih banyak yang memihak kepada lima pengawal. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan percaya jika seorang bocah mampu mengalahkan lima pengawal. Apalagi mereka mempunyai kekuatan yang memang lumayan.


Harus Li Cun atau Chen Li akui bahwa jika kekuatan mereka lebih tinggi lagi, maka tidak akan ada kesempatan untuk menang bagi dirinya. Untung saja level latihan kelimanya berada di bawah dia sendiri. Meskipun sulit, tapi dia yakin bisa mengalahkan mereka dengan jurus mautnya.


Tetapi meskipun begitu, tetap saja dia harus berhati-hati sekali. Apalagi kelima pengawal menyerang secara berbarengan tanpa kenal lelah.


Mendapat serangan beruntun seperti hujan badai di siang hari, mau tidak mau Li Cun harus mengeluarkan jurusnya pula. Dia melompat ke belakang mengambil ancang-ancang lalu kembali maju menyerang.

__ADS_1


"Menggempur Harimau di Hutan …"


"Wushh …"


Jurus ketiga dari Kitab Seruling Pencabut Nyawa keluar. Li Cun mengubah gaya bertarungnya. Dia berkelebat seperti sebuah bayangan di kegelapan malam. Tangan kanannya memutarkan seruling giok hijau. Tak jarang seruling itu menahan serangan semua lawan. Suara bertemunya benda keras terdengar sepanjang pertarungan.


Kali ini lima pengawal dibuat lebih kaget lagi. Bahkan orang-orang yang bertaruh pun sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata bocah kecil itu mampu mendesak lima lawan yang usianya jelas sangat jauh.


"Trangg …"


"Trangg …"


Suara benturan terjadi tanpa henti. Li Cun semakin bergerak cepat. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa membalikan keadaan. Dalam jurus kedua puluh enam, Li Cun sudah benar-benar berada di atas angin.


Semua gerakan lawan dia tutup. Semua serangan serentak dia pangkas di tengah jalan. Hanya dengan satu jurusnya, dia berhasil memberikan pukulan dan sodokan seruling kepada masing-masing lawan.


"Haaa …"


"Wushh …"


Hembusan angin keluar berbarengan saat seruling disabetkan. Angin itu mementalkan kelima pengawal tanpa ampun. Kelimanya jatuh bergulingan dengan darah keluar dari mulutnya masing-masing.


Begitu lima pengawal terpental, Li Cun segera menghentikan serangannya. Ia berdiri kembali degan tenang. Serulingnya masih tergenggam erat di tangan kanan.


"Hehehe, bagaimana? Kalian sudah mengaku kalah atau mau mencoba lagi?" tanyanya penuh ejekan.


Di saat seperti itu, tiba-tiba saja sebuah pisau perak meluncur deras ke arahnya. Pisau perak itu berasal dari empat pengawal yang dari tadi melihat pertarungan.


Tapi sebelum pisau perak menyambar tubuh Li Cun, tiba-tiba saja pisau itu berhenti meluncur karena satu sosok telah menjepitnya.


Li Feng!


Dia sudah turun tangan. Hanya dengan dua jari, pisau perak yang meluncur sangat kencang pun berhasil dia tangkap. Dan hanya menggunakan dua jari pula, pisau itu patah jadi dua bagian.

__ADS_1


Kalau golok mungkin masih bisa dianggap wajar karena panjangnya sehingga tenaga bisa di atur. Tapi kalau pisau kecil, bagaimana caranya? Hanya orang-orang berilmu tinggi yang mampu melakukan hal seperti itu.


Tanpa sadar, pelempar pisau tadi merasa ketakutan dibuatnya.


__ADS_2