Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kabar Menggemparkan


__ADS_3

"Besok aku akan memulai rencana ini," jawabnya sangat senang karena rencananya berhasil.


Orang tua itu sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Dia sangat yakin kalau rencananya pasti akan berhasil. Bahkan kalau tidak sekalipun, dia akan tetap mencari ribuan cara lainnya supaya rencananya dapat berjalan.


Pada dasarnya Hong Hua memang orang yang sangat pandai bicara. Dia terkenal sebagai ahli dalam negosiasi dan segala macam hal yang berhubungan dengannya.


Dulu, dia juga pernah bicara sesuatu dengan Kaisar. Dan hebatnya lagi, dia berhasil melancarkan aksinya.


Kalau Kaisar saja berhasil dia taklukan, masa seorang pemuda asing yang pengalamannya masih kurang tidak berhasil. Kalau sampai terjadi demikian, bukankah hal itu sangat memalukan?


Lain Hong Hua, lain lagi Pendekar Merah. Kalau orang tua itu berpikir bahwa dirinya berhasil, tapi bagi Pendekar Merah justru sebaliknya.


Pemuda yang merupakan anak dari Pendekar Halilintar tersebut setuju karena dirinya mempunyai beberapa alasan. Dia menyetujui rencana Hong Hua salah satunya karena Chen Li sadar bahwa kemampuannya saat ini belum mencapai puncak kesempurnaan.


Dia baru akan menuju ke puncak kesempurnaan, bukan sudah ada di posisi puncak kesempurnaan.


Kalau sekarang Chen Li memaksakan diri untuk melawan hampir seluruh tokoh aliran sesat yang ada di Kekaisaran Sung, tentu saja dia tidak akan sanggup. Hal itu sama saja dengan mengantarkan kematian sendiri.


Berbeda kalau posisinya sudah di atas. Pada saat itu, dia sudah mempunyai bakal yang lebih dari cukup. Baik itu dari kemampuan, maupun pengetahuan.


Sedikit banyaknya, Chen Li sudah mengetahui bahwa bola matanya berbeda dengan manusia lainnya. Pemuda itu tahu karena beberapa waktu lalu Huang Taiji menjelaskannya sendiri. Sekarang dia sadar betul bahwa dirinya istimewa.


Di antara sekian banyak manusia istimewa lainnya, mungkin hanya dia sendiri yang paling istimewa.


Oleh sebab itulah saat mendapati rencana Hong Hua cukup memberikan untung baginya, tentu saja dia tidak mau menyia-nyiakan hal tersebut.


Pendekar Merah adalah pemuda yang kecerdasannya di atas rata-rata. Sudah tentu dia pun mempunyai rencana tersendiri yang sengaja tidak diungkapkan.


Untuk sementara, biarlah pihak lawan merasa menang dan berbangga diri. Tapi suatu saat nanti, Pendekar Merah akan melakukan sebuah hal yang mungkin jauh lebih menggemparkan lagi.

__ADS_1


"Baik, setuju. Besok kita akan memulai rencana itu," ujar Chen Li sambil melemparkan sebuah senyuman.


Hong Hua tertawa kembali. Sedangkan Pendekar Merah hanya tertawa pelan. Keduanya kemudian bersulang arak sebagai tanda kedua belah pihak telah setuju.


"Ternyata kau mudah diajak bekerja sama. Siapapun pasti tidak akan menyangka bahwa Pendekar Merah adalah tipe orang yang seperti ini," kata Hong Hua sengaja ingin membuat pemuda itu senang.


"Selama sama-sama memberikan untung, kenapa tidak? Setiap manusia pasti ingin untung, sayangnya sedikit dari mereka yang mau rugi sementara,"


"Sekalipun hanya sementara, memangnya ada manusia yang mau rugi?"


"Tentu saja ada,"


"Manusia seperti apa?"


"Dia adalah tipe manusia yang sabar. Dia sabar menanggung kerugian beberapa waktu sebelum akhirnya mendapatkan sebuah keuntungan yang jauh lebih besar lagi," kata Chen Li si Pendekar Merah.


Pemuda itu berkata demikian karena sengaja hanya untuk mengingatkan dirinya. Dia harus sabar. Dia pun harus rela menanggung rugi untuk beberapa saat, dirinya akan dikatakan telah tewas.


Hari hampir pagi. Restoran juga semakin sepi lagi. Kedua tokoh itu telah menyatakan persetujuannya. Besok siang, Hong Hua dan Pendekar Merah akan melancarkan rencana yang sudah disusun dengan matang.


###


Hari sudah siang. Kehidupan di Kota Qinghai lebih ramai dari hari-hari sebelumnya.


Hong Hua sedang berada di sebuah ruangan besar di gedung cukup megah. Dia sengaja menyewa tempat tersebut hanya demi untuk melangsungkan rencananya bersama Pendekar Merah.


Kedua belah pihak ada di ruangan itu. Pendekar Merah tampil dengan penampilan baru. Dia memakai jubah serba hitam dengan kerudung hitam pula. Sepasang topeng hitam pun menutupi seluruh bagian wajahnya.


Pemuda itu telah setuju untuk tidak menampakkan diri. Pendekar Merah ingin menyaksikan bagaimana reaksi orang-orang dunia persilatan, khususnya aliran hitam, karena kabar kematian dirinya.

__ADS_1


Apakah mereka akan merasa sangat senang? Ataukah mereka biasa saja saat mendengar kabar tersebut?


Waktu yang telah ditentukan hampir tiba.


Puluhan atau bahkan ratusan tokoh dunia persilatan telah hadir di sana. Para pendekar aliran sesat juga ada. Mereka datang setelah menerima kabar dan pengumuman yang sengaja disebar di berbagai penjuru sudut tempat.


Lapangan yang luasnya ratusan meter itu telah dipadati oleh orang-orang tersebut. Mereka rela berdesakan hanya untuk melihat dan menyaksikan apakah kabar terkait Pendekar Merah yang telah tewas itu, benar atau tidak.


Sebagai tokoh dan pendekar dunia hitam, tentu saja orang-orang tersebut merasa sangat gembira. Pendekar Merah sudah menggemparkan kalangan mereka, sekarang kalau benar orang itu mampus, sudah tentu mereka akan bersyukur.


Hong Hua berjalan keluar dengan langkah ringan dan tenang. Dia memakai pakaian kesukaannya. Orang tua itu, meskipun usianya sudah lanjut, namun dia masih suka tampil bermewah-mewahan.


Baginya, bisa tampil mewah adalah suatu kebanggaan tersendiri.


Di belakang Hong Hua ada tiga orang yang selalu mengikutinya. Salah satu di antara mereka adalah Pendekar Merah adanya.


Keempat orang tersebut berjalan lalu naik ke atas mimbar yang sudah disediakan di sana.


Keadaan sepi sunyi. Sekalipun banyak sekali orang yang hadir, namun pada saat ini, seperti tidak ada siapapun di sana. Kalau saja ada orang buta, niscaya dia akan menganggap bahwa di sana hanya ada dirinya seorang.


Sebab semua orang bungkam. Mereka menutup mulut serapat mungkin. Bahkan rasanya bernafas pun tidak.


"Selamat siang semuanya, aku rasa kita tidak perlu basa-basi lagi. Hari ini aku akan memberikan suatu pengumuman yang pastinya akan menggemparkan. Kabar ini menjadi suatu kebahagiaan bagi kita yang sealiran. Seperti yang terdapat di pengumuman yang tersebar di setiap sudut kota, Pendekar Merah, si pemuda yang menghancurkan markas Organisasi Elang Hitam, sekarang telah mampus. Malam kemarin aku bertarung dengannya di suatu hutan belantara. Setelah bertarung ratusan jurus, akhirnya aku bisa membunuh dia. Pendekar Merah tewas secara mengenaskan," kata Hong Hua kepada semua orang tersebut.


Dia tidak suka basa-basi. Karena itulah dirinya langsung bicara kepada pokok permasalahan.


Semua orang menatap rekannya masing-masing. Mereka percaya tidak percaya, alasannya tentu saja karena belum ada bukti.


Hong Hua mengetahui hal tersebut, oleh sebab itu dia langsung memberikan bukti kepada mereka.

__ADS_1


Pendekar Merah maju ke depan. Kebetulan dia memegang nampan berisikan pakaiannya.


"Coba lihat, bukankah ini pakaian yang biasa dikenakan oleh Pendekar Merah? Bukankah ini juga topengnya? Nah, semua ini sengaja aku bawa agar kalian lebih percaya atas apa yang aku ucapkan. Sekarang Pendekar Merah sudah mampus, saat ini dia telah menjadi santapan siluman pemakan bangkai," kata Hong Hua dengan suara yang sangat lantang.


__ADS_2