Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menyelidiki Hutan


__ADS_3

Sementara itu, Maling Sakti Hidung Serigala juga tidak kalah garangnya dengan Shin Shui ataupun Chen Li. Meskipun kedua siluman tersebut berkekuatan setara Pendekar Dewa tahap tiga, namun semua itu tidak ada apa-apanya bagi dia.


Alasannya adalah karena pertama, lawan yang sedang dia hadapi bukanlah manusia. Sekalipun mereka bangsa siluman, tetapi masih tetap lebih baik bangsa manusia. Selain itu, Maling Sakti juga sudah sangat berpengalaman kalau masalah bertarung melawan siluman.


Entah sudah berapa pertarungan dan berapa banyak nyawa siluman yang telah dia bunuh. Meskipun Maling Sakti selalu bertarung dengan tangan kosong, bukan berarti dia tidak mahir dalam bermain senjata apapun.


Justru sebaliknya, kalau dia sudah menggunakan senjata andalannya yang berupa tombak pedang, maka bisa dipastikan lawannya akan keteteran.


Senjatanya memang terbilang unik. Bahkan sangat unik. Sangat jauh berbeda dengan senjata pada umumnya.


Bagian depan berupa pedang. Sedangkan ke belakangnya berupa tombak. Dua macam mata tajam dalam satu bentuk. Sehingga dalam waktu tertentu, Maling Sakti mampu menyerang dengan jurus berbeda sekaligus.


Seperti sekarang ini, menghadapi gempuran dua siluman harimau emas, senjata yang dia beri nama Pedang Langit Tombak Bumi, sudah turut dikeluarkan.


Kalau senjatanya sudah keluar, maka keadaan akan segera berubah. Dan gaya bertarung serta jurus yang akan dikeluarkan pun pastinya jauh berbeda.


Dua siluman harimau emas melompat cepat untuk menerkam dirinya. Yang satu dari arah depan, satu lagi dari arah belakang.


Gerakannya tidak kalah cepat dengan terjangan angin topan. Baru saja Maling Sakti mendapatkan posisi, dua gempuran serangan sudah menyerangnya kembali.


Bahkan kali ini bukan hanya sebuah serangan berupa terkaman saja, melainkan diikuti juga dengan suara auman hebat sekaligus mulut yang terdapat dua taring tajam di depan, sudah siap untuk mencabik-cabik tubuh Maling Sakti hingga hancur.


Namun yang menjadi lawan dua siluman harimau emas tersebut juga bukan orang sembarangan. Kekuatannya telah diakui oleh kalangan pendekar, sehingga ketika mendapatkan serangan seperti itu, Maling Sakti tidak merasa gentar.


Secepat kilat dia menghimpun tenaga dalam hebat. Detik selanjutnya senjata unik yang dia miliki sudah dimainkan.


Pedang dan tombak yang bersatu tersebut dia putarkan dengan sangat cepat sehingga mengeluarkan pusaran angin. Debu dan daun tertarik menjadi satu dalam pusaran.


Hanya dalam gerakan kilat, jurus yang dia siapkan telah sempurna.

__ADS_1


Serangan dari dua siluman harimau emas tiba. Bersamaan dengan hal tersebut, si Maling Sakti Hidung Serigala juga menyabetkan senjatanya sehingga pusaran yang dibentuk karena permainan senjata, telah melesat menyambut dua siluman.


Kedua jurus sama-sama cepat dan hebat. Kedua jurus itu bertemu di tengah jalan sehingga terjadi sebuah benturan yang cukup keras.


"Blarrr …"


Gelombang kejut menyapu tempat sekitar. Dua siluman harimau emas terpental. Mereka merasakan sakit karena organ dalamnya terluka akibat kekalahan saat beradu jurus.


Maling Sakti tidak tinggal diam. Dia segera melesat ke arah dua siluman itu. Begitu tiba di dekatnya, Yang Lin segera melancarkan serangkaian jurus maut.


Satu ekor siluman harimau tewas karena dia gorok lehernya. Sedangkan yang satunya lagi tewas karena dua tusuk bagian perutnya hingga tembus.


Kedua siluman langsung terkapar tak berdaya. Selang sesaat, keduanya telah tewas.


Pertarungan Chen Li juga sudah hampir menemui akhir. Pertarungan bocah ini terkesan lebih lama dan sedikit sulit. Alasannya karena siluman yang menjadi lawan, tingkatannya berada di atas dia sendiri.


Menjelang jurus ke tiga puluh sembilan, Chen Li berteriak nyaring lalu menghimpun tenaga dalam.


Seruling dan pedang yang dia genggam mengeluarkan aura cukup besar. Kedua senjata pusaka itu telah menyala cukup terang.


Saat itu, siluman harimau emas sedang berlari dan melompat ke arahnya siap untuk melancarkan serangan.


Kali ini Chen Li sudah siap. Begitu harimau tersebut tiba di depannya, Chen Li bergerak.


Gerakan yang lumayan cepat dan penuh keyakinan. Seruling bergerak menotok dan menghantam sebagian titik lemah lawan. Sedangkan Pedang Awan telah bergerak menyabet dan menusuk ke segala arah.


Pertarungan sengit kembali terjadi untuk beberapa saat. Namun yang sekarang tidak berjalan lama seperti tadi, sebab saat ini Chen Li sudah berhasil menguasai pertarungan.


Hanya dalam enam jurus kemudian, siluman harimau emas tersebut kini telah tewas tanpa kepala. Kepalanya ditebas oleh Pedang awan. Sedangkan organ dalamnya hancur karena di totok seruling giok hijau miliknya.

__ADS_1


Setelah mengalahkan siluman harimau emas, Chen Li segera mengambil mustika yang ada di tengah kepalanya. Kemudian dia segera menghampiri Maling Sakti Hidung Serigala untuk menyerahkan mustika tersebut sekaligus menyaksikan pertarungan ayahnya yang jauh lebih hebat dari pada pertarungan mereka berdua.


Walaupun kekuatan si pemimpin siluman harimau emas belum menyamai Shin Shui, tapi setidaknya pertahanan yang dia miliki terbilang tangguh. Sangat kokoh.


Pendekar Halilintar tidak mau berlama-lama. Masih banyak urusan yang harus dia segera selesaikan. Salah satunya adalah menyelidiki hutan ini, lalu melanjutkan perjalanan kembali untuk menyelamatkan istrinya dan para tetua Sekte Bukit Halilintar.


"Tapak Penghancur Gunung …"


"Wushh …"


Jurus tapak kelas atas sudah Shin Shui lancarkan. Sebuah gelombag energi menyatu bersama tanah yang menggulung melesat ke arah dua lawan.


Si pemimpin dan rekannya tahu bahwa jurus yang dilancarkan oleh manusia itu bukanlah jurus sembarangan.


Sehingga mereka sendiri tidak mau menahannya secara langsung. Dengan mengeluarkan jurus jarak jauh yang tidak kalah hebat, dua siluman itu melancarkan jurusnya ke arah Shin Shui.


Benturan jurus dahsyat kembal terjadi seperti sebelumnya. Bedanya, benturan kali ini berefek lebih hebat lagi. Pohon yang berada di sekitar tempat pertarungan langsung tumbang karena ssking kerasnya hentakkan gelombang kejut.


Yang lebih hebat lagi, ternyata dua siluman tersebut sudah terkapar tanpa nyawa dengan luka yang berbeda antara satu dengan lainnya. Entah kapan dan bagaimana caranya Shin Shui bisa melakukan hal tersebut.


Bahkan penulisnya sendiri tidak tahu bagaimana Pendekar Halilintar melakukannya. Terlebih lagi, dia sekarang sudah tepat berada di belakang bangkai dua siluman.


Kecepatannya dalam bergerak sungguh sangat mengaggumkan. Rasanya di dunia ini, jarang ada yang mampu menyamainya.


Shin Shui segera mengambil juga mustika siluman. Bukan untuk dia, tetapi untuk anaknya. Dia sendiri jelas sudah tidak membutuhkan hal-hal seperti itu, karena Shin Shui yang sekarang sudah berbeda jauh dengan yang dulu.


"Kakak Yang, kita segera selidiki hutan ini. Aku yakin ada keganjilan di dalamnya," ajak Shin Shui kepada Maling Sakti.


Yang di ajak tentu sangat senang. Memang dia sudah penasaran, ingin mengatahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena menurut keduanya, kemunculan kawanan siluman harimau emas memang terasa ganjil.

__ADS_1


__ADS_2