
Dia melangkah perlahan lalu kemudian menghampiri Chen Li yang terlihat masih keheranan.
Chen Li memang heran, baru kali ini Huang Taiji Lu seperti itu.
"Apa yang terjadi kepada Paman?" tanyanya setelah jarak mereka dekat.
"Tidak ada Li'er, lupakan saja. Tadi Paman terlalu emosi sehingga sedikit membentakmu," kata Pendekar Pedang Tombak lalu mengelus kepalanya.
Chen Li sebenarnya tahu bahwa pamannya menyimpan suatu rahasia. Terlihat dari raut wajahnya yang sedikit cemas. Tetapi untuk bertanya lebih jauh, dia tentu tidak berani. Dan hal itu termasuk sesuatu yang tidak sopan.
"Baiklah kalau begitu,"
Para warga sekitar langsung keluar dari tempat persembunyian mereka setelah melihat pertarungan dahsyat itu selesai. Berbondong-bondong warga mendekati dua penyelamat desa mereka.
"Terimakasih Tuan. Terimakasih Tuan Muda, kalian adalah Dewa penyelamat desa kami," kata orang tua yang beberapa waktu lalu pernah ditemui oleh Chen Li dan Huang Taiji di rumahnya.
"Tuan jangan terlalu sungkan. Kita memang ditakdirkan untuk saling membantu," jawab Huang Taiji Lu sambil memberikan senyum.
"Tuan-tuan ini memang orang yang berbudi luhur,"
Karena urusan telah selesai, maka kedua orang tersebut langsung pamit saat itu juga.
"Tuan, kami pamit undur diri. Masih banyak persoalan yang harus kami selesaikan," ujarnya sambil menjura.
"Tapi Tuan, kami belum memberimu imbalan …"
"Tidak usah. Pakai saja untuk merenovasi kembali desa kalian," kata Chen Li memotong pembicaraan orang tua itu.
"Baiklah kalau begitu Tuan Muda. Sekali lagi terimakasih,"
Mereka menjura memberikan hormat. Chen Li bersama Huang Taiji Lu langsung pergi dari sana tanpa berlama-lama lagi.
__ADS_1
Para warga baru berdiri lagi setelah dua orang penolongnya menghilang ditelan kegelapan malam.
Sekarang desa tersebut telah aman dari gangguan. Apalagi Huang Taiji sudah memberikan surat kepada Shin Shui untuk menyuruh para murid menjaga di sana. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, bantuan akan tiba di desa tersebut.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Sekte Seribu Iblis. Mereka mempercepat langkah di perjalanan karena keadaan mulai bertambah gawat.
Tiga minggu telah berlalu, sekarang Chen Li dan Huang Taiji baru saja tiba di sebuah kota yang cukup besar. Kota itu berdekatan dengan beberapa sekte besar. Salah satunya dengan Sekte Teratai Putih dan Sekte Serigala Putih. Jarak untuk menuju ke kedua sekte terbesar itu sekitar satu minggu perjalanan.
Keduanya telah menyewa sebuah kamar di penginapan mewah. Waktu baru saja siang hari, tetapi tubuh mereka terasa sangat lelah.
Huang Taiji Lu memutuskan untuk beristirahat. Sedangkan Chen Li memilih untuk pergi sekedar melihat-lihat keadaan kota tersebut.
Apalagi menurut kabar yang mereka dengar, kota tersebut mempunyai pemandangan alam yang lumayan indah. Banyak para pelancong yang sengaja datang ke sana.
"Jangan terlalu jauh Li'er. Paman tidur dulu," kata Huang Taiji langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk.
"Baik Paman. Li'er hanya ingin melihat matahari terbenam saja sambil jalan-jalan. Berdua terus sama Paman bosan ah," katanya sambil tertawa.
"Kurang ajar," balas Huang Taiji sambil tertawa. "Sudah sana, sana pergi. Hushh,"
"Hahaha …" Huang Taiji tertawa terbahak-bahak.
Chen Li langsung keluar. Dia berjalan-jalan ke tengah kota atau pasar yang terdapat di sana. Keadaan sangat ramai sekali. Terdapat banyak pendekar yang berlalu lalang. Ada juga tentara yang sengaja dikirimkan oleh pemerintah.
Bocah itu menyusuri ke beberapa tempat. Dia mampir juga ke restoran untuk membeli arak dan perbekalan untuk di perjalanan nanti.
Setelah puas melihat seisi kota, Chen Li kemudian berniat untuk menuju ke sebuah hutan yang katanya di sana ada sebuah lembah tempat biasa para pelancong menikmati indahnya matahari terbenam. Jaraknya cukup lumayan jauh, tetapi itu semua bukanlah masalah berarti.
Di perjalanan saat hendak ke hutan, Chen Li melihat ada sebuah rumah mewah. Rumah itu berukuran besar dengan bentengnya yang tinggi kokoh. Keadaan di sana sangat ramai.
Banyak orang-orang berbondong-bondong untuk masuk ke sana. Entah apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Namun hal tersebut membangkitkan rasa penasaran salam diri bocah itu. Dia berjalan ke sana lalu menyelinap di antara kerumunan orang-orang.
Ternyata itu adalah rumah Walikota. Di tengah halaman luas terdapat salib. Di tengah salib tersebut, ada seorang gadis seusianya yang sedang berada dalam keadaan terikat.
Di pinggang gadis itu terdapat sebatang kipas berwarna merah muda. Sama seperti warna pakaian yang dia kenakan sekarang.
Orang-orang di sana ternyata sama penasaran. Mereka juga belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga ada seorang gadis di tiang salib.
Keadaan gadis tersebut sungguh membuat hati pilu. Pakaiannya penuh noda darah. Wajahnya pucat pasi layaknya mayat. Sepertinya dia kehabisan darah.
Chen Li sudah berada di posisi paling depan. Dia bisa melihat semuanya dengan jelas sekarang.
Di belakang si gadis, terdapat banyak sekali tentara yang memegang busur panah. Ada juga puluhan pendekar yang memakai senjata bermacam-macam.
Di tengah-tengah orang tersebut ada sepasang pria dan wanita. Usianya sekitar empat puluhan tahun. Pakaiannya mewah mulai dari atas sampai bawah.
Namun walaupun begitu, bisa dipastikan bahwa keduanya mengerti tentang ilmu silat dan tingkat kekuatan.
Chen Li belum bergerak sama sekali. Dia masih menunggu dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Meskipun dia menaruh belas kasihan kepada gadis seusianya, tetapi bagaimanapun juga dia harus tahu perkaranya dengan jelas.
"Saudara sekalian, bisa kalian lihat bahwa di hadapan kita sekarang ada seorang gadis. Walaupun usianya masih sangat belia, tetapi apa yang telah dia lakukan justru tidak nampak seperti yang dilakukan oleh anak seusianya. Dia telah berani memukuli Tuan Muda Xing Zhong, anak dari Walikota Xing Juan. Selain itu, menurut Tuan Muda Xing Zhong, setan kecil ini juga telah berani mengatakan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Walikota Xing Juan. Ini sebagai contoh bahwa siapapun yang berani terhadap pejabat negara, pasti akan diberikan hukuman yang berat," kata seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun.
Para warga yang berkumpul di sana langsung riuh. Mereka percaya tidak percaya atas yang diucapkan oleh pria itu. Mereka saling pandang. Ada yang mengangkat alis, mengangkat bahu, bahkan ada juga yang menggelengkan kepalanya.
Semua itu menjadi tanda bahwa para warga tidak percaya sepenuhnya atas apa yang diucapkan si pria barusan.
Termasuk juga dengan Chen Li. Bocah kecil itu bahkan sedikitpun tidak percaya kepada ucapannya. Alasannya karena dia sudah dapat menebak bahwa di balik semua ini, pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Atau kalau tidak, ada rencana yang sedang mereka jalankan.
Apalagi ketika Chen Li melihat ekspresi wajah sepasang pria dan wanita serta pemuda berusia sembilan sembilan belas tahun yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Senyuman mereka penuh kelicikan dan penuh kemenangan.
Hal itu menjadi dasar Chen Li untuk semakin tidak percaya atas semua ucapan si pria tadi.