Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Hong Hua


__ADS_3

Mendengar perkataan itu, si kakek tua tambah bersemangat. Belum juga Chen Li menyuruhnya untuk makan, kakek tua tersebut telah lebih dulu menyambar makanannya.


Chen Li sendiri tidak melarang. Dia justru malah tersenyum saat melihat orang tua itu makan dengan lahap.


"Mari, mari, jangan sungkan. Silahkan ikut makan," katanya dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan.


Chen Li ingin tertawa geli mendengar ucapan itu, hanya saja dia lebih suka untuk menahannya. Bukankah makanan itu adalah miliknya? Lantas, kenapa si kakek tua malah berkata demikian?


Karena tidak mau membuat malu si kakek, akhirnya Pendekar Merah pun ikut makan. Keduanya makan bersama dengan lahap. Hanya beberapa belas menit, makanan yang cukup banyak itu telah habis seluruhnya.


Setelah selesai menyantap makanan, kedua orang itu langsung menyambar masing-masing satu guci arak. Mereka bersulang lalu segera menenggaknya.


Si kakek tua tiba-tiba terkejut saat menyadari ternyata pemuda yang sudah menolongnya itu sangat doyan arak. Bahkan takarannya dalam minum arak jauh di atas pemuda yang seusia dengannya.


"Ternyata kau setan arak," ujarnya setelah berhenti menenggak guci arak itu.


Chen Li pun turut berhenti. Dia menelan saliva sebelum menjawab ucapan si kakek tua. "Aku belum menjadi setan arak. Mungkin baru mau," jawabnya tertawa.


Si kakek tua tertawa lantang. Begitu juga dengan Chen Li.


Chen Li hobi minum arak. Kakek tua itu juga sama. Di dunia ini, terkadang hanya karena sebuah hobi, seseorang biasanya bisa lebih cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya.


"Ngomong-ngomong siapakah nama Kakek?" tanya Chen Li tanpa basa-basi lagi.


Bocah itu lebih suka bicara langsung ke tujuannya. Dia tidak suka banyak basa-basi. Karena itulah, Chen Li langsung menanyakan namanya tanpa banyak tedeng aling-aling.


"Orang-orang biasa menyebutku Hong Hua," kata si kakek tua yang ternyata bernama Hong Hua.


Chen Li terbengong sesaat. Dia baru mendengar nama itu, sebelumnya, bocah tersebut sama sekali tidak pernah mendengar nama tokoh yang berjuluk Pukulan Batu. Alasannya tentu karena Pendekar Merah baru melihat dunia luar lagi setelah tiga tahun berdiam di Lembah Ketenangan.


Tapi meskipun begitu, Chen Li tidak mau menunjukkan ketidaktahuannya, dengan segera bocah itu langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Ternyata Kakek seorang tokoh besar," puji Chen Li penuh hormat.

__ADS_1


"Kau terlalu memujiku anak muda. Aku bukan siapa-siapa di dunia persilatan," jawabnya merendah.


Saat Chen Li berpaling, tiba-tiba saja kakek tua itu tersenyum. Senyuman yang simpul namun terlihat mengandung arti tersendiri.


"Sebenarnya, kenapa Kakek Hong bisa terluka dalam?" tanya Chen Li penasaran terkait kenapa si kakek tua bernama Hong Hua itu bisa mengalami luka.


"Ceritanya cukup panjang. Aku ada satu permintaan, entah apakah kau bisa mengabulkan atau tidak,"


"Kalau boleh tahu, permintaan apakah itu?" tanya Chen Li memandang penuh selidik.


Hong Hua termenung sesaat, kemudian dia menghela nafas dalam-dalam.


"Aku ingin kau mengantarkanku ke suatu tempat di mana aku tinggal. Apakah kau sanggup?"


"Di manakah tempat itu?"


"Tempat itu berada si sebelah Tenggara Kota Qinghai,"


Chen Li merenung, dalam hatinya dia bertanya-tanya. Kalau memang tempat itu adalah rumah bagu Hong Hua, lantas kenapa kakek tua itu mintar diantar? Karena tidak bisa menahan rasa penasaran, akhirnya bocah itu berniat untuk langsung menanyakannya.


"Kau kan tahu sendiri, aku baru saja sembuh dari luka dalam. Kalau aku sehat, tentunya sendiri pun aku bisa pulang ke sana. Tapi sekarang keadaannya lain lagi, bagaimana jika aku pingsan atau bahkan mati di tengah jalan?"


Chen Li terdiam. Apa yang dikatakan oleh Hong Hua memang tidak salah. Perkataan kakek tua itu sangat masuk akal dan sangat beralasan.


"Kalau begitu baiklah. Kapan kita akan pergi ke sana?" tanya Chen Li setelah merenung beberapa saat.


"Lebih cepat lebih baik,"


"Hemm, kalau begitu sekarang juga kita segera berangkat ke sana," ujar Chen Li.


Dia tidak mau menunda waktu. Terlebih lagi waktunya sekarang sangat terbatas, kalau tidak buru-buru, sudah tentu dia tidak akan melakukan kegiatan lainnya.


"Jika memang itu yang kau mau, baiklah. Kita berangkat sekarang juga," jawab Hong Hua.

__ADS_1


Chen Li langsung bangkit berdiri. Hong Hua juga melakukan hal yang sama. Mereka segera bersiap-siap, setelah itu, dua orang yang terpaut usia cukup jauh tersebut langsung berangkat ke tempat yang dituju. Mereka langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh agar segera sampai di sana.


###


Bangunan itu sangat megah. Dari luar saja kemegahan itu sudah tampak dengan sangat jelas. Luas bangunan tersebut sekitar ratusan meter. Dinding tembok setinggi tiga meteran mengelilingi seluruh bagian bangunan.


Berbagai macam tanaman bunga tumbuh mekar dengan indah di setiap sudut. Pepohonan yang menulang tinggi turut mengelilingi bangunan tersebut.


Hawa sejuk terasa menerpa tubuh. Bau harum terasa sangat memanjakan indera penciuman.


Pendekar Merah dan Hong Hua berjalan dengan santai. Keduanya berjalan semakin mendekat ke bangunan yang dimaksud. Langkah mereka amat tenang dan mantap. Hong Hua memimpin perjalanan. Chen Li mengikutinya dari belakang.


Tidak lama kemudian, keduanya tiba di hadapan sebuah pintu gerbang. Gerbang itu terbuat dari kayu hitam pilihan yang sangat kuat dan kokoh. Di depan gerbang itu ada tiga orang penjaga.


Mereka mengenakan pakaian hitam pekat. Wajahnya juga ditutupi dengan cadar hitam. Sepasang matanya sangat tajam seperti mata burung elang. Tapi saat sepasang mata mereka bertemu dengan mata Hong Hua, ketiganya langsung tunduk. Mereka menundukkan kepalanya serendah mungkin.


"Buka gerbang," kata Hong Hua sengan tegas. Suaranya terdengar sangat berwibawa sekali.


Tanpa harus diperintah dua kali, dua orang di antara mereka langsung membuka pintu gerbang tersebut.


Hong Hua kemudian menengok ke belakang ke arah Chen Li. Dia memberikan tanda agar dirinya ikut masuk.


Chen Li mengangguk. Dia langsung masuk ke dalam tanpa bicara sepatah katapun.


Begitu kakinya menginjak bagian dalam bangunan tadi, hatinya langsung bergetar. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang.


Keindahan dan kemegahan yang sempat dia lihat dari luar mendadak sirna karena Chen Li merasakan sesuatu yang lain. Di dalam bangunan, yang terasa ternyata hanyalah hawa kematian. Hawa kematian itu amat sangat pekat.


Rasa ngeri dan seram membuat bulu kuduknya berdiri.


Halaman yang terdapat di depan bangunan tersebut sangat luas. Luasnya saja mungkin mencapai seratus meter. Di setiap sudut lapangan telah berdiri satu sosok bertubuh tinggi besar.


Mereka juga mengenakan pakaian hitam. Wajahnya kaku. Wajah itu pun terlihat sangat dingin dan bengis.

__ADS_1


Pendekar Merah mulai merasakan perasaan lain. Firasatnya merasa tidak enak, namun pemuda itu tidak mau bicara terus terang. Chen Li justru sengaja, dia ingin tahu dan ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2