Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bangkitnya Mata Dewa Unsur Bumi


__ADS_3

Tanpa ampun, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding segera melancarkan lagi serangan jarak jauhnya kepada Chen Li.


Dua buah sinar merah melesat secepat terjangan angin ke arah si bocah kecil. Untung pada saat itu anak dari Pendekar Halilintar telah bangkit berdiri.


Walaupun tubuhnya masih sempoyongan, nyatanya dia sanggup menghindari dua sinar merah tersebut dengan cara berjumpalitan dua kali di udara.


"Blarr …"


Dua batu hitam hancur menjadi debu diterjang dua sinar merah. Chen Li tidak menoleh ke belakang, dia menatap lurus ke depan di balik matanya yang terbungkus kain sutera putih.


Tusukan pedang datang memburu seperti seekor elang yang berniat menyambar mangsa. Dia menukik turun ke bawah dengan sejumlah serangan dahsyat.


Pendekar Pedang Tombak tersenyum puas melihat kekuatan dan kemampuan dalam bertarung si bocah kini telah meningkat tajam.


Dalam hatinya dia benar-benar memuji bakat Chen Li. Di usianya yang sekarang namun dapat mencapai tingkatan seperti itu, dia yakin di Kekaisaran Wei sendiri tidak ada yang sanggup menyamainya.


Kedua tangannya bergerak. Pedang Awan dibenturkan dengan tangan kanan Pendekar Pedang Tombak. Suara benturan terdengar seperti antar logam.


Nyaring dan membuat mendengung telinga.


Chen Li tidak kehabisan akal. Satu serangan tapak jarak jauh dia lancarkan mengarah ke dada pamannya. Gerakan ini dilakukan secara spontanitas sehingga Pendekar Pedang Tombak sendiri cukup dibuat terkejut.


Namun dia bukan sembarang pendekar. Hanya dengan menarik tubuhnya ke samping, serangan tapak Chen Li dibuat mengenai tempat kosong.


"Bukk …"


Sekali lagi pukulan yang amat cepat menghantam dada si bocah. Dia kembali terpental dan ambruk dengan darah di sudut bibir.


Walaupun Pendekar Pedang Tombak terlihat seperti serius, sebenarnya dia hanya melancarkan segala serangan dengan batasan tertentu. Sehingga bagaimanapun juga, tidak akan dapat membahayakan nyawa Chen Li.


Dalam hatinya dia merasa sangat kasihan juga karena harus memperlakukan keponakannya sedemikian rupa. Namun apa daya, hanya ini cara satu-satunya supaya Mata Dewa yang ada dalam tubuh Chen Li keluar.


Kalau tidak dibuat marah dan berada dalam posisi terdesak, maka sampai kapanpun Mata Dewa itu tidak akan keluar. Alasannya karena bocah kecil tersebut belum bisa mengendalikannya. Andai dia sudah dapat mengendalikan Mata Dewa, maka kapanpun waktunya, dia bisa mengeluarkan sesuka hati.


Chen Li mengeluh tertahan. Tubuhnya mulai terasa sakit. Dia bangkit berdiri sambil mengelap darah yang keluar.


Jurus pedang yang cepat dia gelar. Tubuhnya meluncur ke depan sambil berputar. Pedang Awan bergetar karena menahan tekanan tenaga dalam besar yang dia salurkan.

__ADS_1


Satu kali tebasan dilancarkan. Sinar biru berkelebat. Namum segera lenyap kembali setelah berbenturan dengan jurus Pendekar Pedang Tombak.


Sinar putih berkilat di tengah kegelapan malam. Huang Taiji Lu menyerang Chen Li dengan ganas. Gempuran pukulan berantai sudah dia gelar dengan gerakan cepat.


Hanya dalam beberapa gebralam saja, Chen Li telah dibuat berada dalam posisi terdesak hebat. Tangan kanan Huang Taiji Lu ditarik ke belakang lalu di hentakkan secepat kilat.


"Bukk …"


Chen Li terpental untuk yang kesekian kalinya. Kali ini rasa sakit yang dia rasakan lebih hebat lagi. Bocah istimewa itu hampir dibuat pingsan oleh Pamannya.


Tetapi di kala seperti itu, mendadak ada kekuatan besar dari dalam tubuh yang dia rasakan. Hawa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Aura mengerikan mulai keluar dari tubuh Chen Li.


"Bagus Li'er. Biarkan Mata Dewa milikmu keluar. Tetapi ingat, kau harus fokus kepada Mata Dewa Unsur Bumi supaya Mata Dewa yang lainnya tidak ikut keluar," kata Pendekar Pedang Tombak mengingatkan Chen Li kembali.


Bocah itu tidak menjawab. Dia menggeram keras seperti seekor harimau yang mulai marah besar.


Dia bangkit berdiri. Tetapi tidak langsung maju menyerang. Tubuhnya mendadak di selimuti oleh aura yang membwa tekanan besar. Kepalanya masih tertunduk menempel di dada.


Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya lalu mengarah ke Pendekar Pedang Tombak. Kain sutera penutup mata terlepas. Matanya telah terbuka. Mata itu. Warna itu. Ketajaman mata itu.


Bola mata Chen Li berubah sedikit kecoklatan seperti bumi.


Berbarengan dengan itu semua, batu hitam sebesar meja mendadak melayang dengan kecepatan tinggi ke arah Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


"Bagus. Akhirnya keluar juga," gumamnya.


"Blarrr …"


Semua batu yang meluncur ke arahnya berhasil dia hancurkan dengan kekuatan tapak serangan jarak jauh.


Chen Li bergerak.


Gerakannya sulit untuk di ceritakan. Namun yang jelas Huang Taiji Lu saja terlihat sangat terkejut dengan gerakan Chen Li. Dua kali pukulan keras dilancarkan oleh bocah itu.


Belum sempat Huang Taiji menangkis dua serangan Chen Li, serangan lainnya telah dilancarkan kembali. Sebuah tendangan dengan kecepatan tinggi datang mengarah ke pinggang.


"Bukk …"

__ADS_1


Tak terelakkan lagi, tubuh Pendekar Pedang Tombak terpental ke samping. Tetapi sebelum menyentuh tanah, dia telah kembali melesat menyerang Chen Li.


"Segel Bumi, Jeratan Para Dewa …"


"Wushh …"


Satu gelombang hebat menerjang Chen Li. Dari atas keluar juga satu gulung kekuatan hebat. Belum lagi dari bawah. Mendadak dari dasar bumi keluar sesuatu seperti akar pohon memanjang namun berwarna biru pudar.


Tubuh Chen Li di himpit oleh kekuatan hebat dari segala penjuru. Dia tidak dapat bergerak lagi. Bocah kecil itu meluncur deras ke bawah. Seluruh bagian tubuhnya di lilit oleh akar biru milik Pendekar Pedang Tombak.


"Li'er tenangkan hatimu. Fokuskan pikiranmu supaya kau dapat mengendalikan kekuatan itu. Lakukan apa yang Paman katakan," kata Huang Taiji Lu sambil terus mengeluarkan jurusnya.


Chen Li masih meraung. Matanya semakin tajam menatap orang tua itu. Dia meronta sekuat tenaga. Namun sayangnya tidak bisa. Sehebat apapun dia mencoba melepaskan jeratan, hasilnya tetap sama saja.


Jeratan milik Pendekar Pedang Tombak ternyata sangat sulit dilepaskan.


Hampir satu jam keduanya saling tarik ulur kekuatan. Hingga pada akhirnya Huang Taiji Lu memenangkan pertarungan itu.


"Ada apa kau mengundangku keluar?" tiba-tiba Chen Li bicara.


Tapi suaranya jelas sangat berbeda. Bahkan terdengar berat seperti monster yang menyeramkan.


"Hehe, akhirnya kau keluar juga. Aku hanya ingin kau menurut kepada bocah ini. Dia adalah tuanmu, kau harus bisa dikendalikan olehnya,"


"Tidak sudi," jawab sosok Mata Dewa Unsur Bumi.


Huang Taiji Lu sendiri masih belum mengetahui sosok apa yang ada di dalamnya. Hanya saja dia yakin, dari setiap unsur Mata Dewa, pasti ada satu sosok yang memilikinya seperti saat ini.


"Berarti kau memilih untuk mati," kata Huang Taiji.


"Berarti kau telah menantang Para Dewa. Aku diutus oleh Para Dewa,"


"Benar, kau memang diutus oleh Para Dewa. Kau diutus untuk menjaganya bukan? Kenapa sekarang kau tidak mau tunduk kepada Tuanmu?"


"Saatnya belum tiba,"


"Justru sudah tiba. Kalau tidak sekarang, maka semuanya akan terlambat,"

__ADS_1


__ADS_2