Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pendekar Merah


__ADS_3

"Li'er mengerti Paman,"


"Bagus. Paman memberimu waktu satu minggu untuk pergi ke dunia luar. Setelah seminggu, kau harus segera kembali. Jangan pernah terlambat, kalau sampai terlambat, kau akan mendapatkan hukuman yang tidak pernah dibayangkan …" kata Huang Taiji lebih serius lagi.


Awalnya Chen Li enggan menerima kenyataan itu, satu minggu itu sangat sebentar. Namun setelah dipikir kembali, dari pada tidak sama sekali, maka akhirnya dia menyetujui hal tersebut.


"Baik, Li'er berjanji setelah satu minggu nanti, Li'er akan segera kembali lagi,"


"Bagus. Sekarang kau habiskan seluruh buah-buahan tersebut. Setelah itu istirahatlah untuk melakukan persiapan," ujarnya.


"Baik …"


###


Pagi harinya Chen Li sudah bersiap-siap. Bocah itu memakai pakaian serta jubah berwarna merah darah. Bahkan dia juga memakai topeng yang menutupi sebagian wajahnya.


Phoenix Raja dia masukkan ke Kantong Siluman. Huang Taiji memberikan pesan, jika tidak terlalu mendesak, dia dilarang mengeluarkan burung ajaib tersebut karena takutnya akan memancing orang-orang yang ingin memilikinya.


"Paman, Li'er pergi dulu,"


"Hati-hati di perjalanan. Ingat semua pesan Paman, jangan sampai kau melupakannya," ujar Huang Taiji.


Chen Li mengangguk. Setiap perkataan penting Huang Taiji, bocah itu selalu mengingatnya lekat-lekat. Termasuk pesan yang baru saja diucapkan kemarin.


"Tentu saja Li'er akan selalu mengingatnya. Li'er pergi dulu Paman,"


Chen Li langsung melesat menuruni Lembah Ketenangan. Ilmu meringankan tubuh yang dia kuasai saat ini sudah setara dengan pendekar kelas satu dunia persilatan. Oleh sebab itulah tidak perlu membutuhkan waktu lama, Chen Li sudah berada jauh dari pandangan mata.


Selepas kepergian Pendekar Tanpa Perasaan, Huang Taiji hanya bisa menghela nafas.


Terkadang dia sendiri merasa kasihan kepada bocah itu. Anak seusia Chen Li, biasanya hidup dalam sebuah kebebasan. Berbeda dengannya yang hidup dalam keterbatasan.


Tapi bagaimanapun juga, semua itu demi dirinya. Demi Kekaisaran Wei. Juga demi menyelamatkan muka bumi dari tangan-tangan kotor para iblis yang berwujud manusia.


"Bersabarlah Li'er, beberapa tahun lagi kau akan benar-benar bebas dari cengkeraman ini," gumamnya dengan nada mengandung kesedihan.


###


Sore harinya, Chen Li sudah tiba di sebuah kota yang cukup besar. Kota itu terbilang luas. Penduduknya juga ramai. Banyak para pedagang yang berjejer di pinggir jalan, bahkan sebagian dari mereka ada juga para pedagang yang menjual berbagai macam kebutuhan untuk berlatih bela diri.

__ADS_1


Di antaranya berbagai macam pil, sumber daya, dan lain sebagainya.


Pendekar Tanpa Perasaan berjalan di antara para kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang. Dia rindu suasana seperti ini. Chen Li juga rindu melihat orang-orang yang saling berdesak-desakan.


Doa amat menikmati hal-hal yang sudah dilewati selama perjalanan turun gunung. Setelah tiga tahun 'terkurung' di Lembah Ketenangan, akhirnya sekarang dia bisa bebas. Dia sudah bisa kembali melihat dunia luar.


Meskipun hanya bebas selama seminggu, namun baginya itupun sudah lebih dari cukup.


"Hahhh … akhirnya aku bisa mengembara kembali. Hemm, aku rindu pertarungan, sepertinya aku harus mencari masalah," gumamnya sambil tetap berjalan santai.


Darah muda dalam dirinya bangkit. Chen Li adalah seorang bocah yang haus akan sebuah pertarungan, apalagi pertarungan hebat. Dia adalah pendekar yang selalu ingin membinasakan semua musuh-musuhnya.


Wushh!!!


Pada saat berjalan dengan santai, bocah itu melihat ada seorang gadis remaja yang sedang diganggu oleh sekelompok orang di pinggiran gubuk dekat halaman kosong. Sifat kependekaran Chen Li bangkit, dia langsung melesat ke lokasi kejadian.


Sekelompok orang itu berjumlah sembilan orang. Semuanya memakai pakaian seragam. Pakaian mereka berwarna hijau tua, seluruh wajahnya sangar. Wajah-wajah itu tampak sangat bengis.


Plakk!!! Plakk!!! Plakk!!!


Tanpa bicara lebih dulu, Pendekar Tanpa Perasaan langsung menampar satu-persatu orang-orang tersebut. Semaunya mendapatkan jatah yang sama. Satu orang satu tamparan. Pipi dari orang-orang itu langsung merah, di sana juga terdapat lima bekas telapak tangan.


Chen Li kemudian berdiri membelakangi orang-orang tersebut. Tubuhnya berdiri dengan tegak. Jubahnya tertiup angin. Memakai pakaian dan jubah serba merah, bocah itu tampak lebih gagah sekaligus angker.


Sembilan orang tersebut sangat terperanjat setengah mati. Mereka memegangi pipinya masing-masing. Seluruh wajahnya langsung memerah. Amarah dalam tubuhnya langsung meledak saat itu juga.


"Siapa kau? Berani sekali menampar kami …" teriak salah seorang di antara mereka.


Suaranya menggelegar. Orang itu jelas sudah sangat marah sekali. Matanya melotot tajam kepada Chen Li.


"Pendekar Merah …" jawab Chen Li memakai nama samaran.


Begitu selesai ucapannya, dia langsung membalikkan badannya.


Wushh!!!


Segulung angin berhembus ke arah sembilan orang tersebut. Hembusan angin itu cukup kencang, untungnya mereka bukan pendekar biasa, sehingga saat mendapat hembusan angin tadi, orang-orang itu tidak terpengaruh sedikitpun.


"Hemm, orang yang tidak terkenal. Apa maksudmu menampar kami?" tanya orang itu lebih lanjut.

__ADS_1


"Aku tidak suka melihat kejahatan yang terjadi di depanku. Selain itu, kebetulan aku sedang bosan. Karena itulah, aku sengaja mencari masalah dengan kalian," kata Chen Li dengan santai.


Sepasang tangannya di taruh di belakang. Di balik topeng, bibirnya melemparkan sebuah senyuman. Senyuman dingin yang mengerikan.


"Sombong, memangnya kau pikir kau siapa sehingga berani mencari masalah dengan kami?"


"Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku juga tidak takut kepada kalian,"


Meskipun jumlahnya jauh lebih banyak, tapi sedikitpun Chen Li tidak merasa takut. Sembilan orang itu hanya setara dengan Pendekar Surgawi tahap lima. Sedangkan kekuatan Chen saat ini setara dengan Pendekar Dewa tahap lima.


Di lihat dari itu saja, sudah jelas bahwa sekelompok orang tersebut bukanlah lawannya.


"Bedebah …"


Wushh!!!


Dua orang melesat menyerang Chen Li. Dua batang golok memecah udara. Cahaya perak menyeruak ke segala penjuru.


Crapp!!! Crapp!!!


Kedua serangan tadi terbilang cepat. Tapi masih cepat gerakan tangkisan Chen Li atau yang saat ini menyamar sebagai Pendekar Merah.


Dua batang golok itu telah terjepit di kedua jari tangannya. Kedua penyerang tersebut tersentak, mereka mencoba untuk menarik senjatanya masing-masing. Tapi sayangnya usaha itu sia-sia belaka, sebab jepitan Chen Li lebih kuat dari apapun.


Clangg!!! Clangg!!!


Suara golok patah terdengar dua kali. Setelah itu, Chen Li segera mengirimkan serangan menggunakan telapak tangannya


Bukk!!!


Sekali hantam, kedua orang tersebut terlempar lima belas langkah ke belakang. Mereka langsung muntah darah.


Slebb!!!


Darah menyembur. Tahu-tahu dua orang tersebut sudah tewas tertusuk oleh kutungan goloknya sendiri.


Chen Li tersenyum dingin. Setelah tiga tahun berada di Lembah Ketenangan, baru sekarang ini dia melakukan lagi pembunuhan. Secara tidak langsung, pembunuhan barusan adalah pembunuhan pertama setelah sekian lama tidak membunuh.


Wushh!!!

__ADS_1


Melihat dua rekannya telah tewas, tujuh orang sisanya merasa tidak terima. Enam orang di antaranya mendadak menyerang dengan senjata dan jurusnya masing-masing.


__ADS_2