
Tengah malam telah tiba. Rembulan bersinar terang. Bintang-bintang gemerlap di bawah malam yang gelap. Semilir angin meniupkan keharuman bunga mekar.
Saat ini, kota tersebut lebih parah daripada waktu sore hari tadi. Hampir tidak ada yang keluar sama sekali. Semua rumah tertutup rapat dikunci dari dalam. Lentera yang biasanya menerangi rumah atau pekarangan, sekarang telah dipadamkan.
Gelap. Kegelapan seakan menyelimuti kota itu. Hal seperti ini menambah suasana yang sudah mencekam, menjadi lebih mencekam lagi. Sepi. Sunyi. Tidak ada suara apa-apa kecuali hanya bunyi binatang malam. Bunyi daun digoyangkan angin atau bunyi alam lainnya.
Chen Li dan Huang Taiji sudah siap untuk bergerak. Mereka telah melakukan persiapan matang. Tadi setelah kenyang minum arak, keduanya langsung tertidur. Baru beberapa saat lalu mereka terbangun.
Hal ini memang sengaja dilakukan. Sebab jika akan melakukan sesuatu yang penuh resiko, kesiapan harus benar-benar siap. Terlebih lagi kesiapan mental.
Kalau kesiapan mental tidak dipersiapkan dengan matang, dipastikan yang akan didapat malah kerugian.
Hu Toan terlihat mengantar kepergian Chen Li dan Huang Taiji hingga di gerbang menuju sekte. Dia dilarang ikut sebab harus merawat murid-murid sektenya. Terlebih lagi, masih banyak juga beban lain yang ditanggung oleh orang tua tersebut.
"Tuan Hu, kami berangkat dulu," ujar Huang Taiji.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung melesat menembus malam yang gelap bersama Chen Li.
Dua buah bayangan putih berkelebat seperti hantu. Hanya beberapa saat saja, keduanya telah jauh dari tempat Hu Toan.
Kecepatan mereka dalam hal meringankan tubuh memang sudah terhitung kelas atas. Khusus Huang Taiji. Tetapi karena pergi bersama Chen Li, maka dia hanya bisa menggunakan ilmi meringankan tubuh secukupnya.
Tiga puluhan menit kemudian, dua orang tersebut telah tiba di pinggir sebuah tebing.
Yang jelas, keadaan di sana tidak jauh menyeramkan dengan keadaan di tempat lainnya.
Suara raungan dan lolongan siluman terdengar silih berganti. Aura yang pekat menyelimuti tempat di bwah mereka. Sesekali terdengar raungan yang mengkhawatirkan, seperti raungan menjelang kematian.
"Tidak salah lagi. Itulah Lembah Siluman," kata Chen Li.
Bicaranya datar. Wajahnya tanpa ekspresi. Sepertinya bocah itu sudah marah.
"Benar, memang itulah Lembah Siluman. Sekarang kita akan turun ke bawah," ucap Huang Taiji.
"Baik,"
Keduanya segera melompat ke bawah. Huang Taiji terlalu malas untuk mencari jalan yang seharusnya. Sehingga dia memilih untuk terjun ke bawah sebagai jalan pintas. Toh di bawah juga pasti ada bebatuan.
__ADS_1
Dan ternyata tebakannya benar. Begitu melompat ke bawah, keduanya jatuh di sebuah batu yang cukup besar. Huang Taiji bermata tajam, apalagi dia merupakan pengawal pribadi Dewa Lima Unsur.
Sudah pasti banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya.
Dia di depan sebagai petunjuk jalan. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di dasar.
Di depan keduanya, ada semacam gerbang yang menjulang tinggi.
"Ini Gerbang Siluman. Kita harus masuk ke sana agar dapat melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi,"
"Baik Paman,"
"Tapi setelah di dalam, kau harus dengarkan apa kata Paman. Jangan bertindak gegabah supaya tidak terjadi hal hang tak diinginkan. Jika kita sudah masuk ke Gerbang Siluman, itu artinya kita sudah masuk ke negeri mereka,"
"Li'er mengerti,"
Huang Taiji mengangguk. Kemudian dia segera masuk ke Gerbang Siluman diikuti oleh Chen Li di belakangnya.
Mereka langsung menyusuri tempat sekitar. Belum lama menyusuri, Huang Taiji sudah dibuat marah. Dadanya terasa terbakar melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Sekitar jarak dua puluh tombak di depan sana, sepuluh orang sedang memberi makan para siluman. Walaupun terlihat biasa saja, tetapi Huang Taiji tahu bahwa di dalam makanan tersebut terdapat semacam obat yang mampu membuat siluman itu menuruti semua perintahnya.
Selain itu, mereka juga memberi makan yang mengandung obat agar para siluman merasa kesakitan setengah mati. Lalu orang-orang tersebut muncul dan memberikan obat penawar dengan syarat agar mereka mau mengikuti perintahnya.
Cukup banyak siluman yang terjebak dalam rencana busuk mereka. Tapi ada juga yang tidak kena, para siluman yang tidak terjebak adalah mereka yang mempunyai kekuatan tinggi. Selain memang karena lebih pintar, siluman itu juga tidak mendapat pengaruh apa-apa meskipun sudah memakannya.
Namun mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong sesamanya. Alasanya karena orang-orang tersebut menanamkan sebuah benda yang membuat para siluman kelas atas tidak berani mendekat dan menyerangnya.
Pada umumnya setiap siluman mempunyai ketakutan tersendiri dengan sesuatu yang berbeda.
Ternyata setelah Huang Taiji melihat lebih teliti, obat yang mereka berikan hanya bisa berefek kepada siluman dengan kekuatan tertentu saja. Jika kekuatan siluman sudah sangat tinggi, obat tersebut sama sekali tidak berfungsi.
Wushh!!!
Mendadak orang tua itu melesat cepat ke depan. Dia langsung mengibaskan tangannya sehingga membuat makanan itu terlempar ke segala arah.
Sepuluh orang merasa sangat terkejut melihat kejadian ini. Mereka langsung berlompatan ke belakang. Siluman kelas tertentu yang melihat kejadian ini langsung tertegun, seperti sedang menunggu perintah.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya salah seorang.
"Orang yang akan membunuhmu,"
"Berani sekali kau masuk ke sini,"
"Kenapa tidak?"
"Bagus, kalau begitu kau akan aku jadikan sebagai makanan para siluman,"
Orang yang barusan bicara segera bersiul. Ratusan siluman mendadak berlarian ke arahnya. Hanya dalam sekejap mata, tempat tersebut benar-benar dikelilingi oleh siluman.
Berbagai macam geraman terdengar. Aura yang dahsyat terasa sangat menekan.
Huang Taiji tertegun. Dia tidak ingin membunuh para siluman yang tak berdosa. Namun jika jumlahnya sebanyak ini, rasanya sulit jika tidak menimbulkan korban.
Dari berbagai macam siluman yang datang, ada juga beberapa siluman yang keliatannya setara dengan Pendekar Dewa tahap lima akhir.
"Bagaimana? Kau masih berani mencari masalah di sini? Kalau memang sayang nyawamu, lebih baik segera pergi dan tinggalkan tempat ini. Jangan ikut campur urusan orang lain,"
"Sayangnya aku tidak mau pergi. Lagi pula, penyakitku dari dulu hanya satu,"
"Apa?"
"Aku suka mencampuri urusan orang lain," jawab Huang Taiji sambil tersenyum.
"Bagus, kau sudah menetapkan keputusanmu. Aku harap jangan menyesal,"
Orang itu langsung berniat untuk memberikan perintah kepada para siluman. Tetapi sebelum hal tersebut terjadi, Chen Li sudah berteriak.
"Berhenti!!!"
Wushh!!!
Tiga bayangan putih melesat dan tiba-tiba telah berdiri di hadapan mereka. San Ong dan Ong San sudah keluar.
Melihat kehadiran dua siluman kera putih itu, ratusan siluman yang siap menyerang langsung tertegun. Bahkan siluman yang termasuk kelas atas juga memperlihatkan sikap hormatnya.
__ADS_1
"Jika ada di antara kalian bangsaku yang menyerang, aku akan melaporkan hal ini kepada Kaisar Naga Merah. Aku rasa kalian sudah tahu siapa aku sebenarnya," kata San Ong. Suaranya menggelegar.
Meskipun tidak semua siluman yang ada di sana bisa bicara, tapi masing-masing dari mereka pasti mengerti terhadap ucapannya.