
Slebb!!!
Kejadian tidak diduga terjadi. Tombak Dewa Api telah mendapatkan mangsa.
Senjata pusaka itu menusuk dada salah satu lawannya dengan telak. Tombak yang sejak semula sudah berwarna merah, sekarang bertambah merah lagi. Tombak itu mengeluarkan satu kekuatan dahsyat sehingga secara tiba-tiba bisa mementalkan korban pertamanya.
Kaisar Wei An tidak tinggal diam. Dia langsung melancarkan serangan berikutnya dengan ganas. Tombak Dewa Api meluncur kembali.
Sinar merah terus berkelebat tanpa henti memberikan satu ancaman bagi setiap calon korbannya. Hawa panas yang sangat dahsyat terasa membakar tubuh.
Kaisar Wei An bagaikan Dewa. Dewa yang sedang marah besar karena melihat kekacauan di atas muka bumi.
Dia melompat memberikan tendangan hebat. Satu lawannya dibuat terpental hingga sepuluh langkah ke belakang. Detik selanjutnya, tombak pusaka yang selalu dia banggakan kembali terlihat bergerak.
Slebb!!!
Korban kembali jatuh. Jantung lawan berhasil ditembus dengan mudah. Darah menyembur membasahi Jubah Dewa Api.
Dia langsung mendorong korban tersebut lalu meneruskan serangan berikutnya. Delapan lawan yang tersisa mulai merasa takut.
Sekarang mereka percaya bahwa ucapan Kaisar Wei An tidak main-main. Orang itu benar-benar mengeluarkan kekuatannya hingga ke titik paling tinggi.
"Amukan Dewa Api …"
Roarr!!!
Raungan harimau terdengar menggelegar keras. Bumi bergetar. Langit berguncang seperti hendak runtuh. Dari balik awan kelabu mendadak muncul satu kepala harimau.
Harimau raksasa yang sedang mengaum memperlihatkan taringnya.
Kaisar Wei An mengamuk. Semua serangan lawan berhasil dia patahkan. Semua jurus lawan berhasil dia musnahkan dalam sekejap mata.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengeluarkan jurus pamungkas dari kitab yang diberikan oleh Shin Shui dahulu kala.
Ternyata apa yang diajarkan oleh kitab itu memang luar biasa. Sekarang dia percaya akan hal tersebut.
Tombak Dewa Api berputar sangat cepat. Putarannya memberikan ancaman tersendiri bagi lawannya. Bentuk tombaknya mendadak lenyap.
Tubuh Kaisar Wei An juga lenyap karena sekarang tubuh itu telah diselimuti oleh aura berwarna merah membara.
Delapan lawan yang tersisa mulai merasa kewalahan. Semua usaha mereka gagal total. Kerjasama yang biasanya kompak, kini menjadi hancur berantakan.
__ADS_1
Slebb!!! Slebb!!!
Dua orang kembali mampus.
Semua pembunuhan yang terjadi berlangsung sangat singkat. Semua gerakan Kaisar Wei An tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Pertarungan di tempat itu semakin sengit. Kaisar Wei An semakin ganas.
Puluhan jurus berikutnya, dia telah berhasil membereskan semua lawan tangguh itu. Semuanya tewas di ujung Tombak Dewa Api.
Sepuluh nyawa tokoh kelas atas terkapar. Tidak ada yang lebih baik di antara mereka. Semuanya tewas dengan kondisi mengenaskan.
Kaisar Wei An menghela nafas berat. Baru sekarang dia merasa sedikit lelah. Ternyata bertarung dengan emosi membeludak itu bukanlah pilihan yang tepat.
Sekarang dia mengerti alasan kenapa para pendekar pilih tanding lebih memilih untuk bertarung dengan tenang.
Setelah dirinya berhasil mengatur nafas dan menenangkan diri, Kaisar Wei An langsung pergi dari sana. Dia ingin mencari musuh yang sepadan dengannya lagi. Sebagai orang nomor satu di Kekaisaran Wei, dia tidak boleh berpangku tangan melihat orang-orangnya tewas begitu saja.
Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya telah meluncur jauh ke depan. Hanya sesaat saja, orang itu sudah menghilang dari pandangan mata.
Para pasukan yang sejak tadi melihat pertarungannya tidak ada yang tidak terbengong. Semuanya terkesima oleh sepak terjang Kaisar itu.
###
Empat orang musuhnya telah menghilang entah ke mana. Sekarang posisi Chen Li berada di tengah-tengah mayat yang bergelimpangan.
Tidak ada yang melihatnya, pun tidak ada pula yang memperhatikannya. Sebab semua orang saat ini sedang fokus dengan pertarungannya masing-masing.
Semua orang sedang berusaha memenangkan pertarungannya sendiri-sendiri. Sehingga sepasang mata para tokoh kelas atas tidak sempat untuk mengedarkan pandangannya.
Pendekar Tanpa Perasaan sudah tidak bergerak. Tidak sama sekali. Nafasnya juga semakin melemah. Bahkan dia sudah tidak sadarkan diri.
Langit meneteskan air matanya.
Hujan.
Rintik air hujan muali turun membasahi bumi. Awalnya hujan itu kecil, tapi semakin lama semakin deras hingga akhirnya sangat deras.
Peperangan diwarnai hujan deras, bukankah ini merupakan pemandangan lain dari pada yang lain?
Halilintar mulai terdengar menggelegar. Kilat menyambar-nyambar tiada henti. Angin mendadak berhembus sangat kencang sekali. Seperti sedang terjadi sebuah badai. Badai yang sangat besar dan dahsyat sekali.
__ADS_1
Sebuah kekuatan maha dahsyat mendadak menyelimuti alam semesta. Semua orang yang berada di medan perang merasakan kekuatan dahsyat itu.
Alam semesta seakan murka. Bumi juga murka. Bahkan para Dewa di alam nirwana juga murka.
Sebuah kekuatan maha dahsyat terasa semakin kental. Semakin pekat. Hawa kematian menyeruak ke segala penjuru mata angin.
Roarr!!! Gelegar!!! Duarr!!!
Suara ledakan bercampur dengan suara raungan yang sangat menggema terdengar secara bersamaan. Persatuan suara yang berbeda itu terdengar sangat mengerikan sekali.
Chen Li tiba-tiba bangkit. Dia benar-benar berdiri.
Sepasang matanya memancarkan kekuatan maha dahsyat. Dari seluruh tubuhnya juga mengeluarkan kekuatan yang sama. Bocah itu terbang, dia berdiri di atas udara hampa dengan tenang.
Seluruh tubuhnya diselimuti aura dari lima elemen.
Kekuatan Mata Dewa bangkit.
Itu artinya, lima siluman naga peliharaan para Dewa juga keluar.
Roarr!!! Duarr!!!
Ledakan dahsyat terjadi untuk yang kesekian kali. Seribuan pasukan musuh langsung terlempar sangat jauh. Mereka semua tewas dalam keadaan mengerikan.
"Siapa yang berani melukai bocah ini …" sebuah suara mengerikan terdengar. Dari suara itu keluar segulung angin dahsyat yang mampu melemparkan segalanya.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua macam sinar berwarna biru dan mengeluarkan kilatan halilintar melesat sangat cepat. Sinar itu menghempaskan ratusan pasukan musuh hanya dengan sekali kibasan tangan.
Suasana mendads riuh. Pasukan musuh lari kocar-kacir karena merasa ketakutan. Mereka segera melaporkan kejadian mengerikan ini kepada para tokoh kelas atas yang terdekat dengannya.
Pendekar Tanpa Perasaan mengamuk. Lebih tepatnya, kekuatan dari Mata Dewa yang sedang marah besar.
Raungan naga terus terdengar. Lima macam sinar yang mewakili warna lima elemen terlihat menyebar ke segala penjuru tanpa berhenti.
Hujan semakin deras. Bumi bergetar hebat. Dunia seperti akan terbalik. Langit berguncang keras karena suara halilintar tiada hentinya. Kobaran api mendadak muncul dari langit sana. Seperti halnya meteor yang jatuh. Bola api berjumlah ribuan itu turun ke bumi secara serempak.
Angin berhembus menerbangkan pasukan musuh. Semua mayat yang bergelimpangan terlempar dan terombang-ambing di tengah udara.
Semua kejadian ini berada diluar dugaan semua orang.
__ADS_1
Perang besar menjadi lebih kacau. Korban yang berjatuhan di pihak musuh semakin banyak. Teriakan menjelang ajal terdengar sangat menakutkan.
Chen Li tertawa keras. Suara tawanya saja mampu menyapu semua musuh yang berada di dekatnya.