Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menantang Seratus Orang Tokoh


__ADS_3

Semua orang menahan nafasnya. Seolah mereka tidak berani bernafas dengan keras. Orang-orang itu hanya bernafas dengan perlahan. Entah karena takut, atau karena apa.


Di antara para tokoh itu, Hong Hua lah yang paling terkejut. Seingatnya, kalau benar pemuda berpakaian serba putih itu adalah Pendekar Merah, maka kemampuannya sudah sangat jauh meningkat dengan tajam.


Orang tua itu masih ingat dengan jelas, dia pun tahu pasti bahwa kekuatan Pendekar Merah pada tiga tahun lalu tidak seperti sekarang ini. Bahkan kalau dibandingkan pun perbedaannya akan jauh sekali.


Sebagai tokoh yang berpengalaman, Hong Hua tahu bahwa meningkatkan kekuatan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Susahnya minta ampun.


Tapi kenapa pemuda itu justru bisa meningkatkan kekuatannya dengan sangat cepat? Bagaimana hal itu bisa terjadi?


'Kekuatan bocah itu benar-benar meningkat tajam. Kalau tidak segera dibunuh, dia bakal jadi ancaman di masa depan nanti. Tapi kalau dibunuh, siapa yang sanggup membunuhnya?' batin Hong Hua bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Dia sedang berada dalam posisi kebingungan. Untuk saat ini, sepertinya orang tua tersebut belum menemukan jalan keluar.


Membunuh seorang pendekar seperti Pendekar Tanpa Perasaan bukanlah hal yang mudah. Bahkan hal yang sangat sulit.


Kalau membunuh Pendekar Dewa tahap tujuh saja sudah susah, apalagi membunuh seorang pendekar yang kekuatannya tiada yang tahu sampai mana?


"Ternyata tujuanmu berhasil," ucap Pendekar Tanpa Perasaan kepada Hong Hua.


"Begitulah," jawab orang tua itu sambil tersenyum dipaksakan.


"Sampai detik ini, kau masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matamu saat ini bukan?" tanya Chen Li menegaskan kembali.


Dia senang kalau membuat orang sebangsa Hong Hua berada dalam posisi tertekan. Apalagi jika orang tersebut sudah tua.


"Begitulah," jawab Hong Hua dengan kata yang sama.


"Sepertinya kau tidak punya jawaban lain selain bicara demikian," ejek Pendekar Tanpa Perasaan sambil tersenyum dingin.


"Hemm …" dengusnya dengan mata mendelik seperti ingin keluar.


Waktu terus berjalan. Suasana semakin menegangkan. Meskipun situasi saat ini tampak biasa saja, tapi siapapun tahu bahwa setiap saat pertempuran dahsyat bisa terjadi.


"Berapa jumlah tokoh yang ada di markas pusat Organisasi Elang Hitam ini?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan tanpa ekspresi.


"Jumlah tokoh kelas atas yang benar-benar bisa diandalkan ada sekitar seratus orang,"

__ADS_1


"Baik. Aku akan menantang mereka semua," tegas Chen Li masih dengan nada yang dingin.


Semua orang yang hadir di ruangan itu terkejut entah untuk yang keberapa kalinya. Siapapun tidak akan ada yang percaya bahwa pemuda itu berani berkata demikian.


Menantang seratus orang tokoh kelas atas?


Apakah pemuda tersebut tidak salah bicara? Apa dia benar-benar ingin menantang mereka dalam waktu yang bersamaan?


"Apa kau bilang?" teriak Hong Hua amat sangat terperanjat.


Siapapun orangnya, kalau dia ada di posisi Hong Hua saat ini, maka orang itu pasti akan merasakan hal yang sama. Siapa yang tidak akan terperanjat setengah mati?


Selama sejarah dunia persilatan, belum ada seorang manusia pun yang berani berkata demikian. Sampai detik ini, belum pernah ada pendekar yang nekad menantang seratus tokoh rimba hijau secara serentak.


"Aku ingin menantang seratus tokoh milik Organisasi Elang Hitam dalam waktu yang bersamaan," tegas Pendekar Tanpa Perasaan mengulangi perkataannya.


"Sombong sekali kau …" teriak orang tua itu sangat bengis.


"Jangan banyak bicara. Kalau kau tidak berani atau karena takut orang-orangmu mampus di tanganku, lebih baik katakan saja dengan jelas," desak Chen Li sambil melemparkan senyuman penuh ejekan.


Mendengar ucapan Pendekar Tanpa Perasaan yang semakin lama semakin angkuh, semua tokoh itu merasa darahnya mendidih. Dadanya terasa panas seperti dibakar oleh api membara.


Sayangnya sampai detik ini Hong Hua masih belum juga memberikan perintah.


Puluhan pasang tangan manusia telah mengepal dengan kuat. Otot hijau meregang di setiap tangan-tangan tersebut. Hawa kematian kembali terasa sangat pekat. Lebih pekat dari sebelumnya.


Nafsu ingin membunuh terasa menyelimuti seluruh isi ruangan tersebut.


"Bedebah. Bocah kemarin sore, kau pikir kau siapa sehingga berani berkata sedemikian pongahnya heh? Hemm, tapi baiklah, dari pada kau malah semakin parah dalam menghinaku, lebih baik aku turuti saja apa maumu," tegas pemimpin Organisasi Elang Hitam tersebut.


Semua orang tahu bahwa gengsi orang-orang yang bergelut dalam dunia persilatan sangatlah besar. Apalagi kalau menyangkut harga diri, bagi mereka harga diri lebih penting dari pada nyawa.


Oleh sebab itulah banyak para pendekar yang mampus hanya demi mempertahankan gengsi dan harga dirinya. Karena alasan tersebut, entah berapa banyak insan sungai telaga yang meregang nyawa karena masalah sepele.


Harga diri itu tidak bisa dibeli. Apalagi bagi mereka kaum pria.


Seorang pria sejati, biasanya dia akan mempertaruhkan nyawanya hanya demi sebuah harga diri.

__ADS_1


"Bagus. Memang jawaban itulah yang sangat aku inginkan," kata Chen Li sambil tersenyum dingin.


"Kapan waktu untuk melangsungkan pertempuran itu?" tanya Hong Hua lebih lanjut.


"Bulan purnama nanti,"


"Di mana tempat yang kau inginkan?"


"Di padang rumput Gunung Bok San yang ada di sekitar sini,"


"Baik, bulan purnama nanti kami tunggu kau di sana,"


"Aku tunggu kedatangan kalian. Sekarang aku akan pergi dulu," kata Chen Li sambil membalikkan badannya.


Pendekar Tanpa Perasaan ingin segera berlalu dari sana. Bukan karena takut, tapi karena masih banyak urusan yang mesti dia selesaikan.


Salah satunya adalah membantai para iblis lainnya yang ada di Kotaraja.


Chen Li yakin bahwa di kota megah tersebut masih ada beberapa gembong iblis yang tidak terikat ke dalam Organisasi Elang Hitam.


Tapi terkait nama dan julukan mereka, pemuda itu belum mengetahuinya sama sekali. Namun terlepas nama dan julukan para iblis tersebut, Chen Li tidak pernah mengambil peduli.


Selama orang itu pantas untuk mampus, maka dia tidak akan segan-segan untuk segera membunuhnya.


Saat pemuda serba putih itu mulai melangkahkan kakinya keluar, tiada seorangpun yang berani menghalanginya. Jangankan menghalangi, yang bergerak pun tidak ada sama sekali.


Mereka hanya bisa memandanginya dengan tatapan yang mengandung berbagai macam arti. Hong Hua sendiri juga sama, orang tua itu cuma dapat mendelik di kursi singgasananya.


Benaknya bergemuruh. Mentalnya dibuat jatuh oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


Kalau tidak mendengar perkataannya secara langsung, niscaya siapapun tidak akan ada yang mempercayainya.


Saat ini Chen Li sudah berada di halaman luar. Pemuda itu berjalan dengan tenang dan santai. Langkahnya masih sama ringan. Tekadnya masih yakin.


"Seorang bocah kemarin sore yang bermental baja dan berani berkata sangat sombong, ingin aku mengetahui sampai di mana kemampuanmu," sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang Pendekar Tanpa Perasaan.


###

__ADS_1


Satu lagi nanti ya mhehehe …


__ADS_2