Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XIII


__ADS_3

Kaisar Naga Merah tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya. Dia selalu bangga kepada Chen Li. Anak dari sahabatnya ini tidak pernah mengecewakan dirinya. Karena itulah, Kaisar Naga Merah memberikan kepercayaan lebih kepada bocah itu.


"Sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan. Setelah perang besar ini selesai, kau latihlah semua jurus dari Kitab Dewa Seruling. Nah, ini juga ada kitab yang merupakan pasangan dari senjata pusaka Pedang Merah Darah. Namanya Kitab Pembawa Maut. Jika kau melatih semua jurus yang ada dalam kitab tersebut, maka kemungkinan besar kau akan menjadi pendekar pilih tanding sesuai dengan usiamu. Semakin tinggi ilmumu, semakin tinggi penguasaanmu, dan semakin tinggi pemahamanmu, maka semakin dahsyat juga jurus yang akan dihasilkan," terang Kaisar Naga Merah kepada Chen Li.


Penguasa dari Negeri Siluman itu langsung mengibaskan tangan kanannya. Setelah itu, pada telapak tangan tersebut telah terdapat sejilid kitab pusaka.


Kitab itu sangat tipis sekali. Warnanya juga sudah kuning usang, sebagian sudut sampul kitab sudah terdapat beberapa robekan. Kalau di lihat secara sekilas, siapapun tidak akan ada yang percaya jika kitab tersebut sebenarnya adalah sebuah kitab pusaka yang melegenda.


Kaisar Naga Merah langsung memberikan kitab itu kepada Chen Li. Pendekar Tanpa Perasaan menerima kitab tersebut dengan senang hati dan semangat yang menggebu.


Chen Li mempunyai kebiasaan lain dari pada orang lain. Di usianya yang masih bocah, dia sangat doyan membaca. Baik itu membaca kitab, membaca buku obat-obatan, sejarah, dan lain sebagainya.


Namun justru karena kebiasaan tersebut, dirinya malah mendapatkan ilmu yang tidak terhitung banyaknya. Pengetahuan bocah itu sudah terbilang luas. Dalam hal apapun, sedikit banyaknya Chen Li sudah mengetahui.


"Terimakasih Kaisar. Semua perintah Kaisar pasti akan Li'er laksanakan," jawab Pendekar Tanpa Perasaan penuh rasa hormat dan rasa terimakasih.


"Bagus. Nah sekarang, kembalilah ke duniamu. Sudah saatnya kau memperlihatkan kemampuanmu yang sebenarnya kepada musuhmu," perintah Kaisar Naga Merah.


Selesai berkata demikian, Kaisar Naga Merah kembali mengibaskan tangan kanannya.


Suasana menjadi gelap kembali. Chen Li tidak dapat melihat sesuatu apapun. Tapi untungnya, begitu penglihatan kembali gelap, bocah kecil tersebut langsung tersadar.


Seruling giok hijau dan Pedang Hitam dia masukkan kembali kepada Cincin Ruang. Lantas tanpa banyak bicara lagi, Chen Li langsung mengeluarkan Seruling Dewa beserta dengan Pedang Merah Darah.


Dua cahaya berwarna merah langsung terlihat memancar ke seluruh penjuru. Tokoh tua yang menjadi lawan Pendekar Tanpa Perasaan sedikit terkejut saat melihat dua sinar itu.


Sebagai tokoh tua, pastinya dia bisa merasakan sesuatu yang belum tentu dapat dirasakan oleh orang lain.


Orang tua itu merasakan ada sebuah kekuatan dahsyat yang mendadak terpancar sehingga membuat pundaknya terasa berat seperti sedang ditindih oleh dua buah batu besar.


Di sisi lain, Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum dingin. Meskipun luarnya begitu, tapi dalamnya beda lagi.

__ADS_1


Dalam hatinya, Pendekar Tanpa Perasaan merasa sangat gembira. Sekalipun dirinya belum melatih kitab dari dua senjata yang bersangkutan, tapi kekuatan dahsyatnya sudah terpancar dari dua pusaka tersebut.


Seluruh luka yang sebelumnya sempat terlibat di beberapa bagian tubuh Pendekar Tanpa Perasaan, sekarang seluruh luka itu sudah lenyap. Semua luka itu tidak terlihat sama sekali lagi.


"Bersiaplah orang tua bau tanah," kata Pendekar Tanpa Perasaan sambil berteriak lantang.


Si orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya mengandung nada mengejek dan memandang sebelah mata.


"Hahaha, aku selalu siap. Bahkan aku ingin tewas ditanganmu bocah ingusan. Kalau memang kau sanggup membunuhku, lakukan dengan segera. Aku sudah muak bermain-main denganmu lagi," kata si orang tua itu dengan sombong


"Hehehe, sekarang kau boleh mengejekku sesuka hatimu. Namun ingin aku lihat, apakah setelah ini kau masih mampu melakukannya?"


Wushh!!!


Chen Li bergerak menyerang lebih dulu. Sinar merah terpancar dari jarak jauh lalu melesat dengan sangat cepat menuju si orang tua tersebut. Suara alunan nada seruling yang menggetarkan sukma langsung terdengar menggema.


Chen Li mengkombinasikan dua senjata berbeda dengan dua kitab berbeda pula. Dia menggunakan Pedang Merah Darah dengan jurus dari Kitab Pedang Hitam. Dia juga menggunakan jurus seruling yang terdapat pada kitab Seruling Pencabut Nyawa.


Tapi kekuatannya jelas berbeda.


Kekuatan yang sekarang keluar dari setiap jurusnya bertambah beberapa kali lipat lebih dahsyat. Lebih ganas, dan lebih mematikan.


Hal tersebut membuat si orang tua terkejut setengah mati. Sekarang dia mengerti kenapa bocah itu mampu berkata meremehkan seperti sebelumnya.


Sekarang dia tahu alasan di balik semuanya.


Wushh!!!


Tongkat si orang tua yang merupakan tokoh terkenal itu langsung bergerak menangkis serangan jarak jauh Pendekar Tanpa Perasaan.


Sinar hitam datang menerjang sinar merah yang melesat. Kedua sinar mengerikan dari dua jurus dahsyat berbenturan hebat.

__ADS_1


Duarr!!! Gelegar!!!


Keduanya terlempar beberapa langkah ke belakang. Pendekar Tanpa Perasaan terdorong hingga sepuluh langkah jauhnya.


Begitu sepasang kakinya menginjak tanah kembali, Pendekar Tanpa Perasaan langsung kembali memberikan serangan susulan lainnya. Seruling Dewa telah digerakkan menghantam batok kepala lawan. Pedang Merah Darah sudah disabetkan mengincar bagian pundak dan leher lawan.


Kedua serangan mematikan itu dilancarkan dengan segenap kekuatan. Alhasil semuanya kembali terjadi diluar dugaan si tokoh tua tersebut.


Chen Li mulai menyerang dengan ganas kembali. Dia mempunyai julukan Pendekar Tanpa Perasaan, karena itu, serangannya juga dilakukan tanpa perasaan.


Pedang Merah Darah mengeluarkan cahaya merah yang semakin lama semakin pekat. Semakin lama semakin terasa dahsyat. Aura iblis keluar dari pedang pusaka tersebut.


Setiap kelebatan sinar yang tercipta selalu memberikan ancaman maut. Cahaya merah semakin menyeruak, di lain sisi, gelombang suara dari Seruling Dewa juga terdengar semakin melengking tinggi.


Suara itu kemudian menyatu menjadi satu dengan cahaya merah. Dua gelombang tenaga sakti menyerang si orang tua dari segala sisi.


Ternyata dua senjata pusaka legenda itu membawa kekuatan tersendiri bagi pemiliknya. Karena itulah, sekarang Chen Li tampak lebih gagah perkasa, lebih kuat, dan kemampuannya lebih mengerikan lagi.


Crashh!!!


Darah muncrat. Teriakan tertahan terdengar sesaat lalu lenyap begitu saja.


Satu sosok ambruk ke tanah. Si orang tua ternyata sudah tewas. Dia tewas tanpa kepala. Bekas potongan pedang itu sangat rapi. Sekilas, tidak nampak bawah leher tokoh tersebut telah ditebas oleh ujung pedang.


Pedang Merah Darah di tangan Pendekar Tanpa Perasaan masih bergetar. Di ujung pedang masih menetes darah segar. Darah si orang tua tentunya.


Chen Li tersenyum sangat dingin. Dia merasa puasa dengan senjata pusaka barunya. Dia juga merasa gembira dengan kemampuannya yang sekarang.


Meskipun masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kekuatan ayahnya, Pendekar Halilintar, tapi bakatnya sudah ada sejak dini.


Setelah membunuh si orang tua tersebut, bocah itu langsung pergi begitu saja. Dia pergi, pergi sambil membawa maut bagi setiap pasukan musuh yang berani menghalangi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2