
Orang itu meluncur deras seperti anak panah yang lepas dari busur. Tubuhnya baru berhenti ketika menabrak pohon besar yang ada di halaman sekitar kuil.
Punggungnya terasa remuk. Dia bangkit berdiri lali menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk menghilang rasa sakit yang menderanya.
Sejalur darah terlihat keluar di sudut bibir sebelah kanannya.
"Benar-benar jurus yang hebat. Baru kali ini aku mendapatkan lawan yang demikian tangguh," kata Rajawali Botak Cakar Merah memuji kepandaian Huang Taiji.
"Terimakasih. Aku masih merasa belum pantas menerima pujian tersebut," jawab Huang Taiji merendah.
Rajawali Botak Cakar Merah hanya mampu tertawa. Tawa yang dipaksakan. Wajahnya sedikit pucat. Sekarang dia baru dapat merasakan betapa dahsyatnya jurus yang dilancarkan oleh Huang Taiji.
Dada yang tadi terkena jurus Pukulan Neraka Pertama, sekarang terasa sangat panas seperti dipanggang di atas bara api. Bahkan dia baru menyadari bahwa bajunya koyak. Terlihat kulitnya yang hitam kemerahan.
Rasa panasnya seumur hidup dia baru mengalami sekarang. Padahal hawa murni sudah dia salurkan, tak disangkanya hal itu masih belum bisa mengusir rasa panas tersebut.
"Pukulan orang ini benar-benar bahaya. Bagaimanapun juga, aku harus berusaha agar tidak terkena lagi pukulannya," gumam Rajawali Botak Cakar Merah sambil menahan rasa panas.
Wushh!!!
Mendadak dia menjejak kaki ke tanah lalu melesat kembali. Kedua tangannya semakin membara. Ada bau busuk yang keluar dari kuku-kuku tersebut.
"Cakar Mayat Gentayangan …"
Jurus pamungkas yang dia miliki terpaksa harus dikeluarkan. Jurus Cakar Mayat Gentayangan adalah jurus sesat yang sangat berbahaya dan mematikan. Siapapun yang terkena cakaran satu jarinya saja, pasti luka itu akan segera membusuk hanya dalam waktu beberapa tarikan nafas.
Kalau orang lain yang menjadi lawannya, sudah pasti dia akan panik. Mungkin akan lari terbirit-birit.
Tapi lawan yang sekarang tidak. Huang Taiji berbeda dari yang lainnya.
Wuttt!!! Wuttt!!!
Dua kali sabetan tangan dilancarkan. Huang Taiji menghindarinya dengan mudah. Kakinya bergetar lalu tubuhnya berkelit ke samping. Dua serangan sirna begitu saja.
Tapi itu hanya sebuah awal. Karena selanjutnya, Rajawali Botak Cakar Merah semakin gencar melancarkan serangan lainnya. Dua tangan itu seakan siap mengejar ke mana pun Huang Taiji menghindar.
Cakaran demi cakaran terus diberikan oleh lawan. Tendangan yang mengandung hawa panas juga selalu dilancarkan sebagai selingan.
__ADS_1
Huang Taiji berkelit dengan lincah. Seakan dia sedang bermain-main. Tidak terlihat kesulitan sedikitpun dalam pertarungan ini.
"Pukulan Neraka Kedua …"
Wushh!!!
Jurus pukulan kedua sudah dilancarkan. Kali ini Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding tidak hanya menghindar. Dia mulai membalas serangan lawan lebih ganas dan lebih mengerikan lagi.
Kedua kepalan tangannya lebih merah membara daripada sebelumnya. Dua pendekar itu sudah bertarung sengit seakan tidak bisa dipisahkan lagi.
Empat puluh jurus, lima puluh jurus, pada akhirnya pertarungan keduanya mencapai puncak saat mendekati jurus ke lima puluh lima.
Huang Taiji Lu meluncur ke depan. Kedua tangannya siap melancarkan serangan terkahir. Kecepatan luncurannya sukar untuk dilukiskan.
Wushh!!!
Wuttt!!! Wuttt!!!
Enam kali pukulan dilancarkan. Rajawali Botak Cakar Merah berhasil menghindar atau menangkis. Namun pada saat pukulan ketujuh dan kedelapan, dia tidak sempat menghindar karena datangnya serangan amat mendadak.
Bukkk!!!
Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Katanya mendelik. Dia tewas seakan menahan rasa sakit yang tiada terkira. Dadanya melesak ke dalam. Wajahnya berubah kehijauan.
Sepertinya jantung orang itu pecah akibat pukulan berhawa panas Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
Hari mulai malam. Dua puluh satu mayat terkapar berserakan seperti daun-daun kering.
Chen Li menghampiri pamannya saat pertarungan sudah selesai.
"Apakah kita akan melanjutkan perjalanan langsung?" tanya bocah tersebut.
"Tentu saja. Lebih cepat, lebih baik lagi," jawab Huang Taiji.
"Baiklah. Mari Paman,"
Huang Taiji mengangguk. Keduanya langsung pergi dari sana meninggalkan semua mayat tersebut.
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah kepergian sang keduanya, muncul kembali sepuluh orang bercadar hitam. Namun tidak ada yang bicara di antara mereka.
Sepuluh orang tersebut langsung melemparkan semua mayat ke sebuah lubang besar yang telah disiapkan sebelumnya.
Siapa mereka? Entah. Tidak ada yang tahu siapa sepuluh orang itu.
Chen Li dan Huang Taiji sudah menghilang di balik gelapnya malam. Keduanya pergi denga kecepatan tinggi. Waktu yang tersisa tinggal sedikit. Gejolak yang terjadi di kota besar Kekaisaran Wei semakin menjadi.
Itu artinya perang yang sudah diramalkan juga akan segera terjadi.
Keadaan sudah gawat. Semua pendekar di seluruh Kekaisaran sudah bergerak menjalankan tugasnya masing-masing.
###
Chen Li dan Huang Taiji sudah menempuh menempuh perjalanan dua puluh sembilan harian. Sekarang keduanya sedang beristirahat di sebuah bukit yang penuh dengan bunga-bunga yang menyebarkan bau harum.
Tanpa terasa, keduanya akan tiba di Sekte Tangan Dewa Kegelapan sebentar lagi. Mungkin satu atau dua harian lagi.
"Akhirnya kita akan segera tiba," kata Chen Li sambil menghela nafas dalam-dalam.
Seolah bocah itu sudah merasa lelah melakukan perjalanan yang rasanya tidak kunjung sampai itu. Selama perjalanan belakangan, mereka berdua tidak dihadang oleh masalah besar.
Kecuali hanya masalah kecil yang kerap kali terjadi. Itupun sudah mereka bereskan tuntas hingga ke akarnya.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, berita tentang Pendekar Tanpa Perasaan sudah menyebar ke seluruh penjuru. Siapapun pasti akan mengenal dirinya. Siapapun pasti tahu sepak terjangnya. Hanya saja, belum semua orang berjumpa dengan pendekar yang sedang baik daun tersebut.
Kebanyakan dari mereka hanya mendengar tentang berita dan sepak terjangnya yang luar biasa dan berjiwa luhur. Awalnya tidak semua orang percaya, apalagi sebagian dari mereka sudah mengetahui bahwa Pendekar Tanpa Perasaan hanyalah seorang bocah ingusan.
Hanya saja setelah kabar semakin tersiar, orang-orang yang tadinya tidak percaya, sekarang mau tak mau harus percaya.
Semua orang menjadi senang. Mereka gembira, mereka bahagia. Karena pada akhirnya, dunia persilatan Kekaisaran Wei telah mendapatkan generasi yang cemerlang. Belum lagi berita tentang sepak terjang naga muda lainnya.
Moi Xouhan, Yuan Shao, Li Meng Li, bahkan Eng Kiau dan yang lainnya, sekarang mereka juga sudah mempunyai nama di dunia persilatan sebagai generasi muda yang berbakat.
Masing-masing dari para naga muda sudah mendapatkan julukannya sendiri-sendiri. Hal ini tentu mendatangkan kebangaan kepada orang tua mereka ataupun kepada guru, juga kepada dirinya sendiri.
Terlepas dari ketenaran nama tersebut, bocah-bocah itu ternyata masih tetap mempunyai sifat yang sama.
__ADS_1
Mereka selalu merendah. Tidak pernah memandang enteng setiap lawan. Dan tentunya, mereka bersedia mengulurkan tangan di mana pun.
Di mana ada kejahatan, di situ pula pasti ada salah satu di antara mereka.