
Pertarungan Shin Shui dan Hwe Koan sudah melebihi seratus jurus. Keempat pendekar seperti tidak kehabisan tenaga dalam. Padahal sejatinya, baik pihak Shin Shui maupun pihak lawan sebenarnya sudah merasa lelah.
Oleh sebab itu, mereka semakin ganas dalam mengeluarkan jurusnya. Hwe Koan mengibaskan golok pusakanya. Dari golok itu keluar hembusan angin badai yang teramat dahsyat.
Wong Qing berusaha untuk menahan jurus tersebut, sayangnya dia sedikit terlambat satu langkah. Dalam pertarungan dahsyat, kalah satu langkah saja bisa menentukan akhir dari pertarungan.
Dan sepertinya hal tersebut memang terbukti. Karena Wong Qing terlambat mengeluarkan jurus, maka angin badai yang dihasilkan oleh golok Hwe Koan tadi mementalkan dirinya sejauh puluhan tombak.
Belum sempat dia bangkit berdiri, Hwe Koan sudah tiba lagi di depannya.
"Golok Maut Merenggut Nyawa …"
"Wushh …"
Asap hitam keluar bersamaan dengan ayunan golok. Ada hawa mengerikan yang terkandung dari jurus tersebut.
Jurus itu merupakan salah satu jurus hebat milik Hwe Koan. Selimut hidup, belum ada yang bisa selamat kalau dia sudah melancarkan jurusnya.
"Gelegarr …"
Suara bergemuruh terdengar kencang. Gelombang kejut menerbangkan puing-puing perguruan yang tadi terbakar. Wong Qing akhirnya tewas. Tubuhnya gosong dan terbelah jadi dua bagian.
Cekungan tanah berdiameter sepuluh tombak (sekitar tiga puluh meter) tercipta akibat jurus Golok Maut Merenggut Arwah milik Hwe Koan.
"Aku menang, hahaha … aku menang," teriaknya penuh kegirangan.
Sebenarnya dia melakukan hal ini adalah untuk mencoba memecahkan perhatian Ong Tiong. Dengan teriakan seperti ini, setidaknya Ong Tiong akan terpengaruh. Apalagi jika dia sudah mengetahui bahwa rekannya Wong Qing benar-benar telah tewas.
Dan hal tersebut terbukti. Tepat pada saat Hwe Koan bicara demikian, Ong Tiong menengoknya beberapa kejap. Tetapi walaupun hanya sekejap, hal tersebut sudah menjadi keuntungan bagi Shin Shui.
Shin Shui yang sudah mengerti tujuan Hwe Koan, tak mau membuang waktu lagi.
Dengan kekuatan dahsyat, Shin Shui menggelar jurus mautnya.
"Pedang Halilintar Membelah Bumi …"
"Wushh …"
__ADS_1
"Gelegarr …"
Langit bergemuruh seperti mau runtuh. Sinar biru terang keluar dari sela-sela awan yang gelap. Sinar dahsyat tersebut melesat secepat kilat ke arah Ong Tiong.
Dia berniat untuk menghindar, tapi sayangnya hal itu tidak akan terlaksana sampai kapanpun. Karena saat niatnya baru muncul, jurus Shin Shui sudah menghantam telak tubuhnya.
Dia sempat menjerit menahan sakit sebelum akhirnya tewas dengan tubuh koyak. Darah segar menggenangi tubuhnya.
Keinginan Ong Tiong untuk tewas di tangan Shin Shui benar-benar menjadi kenyataan. Tak lama setelah tewas, seekor kupu-kupu hinggap di tubuh mengenaskan tersebut.
Shin Shui hanya tersenyum manis ketika melihat binatang cantik itu. "Selamat jalan Pendekar Dua Pedang," gumamnya.
Setelah itu diapun berjalan menghampiri Hwe Koan yang terkapar karena kelelahan. Dia sama sekali tidak sanggup untuk berdiri. Terlihat beberapa luka terlukis di tubuhnya. Sepertinya Hwe Koan juga mengalami luka dalam.
Shin Shui lebih dulu memberikan pil yang berguna untuk meredakan pendarahan dan mempercepat pemulihan luka.
Pil yang diberikan Shin Shui benar-benar mujarab. Baru beberapa menit, Hwe Koan sudah sadar dan terbangun.
"Terimakasih pahlawan," katanya tersenyum sambil menepuk pundak Shin Shui.
"Aku yang seharusnya berterimakasih kepada Kepala Tetua Hwe," jawab Shin Shui lalu merangkulnya.
"Li'er, kau tidak papa?" tanya Shin Shui sedikit khawatir.
"Lebih baik ayah obati dulu luka sendiri. Jangan mengkhawatirkan Li'er," jawab Chen Li polos.
"Dasar anak kurang ajar," katanya sambil mengacak-acak rambut anaknya.
Ucapan Chen Li itu mengundang tawa bagi para pendekar. Tanpa terasa semua orang pun tertawa karena tingkahnya. Walau bagaimanapun, Chen Li tetaplah bocah yang baru berusia dua belas tahun.
Shin Shui sudah bangun dari semedinya. Seluruh luka dalam yang dia terima sudah pulih sebagian dalam waktu singkat. Walaupun dia belum bisa mengeluarkan kekuatan seratus persen, setidaknya itu sudah lebih dari cukup.
Tanpa mereka sadari, di gelap malam di bawah pepohonan, beberapa pasang mata sedang menyaksikan mereka. Beberapa pasang mata tersebut sudah tahu semua kejadiannya. Mulai dari awal pertarungan, bahkan sampai pertarungan berakhir.
Shin Shui tiba-tiba merasakan kehadiran orang itu.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja dia menghilang dari pandangan mata orang yang di bawah pohon. Detik berikutnya, mereka merasakan ada sesuatu di belakangnya.
__ADS_1
Shin Shui sudah ada tepat di belakang mereka. Hanya dengan totokan, orang-orang itu mendadak tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Mereka ambruk ke tanah.
Setelah berhasil melumpuhkan dua orang tersebut, Shin Shui segera kembali ke tempat semula.
"Siapa mereka?" tanya Hwe Koan.
"Dua orang yang sudah mencuri pandang dari awal," jawab Shin Shui singkat.
"Keparat. Kalian pasti komplotan mereka. Kubunuh kau," bentak Hwe Koan.
Tapi baru saja mengayunkan goloknya ke atas, tangan Shin Shui lebih dulu memberi isyarat. "Tahan!" serunya sambil mengangkat tangan.
"Kita tanya dulu siapa mereka ini. Kita butuh informasi," ucap Shin Shui.
Tanpa membantah lagi, Hwe Koan segera menyarungkan kembali golok tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Shin Shui kepada dua orang tersebut setelah di sadarkan.
"Siapapun kami, kalian tidak berhak tahu," jawab salah seorang.
"Bangsat. Kalian berani kurang ajar kepada Pendekar Halilintar," bentak Hwe Koan yang memang bersifat berangasan.
"Aku bertanya, siapa kalian," kata Shin Shui mengulangi pertanyaannya lagi.
Tetapi tetap saja dia tidak mendapatkan jawaban. Sebaliknya justru kedua orang itu tiba-tiba saja terkulai. Mereka tewas.
"Hemm, mereka bunuh diri menelan racun yang ada di mulutnya," kata Shin Shui setelah memeriksa keduanya.
"Benar-benar kurang ajar. Pahlawan, sebenarnya siapa mereka ini?" tanya Hwe Koan semakin penasaran.
"Entahlah. Aku sendiri belum mendapatkan keterangan pasti. Tetapi aku yakin, di balik semua ini ada sebuah rencana besar," kata Shin Shui.
"Kau benar. Kejadian ini sungguh penuh dengan teka-teki," kata Hwe Koan.
"Tepat sekali. Kepala Tetua Hwe, kau kan termasuk aliran hitam, apakah tidak ada sedikit bocoran tentang semua yang kini sedang terjadi?" tanya Shin Shui kepada Hwe Koan.
"Tidak ada pahlawan. Aku sendiri merasa aneh sekali. Sebab beberapa bulan terakhir, kekacauan di luar nalar terjadi. Bahkan di seluruh penjuru, kabarnya terjadi kekacauan pula. Walaupun aku berasal dari aliran hitam, tapi aku sama sekali tidak tahu rencana di balik ini semua. Padahal jika kekacauan disebabkan oleh aliran hitam yang ada di Kekaisaran Wei, sedikit banyak aku pasti akan tahu. Tetapi sekarang berbeda, sepertinya semua ini yang melakukannya adalah orang-orang dari luar," jelas Hwe Koan.
__ADS_1
"Betul. Aku setuju dengan perkataanmu," jawab Shin Shui menyetujui perkataan Kepala Tetua Sekte Gunung Batu Hitam itu.
Pada akhirnya mereka semua belum menemukan titik terang terhadap apa yang saat ini terjadi di seluruh wilayah Kekaisaran Wei. Semuanya masih buram. Bahkan Shin Shui sendiri belum bisa mengambil keputusan pelaku dibalik ini.