Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kemajuan Chen Li


__ADS_3

Dua puluh lima siluman serigala bulu merah menerjang dari segala penjuru. Chen Li bersama Huang Taiji berada di tengah-tengah puluhan siluman yang membentuk lingkaran tersebut.


Berbagai macam sinar dengan kadar kekuatan berbeda sedang menuju ke arah dua manusia itu. Kecepatannya sungguh cukup membuat hati jeri.


Tetapi Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding masih tampak tenang. Seolah dia tidak peduli walau apapun yang terjadi.


Jika bumi berguncang keras dan langit runtuh sekalipun, Huang Taiji Lu akan tetap tenang seperti sekarang. Dia tidak akan mengubah posisinya.


Karena orang tua itu tahu bahwa Chen Li tidak akan mengecewakannya.


Semua orang tahu itu.


Bahwa Pendekar Tanpa Perasaan, tidak pernah membuat kecewa siapapun.


Saat serangan dari dua puluh lima siluman serigala bulu merah hampir mengenai dirinya, saat itulah Chen Li mengeluarkan kekuatan tenaga dalam langit bumi secara sempurna.


Langit mendadak gelap. Udara terasa sesak hilang entah ke mana. Tubuh Chen Li mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan. Angin berhembus kencang seperti akan terjadi sebuah badai besar.


Dan memang badai itu akan terjadi.


Badai kematian para siluman.


Tubuhnya melesat cepat bagaikan bintang jatuh di malam hari. Cahaya putih dan biru bersatu menjadi satu. Belum lagi cahaya hijau kemilau yang menyilaukan mata.


"Langkah Bayangan …"


"Amukan Pedang Awan …"


"Bertempur Melawan Raja Naga …"


Tiga jurus maut yang sudah dia kuasai dikeluarkan secara berbarengan. Tubuhnya melesat lebih cepat lagi. Cahaya biru berkilat semakin mengerikan. Cahaya putih berkelebat menembus sinar-sinar dari para siluman.


Suara lolongan yang menyeramkan membuat bulu kudu berdiri mulai terdengar. Satu siluman serigala bulu merah tewas dengan perut robek disabet Pedang Awan.


Dia melompat dalam kecepatan tinggi. Seekor siluman serigala tewas kembali dengan kondisi kepala pecah berantakan.


Chen Li terus bergerak tanpa bisa dihalangi oleh para siluman. Tubuhnya seolah sukma yang tidak bisa ditembus oleh apapun.

__ADS_1


Sudah beberapa saat dia mengelilingi para siluman sambil melancarkan puluhan serangan yang dahsyat dan mengerikan.


Lima belas ekor siluman serigala tewas tanpa sempat memberikan perlawanan berarti. Jurus pamungkas yang mereka keluarkan seolah tiada artinya. Sama sekali tidak bisa menewaskan bocah itu.


Suara lolongan yang mampu menggetarkan hati, seakan tidak berefek sama sekali. Justru bocah itu semakin menggila dalam melancarkan setiap serangannya.


Walaupun mereka adalah siluman, tetapi mereka juga mempunyai sebuah insting yang bahkan melebihi manusia. Sepuluh siluman serigala bulu merah yang tersisa, melompat mundur sejauh mungkin untuk menghindari amukan bocah kecil itu.


Pemimpin dari siluman serigala meraung marah. Dia membuka mulutnya memperlihatkan taring yang sangat tajam dan mengkilap.


Sinar merah meluncur cepat ke arah Chen Li. Tetapi saat itu dia telah berpindah tempat.


Cahaya biru berkilat kembali. Satu ekor siluman serigala kembali menjadi korban keganasan Pendekar Tanpa Perasaan.


Huang Taiji Lu tersenyum bangga. Baru di didik beberapa waktu saja, Chen Li sudah mengalami kemajuan sedahsyat ini. Para warga yang menyaksikan pertarungan, tidak ada yang mau berkedip. Bahkan untuk bernafas pun rasanya mereka tidak berani.


Semuanya hanya bisa menelan ludah melihat aksi seorang bocah kecil yang memiliki kekuatan mengerikan.


Seumur hidupnya, orang-orang tersebut baru kali ini saja melihat ada seorang bocah kecil sepertinya.


Di saat sedang asyik melancarkan serangan dahsyat, mendadak siluman pemimpin mengeluarkan jurusnya yang jauh lebih hebat lagi.


Niatnya untuk menyerang Chen Li sekuat tenaga.


Sayangnya dia telah kalah satu langkah.


Walaupun melakukan kesalahan hanya satu langkah, namum justru yang satu langkah itu terkadang bisa berubah menjadi ribuan langkah.


Kain sutera yang menutup matanya terlepas. Mata yang mirip unsur bumi segera nampak. Kekuatan besar langsung merembes keluar dari tubuhnya.


Siluman serigala itu ingin melarikan diri. Dia sudah membalikan badan mengajak seluruh anak buahnya untuk pergi.


Tetapi lagi-lagi dia terlambat.


Tanah meledak. Hujan bebatuan dan tanah yang mengeras bagaikan baja segera menerjang semua siluman.


Jeritan kesakitan terdengar menyeramkan. Keadaan semakin kacau sebab hujan tanah itu semakin lama semakin banyak. Seolah tiada hentinya.

__ADS_1


Hanya beberapa saat saja, semuanya telah berhasil diratakan oleh Chen Li. Sepuluh siluman serigala bulu merah yang tersisa, tewas di tangan seorang bocah kecil.


Chen Li tertawa dingin dan menyeramkan. Tawanya sangat bengis seperti iblis.


Tidak ada rasa penyesalan. Tidak ada rasa takut bagaimana jika kawanan siluman itu balas dendam.


Semua rasa itu tidak ada dan tidak akan pernah ada.


Sebab Chen Li adalah Pendekar Tanpa Perasaan.


Pertarungan dahsyat melawan para siluman selesai dalam waktu yang terbilang singkat. Walaupun keadaan di sana menjadi porak-poranda tidak karuan, tetapi tidak ada satupun warga yang merasa kesal.


Justru mereka sangat berterimakasih kepada bocah itu karena telah menyelamatkan desanya dari ancaman maut.


Orang-orang tersebut bersorak-sorai dari tempat-tempat tertentu. Mereka tadinya berniat untuk menghampiri Chen Li lalu mengucapkan terimakasih kepadanya.


Sayangnya sebelum niat itu terwujud, mendadak segerombolan orang bercadar hitam menghampiri bocah itu.


Melihat datangnya tamun lain, Huang Taiji Lu segera bangkit berdiri. Araknya masih dipegang. Matanya agak buram. Dia telah mabuk.


Tetapi walaupun dalam keadaan seperti itu, dia masih mampu untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Siapa yang telah melangsungkan pertarungan dahsyat barusan?" tanya seorang itu. Suaranya datar. Tidak ada rasa terkejut, tidak ada juga rasa marah.


"Aku," jawab Chen Li dingin. Matanya masih terbuka, sehingga membuat siapapun dapat merasakan kekuatannya.


Bahkan sepuluh orang bercadar itu tidak berani menatap mata Chen Li berlama-lama karena mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Kekuatannya seakan tersedot secara perlahan jika mereka menatap matanya.


"Ah, ternyata saudara kecil ini. Terimakasih karena saudara kecil telah membantu meringankan beban kami," katanya tersenyum.


"Tidak usah berterimakasih. Dan tidak usah berpura-pura lagi membela rakyat,"


"Apa maksud saudara kecil ini?"


"Bukankah maksudku sudah jelas? Kalian tidak usah berpura-pura lagi. Jangan melempar batu sembunyi tangan jika di hadapanku. Bukankah siluman itu memang sengaja kalian giring kemari? Lalu kalian akan meminta jatah kepada warga sebagai alasan untuk biaya mengusir para siluman? Cerdik memang. Tetapi masih kalah cerdik denganku," kata Chen Li sengaja menyombongkan diri.

__ADS_1


Sepuluh orang bercadar itu terdiam. Mereka saling pandang antara satu dengan yang lainnya. Walaupun seluruh wajahnya tertutup cadar, tetapi Chen Li dan Huang Taiji Lu tanu betul bahwa mereka sudah sangat marah kepadanya.


"Aku bukan orang yang suka bicara berliku-liku. Karena sifatku memang tidak suka basa-basi. Kalau kalian ingin membalas dendam, silahkan lakukan dengan segera," kata Huang Taiji Lu pada akhirnya angkat bicara juga.


__ADS_2